
Oleh ; Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hari Kenaikan Yesus Kristus (Ascension Day) adalah salah satu pilar utama dalam iman Kristiani yang dirayakan 40 hari setelah Kebangkitan (Paskah). Meskipun secara esensi sama, terdapat nuansa penekanan yang sedikit berbeda dalam tradisi Protestan dan Katolik.
Makna Teologis Utama
Secara umum, peristiwa ini menandai akhir dari kehadiran fisik Yesus di bumi dan dimulainya masa penantian akan Roh Kudus (Pentakosta).
- Penyelesaian Misi: Yesus telah menyelesaikan karya penebusan-Nya di dunia.
- Peninggian (Exaltation): Yesus kembali ke takhta-Nya di surga dan berkuasa sebagai Raja di atas segala raja.
- Persiapan Tempat: Yesus pergi untuk menyediakan tempat bagi umat manusia dalam kemuliaan ilahi.
Perspektif Katolik
Dalam Gereja Katolik, Kenaikan adalah Hari Raya yang Disamakan dengan Hari Minggu (Hari Raya Wajib).
- Liturgi: Fokus pada dimensi sakramental. Lilin Paskah, yang dinyalakan sejak Malam Paskah, biasanya dipadamkan secara seremonial setelah pembacaan Injil untuk melambangkan kepergian fisik Kristus.
- Imamat Kristus: Katolik sangat menekankan peran Yesus sebagai "Imam Besar" yang masuk ke dalam tempat kudus surgawi untuk terus-menerus menjadi perantara bagi umat manusia di hadapan Bapa.
- Tubuh Mistik: Kenaikan dipandang sebagai pengangkatan kodrat manusia ke dalam surga. Karena Yesus adalah Kepala Gereja, maka kita sebagai anggota Tubuh-Nya juga memiliki harapan untuk sampai ke sana.
Perspektif Kristen (Protestan)
Gereja-gereja Protestan (Lutheran, Reformed, Anglikan, Pentakosta, dll.) memandang Kenaikan sebagai proklamasi kemenangan dan otoritas.
- Otoritas Kristus: Penekanan kuat pada kedaulatan Kristus yang sekarang memerintah atas seluruh alam semesta. Ini sering dikaitkan dengan doktrin Soli Deo Gloria.
- Amanat Agung: Fokus sering kali diarahkan pada tugas pengutusan. Sebelum naik, Yesus memberi perintah untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8).
- Kedatangan Kembali: Ada penekanan eskatologis yang kuat; sebagaimana Ia naik, demikian pula Ia akan datang kembali untuk kedua kalinya (Parousia).
Perbandingan Singkat
| Aspek | Perspektif Katolik | Perspektif Kristen (Protestan) |
| Status Hari Raya | Hari Raya Wajib (Misa Kudus). | Hari besar gerejawi (Ibadah syukur). |
| Fokus Utama | Kristus sebagai Imam Besar & Harapan Tubuh Mistik. | Kristus sebagai Raja & Penugasan Amanat Agung. |
| Simbolisme | Pemadaman Lilin Paskah (tradisi lama). | Penekanan pada khotbah tentang kedaulatan Kristus. |
Intisari: Baik Katolik maupun Protestan sepakat bahwa tanpa Kenaikan, tidak akan ada pengutusan Roh Kudus (Pentakosta). Kenaikan bukan berarti Yesus meninggalkan manusia, melainkan Ia hadir dengan cara yang baru—tidak lagi terbatas secara fisik, tetapi hadir secara spiritual di mana pun melalui Roh-Nya.
Dalam perspektif sejarah, peristiwa Kenaikan Yesus Kristus (Kristiani) dan kenaikan Isa Al-Masih (Islam) memiliki titik temu pada sosok yang sama, namun bercabang secara drastis dalam narasi kronologis dan maknanya.
1. Perspektif Kristiani: Kenaikan sebagai Fakta Historis-Teologis
Bagi umat Kristiani, Kenaikan adalah peristiwa fisik yang terjadi 40 hari setelah Kebangkitan. Secara historis, narasi ini bersumber dari tradisi lisan para rasul yang kemudian dibukukan dalam Perjanjian Baru.
- Konteks Waktu & Tempat: Terjadi sekitar tahun 30–33 Masehi di Bukit Zaitun, Yerusalem.
- Kronologi Peristiwa: Berdasarkan catatan Lukas (Kisah Para Rasul 1:1-11), Yesus yang telah bangkit menampakkan diri berkali-kali kepada murid-murid-Nya sebelum akhirnya "terangkat ke surga" di depan mata mereka.
- Bukti Tradisi: Sejak abad ke-4, setelah masa penganiayaan Romawi berakhir, lokasi di Bukit Zaitun mulai diziarahi secara resmi. Gereja Kenaikan (Chapel of the Ascension) dibangun di sana untuk menandai lokasi yang diyakini sebagai tempat terakhir kaki Yesus menyentuh bumi.
2. Perspektif Islam: Fenomena "Raf'u" (Pengangkatan)
Dalam Islam, Isa Al-Masih adalah salah satu nabi besar (Ulul Azmi). Perspektif Islam mengenai kenaikan-Nya tidak dikaitkan dengan kematian atau kebangkitan, melainkan perlindungan Allah terhadap utusan-Nya.
- Penyelamatan dari Penyaliban: Berdasarkan QS. An-Nisa: 157-158, mayoritas sejarawan dan ahli tafsir Islam berpendapat bahwa Isa tidak wafat disalib. Di saat musuh-musuhnya mengepung, Allah mengangkatnya ke surga.
- Istilah "Raf'u": Kata Raf'u dalam Al-Qur'an berarti "mengangkat". Sejarah Islam mencatat ini sebagai bentuk kemuliaan yang diberikan Allah untuk menyelamatkan Isa dari penghinaan duniawi.
- Status Saat Ini: Dalam sejarah pemikiran Islam, Isa diyakini masih hidup secara ruh dan jasad di langit, dan akan turun kembali ke bumi di akhir zaman (Damaskus) untuk mengalahkan Dajjal dan menegakkan keadilan.
Perbandingan Perspektif Sejarah
| Dimensi | Perspektif Kristiani | Perspektif Islam |
| Prasyarat | Terjadi setelah Yesus wafat disalib dan bangkit dari maut. | Terjadi sebelum atau sebagai pengganti dari peristiwa penyaliban. |
| Sifat Peristiwa | Perpisahan fisik setelah misi penebusan selesai. | Penyelamatan mukjizat dari musuh-musuh-Nya. |
| Tujuan | Bertakhta di surga dan mengutus Roh Kudus. | Diselamatkan dari kematian untuk menjalankan tugas di akhir zaman. |
| Sumber Primer | Injil dan Kisah Para Rasul (Abad ke-1 M). | Al-Qur'an dan Hadis (Abad ke-7 M). |
Tinjauan Arkeologi dan Geografis
Secara arkeologis, situs-situs yang terkait dengan kedua perspektif ini seringkali berada di lokasi yang sama namun dimaknai berbeda.
- Bukit Zaitun (Mount of Olives): Menjadi titik sentral bagi kedua tradisi. Umat Kristen menghormatinya sebagai tempat Kenaikan, sementara dalam tradisi Islam, wilayah Yerusalem (Baitul Maqdis) secara umum dihormati sebagai tempat para nabi diangkat ke langit, termasuk peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
- Makam Kosong: Bagi sejarawan Kristen, makam yang kosong adalah bukti kebangkitan yang mendahului kenaikan. Bagi perspektif Islam, ketiadaan jasad atau makam Isa justru memperkuat narasi bahwa beliau memang langsung diangkat oleh Allah tanpa melalui kematian fisik pada masa itu.
Meskipun terdapat perbedaan mendasar mengenai bagaimana dan kapan peristiwa itu terjadi, secara historis kedua agama sepakat bahwa sosok Isa/Yesus memiliki akhir kehidupan duniawi yang melampaui hukum alam biasa, yang hingga kini menjadi fondasi iman bagi miliaran orang.
Sejarah penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan peristiwa sentral dalam iman Kristiani. Baik perspektif Katolik maupun Kristen (Protestan) berpijak pada narasi yang sama yang bersumber dari Alkitab (Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), namun memiliki penekanan liturgis yang unik.
1. Peristiwa Penyaliban (Jumat Agung)
Penyaliban dipandang sebagai momen pengorbanan tertinggi untuk menebus dosa umat manusia.
Konteks Sejarah dan Politik
- Penangkapan: Terjadi di Taman Getsemani setelah perjamuan terakhir. Yesus dikhianati oleh Yudas Iskariot.
- Pengadilan: Yesus menghadapi serangkaian persidangan, mulai dari pengadilan agama Yahudi (Sanhedrin) di bawah Imam Besar Kayafas, hingga pengadilan Romawi di bawah Gubernur Pontius Pilatus.
- Eksekusi: Yesus dijatuhi hukuman mati dengan cara disalib—metode eksekusi Romawi yang paling menghinakan—di bukit Golgota (Kalvari) sekitar tahun 30–33 Masehi.
Makna Teologis
- Katolik: Menekankan pada "Sengsara Kristus" sebagai kurban ekaristi yang nyata. Penderitaan fisik Yesus sering divisualisasikan melalui tradisi Jalan Salib (Via Dolorosa) untuk merenungkan setiap tetes darah yang tumpah.
- Kristen (Protestan): Menekankan pada aspek substitusi (penggantian). Yesus mati menggantikan manusia untuk memuaskan keadilan Allah, sehingga hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan.
2. Masa Peralihan: Penguburan dan Sabtu Sunyi
Setelah dinyatakan wafat, jasad Yesus diturunkan dari salib oleh Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus, kemudian dimakamkan di dalam kubur batu yang baru.
- Sabtu Suci (Katolik): Masa hening yang mendalam. Gereja menantikan dengan berjaga-jaga di depan makam.
- Sabtu Sunyi (Protestan): Masa refleksi atas kemenangan Kristus atas maut di alam maut sebelum kebangkitan.
3. Peristiwa Kebangkitan (Paskah)
Kebangkitan adalah puncak dari sejarah keselamatan. Tanpa peristiwa ini, iman Kristiani dianggap sia-sia.
Kronologi Sejarah
- Kubur Kosong: Pada hari pertama minggu itu (Minggu pagi), beberapa wanita (termasuk Maria Magdalena) mendapati batu penutup makam telah terguling dan makam dalam keadaan kosong.
- Penampakan: Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada murid-murid-Nya selama 40 hari. Ia menunjukkan bahwa Ia bukan hantu, melainkan memiliki tubuh yang telah dimuliakan (bisa disentuh dan bisa makan).
Dampak Historis
- Transformasi Murid: Para rasul yang tadinya ketakutan dan bersembunyi tiba-tiba menjadi sangat berani memberitakan Injil hingga ke pusat kekaisaran Romawi, bahkan rela mati martir.
- Lahirnya Gereja: Kebangkitan menjadi motor penggerak lahirnya komunitas Kristen mula-mula di Yerusalem yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Perbedaan Penekanan Liturgis
| Aspek | Perspektif Katolik | Perspektif Kristen (Protestan) |
| Simbol Visual | Menggunakan Krusifiks (Salib dengan tubuh Yesus) untuk mengingatkan penderitaan-Nya. | Menggunakan Salib Kosong sebagai simbol bahwa Yesus sudah bangkit dan tidak lagi di salib. |
| Puncak Perayaan | Vigili Paskah (Sabtu malam) dengan upacara cahaya dan air baptis. | Ibadah Fajar Paskah (Minggu pagi) yang merayakan kemenangan atas maut. |
| Fokus Teologis | Partisipasi umat dalam sakramen dan misteri penderitaan Kristus. | Kedaulatan Allah dalam memberikan anugerah keselamatan melalui iman. |
Kesimpulan: Sejarah ini bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan fondasi identitas bagi umat Kristen dan Katolik. Penyaliban dipandang sebagai pembayaran "hutang" dosa, sedangkan Kebangkitan adalah bukti kemenangan atas maut dan jaminan kehidupan kekal bagi para penganutnya.
Sejarah kenaikan Isa Al-Masih dalam perspektif Islam merupakan peristiwa mukjizat yang sangat krusial. Dalam Islam, peristiwa ini dikenal dengan istilah Raf’u (Pengangkatan), di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Isa dari upaya pembunuhan dan penyaliban.
1. Landasan Al-Qur'an: Bantahan Penyaliban
Al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa Nabi Isa tidak dibunuh maupun disalib. Informasi ini terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 157-158:
"...padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka... Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Poin Utama Ayat:
- Ma Qataluhu (Tidak Membunuh): Menegaskan bahwa rencana pembunuhan oleh orang-orang Yahudi gagal.
- Ma Salabuhu (Tidak Menyalib): Menegaskan bahwa sosok yang berada di tiang salib bukanlah Nabi Isa.
- Shubbiha Lahum (Diserupakan): Terjadi fenomena "penyerupaan" wajah seseorang sehingga orang-orang pada saat itu menyangka mereka telah mengeksekusi Isa.
2. Perspektif Mufassirin (Ahli Tafsir)
Para mufassir besar seperti Ibnu Katsir, At-Thabari, dan Al-Qurthubi memberikan rincian sejarah berdasarkan riwayat yang sampai kepada mereka (sering disebut sebagai Israiliyat yang telah diverifikasi atau riwayat dari sahabat nabi):
Skenario Pengangkatan:
- Pengepungan: Ketika Nabi Isa dan para pengikutnya (Al-Hawariyyun) dikepung di sebuah rumah di Yerusalem, Nabi Isa menawarkan kepada pengikutnya: "Siapa di antara kalian yang mau diserupakan wajahnya denganku, ia akan dibunuh sebagai gantiku dan ia akan bersamaku di surga?"
- Sosok Pengganti: Seorang pemuda yang paling muda di antara mereka menyatakan kesediaannya. Setelah pem pemuda itu diserupakan wajahnya dengan Isa, ia dibawa keluar dan disalib, sementara Nabi Isa diangkat melalui atap rumah ke langit.
- Pendapat Lain: Ada pula mufassir yang menyebutkan bahwa sosok yang diserupakan adalah Yudas Iskariot (orang yang mengkhianati Isa) sebagai bentuk azab baginya.
3. Perspektif Hadis: Status dan Tugas di Masa Depan
Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW tidak banyak menceritakan teknis saat kenaikannya, melainkan lebih banyak menjelaskan statusnya saat ini dan perannya di masa depan.
- Masih Hidup: Mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jama'ah berkeyakinan bahwa Nabi Isa diangkat dengan ruh dan jasadnya dalam keadaan hidup.
- Turunnya Nabi Isa: Rasulullah SAW bersabda bahwa Isa Al-Masih akan turun kembali ke bumi di akhir zaman untuk membunuh Dajjal, mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan Jizyah (pajak perlindungan) karena semua orang akan memeluk Islam (HR. Bukhari & Muslim).
- Lokasi Turun: Beliau dikabarkan akan turun di Menara Putih di sebelah timur Damaskus, Suriah, dengan mengenakan dua lembar pakaian yang dicelup minyak za’faran dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat.
4. Makna Historis "Kenaikan" dalam Islam
Bagi umat Islam, sejarah ini mencerminkan beberapa hal penting:
- Kemuliaan Nabi Isa: Allah tidak membiarkan utusan-Nya yang mulia tewas dalam penghinaan di tiang salib.
- Keadilan Ilahi: Pengangkatan ini adalah bentuk intervensi langsung Allah untuk memisahkan kebenaran dari kebatilan.
- Kesinambungan Risalah: Kenaikan Isa dan rencana turunnya kembali menunjukkan bahwa tugas kenabian beliau belum benar-benar selesai secara fisik di bumi hingga akhir zaman nanti.
Perbedaan Istilah "Wafat" dalam Al-Qur'an
Terdapat ayat dalam Surah Ali Imran: 55 yang menyebutkan kata "Mutawaffika" (Aku mewafatkanmu). Para mufassir menjelaskan bahwa kata "wafat" di sini memiliki tiga makna:
- Tidur: Allah mengangkat Isa dalam keadaan tidur.
- Pengambilan Secara Sempurna: Allah mengambil Isa secara utuh (ruh dan jasad) dari bumi.
- Wafat Setelah Turun: Janji Allah bahwa Isa akan wafat secara normal setelah beliau turun kembali ke bumi di akhir zaman nanti.
Pertemuan antara Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra' Mi'raj merupakan salah satu fragmen sejarah spiritual terpenting dalam tradisi Islam. Secara historis-teologis, peristiwa ini mencerminkan kesinambungan risalah langit dan pengakuan akan kedudukan para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.
1. Lokasi Pertemuan: Langit Kedua
Dalam perjalanan Mi'raj (naik ke langit), Nabi Muhammad SAW didampingi oleh Malaikat Jibril. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa AS di langit kedua.
- Pendamping: Di langit kedua, Nabi Isa tidak sendirian. Beliau bersama dengan sepupunya, Nabi Yahya AS (Yohanes Pembaptis).
- Penyambutan: Saat Jibril meminta izin untuk membuka pintu langit kedua, para penghuni langit bertanya siapa yang datang. Setelah dijawab, Nabi Isa dan Nabi Yahya menyambut Nabi Muhammad SAW dengan hangat.
- Ucapan Selamat: Keduanya menyapa dengan kalimat: "Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh."
2. Deskripsi Fisik Nabi Isa AS
Dalam perspektif sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW memberikan gambaran fisik mengenai Nabi Isa AS berdasarkan penglihatan langsung saat pertemuan tersebut. Hal ini dicatat dalam beberapa riwayat hadis:
- Postur dan Warna Kulit: Beliau digambarkan sebagai pria bertubuh sedang (tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek), berkulit kemerahan (seperti baru keluar dari pemandian).
- Rambut: Rambut beliau digambarkan lurus sebahu dan tampak basah seolah-olah ada tetesan air yang jatuh dari kepalanya, meskipun tidak terkena air.
- Kesan Umum: Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa di antara orang yang pernah beliau lihat, Nabi Isa paling mirip dengan sahabat Nabi yang bernama Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi.
3. Signifikansi Sejarah dan Teologis
Pertemuan ini memiliki makna sejarah yang sangat dalam bagi perkembangan dakwah Islam:
- Legitimasi Risalah: Pertemuan ini menegaskan bahwa Islam bukanlah agama yang baru sama sekali, melainkan kelanjutan dari ajaran monoteisme yang dibawa oleh Nabi Isa AS.
- Persaudaraan Antar Nabi: Penyebutan "saudara yang saleh" menunjukkan ikatan kekeluargaan spiritual (iman) yang erat antara nabi-nabi dari Bani Israil dengan nabi dari kaum Arab.
- Diskusi Akhir Zaman: Dalam beberapa riwayat (seperti hadis Ibnu Majah), diceritakan bahwa pada malam tersebut Nabi Muhammad SAW berdiskusi dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa mengenai hari kiamat. Nabi Isa menjelaskan perannya nanti di akhir zaman untuk membunuh Dajjal, yang memperkuat narasi sejarah masa depan dalam eskatologi Islam.
4. Perbedaan Dimensi
Secara perspektif sejarah, penting untuk dicatat bahwa pertemuan ini terjadi dalam dimensi yang berbeda:
- Nabi Muhammad SAW: Mengalami peristiwa ini saat masih hidup di bumi (perjalanan mukjizat).
- Nabi Isa AS: Berada di langit karena telah "diangkat" (Raf'u) oleh Allah sebelumnya untuk diselamatkan dari upaya penyaliban.
Pertemuan ini menjadi bukti bagi umat Muslim bahwa Nabi Isa AS tetap hidup di tempat yang mulia dan memiliki hubungan ruhani yang nyata dengan Nabi Muhammad SAW.
Catatan Sejarah: Pertemuan di langit kedua ini sering kali menjadi titik refleksi bagi para ulama untuk menjelaskan mengapa Nabi Isa ditempatkan di langit yang relatif "rendah" (langit kedua dari tujuh). Sebagian mufassir berpendapat ini melambangkan bahwa beliau akan segera "turun" kembali ke bumi, karena secara fisik beliau adalah nabi yang paling dekat waktu kemunculannya kembali dibandingkan nabi-nabi lain yang sudah wafat.
Turunnya Nabi Isa AS ke bumi merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam eskatologi Islam (studi tentang akhir zaman). Dalam perspektif sejarah masa depan Islam, peran beliau bukan lagi sebagai pembawa syariat baru, melainkan sebagai pemimpin yang menegakkan keadilan dan meluruskan penyimpangan sejarah.
1. Lokasi dan Kondisi Turunnya
Berdasarkan hadis sahih (HR. Muslim), Nabi Isa akan turun di Menara Putih (Al-Manaratul Baidha) yang terletak di sebelah timur kota Damaskus, Suriah.
- Beliau turun di waktu Subuh, saat umat Muslim bersiap untuk salat berjamaah.
- Beliau turun dengan meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat.
- Pemimpin umat Islam saat itu (Imam Mahdi) akan mempersilakan Nabi Isa untuk menjadi imam salat, namun beliau menolak dan memilih bermakmum di belakang Imam Mahdi sebagai tanda penghormatan terhadap syariat Nabi Muhammad SAW.
2. Tugas Utama Nabi Isa AS
Para mufassirin dan ulama hadis merinci tugas-tugas besar yang akan diemban beliau:
A. Membunuh Dajjal
Tugas pertama dan paling mendesak adalah menumpas fitnah terbesar di muka bumi, yaitu Dajjal. Nabi Isa akan mengejar Dajjal hingga menemukannya di Pintu Ludd (sebuah kota di Palestina dekat Tel Aviv saat ini) dan membunuhnya dengan tombak pendek.
B. Menghapuskan Penyimpangan Akidah
Nabi Isa akan mengoreksi klaim sejarah dan teologis yang dianggap keliru:
- Mematahkan Salib: Menegaskan secara simbolis dan praktis bahwa beliau tidak pernah disalib.
- Membunuh Babi: Menegaskan kembali syariat tentang makanan yang haram dan meluruskan perilaku manusia yang menghalalkannya.
- Menghapuskan Jizyah: Tidak lagi menerima pajak perlindungan dari ahli kitab, karena saat itu kebenaran sudah sangat nyata sehingga pilihannya hanya memeluk Islam atau tetap dalam kekufuran yang nyata.
C. Menjadi Hakim yang Adil
Nabi Isa tidak membawa Injil sebagai hukum praktis, melainkan memerintah berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Beliau akan menjadi pemimpin dunia yang adil, menghancurkan segala bentuk kezaliman, dan menyatukan umat manusia di bawah panji tauhid.
3. Kondisi Dunia di Bawah Kepemimpinan Nabi Isa
Dalam catatan sejarah masa depan (hadis-hadis Fitan), masa kepemimpinan Nabi Isa digambarkan sebagai Zaman Keemasan Kedua:
- Kemakmuran Ekonomi: Harta benda akan melimpah ruah sehingga tidak ada lagi orang yang mau menerima sedekah.
- Kedamaian Semesta: Permusuhan dan kebencian akan dicabut dari hati manusia. Bahkan hewan buas akan hidup damai dengan hewan ternak (singa merumput bersama unta, anak kecil bermain dengan ular tanpa bahaya).
- Pemusnahan Yakjuj dan Makjuj: Pada masa beliau pula, kaum Yakjuj dan Makjuj akan muncul dan memporak-porandakan bumi. Atas doa Nabi Isa, Allah akan membinasakan mereka melalui wabah penyakit.
4. Akhir Hayat Nabi Isa di Bumi
Berbeda dengan kenaikan pertamanya yang tanpa kematian, kehadiran beliau yang kedua akan diakhiri dengan kematian alami manusia.
- Lama Memerintah: Hadis menyebutkan beliau akan tinggal di bumi selama 40 tahun (sebagian riwayat menyebut 7 tahun setelah turun).
- Wafat dan Pemakaman: Setelah beliau wafat, umat Muslim akan mensalatkannya. Beliau diyakini akan dimakamkan di Madinah, di dekat makam Nabi Muhammad SAW.
Perspektif Mufassirin terhadap Ayat Al-Qur'an
Mufassir seperti Ibnu Katsir mengaitkan peran akhir zaman ini dengan QS. Az-Zukhruf: 61:
"Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat..."
Ayat ini dimaknai bahwa turunnya Isa adalah tanda besar (kubra) bahwa kiamat sudah sangat dekat. Kehadiran beliau secara historis menjadi "jembatan" yang menutup lembaran sejarah manusia sebelum sangkakala ditiupkan.
Kesimpulan: Dalam perspektif Islam, peran Nabi Isa di akhir zaman adalah sebagai Mujaddid (Pembaruan) dan Hakim. Beliau hadir bukan untuk memulai agama baru, melainkan untuk membuktikan kebenaran risalah tauhid dan menutup sejarah dunia dengan keadilan yang absolut.
Dalam eskatologi Islam, Imam Mahdi adalah sosok pemimpin yang kemunculannya menjadi salah satu tanda besar (tanda-tanda kiamat) sebelum turunnya Nabi Isa AS. Namanya secara harfiah berarti "Orang yang mendapat petunjuk."
1. Identitas Imam Mahdi dalam Sunnah
Meskipun nama "Imam Mahdi" tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an, rincian mengenai identitas beliau sangat banyak ditemukan dalam Hadis Nabawi. Para mufassirin dan ulama hadis menyimpulkan kriteria beliau sebagai berikut:
- Nasab: Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur Siti Fatimah az-Zahra (dari keturunan Hasan bin Ali).
- Nama: Nama beliau sama dengan nama Nabi, yaitu Muhammad, dan nama ayahnya sama dengan nama ayah Nabi, yaitu Abdullah.
- Ciri Fisik: Rasulullah SAW mendeskripsikannya sebagai orang yang memiliki dahi lebar dan hidung yang mancung (HR. Abu Dawud).
- Lokasi Muncul: Beliau akan dibaiat sebagai pemimpin di depan Ka'bah (antara Rukun Yamani dan Makam Ibrahim) setelah adanya perselisihan pasca wafatnya seorang penguasa.
2. Peran dan Tugas Utama
Peran Imam Mahdi dalam perspektif sejarah masa depan Islam adalah sebagai pemersatu umat dan penegak keadilan. Tugas utamanya meliputi:
A. Menghancurkan Kezaliman
Tugas yang paling sering ditekankan adalah memulihkan kondisi dunia. Rasulullah SAW bersabda:
"Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan." (HR. Abu Dawud).
B. Menjadi Pemimpin Perang Akhir Zaman (Al-Malhamah Al-Kubra)
Dalam catatan sejarah eskatologi, Imam Mahdi akan memimpin umat Islam dalam peperangan besar melawan kekuatan kebatilan. Beliau akan menaklukkan berbagai wilayah untuk mengembalikan izzah (kemuliaan) Islam yang saat itu sedang berada di titik terendah.
C. Menata Ekonomi dan Kesejahteraan
Masa kepemimpinan Imam Mahdi digambarkan sebagai masa kemakmuran yang luar biasa. Harta akan melimpah sehingga beliau memberikan harta kepada orang lain tanpa menghitung-hitungnya. Tanah akan menumbuhkan tanamannya dan langit akan menurunkan hujannya secara maksimal.
3. Hubungan dengan Nabi Isa AS
Salah satu peran historis terpenting Imam Mahdi adalah menjadi tuan rumah bagi turunnya Nabi Isa AS.
- Saat Nabi Isa turun di Damaskus, beliau akan menuju markas pasukan Muslim yang dipimpin Imam Mahdi.
- Saat waktu salat tiba, Imam Mahdi akan mempersilakan Nabi Isa untuk menjadi imam, namun Nabi Isa menolak dan berkata, "Sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah bagi umat ini."
- Ini menunjukkan peran Imam Mahdi sebagai pemimpin sah dari umat Nabi Muhammad SAW pada masa itu.
4. Perspektif Mufassirin terhadap Al-Qur'an
Meskipun tidak disebutkan namanya, mufassir (ahli tafsir) sering mengaitkan sosok Imam Mahdi dengan beberapa ayat Al-Qur'an yang menjanjikan kemenangan Islam, di antaranya:
- QS. An-Nur: 55: Janji Allah tentang kekuasaan (khilafah) di bumi bagi orang-orang yang beriman. Mufassir melihat Imam Mahdi sebagai perwujudan nyata dari janji ini di akhir zaman.
- QS. Al-Anbiya: 105: "Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh." Ayat ini sering ditafsirkan sebagai penguasaan bumi oleh Imam Mahdi dan para pengikutnya setelah masa kezaliman berakhir.
5. Ringkasan Perbedaan Perspektif
Dalam sejarah pemikiran Islam, terdapat sedikit perbedaan penekanan:
- Ahlussunnah wal Jama'ah: Meyakini Imam Mahdi adalah sosok yang belum lahir dan akan muncul di akhir zaman sebagai manusia biasa yang dipilih Allah untuk memimpin.
- Syi'ah: Meyakini bahwa Imam Mahdi adalah Muhammad bin Hasan al-Askari (Imam ke-12) yang sudah lahir, namun saat ini sedang dalam keadaan ghaib (tersembunyi) dan akan muncul kembali di akhir zaman.
Kesimpulan Historis: Imam Mahdi dipandang sebagai "Oase" dalam sejarah kelam akhir zaman. Perannya adalah mengakhiri siklus kezaliman manusia dan mempersiapkan dunia bagi babak terakhir sejarah, yaitu turunnya Nabi Isa AS dan kemenangan mutlak tauhid sebelum kiamat terjadi.