
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hijir Ismail merupakan salah satu bagian paling sakral di area Masjidil Haram yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah pembangunan Ka'bah. Secara fisik, ia berbentuk dinding setengah lingkaran (al-Hathim) yang terletak di sisi utara Ka'bah.
1. Asal-Usul dan Masa Nabi Ibrahim AS
Secara historis, area ini diyakini sebagai tempat bernaung bagi Nabi Ismail AS dan ibundanya, Siti Hajar, saat mereka pertama kali tiba di lembah Makkah yang gersang. Nama "Hijir" sendiri secara bahasa berarti "pangkuan" atau "ruang perlindungan."
Pada masa Nabi Ibrahim AS membangun kembali pondasi Ka'bah, area Hijir Ismail merupakan bagian utuh dari dalam Ka'bah. Pondasi yang diletakkan Nabi Ibrahim mencakup area yang sekarang dibatasi oleh dinding lengkung tersebut.
2. Perubahan Struktur pada Masa Quraisy (605 M)
Perubahan signifikan terjadi saat kaum Quraisy merenovasi Ka'bah (sekitar lima tahun sebelum masa kenabian Muhammad SAW). Terjadi dua hal krusial pada masa ini:
- Keterbatasan Dana Halal: Kaum Quraisy berkomitmen hanya menggunakan dana dari sumber yang baik (bukan dari hasil judi atau riba) untuk pembangunan Baitullah. Namun, dana tersebut ternyata tidak mencukupi untuk membangun Ka'bah sesuai luas pondasi asli Nabi Ibrahim.
- Pengecilan Bangunan: Akibat kekurangan dana, mereka terpaksa mengurangi panjang bangunan Ka'bah di sisi utara sekitar 7 hasta (kurang lebih 3 meter). Area yang dikeluarkan dari bangunan utama inilah yang kemudian diberi tanda dengan dinding pendek setengah lingkaran agar orang yang bertawaf tidak menginjak bekas pondasi asli tersebut.
3. Kedudukan Hukum dalam Ibadah
Karena secara esensial Hijir Ismail adalah bagian dari Ka'bah, berlaku beberapa ketentuan hukum dalam ibadah:
- Tawaf: Seseorang yang sedang tawaf harus berjalan di luar dinding Hijir Ismail. Jika seseorang masuk ke dalam celah antara Ka'bah dan dinding Hijir saat bertawaf, maka tawafnya dianggap tidak sah karena ia dianggap "memotong jalan" melalui bagian dalam Ka'bah.
- Salat: Salat di dalam Hijir Ismail memiliki keutamaan yang sama dengan salat di dalam Ka'bah. Hal ini didasarkan pada hadis dari Aisyah RA, di mana Rasulullah SAW bersabda bahwa jika seseorang ingin masuk ke dalam Ka'bah namun tidak mampu, maka salatlah di Hijir Ismail karena itu adalah bagian dari Baitullah.
4. Perspektif Sejarah Pembangunan
Dalam catatan sejarah, sempat ada keinginan untuk mengembalikan Hijir Ismail ke dalam struktur Ka'bah.
- Masa Abdullah bin Zubair: Beliau sempat merenovasi Ka'bah sesuai pondasi asli Nabi Ibrahim (memasukkan kembali Hijir ke dalam bangunan).
- Masa Al-Hajjaj bin Yusuf: Setelah wafatnya Ibnu Zubair, struktur Ka'bah dikembalikan lagi ke bentuk masa Quraisy (mengeluarkan Hijir) atas perintah Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
- Keputusan Imam Malik: Ketika Khalifah Harun Al-Rasyid ingin meruntuhkan Ka'bah untuk dikembalikan ke pondasi Nabi Ibrahim, Imam Malik melarangnya. Beliau khawatir Baitullah akan menjadi "mainan" para penguasa yang setiap saat ingin mengubah-ubah bentuknya, sehingga strukturnya dibiarkan tetap seperti yang kita lihat hari ini.
Ringkasnya, Hijir Ismail adalah bukti fisik dari keterbatasan manusia dalam membangun rumah Allah di masa lalu, namun sekaligus menjadi rahmat bagi umat Islam karena memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk merasakan sensasi "salat di dalam Ka'bah."
Dalam perspektif sejarah bangsa Arab dan tradisi Islam, pembahasan mengenai kediaman serta makam Nabi Ismail AS dan Siti Hajar tidak dapat dipisahkan dari struktur Hijir Ismail. Meskipun saat ini area tersebut tampak seperti pelataran terbuka, catatan sejarah memberikan gambaran yang lebih detail mengenai fungsinya di masa lalu.
1. Kediaman dan Area "Kandang" (Al-Arish)
Secara historis, area yang sekarang kita kenal sebagai Hijir Ismail dahulu disebut sebagai Al-Arish. Dalam bahasa Arab, Arish merujuk pada pondok atau naungan yang terbuat dari dahan pohon atau material sederhana.
- Rumah Tinggal: Setelah Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah Makkah, mereka tinggal di sebuah pondok sederhana tepat di sisi utara Ka'bah (sebelum Ka'bah dibangun kembali). Area ini merupakan tempat berteduh mereka dari terik matahari gurun.
- Kandang Ternak: Beberapa literatur sejarah Arab menyebutkan bahwa di sekitar pondok tersebut terdapat area kecil yang digunakan untuk menambatkan hewan ternak (kambing) milik Nabi Ismail AS. Oleh karena itu, area ini sering disebut sebagai "ruang domestik" keluarga Nabi Ismail sebelum akhirnya disakralkan menjadi bagian dari kompleks Baitullah.
2. Makam Siti Hajar
Tradisi sejarah Makkah menyebutkan bahwa Siti Hajar wafat sebelum Nabi Ismail AS. Berdasarkan riwayat yang dihimpun oleh sejarawan awal seperti Ibnu Ishaq dan Al-Azraqi:
- Siti Hajar dimakamkan di dalam area Hijir Ismail, tepatnya di sisi yang berdekatan dengan dinding Ka'bah.
- Pemilihan lokasi ini didasarkan pada keinginan Nabi Ismail untuk tetap dekat dengan ibundanya di tempat yang paling mereka kenal sebagai rumah.
3. Makam Nabi Ismail AS
Setelah wafatnya Nabi Ismail AS, beliau diyakini dimakamkan di lokasi yang sama dengan ibundanya.
- Perspektif Sejarah Arab: Para sejarawan klasik Makkah mencatat bahwa makam Nabi Ismail terletak di area Hijir, di bawah saluran air (Mizab Al-Rahmah) atau di antara Hajar Aswad dan Hijir.
- Kondisi Saat Ini: Secara fisik, tidak ada gundukan atau nisan di dalam Hijir Ismail. Hal ini dikarenakan seluruh area tersebut telah diratakan dan dipaving dengan marmer untuk memfasilitasi ibadah tawaf dan salat, serta untuk menjaga kesucian area yang secara hukum merupakan bagian dari isi Ka'bah.
4. Perspektif Bangsa Arab terhadap Kesucian Area
Bagi bangsa Arab, baik sebelum maupun sesudah Islam, Hijir Ismail dipandang dengan penghormatan yang sangat tinggi karena dua alasan utama:
- Aspek Genealogi: Bangsa Arab Adnaniyah memandang Nabi Ismail sebagai leluhur agung mereka. Menjaga area kediaman dan makamnya adalah bentuk penghormatan terhadap garis keturunan.
- Aspek Spiritual: Karena area ini pernah menjadi tempat tinggal manusia-manusia pilihan dan tempat turunnya wahyu serta mukjizat (Zamzam), area ini dianggap memiliki energi spiritual yang kuat. Itulah sebabnya kaum Quraisy, meskipun kekurangan dana saat merenovasi Ka'bah, tetap membatasi area tersebut dengan dinding setengah lingkaran agar orang tetap bisa menghormati batas-batas rumah Nabi Ismail.
Catatan Penting: Meskipun banyak riwayat sejarah yang menyebutkan keberadaan makam di dalam Hijir, secara syariat Islam, area tersebut kini diperlakukan sebagai tempat ibadah (salat). Umat Islam yang salat di sana berniat untuk melaksanakan salat di bagian dari Baitullah, bukan untuk berziarah kubur secara khusus di dalam masjid.
Keberadaan makam para Nabi di sekitar Ka’bah merupakan topik yang sangat masyhur dalam literatur sejarah Islam dan tradisi lisan bangsa Arab. Dalam perspektif sejarah dan hadis, fenomena ini berkaitan erat dengan konsep "Mujawaroh" atau tinggal menetap di tanah suci hingga akhir hayat.
1. Tradisi "Mujawaroh" (Menetap di Tanah Suci)
Dalam catatan sejarawan klasik seperti Al-Azraqi (penulis Akhbar Makkah) dan Ibnu Ishaq, disebutkan bahwa banyak nabi terdahulu dari berbagai kaum yang datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika ajal mereka mendekat, mereka memilih untuk menetap di Makkah hingga wafat sebagai bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah di tempat yang paling dicintai-Nya.
Ibnu Abbas RA pernah meriwayatkan (dalam Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk karya At-Tabari) bahwa ada nabi-nabi yang ketika kaumnya mendustakan mereka, mereka pergi ke Makkah, beribadah di sana bersama orang-orang yang beriman hingga wafat.
2. Lokasi Makam para Nabi di Sekitar Ka'bah
Secara spesifik, tradisi sejarah menyebutkan beberapa titik utama di sekitar Ka'bah yang diyakini sebagai tempat peristirahatan para nabi:
- Hijir Ismail: Sebagaimana disebutkan sebelumnya, lokasi ini diyakini kuat sebagai makam Nabi Ismail AS dan Siti Hajar. Beberapa riwayat sejarah menyebutkan lebih dari 70 nabi dimakamkan di area ini, namun identitas nama mereka sebagian besar tidak disebutkan secara rinci dalam teks-teks primer.
- Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad: Terdapat riwayat dari Sufyan ats-Tsauri yang menyebutkan bahwa di area antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad terdapat makam nabi-nabi, termasuk Nabi Hud, Nabi Sholeh, dan Nabi Syuaib.
- Sumur Zamzam: Beberapa literatur sejarah klasik juga mengisyaratkan keberadaan makam nabi-nabi di sekitar area sumur suci ini.
3. Jumlah Nabi yang Dimakamkan
Angka "70 Nabi" sering muncul dalam berbagai riwayat sejarah (seperti yang dikutip oleh Al-Fakihi dalam Akhbar Makkah). Angka ini dalam tradisi Arab sering kali digunakan untuk menunjukkan jumlah yang "banyak" (majas), bukan selalu berarti angka pasti 70. Hal ini menunjukkan betapa Makkah menjadi magnet bagi para utusan Allah sepanjang zaman.
4. Mengapa Makamnya Tidak Terlihat?
Secara arkeologis dan fisik, saat ini tidak ditemukan nisan atau penanda makam di sekitar Ka'bah. Hal ini dijelaskan dalam beberapa perspektif:
- Perubahan Level Tanah: Selama ribuan tahun, area Masjidil Haram telah mengalami renovasi, banjir besar, dan pengurukan tanah berulang kali, sehingga posisi makam yang asli berada jauh di bawah permukaan lantai marmer saat ini.
- Prinsip Syariat: Dalam Islam, area Masjidil Haram difungsikan sepenuhnya untuk ibadah tawaf dan salat. Tidak adanya penanda makam bertujuan untuk menjaga kemurnian tauhid agar umat Islam tetap menyembah Allah semata di Baitullah, bukan mengkultuskan makam-makam tersebut.
5. Signifikansi dalam Sejarah Bangsa Arab
Bagi bangsa Arab, fakta sejarah ini memberikan kedudukan spiritual yang sangat tinggi bagi Makkah. Mereka memandang tanah ini bukan sekadar pusat perdagangan, melainkan "Tanah Peristirahatan para Utusan". Hal ini juga yang mendasari rasa hormat yang mendalam terhadap kesucian tanah haram, bahkan pada masa Jahiliyah sekalipun, di mana pertumpahan darah sangat dilarang di area tersebut.
Kesimpulan: Perspektif sejarah melihat keberadaan makam-makam ini sebagai bukti bahwa Ka'bah telah menjadi pusat gravitasi spiritual kemanusiaan sejak masa paling awal. Para Nabi wafat di sana sebagai simbol kepulangan kembali menuju "Rumah Pertama" yang dibangun untuk manusia beribadah kepada Allah.
Konsep mengenai Ka'bah sebagai pusat bumi dan keterkaitannya dengan Baitul Makmur merupakan pembahasan yang mempertemukan antara teks keagamaan (eskatologi), sejarah awal penciptaan, dan perspektif spiritualitas manusia.
1. Keselarasan Ka'bah dan Baitul Makmur
Dalam perspektif Islam, Baitul Makmur adalah tempat ibadah para malaikat yang terletak di langit ketujuh, tepat di atas Ka'bah.
- Garis Lurus Vertikal: Hadis yang diriwayatkan dari jalur Ali bin Abi Thalib dan diperkuat dalam peristiwa Isra Mi'raj menyebutkan bahwa Baitul Makmur berada tepat sejajar di atas Ka'bah. Sedemikian lurusnya, sehingga jika Baitul Makmur jatuh, ia akan jatuh tepat di atas Ka'bah di bumi.
- Aktivitas Ibadah: Setiap harinya, 70.000 malaikat masuk ke Baitul Makmur untuk beribadah dan mereka tidak pernah kembali lagi (berganti dengan malaikat baru setiap hari). Ini menjadi prototipe bagi manusia di bumi yang melakukan tawaf di sekeliling Ka'bah.
- Perspektif Kosmik: Hal ini menunjukkan bahwa ibadah di bumi merupakan cerminan dari harmoni ibadah di alam semesta. Ka'bah bukan sekadar bangunan batu, melainkan titik akses vertikal (poros) yang menghubungkan alam materi dengan alam malakut.
2. Ka'bah sebagai Pusat Bumi (The Center of the Earth)
Konsep Ka'bah sebagai pusat bumi memiliki dua dimensi: historis-spiritual dan geografis.
- Pusat Penciptaan (Dahwul Ardh): Dalam beberapa riwayat sejarah dan tafsir, disebutkan bahwa saat bumi masih berupa air, titik pertama yang muncul dan mengeras adalah lokasi Ka'bah. Dari titik itulah daratan kemudian dihamparkan ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, Ka'bah disebut sebagai Ummul Qura (Induk dari segala negeri).
- Perspektif Geografis: Beberapa penelitian modern mencoba menunjukkan bahwa Makkah berada di tengah-tengah daratan bumi yang stabil (tidak bergeser secara ekstrem akibat tektonik). Secara simbolis, Ka'bah menjadi magnet spiritual di mana seluruh arah kiblat dari berbagai penjuru dunia memusat pada satu titik yang sama.
- Gaya Tarik Spiritual: Sebagai "pusat", Ka'bah berfungsi sebagai pemersatu. Ke mana pun manusia menghadap, orientasi batinnya ditarik menuju satu titik gravitasi yang sama, menciptakan rasa kesatuan (Ukhuwah).
3. Sejarah Asal-Usul: Dari Langit ke Bumi
Perspektif sejarah pembangunan Ka'bah memiliki fase yang sangat panjang:
- Masa Malaikat & Nabi Adam AS: Menurut sebagian riwayat, Ka'bah pertama kali diletakkan pondasinya oleh para malaikat sebelum Adam diturunkan. Nabi Adam kemudian membangunnya kembali sebagai tempat pertaubatan dan ibadah di bumi setelah keluar dari surga.
- Pembangunan Nabi Ibrahim & Ismail AS: Fase ini adalah yang paling terdokumentasi secara syariat. Ibrahim membangun kembali di atas pondasi lama yang sempat hilang akibat banjir besar zaman Nabi Nuh. Pembangunan ini menandai Ka'bah sebagai simbol tauhid murni yang bersih dari kemusyrikan.
4. Perspektif dalam Ibadah Manusia kepada Tuhan
Mengapa manusia diperintahkan menghadap dan mengelilingi Ka'bah?
- Simbol Ketauhidan: Ka'bah yang berbentuk kubus sederhana (tanpa ornamen berlebihan) melambangkan kebersahajaan di hadapan Tuhan. Ia adalah simbol visual dari konsep Esa (Satu).
- Miniatur Alam Semesta: Gerakan tawaf (berputar berlawanan arah jarum jam) serupa dengan gerakan elektron mengelilingi inti atom, atau planet yang mengelilingi matahari. Manusia yang bertawaf secara sadar menyelaraskan diri dengan ritme alam semesta yang tunduk pada aturan Sang Pencipta.
- Titik Temu Fisik dan Metafisik: Ka'bah adalah bukti bahwa dalam beribadah, manusia memerlukan "ruang" fisik untuk memfokuskan jiwa. Dengan menghadap ke Ka'bah, seorang hamba merasa sedang "berhadapan" dengan kebesaran Tuhan di titik yang paling disucikan-Nya di bumi.
Kesimpulan
Secara historis dan spiritual, Ka'bah adalah Poros Dunia (Axis Mundi). Ia menghubungkan masa lalu (sejarah para nabi), masa kini (pusat ibadah harian), dan dimensi langit (Baitul Makmur). Keberadaannya memberikan kepastian arah bagi manusia dalam perjalanan spiritualnya menuju Tuhan.