info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Masjid Nabawi & Utsman: Sejarah Pemerintahan
Masjid Nabawi & Utsman: Sejarah Pemerintahan
Masjid Nabawi & Utsman: Sejarah Pemerintahan

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Perluasan dan renovasi Masjid Nabawi di masa Khalifah Utsman bin Affan, serta keberadaan "Masjid Utsman" (yang kerap dikaitkan dengan tempat salat Id), merupakan dua topik penting dalam menakar kebijakan infrastruktur dan peninggalan sejarah pada era Khulafaur Rasyidin.

1. Masjid Nabawi dalam Perspektif Pemerintahan Khalifah Utsman

Renovasi dan perluasan Masjid Nabawi yang dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 29–30 Hijriah (649–650 M) bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah kebijakan strategis yang mencerminkan visi pemerintahan beliau.

Politik Pintu Terbuka dan Pertumbuhan Demografi

Pada masa Khalifah Utsman, gelombang ekspansi wilayah Islam mencapai puncaknya (mencakup wilayah Persia, sebagian Bizantium, hingga Afrika Utara). Madinah, sebagai ibu kota kekhalifahan, kedatangan arus imigran, penuntut ilmu, delegasi diplomatik, dan jamaah yang luar biasa besar. Masjid Nabawi sebagai pusat pemerintahan (central hub) sudah tidak mampu lagi menampung kepadatan jamaah, terutama saat salat Jumat. Kebijakan perluasan ini adalah respons langsung pemerintah terhadap kesejahteraan rakyat (public utility).

Sentralisasi Otomasi dan Kemakmuran Ekonomi

Berbeda dengan renovasi masa Khalifah Umar bin Khattab yang cenderung mempertahankan kesederhanaan bahan asli (pelepah kurma dan tanah liat), Khalifah Utsman memperkenalkan arsitektur megah dan permanen.

  • Material Premium: Dindingnya dibangun menggunakan batu berukir yang direkatkan dengan kapur (gash), tiang-tiangnya diganti dengan batu yang diperkuat dengan besi dan timbunan tembaga, serta atapnya diganti dengan kayu jati (saj) berkualitas tinggi.
  • Refleksi Finansial Negara: Langkah ini menunjukkan bahwa di bawah pemerintahannya, Baitul Mal (kas negara) berada dalam kondisi yang sangat makmur, dan negara memiliki kemampuan teknis untuk mengadopsi teknologi konstruksi maju pada zamannya.

Diplomasi Politik dan Legitimasi Keagamaan

Meskipun proyek ini sempat mendapat penolakan dari sebagian sahabat yang menginginkan bentuk asli masjid tetap terjaga demi alasan sentimental, Khalifah Utsman menggunakan pendekatan persuasif. Beliau berpidato dan mengingatkan mereka akan hadis Nabi SAW tentang keutamaan membangun masjid. Dari sudut pandang pemerintahan, keberhasilan merestorasi pusat peradaban Islam ini menegaskan legitimasi Utsman sebagai pemimpin tertinggi yang berhak mengatur tata ruang kota suci.

2. Masjid Utsman bin Affan: Prasasti Sejarah Salat Id dan Lainnya

Terkait pertanyaan apakah ada "Masjid Utsman" yang berfungsi sebagai prasasti atau penanda sejarah tempat pelaksanaan salat Id, jawabannya: Ya, ada. Di Madinah, terdapat situs sejarah yang dikenal dengan nama Masjid Utsman bin Affan (atau Masjid Syajarah/Masjid al-Eid), meskipun status dan kondisinya saat ini memiliki dinamika tersendiri.

Berikut adalah beberapa situs dan konteks sejarah yang mengikat nama Utsman bin Affan dengan tempat peribadatan di luar Masjid Nabawi:

A. Masjid Al-Ghamamah (Masjid Al-Mushalla) dan Area Sekitarnya

Pada zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, ibadah salat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) serta salat Istisqa (minta hujan) tidak dilakukan di dalam Masjid Nabawi, melainkan di sebuah lapangan terbuka di tenggara Masjid Nabawi yang disebut Al-Mushalla.

Di area lapangan luas inilah kemudian didirikan beberapa masjid penanda (prasasti hidup) untuk menghormati tempat-tempat di mana para khalifah memimpin salat Id, di antaranya:

  1. Masjid Al-Ghamamah: Tempat utama Rasulullah SAW memimpin salat Id.
  2. Masjid Abu Bakar & Masjid Ali bin Abi Thalib: Terletak sangat dekat dengan Al-Ghamamah.
  3. Masjid Utsman bin Affan (Situs Sejarah): Di area Al-Mushalla ini, dahulu terdapat penanda atau masjid kecil yang dikaitkan dengan tempat Khalifah Utsman memimpin jalannya salat Id selama masa pemerintahannya. Namun, dalam proyek penataan ulang dan perluasan modern di sekitar halaman Masjid Nabawi, beberapa struktur masjid kecil ini diintegrasikan ke dalam tata ruang lansekap kota, sementara bangunan seperti Al-Ghamamah, Masjid Abu Bakar, dan Masjid Ali tetap dipertahankan bentuk fisiknya.

B. Masjid Meeqat (Dzulhulaifah) / Masjid Asy-Syajarah

Beberapa literatur lokal dan catatan peziarah kadang menyebutkan adanya keterkaitan penamaan Utsman di wilayah Dzulhulaifah (tempat miqat warga Madinah). Khalifah Utsman tercatat sering memimpin rombongan haji dan memperbarui fasilitas di jalur-jalur logistik serta tempat ibadah di pinggiran Madinah, menjadikannya "prasasti" kebijakan tata kelola transportasi publik dan ibadah haji.

C. Sumur Rumah (Bi'ru Utsman) sebagai Prasasti Sosial

Meskipun bukan berbentuk masjid untuk salat Id, terdapat "prasasti fisik" paling monumental dari Khalifah Utsman di Madinah yang masih ada hingga hari ini, yaitu Bi'ru Utsman (Sumur Rumah).

  • Sumur ini dibeli oleh Utsman dari seorang Yahudi untuk disedekahkan kepada kaum muslimin yang saat itu kesulitan air bersih.
  • Di sekitar sumur tersebut, kini berdiri Masjid Bi'ru Utsman dan perkebunan kurma yang dikelola atas nama wakaf Utsman bin Affan. Ini adalah bentuk prasasti sejarah yang membuktikan konsep sustainable charity (sedekah jariah) dalam sistem ekonomi pemerintahan beliau.

Kesimpulan

Bagi pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, Masjid Nabawi adalah simbol kedaulatan, kemakmuran, dan kemajuan arsitektur negara Islam yang sedang berkembang pesat. Sementara itu, keberadaan Masjid Utsman atau situs-situs bernama Utsman di area Al-Mushalla (tempat salat Id kuno) serta di situs Bi'ru Utsman berfungsi sebagai prasasti geografis. Situs-situs tersebut menandai beralihnya fungsi ruang publik dari sekadar lapangan terbuka di masa awal Islam, menjadi pusat-pusat kegiatan monumental yang diatur secara resmi oleh institusi kekhalifahan.

Kedua masjid ini—Masjid Bi’ru Utsman dan Masjid Miqat (Asy-Syajarah)—memiliki kedudukan geografis dan historis yang sangat strategis di pinggiran kota Madinah. Dalam perspektif sejarah pelestarian, pengembangan, dan pembangunannya, kedua situs ini merefleksikan bagaimana pemerintah Islam dari zaman klasik hingga modern mengelola infrastruktur ibadah, pemenuhan kebutuhan logistik publik, dan pelayanan jamaah haji/umrah.

Mengenai lokasi serta dinamika pelestarian dan pengembangan kedua masjid tersebut :

1. Masjid Bi’ru Utsman (Sumur Rumah)

Lokasi Geografis

Masjid Bi’ru Utsman terletak di wilayah Wadi al-Aqiq, bagian barat laut kota Madinah (sekitar 3,5 hingga 5 km dari Masjid Nabawi). Kawasan ini secara historis dikenal sebagai daerah subur dengan aliran air bawah tanah yang melimpah.

Perspektif Sejarah Pelestarian dan Pembangunan

  • Asal-usul Era Kenabian & Kekhalifahan (Abad ke-7 M):Situs ini bermula dari sebuah sumur milik seorang pria dari Bani Ghifar (beberapa riwayat menyebut seorang Yahudi) yang menjual airnya dengan harga mahal. Atas anjuran Rasulullah SAW, Utsman bin Affan membeli sumur tersebut seharga 20.000 dirham untuk diwakafkan secara bebas kepada seluruh penduduk Madinah. Di masa kekhalifahannya, kawasan ini dikembangkan menjadi area pertanian dan perkebunan penopang pangan kota.
  • Era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah:Gubernur Madinah pada masa Umayyah, Umar bin Abdul Aziz, mulai memugar kawasan sekitar sumur dan membangun penanda-penanda fisik untuk melestarikan situs-situs penting peninggalan sahabat. Sebuah mushalla (masjid kecil) dibangun di dekat sumur untuk memfasilitasi para pekerja kebun dan peziarah yang ingin napak tilas.
  • Era Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman):Kerajaan Utsmaniyah melakukan renovasi besar-besaran terhadap sumur dan masjid ini. Mereka memperkuat dinding sumur dengan batu gunung hitam khas Madinah dan membangun kubah kecil di atas masjid untuk melindunginya dari cuaca ekstrem, mengingat lokasi ini kerap dikunjungi sebagai bagian dari rute ziarah sejarah.
  • Era Modern (Kerajaan Arab Saudi):Pelestarian di era modern bergeser ke arah manajemen wakaf produktif dan estetika kota. Pemerintah Arab Saudi melestarikan Sumur Utsman di dalam sebuah kawasan pagar pelindung yang komprehensif. Masjid di area ini dibangun kembali dengan arsitektur modern yang bersih namun tetap mempertahankan nilai historisnya. Uniknya, rekening wakaf atas nama Utsman bin Affan masih aktif hingga kini; hasil dari perkebunan kurma dan investasi di sekitar Bi’ru Utsman dikelola oleh Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan untuk membiayai perawatan masjid dan santunan sosial.

2. Masjid Miqat / Asy-Syajarah (Dhul Hulaifah)

Lokasi Geografis

Masjid Miqat terletak di distrik Dhul Hulaifah, sekitar 12 km di sebelah barat selatan Masjid Nabawi (atau sekitar 9 km dari batas luar kota Madinah kuno). Lokasinya berada di pintu keluar kota Madinah menuju arah Makkah, menjadikannya titik tolak utama bagi jamaah yang datang dari arah utara.

Perspektif Sejarah Pelestarian dan Pembangunan

  • Asal-usul Era Kenabian (Abad ke-7 M):Nama Asy-Syajarah berarti "pohon". Di tempat ini dahulu terdapat sebuah pohon banyolan (Samurah) di mana Rasulullah SAW selalu berhenti, bernaung, dan mengenakan kain ihram ketika hendak melaksanakan umrah atau Haji Wada'. Ibadah salat dua rakaat dilakukan di bawah pohon ini, yang kemudian menjadi sunnah miqat bagi penduduk Madinah dan yang melewatinya.
  • Pengembangan Awal Dinasti-Dinasti Islam:Sama halnya dengan Bi’ru Utsman, Umar bin Abdul Aziz adalah tokoh kunci yang pertama kali membangun struktur bangunan masjid permanen di atas tanah tempat pohon tersebut dahulu berdiri. Selama berabad-abad, dinasti Abbasiyah hingga Mamluk terus merawat masjid ini karena posisinya yang sangat vital sebagai gerbang spiritual ibadah haji. Bangunannya sempat mengalami beberapa kali kerusakan akibat banjir wadi dan gempa, namun selalu dibangun kembali.
  • Transformasi Arsitektur Besar-Besaran Era Raja Fahd:Tantangan terbesar Masjid Miqat adalah ledakan jumlah jamaah haji kontemporer. Pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdulaziz, masjid ini dirombak total melalui proyek arsitektur raksasa yang dirancang oleh arsitek kenamaan Abdel-Wahed El-Wakil.
    • Desain Istana Padang Pasir: Masjid dibangun menyerupai benteng Islam klasik dengan menara setinggi 64 meter berbentuk tangga spiral yang ikonik, serta koridor-koridor panjang dengan kubah-kubah kecil.
    • Fasilitas Logistik Modern: Pembangunan tidak hanya fokus pada ruang salat (yang kini mampu menampung sekitar 5.000 jamaah sekaligus), melainkan pada koridor pelayanan publik. Ratusan unit kamar mandi, tempat wudhu, bilik mandi ihram, serta sistem penyaringan air modern dibangun untuk melayani ribuan jamaah yang singgah dalam waktu bersamaan.
    • Lansekap Hijau: Pelestarian sejarah "pohon" (Asy-Syajarah) diwujudkan kembali secara simbolis melalui penataan taman komunal dengan ratusan pohon kurma dan tanaman peneduh di sekeliling pelataran parkir luas untuk bus-bus jamaah.

Perbandingan Karakteristik Pengembangan

AspekMasjid Bi’ru UtsmanMasjid Miqat / Asy-Syajarah
Fokus UtamaPelestarian situs sosial-ekonomi (Wakaf & Air)Pengembangan infrastruktur ibadah massal (Miqat Haji)
Pendekatan DesainIntegrasi kawasan agrowisata sejarah dan pelestarian cagar budayaTransformasi arsitektur monumental berskala megah
Skala PelayananLokal, penziarah khusus, dan komunitas sekitarInternasional, melayani jutaan jamaah haji/umrah tiap tahun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *