
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Sejarah Kota Makkah tidak lepas dari dua titik koordinat yang sangat sakral dan memiliki nilai historis tinggi, yaitu tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) dan rumah tinggal Ummul Mukminin Siti Khadijah RA.
Berikut adalah penjelasan mengenai sejarah, asal-usul, dan bagaimana kedua lokasi ini bertransformasi di tengah modernisasi Masjidil Haram.
1. Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi)
Sejarah dan Asal-Usul
Nabi Muhammad SAW lahir di sebuah lembah bernama Syu'ab Abi Thalib (sekarang dikenal sebagai Syu'ab Ali). Lokasi ini terletak di lorong yang menuju ke arah Bukit Marwah. Dahulu, rumah ini merupakan milik ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang kemudian diwariskan kepada Nabi.
Perkembangan Bangunan
- Masa Khilafah: Pada masa Dinasti Abbasiyah, ibu dari Khalifah Harun al-Rasyid, Khaizuran, membangun sebuah masjid di lokasi tersebut untuk menjaga jejak sejarahnya.
- Masa Modern: Untuk menghindari pengkultusan atau praktik yang dianggap tidak sesuai dengan syariat oleh otoritas setempat, bangunan tersebut diubah fungsinya menjadi perpustakaan umum yang dikenal sebagai Maktabah Makkah al-Mukarramah (Perpustakaan Makkah).
2. Rumah Siti Khadijah RA
Sejarah dan Asal-Usul
Rumah ini terletak di area Al-Hafayer, dekat dengan kompleks pertokoan di sekitar Bukit Marwah. Rumah ini memiliki nilai sejarah yang sangat dalam karena di sinilah Nabi Muhammad SAW tinggal selama kurang lebih 25 tahun masa pernikahan beliau dengan Siti Khadijah. Di rumah ini pula, wahyu-wahyu awal turun dan putra-putri beliau dilahirkan.
Penemuan Kembali
Selama berabad-abad, lokasi rumah ini tertutup oleh bangunan lain. Namun, saat proyek perluasan Masjidil Haram dilakukan pada akhir abad ke-20, para arkeolog melakukan penggalian dan menemukan fondasi serta tata ruang asli rumah tersebut, termasuk kamar tempat Nabi biasa ber-tahannuts sebelum menerima wahyu di Gua Hira.
3. Prospek dalam Pembangunan Masjidil Haram
Perkembangan Masjidil Haram yang sangat masif membawa dampak signifikan terhadap kedua situs ini:
Perluasan Area Tawaf dan Sa'i
Lokasi kedua situs ini berada di area yang sangat krusial bagi mobilitas jamaah. Dalam proyek Visi Saudi 2030, prioritas utama adalah keselamatan dan kenyamanan jamaah dalam jumlah jutaan.
- Integrasi Arsitektur: Sebagian besar situs sejarah di sekitar Masjidil Haram kini berada di bawah lantai marmer perluasan atau diintegrasikan secara fungsional.
- Pelestarian Digital dan Dokumentasi: Karena kebutuhan ruang untuk area salat yang luas, fisik bangunan rumah Siti Khadijah kini telah tertutup oleh lantai perluasan (Mataf). Namun, pemerintah Arab Saudi melakukan dokumentasi digital dan pemetaan arkeologi agar data sejarahnya tetap tersimpan bagi peneliti.
Tantangan Antara Modernitas dan Konservasi
Prospek pembangunan ke depan menunjukkan kecenderungan untuk memprioritaskan kapasitas tampung. Area Maulid Nabi (Perpustakaan) saat ini tetap berdiri tegak di luar area pelataran utama sebagai penanda sejarah, namun rumah Siti Khadijah sepenuhnya telah menjadi bagian dari fondasi perluasan Masjidil Haram untuk memfasilitasi jalur keluar masuk jamaah dari arah utara.
Catatan Sejarah: Meskipun fisik bangunannya mungkin telah berubah atau tertutup oleh marmer modern, titik koordinat geografisnya tetap menjadi pengingat akan awal mula risalah Islam di tanah suci.
Signifikansi historis dan teknis dari kedua lokasi tersebut dalam konteks tata kota Makkah modern :
1. Kedalaman Sejarah dan Arsitektur
- Maulid Nabi (Perpustakaan Makkah): Bangunan yang berdiri saat ini memiliki gaya arsitektur khas Hijaz. Meskipun fungsinya adalah perpustakaan, lokasinya yang berada di jalur masuk utama dari arah terminal bus (Ghazza) menjadikannya "landmark" visual bagi jamaah yang akan masuk ke Masjidil Haram. Secara hukum wakaf, lokasi ini tetap dijaga agar tidak dibongkar total demi menghormati nilai sejarahnya sebagai titik awal kehidupan Rasulullah.
- Rumah Siti Khadijah: Berbeda dengan tempat lahir Nabi, rumah ini berada di posisi yang sekarang menjadi bagian dari pelataran (plaza) luas di sisi utara. Sebelum tertutup marmer, penggalian tahun 1989 menunjukkan bahwa rumah ini memiliki struktur ruangan yang cukup luas, mencerminkan status Siti Khadijah sebagai pengusaha sukses pada zamannya.
2. Tantangan Pembangunan Masjidil Haram
Pemerintah Arab Saudi menghadapi dilema antara Konservasi vs Fungsionalitas. Berikut adalah dinamikanya:
- Penyediaan Ruang (Capacity): Masjidil Haram diproyeksikan mampu menampung lebih dari 2-3 juta jamaah sekaligus. Hal ini membutuhkan area yang sangat luas dan datar tanpa hambatan fisik (bangunan lama).
- Aliran Massa (Crowd Management): Lokasi sejarah ini berada di jalur krusial antara area Sa'i dan pintu keluar. Untuk menghindari penumpukan massa yang bisa berakibat fatal (desak-desakan), struktur bangunan lama sering kali harus "dikorbankan" untuk dijadikan lantai terbuka.
- Keamanan dan Kebersihan: Dengan menyatukan area-area sejarah ke dalam struktur masjid yang modern, sistem pendingin udara (AC), penyaluran air zamzam, dan kebersihan lantai dapat dikelola secara terpusat.
3. Prospek Masa Depan (Visi 2030)
Ke depan, pengembangan kedua situs ini kemungkinan besar akan beralih dari bentuk fisik ke bentuk Edukasi Digital:
- Museum Virtual: Karena keterbatasan ruang fisik di sekitar Ka'bah, pemerintah Saudi mulai membangun museum-museum besar di luar area masjid (seperti Museum Wahyu di kaki Jabal Nur) yang merekonstruksi rumah Siti Khadijah dan tempat lahir Nabi dalam bentuk 3D atau VR.
- Markah Geografis: Alih-alih mendirikan bangunan, titik-titik penting sejarah ini sering kali ditandai dengan pola marmer yang berbeda atau papan informasi multibahasa agar jamaah tetap mengetahui nilai sejarah tempat mereka berpijak tanpa mengganggu arus jalan.
- Pelestarian Akademik: Perpustakaan Makkah (Maulid Nabi) diprediksi akan terus dipertahankan sebagai pusat riset sejarah Makkah, sekaligus menjadi batas antara area komersial modern (perhotelan) dengan area suci masjid.
Secara singkat, prospeknya adalah integrasi total. Bangunan bersejarah tidak lagi berdiri sebagai entitas terpisah, melainkan menjadi bagian dari satu ekosistem besar Masjidil Haram yang modern, aman, namun tetap membawa memori spiritual masa lalu.
Sejak era pemerintahan Raja Saud hingga Pangeran Muhammad bin Salman (MBS), Masjidil Haram mengalami transformasi dari sebuah masjid kota yang sederhana menjadi kompleks bangunan keagamaan terbesar dan tercanggih di dunia.
1. Era Raja Saud bin Abdulaziz (1955–1964)
Inilah awal mula Perluasan Saudi Pertama. Fokus utamanya adalah mengganti bangunan lama era Kekaisaran Utsmani yang sudah tidak mampu menampung jamaah.
- Konstruksi: Pembangunan gedung bertingkat dua di sekeliling area Mataf (tempat tawaf).
- Inovasi: Jalur Sa’i (Safa-Marwah) mulai dibangun secara permanen dan menyatu ke dalam bangunan masjid untuk pertama kalinya. Area tawaf diperluas secara signifikan.
2. Era Raja Fahd bin Abdulaziz (1988–2005)
Dikenal sebagai Perluasan Saudi Kedua. Proyek ini secara drastis mengubah wajah luar Masjidil Haram.
- Bangunan Utama: Penambahan sayap bangunan baru yang sangat besar di sisi barat (Pintu Raja Fahd).
- Infrastruktur: Pemasangan sistem pendingin udara (AC) sentral, eskalator untuk mobilitas, serta pembangunan menara-menara baru yang menjulang tinggi (mencapai 89 meter).
- Plaza Luar: Pembukaan area pelataran luar yang luas agar jamaah bisa salat di ruang terbuka saat musim puncak.
3. Era Raja Abdullah bin Abdulaziz (2007–2015)
Fase ini disebut Perluasan Saudi Ketiga, yang merupakan proyek konstruksi paling ambisius dalam sejarah Makkah.
- Ekspansi Utara: Pembangunan gedung raksasa di sisi utara (Pintu Raja Abdullah). Bangunan ini memiliki teknologi arsitektur modern dengan marmer berkualitas tinggi dan sistem pencahayaan canggih.
- Mataf Baru: Pembongkaran bangunan lama untuk memperluas area tawaf menjadi beberapa lantai melingkar, meningkatkan kapasitas dari 50.000 menjadi 130.000 jamaah per jam.
4. Era Raja Salman & Pangeran Muhammad bin Salman (MBS)
Di bawah payung Visi Saudi 2030, pengembangan berfokus pada penyelesaian teknis, digitalisasi, dan integrasi transportasi.
- Penyelesaian Proyek Utama: Mempercepat penyelesaian struktur di area perluasan utara dan peningkatan estetika interior.
- Teknologi Smart Masjid: Pemasangan sistem pintu otomatis, robot navigasi, dan sistem pengawasan kerumunan berbasis AI untuk keamanan.
- Konektivitas: Integrasi masjid dengan proyek Haramain High Speed Railway dan pembangunan terowongan pejalan kaki yang lebih luas untuk memudahkan arus jamaah dari hotel menuju masjid.
- Proyek Jalur Masar: Penataan kawasan di sekitar masjid untuk memastikan aksesibilitas yang lebih lancar bagi jutaan jamaah Umrah setiap bulannya.
Perbandingan Kapasitas & Fasilitas
| Era | Kapasitas Jamaah (Estimasi) | Fokus Utama |
| Raja Saud | ~300.000 | Bangunan permanen jalur Sa'i. |
| Raja Fahd | ~1.000.000 | Modernisasi (AC, Eskalator, Menara). |
| Raja Abdullah | ~2.000.000+ | Ekspansi fisik besar-besaran (Sisi Utara). |
| Era Salman/MBS | Target 30 Juta/Tahun | Digitalisasi, Keamanan, & Integrasi Visi 2030. |
Perkembangan ini menunjukkan pergeseran dari sekadar memperluas lahan menjadi pembangunan ekosistem pintar yang mengutamakan kelancaran arus massa tanpa menghilangkan esensi sejarah di titik-titik krusial seperti Ka'bah.
Konstruksi Masjidil Haram telah berkembang dari sebidang tanah kosong yang mengelilingi Ka'bah menjadi kompleks bangunan keagamaan seluas lebih dari 1 juta meter persegi. Berikut adalah rincian mengenai luas area, struktur bagian, dan asal-usul tanahnya :
1. Luas Area Masjidil Haram Saat Ini
Secara keseluruhan, setelah selesainya proyek Perluasan Ketiga (Era Raja Abdullah hingga Raja Salman), total luas Masjidil Haram diperkirakan mencapai 1.470.000 meter persegi. Kapasitas daya tampungnya kini diproyeksikan mampu melayani lebih dari 2,5 juta jamaah pada waktu bersamaan.
Bagian-Bagian Utama Masjidil Haram:
- Area Mataf (Tempat Tawaf): Area terbuka yang mengelilingi Ka'bah. Kini telah diperluas menjadi beberapa lantai melingkar untuk meningkatkan kapasitas tawaf per jam.
- Bangunan Perluasan Pertama (Saudi): Meliputi bangunan di sekeliling Mataf yang dibangun di era Raja Saud dan Raja Faisal.
- Bangunan Perluasan Raja Fahd: Terletak di sisi barat, dicirikan dengan pintu-pintu besar dan menara tinggi.
- Bangunan Perluasan Raja Abdullah (Utara): Bagian terbaru dan termegah dengan arsitektur modern yang mendominasi sisi utara masjid.
- Mas'a (Jalur Sa'i): Menghubungkan bukit Safa dan Marwah, kini terdiri dari empat lantai yang dilengkapi pendingin udara.
- Plaza Luar (Pelataran): Area luas di sekeliling masjid yang digunakan untuk salat dan jalur evakuasi massal.
2. Asal-Usul Tanah: Lokasi Apa dan Milik Siapa?
Pada masa awal, tanah di sekitar Ka'bah bukanlah sebuah bangunan masjid seperti sekarang, melainkan pemukiman penduduk.
- Zaman Nabi Ibrahim AS: Lokasi ini adalah lembah gersang tak berpenghuni yang dipilih atas perintah Allah SWT. Di sinilah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail meninggikan fondasi Ka'bah.
- Zaman Pra-Islam (Jahiliyah): Area di sekeliling Ka'bah menjadi pusat kota Makkah. Rumah-rumah penduduk berdiri sangat dekat dengan Ka'bah, hanya dipisahkan oleh lorong-lorong sempit. Tanah tersebut dimiliki secara turun-temurun oleh suku-suku Quraisy.
- Era Khulafaur Rasyidin (Titik Balik):
- Khalifah Umar bin Khattab: Beliau adalah orang pertama yang melakukan pembebasan lahan secara formal. Karena jumlah jamaah meningkat, Umar membeli rumah-rumah penduduk di sekeliling Ka'bah, meruntuhkannya, dan membangun tembok setinggi kurang dari 2 meter untuk menandai area masjid. Beberapa rumah penduduk dibeli dengan harga ganti rugi yang adil, sementara rumah yang pemiliknya menolak tetap dibongkar namun uangnya disimpan di Baitul Mal hingga mereka mau mengambilnya.
- Khalifah Utsman bin Affan: Beliau melanjutkan pembebasan lahan dengan membeli lebih banyak rumah warga untuk memperluas area salat dan membangun atap peneduh.
3. Program Pengembangan: Menjadi Apa?
Transformasi lahan pemukiman menjadi area masjid ini diprogram secara konsisten selama berabad-abad dengan tujuan utama sebagai berikut:
- Transformasi dari Privat ke Publik (Wakaf): Lahan-lahan yang dahulunya milik pribadi kini telah sepenuhnya berstatus tanah wakaf untuk umat Islam di seluruh dunia. Tidak ada lagi kepemilikan pribadi di area inti Masjidil Haram.
- Pusat Integrasi Ibadah (Integrated Sanctuary): Program jangka panjangnya adalah menyatukan seluruh situs penting (seperti Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, sumur Zamzam, dan jalur Sa'i) ke dalam satu bangunan terpadu agar jamaah tidak perlu keluar-masuk gedung.
- Proyek "Smart City" Relijius (Visi 2030): Di bawah kepemimpinan MBS, area ini diprogram untuk menjadi pusat Smart City. Penggunaan lahan tidak lagi hanya untuk area salat, tetapi juga mencakup:
- Sistem pengelolaan air Zamzam otomatis.
- Sistem kontrol kerumunan berbasis kecerdasan buatan (AI).
- Integrasi transportasi (stasiun kereta bawah tanah dan bus) agar akses dari luar kota Makkah langsung menuju pelataran masjid tanpa kemacetan.
Dengan demikian, lahan yang dahulunya adalah lorong-lorong rumah penduduk Quraisy kini telah berubah menjadi infrastruktur ibadah tercanggih di dunia, yang dirancang untuk melayani puluhan juta umat manusia setiap tahunnya secara efisien dan aman.