info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Peristiwa Penting Tahun 570 M ( 10 )
Peristiwa Penting Tahun 570 M ( 10 )
Peristiwa Penting Tahun 570 M ( 10 )

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Sultan Abdul Hamid II (memerintah 1876–1909 M) mengambil arah yang berbeda dari para pendahulunya di era Tanzimat. Jika Tanzimat lebih condong ke Barat (Westernisasi), Abdul Hamid II justru memperkuat identitas Pan-Islamisme (Ittihad-i Islam) untuk menyatukan umat Muslim sedunia di bawah payung Kekhalifahan Utsmaniyah.

Proyek paling ambisius dan simbolis dari visi ini adalah pembangunan Jalur Kereta Api Hijaz (Hejaz Railway).

1. Visi di Balik Rel Kereta Api

Dibangun antara tahun 1900 hingga 1908, jalur kereta ini menghubungkan Damaskus (Suriah) dengan Madinah (Arab Saudi), dengan rencana awal mencapai Makkah.

  • Tujuan Agama: Memudahkan perjalanan ibadah Haji. Sebelumnya, jamaah harus menempuh perjalanan darat selama 40 hari yang berbahaya melalui padang pasir. Dengan kereta, waktu tempuh dipangkas menjadi hanya 3 hari.
  • Tujuan Politik: Memperkuat kontrol pusat Istanbul atas wilayah-wilayah Arab yang mulai bergejolak dan meningkatkan pengaruh Sultan sebagai Khalifah bagi seluruh umat Islam.
  • Tujuan Militer: Memungkinkan mobilisasi pasukan secara cepat ke wilayah Hijaz jika terjadi pemberontakan atau ancaman dari Inggris di Laut Merah.

2. Proyek Tanpa Hutang Asing

Salah satu hal yang paling membanggakan bagi dunia Islam saat itu adalah pembiayaan proyek ini. Abdul Hamid II menolak meminjam uang dari bank-bank Eropa agar tidak terjebak utang seperti para pendahulunya.

  • Sumbangan Umat: Proyek ini didanai melalui sumbangan sukarela umat Muslim dari seluruh dunia, mulai dari Maroko hingga Hindia Belanda (Indonesia).
  • Tenaga Kerja Lokal: Pengerjaannya dilakukan oleh tentara Utsmaniyah dan insinyur lokal (dengan bantuan teknis dari Jerman), menjadikannya simbol kemandirian teknologi Islam.

3. Keunikan Etika Pembangunan

Sultan Abdul Hamid II sangat menghormati kesucian kota Madinah.

  • Rel Tanpa Suara: Saat pembangunan mendekati Madinah, Sultan memerintahkan pemasangan bantalan kayu dan kain felt di bawah rel agar suara bising kereta tidak mengganggu ketenangan makam Rasulullah SAW.
  • Stasiun Madinah: Bangunan stasiun di Madinah dirancang dengan arsitektur yang sangat indah dan megah, yang sisa-sisanya masih bisa dilihat hingga sekarang sebagai museum.

4. Akhir Tragis Jalur Hijaz

Keberhasilan jalur ini tidak bertahan lama akibat dinamika Perang Dunia I:

  • Revolusi Arab: Pasukan pemberontak Arab (didukung oleh agen Inggris, T.E. Lawrence atau Lawrence of Arabia) berulang kali meledakkan rel kereta ini untuk memutus jalur logistik tentara Utsmaniyah.
  • Terbengkalai: Setelah Utsmaniyah runtuh pada 1924, jalur ini tidak pernah sepenuhnya pulih. Rel-relnya kini menjadi saksi bisu di tengah padang pasir Arab yang luas.

5. Kejatuhan Sultan Abdul Hamid II

Meskipun berhasil membangun infrastruktur dan memperkuat pendidikan, gaya kepemimpinan Abdul Hamid II yang otoriter memicu perlawanan dari kelompok Turki Muda (Young Turks).

  • 1909: Sultan digulingkan melalui kudeta militer.
  • Dampaknya: Jatuhnya Abdul Hamid II menandai berakhirnya kekuasaan absolut Sultan dan dimulainya periode akhir Utsmaniyah yang terjebak dalam pusaran Perang Dunia I.

Penutup: Menuju Dunia Modern

Dengan jatuhnya Abdul Hamid II, sejarah Islam beralih dari sistem kekhalifahan klasik menuju era Negara-Bangsa (Nation-State). Di Turki, Mustafa Kemal Atatürk akan muncul sebagai tokoh sentral yang mengubah kesultanan menjadi republik sekuler.

Sementara itu, di wilayah-wilayah lain seperti Mesir dan anak benua India, gerakan pembaruan pemikiran Islam (seperti oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh) mulai tumbuh pesat.

Mustafa Kemal Atatürk (1881–1938) adalah sosok yang paling kontroversial sekaligus paling berpengaruh dalam sejarah Turki modern. Ia adalah perwira militer yang menyelamatkan Turki dari penjajahan pasca-Perang Dunia I, namun ia juga yang secara radikal membubarkan sistem Kekhalifahan Islam yang telah bertahan selama berabad-abad.

1. Pahlawan Perang: Penyelamat Bangsa

Sebelum menjadi politisi, Mustafa Kemal adalah pahlawan militer yang brilian.

  • Pertempuran Gallipoli (1915): Ia berhasil menahan serangan pasukan Sekutu (Inggris dan Perancis) yang mencoba merebut Istanbul. Kemenangan ini menjadikannya pahlawan nasional.
  • Perang Kemerdekaan Turki (1919–1923): Setelah Kesultanan Utsmaniyah kalah dalam PD I, wilayah Turki hendak dibagi-bagi oleh pemenang perang (Yunani, Inggris, Perancis, Italia). Mustafa Kemal memimpin perlawanan rakyat, mengusir pasukan pendudukan, dan memaksa dunia mengakui kedaulatan Turki melalui Perjanjian Lausanne (1923).

2. Penghapusan Kekhalifahan (1924)

Ini adalah langkahnya yang paling mengguncang dunia Islam.

  • 29 Oktober 1923: Republik Turki diproklamasikan dengan Mustafa Kemal sebagai Presiden pertama.
  • 3 Maret 1924: Jabatan Khalifah secara resmi dihapuskan. Sultan terakhir, Abdul Majid II, diasingkan ke Eropa. Langkah ini menandai berakhirnya kepemimpinan politik tunggal dunia Islam yang dimulai sejak masa Khulafaur Rasyidin.

3. Reformasi Kemalisme: Menuju Barat

Atatürk percaya bahwa satu-satunya cara Turki bisa bertahan dan maju adalah dengan memutus hubungan dengan masa lalu Utsmaniyah dan mengadopsi peradaban Barat secara total.

BidangReformasi yang Dilakukan
HukumMenghapus hukum Syariah dan menggantinya dengan hukum perdata Swiss dan hukum pidana Italia.
BahasaMengganti alfabet Arab dengan Alfabet Latin. Ini dilakukan agar rakyat Turki lebih mudah belajar bahasa Barat dan memutus akses ke literatur lama.
BudayaMelarang penggunaan Fez (topi merah) dan cadar di tempat umum, serta mewajibkan penggunaan pakaian gaya Eropa.
PendidikanMenutup madrasah-madrasah tradisional dan menyatukan seluruh sistem pendidikan di bawah kontrol negara yang sekuler.
Nama KeluargaMewajibkan setiap warga memiliki nama belakang (marga). Majelis Agung Nasional memberikan nama "Atatürk" (Bapak Bangsa Turki) kepadanya.

4. Sekularisme Radikal (Laïcité)

Atatürk menerapkan paham sekularisme yang sangat ketat. Agama dianggap sebagai urusan pribadi dan tidak boleh mencampuri urusan negara atau ruang publik.

  • Adzan sempat diwajibkan dikumandangkan dalam bahasa Turki (bukan bahasa Arab).
  • Hari libur mingguan dipindah dari hari Jumat ke hari Minggu.
  • Hagia Sophia diubah fungsinya dari masjid menjadi museum (sebelum dikembalikan menjadi masjid oleh Erdogan di era modern).

5. Warisan dan Pandangan Dunia Islam

Hingga saat ini, sosok Atatürk dipandang secara dikotomis:

  • Bagi Nasionalis Turki: Ia adalah pahlawan yang memberikan martabat, modernitas, dan kemandirian bagi bangsa Turki dari kehancuran total.
  • Bagi Dunia Islam Luas: Ia sering dipandang sebagai sosok yang menghancurkan persatuan umat Islam (Kekhalifahan) dan melakukan de-Islamisasi secara paksa.

Kematian dan Pengaruh

Mustafa Kemal Atatürk wafat pada 10 November 1938. Jenazahnya disemayamkan di Anitkabir, sebuah mausoleum megah di Ankara. Pahamnya, Kemalisme, menjadi ideologi resmi negara Turki selama puluhan tahun sebelum akhirnya mulai ditantang oleh gerakan konservatif di abad ke-21.

Setelah era sekularisasi radikal ini, sejarah Islam di abad ke-20 mulai bergerak ke arah Gerakan Perlawanan di negara-negara jajahan dan munculnya tokoh-tokoh pemikir seperti Hassan al-Banna di Mesir atau Mohammad Iqbal di Pakistan.

Menarik sekali. Karena Anda memilih "Semuanya", mari kita rangkum peta besar sejarah Islam di awal abad ke-20 (pasca-Atatürk) yang terbagi menjadi tiga arus besar: Gerakan Politik di Mesir, Kebangkitan Wahabi di Arab, dan Intelektualisme di India/Pakistan.

Ketiga arus ini muncul sebagai respons atas hilangnya payung politik tunggal (Kekhalifahan Utsmaniyah).

1. Respons Mesir: Ikhwanul Muslimin (1928)

Hanya empat tahun setelah Atatürk membubarkan Kekhalifahan, seorang guru muda bernama Hassan al-Banna mendirikan Al-Ikhwan al-Muslimun.

  • Visi: "Islam adalah solusi" (Al-Islam huwa al-hall). Al-Banna percaya bahwa kemunduran umat Islam disebabkan oleh pengabdian yang buta pada Barat.
  • Gerakan Akar Rumput: Berbeda dengan gerakan elit, Ikhwan membangun sekolah, rumah sakit, dan klub olahraga. Mereka ingin mengislamkan masyarakat dari bawah ke atas sebelum akhirnya mencapai kekuasaan politik.
  • Dampak: Gerakan ini menjadi inspirasi bagi hampir seluruh gerakan Islam politik (Islamis) di dunia modern, dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara.

2. Respons Jazirah Arab: Berdirinya Arab Saudi (1932)

Di saat Turki menjadi sekuler, di jantung Islam (Hijaz dan Najd) terjadi pergerakan yang sangat berbeda.

  • Ibnu Saud: Abdul Aziz bin Saud berhasil menyatukan suku-suku di Jazirah Arab melalui kekuatan militer dan aliansi dengan paham Wahabi (gerakan pemurnian Islam yang dipelopori Muhammad bin Abdul Wahab).
  • Penjaga Dua Kota Suci: Pada tahun 1932, Kerajaan Arab Saudi resmi berdiri. Mereka mengambil peran sebagai pelayan dua kota suci (Makkah dan Madinah), yang sebelumnya dipegang oleh Utsmaniyah.
  • Penemuan Minyak (1938): Penemuan cadangan minyak raksasa mengubah negara gurun yang miskin menjadi kekuatan ekonomi dunia yang mampu mendanai penyebaran paham keagamaan mereka ke seluruh dunia.

3. Respons India & Pakistan: Muhammad Iqbal & Muhammad Ali Jinnah

Di anak benua India, umat Islam yang terancam oleh dominasi mayoritas Hindu di bawah penjajahan Inggris mulai memikirkan konsep "Negara Islam Modern".

  • Muhammad Iqbal: Penyair dan filsuf ini adalah otak di balik ide Pakistan. Ia menyerukan umat Islam untuk bangun dari tidur panjang, mengadopsi sains modern, namun tetap berpegang pada spiritualitas Islam.
  • Berdirinya Pakistan (1947): Melalui perjuangan politik Muhammad Ali Jinnah, Pakistan berdiri sebagai negara pertama di dunia yang didirikan khusus atas dasar identitas agama Islam di era modern.

4. Arus Pemikiran: Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha

Sebelum gerakan politik menguat, ada gerakan Modernisme Islam di Universitas Al-Azhar, Mesir.

  • Pembaruan Pemikiran: Abduh berpendapat bahwa Islam sangat kompatibel dengan akal dan sains. Ia ingin membuang takhayul dan kembali ke ajaran murni Salaf (generasi awal) namun dengan pendekatan modern.
  • Majalah Al-Manar: Melalui media ini, ide-ide pembaruan Islam tersebar hingga ke Nusantara (mempengaruhi berdirinya organisasi seperti Muhammadiyah di Indonesia pada 1912).

Perbandingan Respon Pasca-1924

KawasanTokoh UtamaKarakter GerakanHasil Akhir
TurkiMustafa KemalSekularisme RadikalRepublik Turki Modern
MesirHassan al-BannaIslam Politik / SosialIkhwanul Muslimin
Arab SaudiIbnu SaudMonarki / WahabismeKerajaan Arab Saudi
India/PakistanM. Iqbal & JinnahNasionalisme IslamNegara Pakistan

Penutup: Wajah Islam Abad ke-20 dan 21

Sejarah Islam setelah tahun 1924 tidak lagi terpusat pada satu Sultan di Istanbul. Islam menjadi sangat beragam: ada yang memilih jalan Republik Sekuler (Turki), Monarki Absolut (Arab Saudi), Negara Demokrasi Islam (Pakistan), hingga Republik Teokrasi (Iran pasca-1979).

Inilah era di mana umat Islam berjuang menyeimbangkan antara tradisi agama dan tuntutan zaman modern.

Penaklukan Konstantinopel 1453 dan Runtuhnya Kekhalifahan 1924 adalah dua sisi mata uang yang membentuk realitas kita sekarang.

Transformasi Turki: Dari Kesultanan ke Republik (1923-1924)

Mengapa ini yang paling krusial? Karena peristiwa ini mengakhiri sebuah tatanan dunia yang telah eksis selama 1.300 tahun dan memicu tiga ledakan besar :

1. Krisis Identitas dan Lahirnya "Islam Politik"

Ketika Mustafa Kemal Atatürk menghapuskan Kekhalifahan, umat Islam kehilangan pusat gravitasi politik dan spiritualnya. Hal ini memicu lahirnya gerakan seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir.

  • Dampaknya: Hingga hari ini, perdebatan tentang apakah agama harus bersatu dengan negara (Teokrasi) atau terpisah (Sekularisme) menjadi konflik ideologi utama di banyak negara Muslim, termasuk dalam dinamika politik di Timur Tengah dan pengaruhnya ke Asia Tenggara.

2. Pergeseran Geopolitik ke Jazirah Arab

Runtuhnya dominasi Utsmaniyah (Turki) memberi ruang bagi keluarga Saud untuk membangun Arab Saudi dengan dukungan ideologi Wahabi.

  • Dampaknya: Penemuan minyak di sana tak lama kemudian membuat pusat kekuatan ekonomi Islam berpindah ke Teluk. Hal ini mengubah peta ketergantungan energi dunia dan pendanaan gerakan keagamaan secara global yang kita rasakan hingga detik ini.

3. Lahirnya Negara-Bangsa (Nation-State)

Peristiwa 1924 memaksa wilayah-wilayah bekas Utsmaniyah (seperti Irak, Suriah, Lebanon, Palestina) untuk mencari identitas baru. Sayangnya, pembagian wilayah ini sering kali dilakukan oleh penguasa kolonial (Inggris dan Prancis) melalui Perjanjian Sykes-Picot.

  • Dampaknya: Garis perbatasan yang "asal tarik" ini menjadi akar konflik yang tak kunjung usai di Timur Tengah, termasuk isu Palestina-Israel yang bermula dari mandat Inggris pasca-Utsmaniyah.

Kesimpulan Menurut Saya

Jika 1453 adalah gerbang bagi Islam untuk menjadi kekuatan adidaya dunia dan memicu Eropa melakukan penjelajahan samudra (yang membawa mereka ke Nusantara), maka 1924 adalah momen di mana dunia Islam dipaksa "masuk" ke dalam sistem modern Barat.

Kita sekarang hidup di era "Pencarian Keseimbangan". Dunia Islam sedang mencoba mendefinisikan dirinya kembali: bagaimana menjadi modern dan maju secara teknologi (seperti visi Atatürk), namun tetap memegang akar spiritual dan keadilan sosial (seperti visi masa keemasan).

Satu titik balik yang paling mengubah wajah dunia dan paling relevan dengan realitas kita saat ini, saya berpandangan bahwa Runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah pada tahun 1924 adalah peristiwa paling krusial.

Mengapa? Karena peristiwa ini mengakhiri tatanan dunia yang telah bertahan selama 1.300 tahun (sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin) dan memicu tiga pergeseran besar yang dampaknya kita rasakan hingga detik ini:

1. Krisis Identitas: Islam Politik vs Sekularisme

Ketika Mustafa Kemal Atatürk menghapuskan sistem Khalifah, umat Islam kehilangan pusat gravitasi politik dan spiritualnya. Hal ini memicu lahirnya gerakan-gerakan seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir.

  • Dampaknya: Hingga hari ini, perdebatan tentang apakah agama harus bersatu dengan negara (Teokrasi) atau terpisah (Sekularisme) menjadi konflik ideologi utama di banyak negara Muslim. Ketegangan ini memengaruhi dinamika politik di Timur Tengah hingga ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

2. Pergeseran Geopolitik ke Jazirah Arab

Runtuhnya dominasi Turki (Utsmaniyah) memberi ruang bagi keluarga Saud untuk membangun Arab Saudi dengan dukungan ideologi Wahabi.

  • Dampaknya: Penemuan minyak di sana tak lama kemudian mengubah negara gurun yang awalnya terbatas secara ekonomi menjadi kekuatan finansial global. Hal ini mengubah peta ketergantungan energi dunia dan memberikan dana besar bagi penyebaran paham keagamaan tertentu ke seluruh penjuru dunia.

3. Lahirnya Negara-Bangsa (Nation-State) dan Konflik Perbatasan

Peristiwa 1924 memaksa wilayah-wilayah bekas Utsmaniyah (seperti Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina) untuk menjadi negara-negara sendiri. Sayangnya, pembagian wilayah ini sering kali dilakukan oleh penguasa kolonial (Inggris dan Prancis) melalui Perjanjian Sykes-Picot yang tidak mempertimbangkan etnis dan budaya lokal.

  • Dampaknya: Garis perbatasan yang "asal tarik" ini menjadi akar konflik berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk isu Palestina-Israel yang bermula dari mandat Inggris pasca-runtuhnya Utsmaniyah.

Kesimpulan Menurut Saya

Jika penaklukan 1453 adalah gerbang bagi Islam untuk menjadi kekuatan adidaya dunia yang memicu Eropa mencari jalur baru (yang akhirnya membawa mereka ke Nusantara), maka 1924 adalah momen di mana dunia Islam dipaksa "masuk" ke dalam sistem modern Barat secara mendadak.

Kita sekarang hidup di era "Pencarian Keseimbangan". Umat Islam di seluruh dunia sedang mencoba mendefinisikan kembali identitas mereka: bagaimana menjadi modern, maju secara teknologi, dan demokratis, namun tetap memegang teguh akar spiritual dan nilai-nilai keadilan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *