
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Sejarah pembangunan Masjidil Haram adalah perjalanan panjang yang berpusat pada Ka'bah sebagai titik rotasi spiritual umat manusia. Berikut adalah tahapan pembangunannya dari era Nabi Ibrahim AS hingga masa Nabi Muhammad SAW :
1. Era Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS
Pondasi awal Masjidil Haram diletakkan oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS, atas perintah langsung dari Allah SWT.
- Pembangunan Ka'bah: Mereka membangun kembali struktur Ka'bah di atas pondasi yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS.
- Hajar Aswad: Saat bangunan hampir selesai, Malaikat Jibril membawakan batu hitam (Hajar Aswad) dari surga untuk diletakkan di sudut tenggara sebagai penanda mulainya tawaf.
- Bentuk Fisik: Pada masa ini, Masjidil Haram belum memiliki dinding pembatas atau atap. Area di sekeliling Ka'bah hanyalah lapangan terbuka yang digunakan untuk beribadah dan tawaf.
2. Era Suku Jurhum dan Qushay bin Kilab
Setelah masa Nabi Ismail, penjagaan Ka'bah berpindah ke suku Jurhum, kemudian ke suku Khuza'ah, hingga akhirnya ke tangan Qushay bin Kilab (kakek buyut Nabi Muhammad SAW).
- Penataan Pemukiman: Qushay adalah orang pertama yang menata pemukiman di sekitar Ka'bah. Ia memerintahkan pembangunan rumah-rumah penduduk dengan menyisakan ruang yang cukup luas di sekeliling Ka'bah untuk tawaf (Mataf).
- Darun Nadwah: Ia membangun gedung pertemuan (parlemen) di sisi utara Ka'bah, yang menjadi pusat administrasi Kota Makkah.
3. Renovasi oleh Kaum Quraisy (Masa Muda Nabi Muhammad)
Sekitar lima tahun sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul (saat beliau berusia 35 tahun), banjir besar melanda Makkah dan merusak dinding Ka'bah.
- Pembangunan Ulang: Suku Quraisy memutuskan untuk merenovasi total Ka'bah menggunakan dana yang hanya berasal dari sumber yang halal.
- Perubahan Struktur: Karena keterbatasan dana halal, panjang bangunan dikurangi (menyisakan area yang sekarang disebut Hijir Ismail). Selain itu, pintu Ka'bah ditinggikan agar tidak mudah dimasuki air banjir.
- Peran Nabi Muhammad: Terjadi perselisihan antar kabilah mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Nabi Muhammad SAW memberikan solusi cerdas dengan membentangkan kain dan meminta setiap kepala kabilah memegang ujungnya, lalu beliau sendiri yang meletakkan batu tersebut ke tempatnya.
4. Masa Kenabian Muhammad SAW
Selama periode dakwah beliau di Makkah hingga Fathu Makkah (Pembebasan Makkah), tidak ada perubahan struktural besar pada bangunan masjid.
- Pembersihan Berhala: Setelah Fathu Makkah pada tahun 8 Hijriah, Nabi Muhammad SAW memerintahkan penghancuran 360 berhala yang ada di dalam dan sekitar Ka'bah.
- Status Hukum: Beliau menetapkan wilayah tersebut sebagai tanah haram (suci) yang tidak boleh ada pertumpahan darah di dalamnya.
- Kondisi Fisik: Hingga akhir hayat beliau, Masjidil Haram tetap berupa area terbuka di sekeliling Ka'bah tanpa dinding penutup atau menara. Perluasan besar-besaran secara struktural (seperti penambahan pilar dan atap) baru dimulai pada masa Khulafaur Rasyidin, khususnya di era Umar bin Khattab RA.
Catatan: Secara esensial, peran Nabi Muhammad SAW pada tahap ini lebih pada "pemurnian" fungsi Masjidil Haram kembali ke ajaran tauhid Nabi Ibrahim AS, setelah berabad-abad dicemari oleh praktik kemusyrikan.
Setelah masa Nabi Muhammad SAW, Masjidil Haram mengalami transformasi signifikan dari sekadar lapangan terbuka menjadi struktur bangunan yang lebih formal untuk menampung jumlah jemaah yang terus meningkat. Berikut adalah perkembangan Masjidil Haram pada masa Khulafaur Rasyidin :
1. Masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H / 632-634 M)
Pada masa pemerintahan Abu Bakar, fokus utama kekhalifahan adalah stabilitas negara pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW (seperti menghadapi perang Riddah).
- Kondisi Masjid: Tidak ada perubahan struktural atau perluasan fisik yang dilakukan pada Masjidil Haram.
- Pemeliharaan: Beliau tetap menjaga kondisi masjid sesuai dengan apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW tanpa menambah bangunan baru.
2. Masa Khalifah Umar bin Khattab (17 H / 638 M)
Umar bin Khattab adalah orang pertama dalam sejarah Islam yang melakukan perluasan secara formal dan membangun dinding pembatas masjid.
- Latar Belakang: Meningkatnya jumlah umat Islam yang datang untuk haji dan umrah membuat area tawaf menjadi sangat sempit. Selain itu, banjir bandang sempat merusak dinding Ka'bah.
- Perluasan Tanah: Umar membeli rumah-rumah penduduk yang menempel pada area masjid. Bagi warga yang keberatan, uang ganti rugi tetap disimpan di kas Baitul Mal hingga mereka bersedia mengambilnya.
- Pembangunan Dinding: Beliau membangun dinding setinggi kurang dari dua meter (setinggi dada pria dewasa) di sekeliling masjid untuk memisahkan area ibadah dengan pemukiman warga.
- Penerangan: Umar juga menjadi orang pertama yang meletakkan lampu-lampu penerangan di sekeliling masjid untuk membantu jemaah yang beribadah pada malam hari.
3. Masa Khalifah Usman bin Affan (26 H / 646 M)
Seiring meluasnya wilayah Islam, jumlah jemaah haji melonjak drastis, sehingga Usman melakukan perluasan kedua yang lebih besar.
- Penambahan Luas: Usman kembali memperluas area masjid dengan membeli sisa rumah penduduk yang berada di sekitar dinding yang dibangun oleh Umar.
- Pembangunan Serambi (Atap): Usman bin Affan adalah orang pertama yang membangun serambi berbatu dan beratap di sekeliling Masjidil Haram untuk melindungi jemaah dari terik matahari dan hujan saat beristirahat atau berzikir.
- Penggunaan Material: Beliau mulai menggunakan material bangunan yang lebih kokoh untuk pilar-pilar masjid.
4. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib (35-40 H / 656-661 M)
Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, kondisi politik negara sedang mengalami banyak gejolak internal (fitnah kubra).
- Kondisi Masjid: Tidak tercatat adanya perluasan fisik atau pembangunan infrastruktur baru yang dilakukan oleh Ali terhadap Masjidil Haram.
- Fokus: Beliau lebih fokus pada pemeliharaan keamanan dan ketertiban administrasi wilayah Islam yang sudah ada.
Ringkasan Perubahan Utama:
Khalifah Kontribusi Utama pada Masjidil Haram Abu Bakar Menjaga keaslian sesuai zaman Nabi. Umar bin Khattab Membangun dinding pembatas pertama dan melakukan perluasan pertama. Usman bin Affan Membangun serambi/atap pertama dan melakukan perluasan kedua. Ali bin Abi Thalib Pemeliharaan dan penjagaan area suci.
Setelah masa Khulafaur Rasyidin, estafet kepemimpinan Islam berpindah ke tangan Dinasti Umayyah (Bani Umayyah). Pada periode ini, Masjidil Haram mengalami transformasi arsitektur yang sangat signifikan, karena para khalifah Umayyah mulai memperkenalkan seni bangunan yang lebih megah dan menggunakan material yang lebih permanen.
Berikut adalah tahapan pembangunan Masjidil Haram dari pasca-Ali bin Abi Thalib hingga puncak kejayaan Bani Umayyah :
1. Masa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan (Pendiri Bani Umayyah)
Muawiyah bin Abu Sufyan adalah orang pertama dari Bani Umayyah yang memberikan perhatian pada estetika masjid.
- Renovasi Serambi: Beliau memperbaiki serambi-serambi yang telah dibangun pada masa Usman bin Affan.
- Penerangan: Muawiyah menambah jumlah lampu penerangan dan menyediakan petugas khusus untuk melayani jemaah, yang menunjukkan peningkatan manajemen pelayanan di Masjidil Haram.
2. Masa Abdullah bin Zubair (Periode Konflik)
Meskipun secara teknis ia adalah "pesaing" kekhalifahan Bani Umayyah yang berpusat di Makkah (saat Yazid bin Muawiyah berkuasa di Suriah), kontribusi Ibnu Zubair terhadap fisik Ka'bah sangat besar.
- Pembangunan Kembali Ka'bah: Akibat pengepungan tentara Umayyah yang menyebabkan kerusakan pada Ka'bah, Ibnu Zubair membangun ulang Ka'bah sesuai dengan cita-cita Nabi Muhammad SAW—yaitu memasukkan kembali area Hijir Ismail ke dalam struktur Ka'bah dan membuat dua pintu yang sejajar dengan tanah.
- Perluasan Masjid: Beliau melakukan perluasan area masjid secara besar-besaran untuk menampung jemaah yang kian membeludak.
3. Masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan
Setelah berhasil menyatukan kembali kekhalifahan, Abdul Malik bin Marwan mengembalikan bentuk Ka'bah ke struktur semula (seperti zaman Quraisy) dan fokus pada keindahan masjid.
- Peninggian Dinding: Beliau meninggikan dinding-dinding Masjidil Haram.
- Material Mewah: Beliau menggunakan kayu jati untuk atap masjid dan menghiasi kepala pilar-pilar dengan emas murni. Ini adalah pertama kalinya emas digunakan secara ekstensif dalam dekorasi Masjidil Haram.
- Kirim Penutup Ka'bah: Beliau menetapkan tradisi pengiriman Kiswah (penutup Ka'bah) yang mewah dari Damaskus.
4. Masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (Puncak Arsitektur)
Al-Walid dikenal sebagai "Arsitek Terbesar" Bani Umayyah (yang juga membangun Masjid Umayyah di Damaskus). Di tangannya, Masjidil Haram mengalami perubahan total dalam hal estetika.
- Penggunaan Marmer: Al-Walid mendatangkan marmer dari Mesir dan Syam untuk melapisi dinding serta lantai masjid.
- Pembangunan Lengkungan (Arcades): Beliau membangun lengkungan-lengkungan indah di atas pilar-pilar marmer yang kokoh, memberikan kesan megah dan berwibawa.
- Mozaik: Dinding-dinding masjid dihiasi dengan mozaik yang rumit, menjadikannya salah satu bangunan terindah di dunia pada masa itu.
- Perluasan Area: Luas area masjid ditambah secara signifikan agar mampu menampung arus jemaah haji yang datang dari seluruh penjuru kekhalifahan yang sudah membentang dari Spanyol hingga India.
Perbedaan Utama Gaya Umayyah dengan Era Sebelumnya
| Aspek | Era Khulafaur Rasyidin | Era Bani Umayyah |
| Material | Tanah liat, kayu pohon kurma, batu biasa. | Marmer, kayu jati, emas, mozaik. |
| Gaya Arsitektur | Fungsional dan sederhana. | Megah, artistik, dan mengadopsi gaya Bizantium/Persia. |
| Atap/Serambi | Hanya untuk berteduh (sangat sederhana). | Beratap kokoh dengan pilar-pilar marmer yang berhias emas. |
Pembangunan oleh Bani Umayyah ini menjadi pondasi dasar bagi bentuk Masjidil Haram yang kita kenal di abad-abad berikutnya, sebelum akhirnya diperluas kembali secara masif oleh Dinasti Abbasiyah dan Kesultanan Utsmaniyah.
Pada masa Dinasti Abbasiyah, Masjidil Haram mengalami perluasan yang jauh lebih terorganisir dan artistik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Para Khalifah Abbasiyah memiliki ambisi besar untuk menunjukkan kemegahan peradaban Islam melalui arsitektur suci di Makkah.
Berikut adalah tahapan pembangunan Masjidil Haram pada masa Daulat Bani Abbasiyah :
1. Masa Khalifah Abu Ja'far al-Mansur (137-140 H)
Al-Mansur adalah khalifah pertama Abbasiyah yang melakukan perluasan besar-besaran.
- Perluasan Area: Beliau melipatgandakan luas masjid, terutama di sisi utara dan barat.
- Pembangunan Menara: Beliau adalah orang pertama yang membangun menara di Masjidil Haram (di sudut utara) untuk mengumandangkan azan.
- Sentuhan Artistik: Dinding masjid dihias dengan ukiran marmer dan mozaik emas, meniru gaya kemegahan Baghdad namun tetap menjaga kesucian Makkah.
2. Masa Khalifah Muhammad al-Mahdi (160-164 H)
Ini adalah periode perluasan yang paling ikonik pada masa Abbasiyah. Al-Mahdi melakukan dua kali proyek besar:
- Simetri Masjid: Beliau menyadari bahwa posisi Ka'bah tidak berada tepat di tengah-tengah masjid karena perluasan sebelumnya hanya fokus pada satu sisi. Al-Mahdi kemudian membeli rumah-rumah penduduk di sisi selatan untuk memperluas masjid sehingga Ka'bah berada tepat di titik sentral (tengah) area masjid.
- Pilar Marmer: Beliau mendatangkan ratusan pilar marmer dari Mesir dan Syam yang dibawa melalui laut ke Jeddah, kemudian diangkut dengan unta ke Makkah. Pilar-pilar ini dilengkapi dengan kepala pilar (kapital) yang dilapisi emas.
- Pembangunan Atap: Masjid dibuat memiliki atap yang kokoh dari kayu jati pilihan untuk melindungi jemaah dari panas matahari.
3. Masa Khalifah al-Mu'tadhid Billah (281 H)
Meskipun tidak sebesar Al-Mahdi, Al-Mu'tadhid melakukan renovasi yang sangat fungsional:
- Pembangunan Darun Nadwah: Beliau memasukkan area bekas gedung pertemuan Quraisy (Darun Nadwah) ke dalam area masjid.
- Penambahan Pintu: Beliau membangun koridor-koridor indah dan menambah jumlah pintu masuk untuk memperlancar arus jemaah yang masuk dan keluar.
4. Masa Khalifah al-Muqtadir Billah (306 H)
Al-Muqtadir melakukan perluasan di sisi pintu "Bab Ibrahim".
- Pintu Zubaidah: Beliau memperluas area masjid di bagian yang dikenal dengan nama pintu gerbang istri Khalifah Harun al-Rasyid (Siti Zubaidah), yang terkenal karena kedermawanannya membangun saluran air di Makkah.
Karakteristik Arsitektur Era Abbasiyah
Beberapa ciri khas yang membedakan pembangunan masa Abbasiyah dengan era sebelumnya adalah:
- Struktur Menara: Mulai digunakannya menara secara permanen sebagai elemen wajib masjid.
- Hutan Tiang (Pilar): Masjidil Haram mulai dipenuhi oleh deretan pilar marmer yang memberikan kesan interior yang megah dan luas.
- Kaligrafi: Penggunaan seni khat (kaligrafi) Arab mulai banyak menghiasi dinding dan langit-langit masjid sebagai elemen dekoratif utama menggantikan mozaik bergambar tumbuhan.
- Sistem Drainase: Mulai diperhatikan sistem pembuangan air untuk mencegah banjir bandang (lembah Makkah) merusak area Mataf.
Pembangunan oleh Dinasti Abbasiyah ini bertahan cukup lama hingga akhirnya dilakukan renovasi besar-besaran kembali oleh Kesultanan Mamluk dan kemudian Kesultanan Utsmaniyah (Turki Saudi).
Pembangunan Masjidil Haram di masa Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) merupakan salah satu fase paling krusial karena bentuk arsitektur yang mereka bangunlah yang bertahan selama ratusan tahun (dikenal sebagai Bangunan Utsmani) sebelum adanya perluasan besar-besaran di era Arab Saudi modern.
Para Sultan Utsmaniyah menganggap diri mereka sebagai Khadimul Haramain (Pelayan Dua Kota Suci), sehingga mereka mencurahkan sumber daya terbaik untuk menjaga dan memperindah Masjidil Haram.
Berikut adalah tahapan dan kontribusi utama Dinasti Utsmaniyah :
1. Masa Sultan Suleiman Al-Qanuni (979 H / 1571 M)
Sultan Suleiman memulai renovasi besar yang fokus pada estetika dan ketahanan bangunan.
- Penggantian Atap: Beliau mengganti atap kayu yang sudah tua dengan material yang lebih kokoh.
- Arsitek Sinan: Arsitek legendaris Dinasti Utsmaniyah, Mimar Sinan, terlibat dalam merancang perubahan struktural masjid. Ia mengganti atap datar masjid dengan deretan kubah-kubah kecil yang menjadi ciri khas arsitektur Turki.
- Marmer dan Kaligrafi: Dinding dan lantai masjid mulai dilapisi marmer mewah, dan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an dipasang dengan sangat indah di berbagai sudut masjid.
2. Masa Sultan Selim II dan Sultan Murad IV (1043 H / 1633 M)
Ini adalah periode pembangunan fisik paling signifikan yang strukturnya masih bisa kita lihat sebagian hingga hari ini.
- Renovasi Akibat Banjir: Pada tahun 1629, Makkah dilanda banjir bandang yang sangat hebat hingga meruntuhkan tiga dinding Ka'bah. Sultan Murad IV segera memerintahkan pembangunan ulang Ka'bah dengan batu granit yang sangat kuat dari pegunungan di Makkah.
- Pembangunan Serambi Utsmani: Pembangunan serambi atau koridor di sekeliling area tawaf diselesaikan. Karakteristiknya adalah kubah-kubah putih kecil yang ditopang oleh pilar-pilar marmer yang kokoh.
- Menara: Di era ini, jumlah menara Masjidil Haram ditambah hingga menjadi 7 menara, menjadikannya masjid dengan menara terbanyak di dunia pada saat itu.
3. Kontribusi Teknis dan Fasilitas
Selain bangunan fisik masjid, Dinasti Utsmaniyah melakukan terobosan dalam pemeliharaan kota Makkah:
- Penahan Banjir: Membangun bendungan dan saluran air di sekitar Makkah untuk mengalihkan air hujan agar tidak langsung masuk ke lembah Masjidil Haram.
- Pemeliharaan Ka'bah: Mereka rutin memperbaiki Kiswah (penutup Ka'bah) dan mengirimkannya setiap tahun dari pusat industri kain di Mesir atau Istanbul dalam prosesi yang sangat megah.
- Penerangan Modern: Di akhir masa Utsmaniyah, mulai diperkenalkan sistem lampu gantung yang lebih modern untuk menggantikan lampu minyak tradisional.
Karakteristik Utama Arsitektur Utsmaniyah:
- Kubah Kecil: Mengganti atap kayu datar dengan ratusan kubah kecil di atas serambi masjid (yang sekarang dikenal sebagai area bangunan lama di sekitar pelataran tawaf).
- Pilar Campuran: Penggunaan pilar marmer asli yang dikombinasikan dengan batu granit lokal.
- Warna Putih dan Kuning: Penggunaan warna-warna terang pada kubah dan dinding yang memberikan kesan sejuk dan bersih.
Struktur yang dibangun oleh Sultan Murad IV dan Sultan-sultan Utsmaniyah lainnya ini tetap utuh dan menjadi bentuk utama Masjidil Haram selama hampir 400 tahun, hingga akhirnya pemerintah Arab Saudi melakukan perluasan besar-besaran (Saudi Expansion I, II, dan III) mulai pertengahan abad ke-20.
Era pemerintahan Arab Saudi menandai fase perluasan paling masif dan modern dalam sejarah Masjidil Haram guna mengakomodasi jutaan jemaah dari seluruh dunia. Hingga tahun 2026, proyek ini telah mencapai tahap penyelesaian akhir dari perluasan ketiga.
Berikut adalah rincian tahapannya :
1. Saudi Expansion I (Era Raja Saud & Raja Faisal)
Dimulai pada tahun 1955, perluasan ini bertujuan mengubah struktur tradisional menjadi bangunan modern bertingkat.
- Mataf & Mas'a: Area tawaf (Mataf) diperluas dan jalur Sa’i (Mas'a) dibangun menjadi dua lantai dan menyatu dengan bangunan masjid.
- Bangunan Utama: Membangun gedung berbentuk persegi panjang yang mengelilingi struktur bangunan era Utsmaniyah.
- Fasilitas: Penambahan sistem pengeras suara, listrik, dan kipas angin untuk pertama kalinya secara luas.
2. Saudi Expansion II (Era Raja Fahd)
Dimulai pada tahun 1988, perluasan ini memberikan karakter visual yang kita kenal dengan menara-menara putih yang tinggi.
- Sayap Baru: Pembangunan gedung baru di sisi barat (pintu utama diberi nama King Fahd Gate).
- Kapasitas: Kapasitas masjid meningkat hingga mampu menampung sekitar 1 juta jemaah pada masa puncak.
- Estetika: Penggunaan marmer putih berkualitas tinggi pada lantai dan dinding, serta pemasangan AC di area bangunan baru.
- Pelataran Luas: Pembangunan area luar (piazza) yang sangat luas untuk menampung jemaah saat salat Jumat dan hari raya.
3. Saudi Expansion III (Era Raja Abdullah & Raja Salman)
Ini adalah proyek terbesar dalam sejarah, yang dimulai pada 2011 dan berlanjut hingga 2026 di bawah pengawasan Raja Salman.
- Pusat Perluasan (Gedung Raja Abdullah): Pembangunan gedung raksasa di sisi utara yang memiliki 22 kubah megah (12 di antaranya merupakan kubah kaca yang bisa bergeser otomatis).
- Modernisasi Mataf: Struktur Mataf (tempat tawaf) dirombak total menjadi bertingkat-tingkat yang mampu menampung 107.000 jemaah per jam tanpa hambatan pilar.
- Integrasi Teknologi (Update 2026):
- Sistem pendingin udara (AC) raksasa dengan kapasitas 90.000 ton.
- Integrasi sistem navigasi digital untuk membantu jemaah menemukan arah di dalam masjid yang luasnya kini mencapai sekitar 1,2 juta meter persegi.
- Penggunaan eskalator dan lift canggih sebanyak ratusan unit untuk akses kursi roda dan lansia.
- Infrastruktur Penunjang: Pembangunan terowongan pejalan kaki, stasiun transportasi, dan pusat layanan medis terpadu di sekitar kompleks masjid.
Status di Tahun 2026
Memasuki pertengahan tahun 2026, proyek perluasan ketiga ini telah memasuki tahap operasional penuh.
- Kapasitas Total: Masjidil Haram kini dapat menampung hingga 2 juta jemaah secara bersamaan.
- Konektivitas: Kawasan masjid kini terintegrasi dengan proyek Masar Destination dan jalur kereta api, memudahkan akses jemaah dari hotel-hotel di sekitar Makkah langsung menuju pelataran masjid.
- Penyelesaian Detail: Fokus saat ini adalah pada sentuhan akhir kaligrafi interior, pemasangan ribuan karpet baru, dan optimalisasi sistem pengelolaan air Zamzam secara otomatis ke ribuan titik dispenser di seluruh area ekspansi.
Perluasan ini bukan sekadar menambah ruang, tetapi mentransformasi Masjidil Haram menjadi sebuah "Smart Mosque" yang tetap mempertahankan nilai-nilai sejarah dan spiritualitas Islam.