info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Sejarah Pembangunan Makam Rasulullah SAW
Sejarah Pembangunan Makam Rasulullah SAW
Sejarah Pembangunan Makam Rasulullah SAW

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Sejarah pembangunan dan pemugaran kompleks makam Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, dan Umar bin Khattab RA—yang berada di dalam Kubah Hijau (Green Dome) di Kompleks Masjid Nabawi, Madinah—merupakan catatan sejarah yang sangat panjang.

Tempat yang awalnya merupakan kamar (hujrah) Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar RA ini mengalami transformasi struktural yang signifikan dari masa ke masa demi menjaga kehormatan jasad mulia di dalamnya serta mengakomodasi gelombang jamaah.

Berikut transformasi sejarah pembangunannya lintas berbagai era kekhalifahan hingga masa modern :

1. Era Khulafaur Rasyidin (11–40 H / 632–661 M)

Pada mulanya, makam ini berada di dalam struktur asli kamar Aisyah RA yang terbuat dari dinding tanah liat (bata mentah) dengan atap pelepah kurma yang rendah.

  • Makam Rasulullah SAW (11 H / 632 M): Wafat dan dimakamkan di tempat beliau mengembuskan napas terakhir, yaitu di kamar Aisyah RA.
  • Makam Abu Bakar RA (13 H / 634 M): Dimakamkan di sebelah Rasulullah SAW, dengan posisi kepala sejajar dengan pundak Rasulullah SAW.
  • Makam Umar bin Khattab RA (23 H / 644 M): Setelah diizinkan oleh Aisyah RA sebelum wafatnya, Umar dimakamkan di sebelah Abu Bakar RA. Kepala Umar sejajar dengan pundak Abu Bakar RA.
  • Kondisi Fisik: Pada era ini, belum ada pembangunan fisik yang masif pada area makam. Perubahan hanya terjadi pada tata letak internal. Aisyah RA membuat sekat kain di dalam kamarnya setelah Umar RA dimakamkan di sana demi menjaga hijab.

2. Era Dinasti Umayyah (41–132 H / 661–750 M)

Transformasi arsitektural besar pertama terjadi pada masa ini, khususnya di bawah Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (86–96 H). Beliau memerintahkan Gubernur Madinah saat itu, Umar bin Abdul Aziz, untuk melakukan perluasan Masjid Nabawi secara radikal.

  • Penyatuan ke Dalam Masjid (88–91 H): Kamar-kamar istri Nabi (Hujurat), termasuk kamar Aisyah RA, dibongkar untuk memperluas masjid. Namun, area makam tetap dipertahankan strukturnya.
  • Dinding Pentagonal (Segi Lima): Umar bin Abdul Aziz membangun dinding batu solid di sekeliling makam. Uniknya, dinding ini dibuat berbentuk segi lima (pentagonal) dengan sudut lancip menghadap ke utara. Desain ini sengaja dibuat agar makam tidak berbentuk segi empat menyerupai Ka'bah, sekaligus mencegah orang-orang menjadikannya sebagai arah kiblat atau tempat shalat langsung. Dinding ini tidak memiliki pintu maupun jendela, menutup rapat makam dari luar.

3. Era Dinasti Abbasiyah (132–656 H / 750–1258 M)

Era Abbasiyah lebih fokus pada pemeliharaan, pelestarian, dan perbaikan akibat bencana fisik (seperti kebakaran).

  • Perbaikan Struktural: Beberapa khalifah, termasuk Al-Mahdi dan Al-Muqtafi, melakukan renovasi pada atap dan dinding di sekitar makam agar tetap kokoh.
  • Kebakaran Besar Pertama (654 H / 1256 M): Menjelang akhir runtuhnya Baghdad, Masjid Nabawi mengalami kebakaran hebat akibat percikan api dari gudang penyimpanan minyak. Meskipun atap di atas makam runtuh, dinding pentagonal buatan Umar bin Abdul Aziz berhasil melindungi area makam di dalamnya dari kerusakan langsung.

4. Era Kesultanan Mamluk (648–923 H / 1250–1517 M)

Sultan-sultan Mamluk dari Mesir memberikan kontribusi estetika dan proteksi fisik yang sangat besar pada makam.

  • Pembangunan Kubah Pertama (678 H / 1279 M): Sultan Al-Mansur Qalawun adalah sultan pertama yang membangun kubah di atas makam. Kubah ini awalnya terbuat dari kayu, dilapisi timah, dan dibiarkan berwarna kayu alami (atau putih/kuning).
  • Kebakaran Kedua (886 H / 1481 M): Masjid Nabawi kembali terbakar hebat akibat sambaran petir. Kebakaran ini merusak sebagian dinding luar makam dan kubah kayu milik Sultan Qalawun.
  • Konstruksi Solid Sultan Al-Asyraf Qaitbay (887 H): Sultan Qaitbay melakukan renovasi total yang sangat kokoh. Beliau membangun kembali kubah dengan batu bata merah, mengganti tiang-tiang kayu dengan batu, dan membangun Al-Hujrah Asy-Syarifah—pagar kuningan/besi berukir indah dengan kaligrafi yang mengelilingi dinding makam hingga saat ini (area tempat jamaah berdiri memberikan salam).

5. Era Kekaisaran Ottoman / Utsmaniyah (923–1342 H / 1517–1924 M)

Dinasti Ottoman menambahkan sentuhan kemegahan arsitektural dan memberikan identitas visual ikonik yang kita kenal hari ini.

  • Restorasi Sultan Suleiman Al-Qanuni (947 H): Beliau memperkuat struktur bangunan dan mengganti lapisan timah pada kubah.
  • Pengecatan Warna Hijau (1253 H / 1837 M): Pada masa Sultan Mahmud II, kubah di atas makam Rasulullah diganti penutupnya dan dicat dengan warna hijau. Sejak saat itulah kubah tersebut dikenal secara global sebagai Al-Qubbah Al-Khadra (The Green Dome).
  • Pembangunan Sultan Abdul Hamid II: Beliau melakukan dekorasi interior masjid dan area sekitar makam secara masif dengan seni kaligrafi Utsmaniyah yang indah serta ubin keramik bermutu tinggi di dinding luar perimeter makam.

6. Era Kerajaan Saudi Arabia (1344 H / 1926 M – Sekarang)

Sejak masa pendiri Kerajaan, Raja Abdulaziz Al-Saud, hingga masa Raja Salman bin Abdulaziz, fokus utama dialihkan pada aspek preservasi ketat, pembersihan berkala, serta perluasan masif area luar guna mengakomodasi jutaan jamaah haji dan umrah.

  • Preservasi Tanpa Mengubah Struktur Inti: Sesuai dengan prinsip fikih yang dipegang oleh pemerintah Saudi, struktur inti makam, pagar kuningan era Mamluk, serta Kubah Hijau era Ottoman dipertahankan sepenuhnya tanpa diubah, dibongkar, atau didekorasi ulang secara berlebihan.
  • Perawatan Khusus: Dilakukan kristalisasi dan pelapisan emas/kuningan pada pagar pembatas luar secara berkala. Sistem pendingin udara (AC) mutakhir dan wewangian khusus dipasang di sekitar area Raudhah dan jalur peziarah.
  • Manajemen Alur Peziarah: Mengingat volume jamaah yang luar biasa besar, pemerintah Saudi memodernisasi tata cara ziarah dengan sistem antrean yang teratur (seperti aplikasi Nusuk) untuk memastikan jamaah dapat memberikan salam kepada Rasulullah SAW dan kedua sahabatnya secara tertib dan aman tanpa menimbulkan kerumunan berbahaya.

Ringkasan Garis Waktu Arsitektur Makam

Era KekhalifahanKontribusi Utama pada Makam
Khulafaur RasyidinPenguburan asli di dalam tanah kamar (hujrah) Aisyah RA.
UmayyahPembongkaran kamar sekitar; pembuatan Dinding Pentagonal pembatas makam.
AbbasiyahPemeliharaan pasca-kebakaran besar pertama; penguatan atap makam.
MamlukPembangunan Kubah Pertama (Sultan Qalawun) & pembuatan Pagar Kuningan (Sultan Qaitbay).
OttomanRekonstruksi kubah menjadi batu dan pengecatan warna hijau pertama kali (Sultan Mahmud II).
Saudi ArabiaPreservasi ketat struktur sejarah, pelapisan ulang pagar emas, dan digitalisasi manajemen ziarah.

Kisah rencana jahat pencurian jenazah Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan Umar bin Khattab RA yang berujung pada pengecoran makam menggunakan timah cair adalah salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Islam.

Namun, ada satu hal penting yang perlu diluruskan secara kronologis berdasarkan fakta sejarah: Peristiwa penggalian terowongan dan pengecoran timah ini tidak terjadi pada era Ottoman (Utsmaniyah), melainkan pada era Dinasti Zanki (pertengahan abad ke-12 M), tepatnya pada tahun 557 H / 1162 M. Tokoh utama yang menggagalkan konspirasi ini adalah Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki (pahlawan Islam sebelum era Shalahuddin Al-Ayyubi).

Berikut pemaparan lengkap mengenai latar belakang rencana jahat tersebut, bagaimana pelakunya tertangkap, hingga proses pembentengan makam dengan timah cair :

1. Latar Belakang dan Siasat Licik Pelaku

Peristiwa ini terjadi di tengah berkecamuknya Perang Salib. Para penguasa Eropa saat itu menyadari bahwa kekuatan dan sentimen terbesar umat Islam berpusat pada sosok Rasulullah SAW. Mereka menyusun rencana rahasia untuk mencuri jasad Rasulullah SAW dan kedua sahabatnya dari Madinah, dengan tujuan membawa jasad tersebut ke Eropa guna meruntuhkan mental umat Islam, sekaligus memaksa mereka tunduk.

Untuk mengeksekusi misi rahasia ini, diutuslah dua orang tentara Salib asal Eropa (beberapa literatur menyebut dari wilayah Andalusia atau Maghrib). Siasat mereka sangat rapi:

  • Menyamar sebagai Muslim: Mereka datang ke Madinah dengan pakaian khas ahli ibadah (sufi), janggut, dan perilaku yang tampak sangat alim.
  • Menyewa Rumah Terdekat: Mereka menyewa sebuah rumah yang lokasinya sangat dekat dengan dinding Masjid Nabawi, tepat di jalur lurus menuju Hujrah Syarifah (kamar makam Nabi).
  • Kamuflase Penggalian: Di siang hari, mereka beribadah di Raudhah dan berziarah ke Makam Baqi. Namun di malam hari, mereka mulai menggali terowongan bawah tanah dari dalam rumah mereka menuju ke arah makam.
  • Membuang Tanah Galian: Agar tidak memicu kecurigaan penduduk Madinah, tanah hasil galian terowongan tersebut dimasukkan ke dalam kantong kulit, lalu dibuang sedikit demi sedikit saat mereka pura-pura berjalan-jalan atau berziarah ke pemakaman Baqi.

2. Petunjuk Melalui Mimpi Sultan Nuruddin Zanki

Ketika terowongan yang digali sudah sangat dekat dengan dinding makam, Allah SWT menggagalkan rencana tersebut lewat sebuah mimpi.

Di Damaskus (Suriah), Sultan Nuruddin Zanki tersentak dari tidurnya setelah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah SAW menunjuk dua orang pria berwajah asing (kulit putih) sambil berkata:

"Wahai Nuruddin, selamatkan aku dari kedua orang ini!"

Sultan terbangun dengan panik, berwudhu, shalat, lalu kembali tidur. Namun, mimpi yang persis sama terulang hingga tiga kali dalam satu malam. Sadar bahwa ini adalah peringatan nyata (karena setan tidak bisa menyerupai wajah Nabi), Sultan Nuruddin langsung memanggil menterinya, Jamaluddin Al-Muwashshali. Malam itu juga, Sultan bersama pasukan berkuda terbaiknya langsung memacu kuda dari Syam menuju Madinah dalam waktu singkat (sekitar 16 hari perjalanan).

3. Penangkapan Pelaku dan Terbongkarnya Siasat

Setibanya di Madinah, Sultan tidak langsung mengumumkan maksud kedatangannya agar pelaku tidak melarikan diri. Beliau menyusun strategi cerdas:

  1. Mengundang Seluruh Penduduk: Sultan mengumumkan bahwa beliau membawa banyak hadiah dan santunan dari Syam untuk dibagikan kepada seluruh penduduk Madinah tanpa terkecuali.
  2. Identifikasi Wajah: Saat penduduk mengantre menerima hadiah, Sultan Nuruddin berdiri di samping menterinya untuk memperhatikan wajah setiap orang, mencari dua wajah pria yang ditunjukkan Rasulullah di dalam mimpinya.
  3. Pencarian Orang yang Tersisa: Setelah seluruh penduduk datang, Sultan merasa belum menemukan kedua wajah tersebut. Beliau bertanya kepada gubernur setempat, "Apakah ada orang yang belum hadir?" Penduduk menjawab, "Semua sudah hadir, kecuali dua orang asing asal Andalusia yang sangat saleh. Mereka kaya, sering bersedekah, dan saat ini sedang sibuk beriktikaf."
  4. Penggeledahan Rumah: Sultan memerintahkan agar kedua orang tersebut dibawa ke hadapannya. Begitu melihat wajah mereka, Sultan langsung mengenalinya. Keduanya diinterogasi namun tetap bersikeras bahwa mereka adalah peziarah Muslim. Sultan kemudian mendatangi rumah sewaan mereka. Di sana, Sultan memeriksa seluruh ruangan hingga mengangkat sebuah karpet/tikar di lantai. Di bawah tikar tersebut, ditemukan sebuah papan kayu yang menutupi lubang terowongan bawah tanah yang sudah mengarah langsung ke area makam.

Setelah bukti fisik terowongan ditemukan dan identitas asli mereka terbongkar (diketahui bahwa mereka tidak berkhitan), kedua pelaku akhirnya mengakui misi suci terlarang mereka. Sultan Nuruddin kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada kedua mata-mata tersebut di hadapan publik Madinah.

4. Pembentengan Makam: Pengecoran dengan Timah Cair

Belajar dari celah keamanan bawah tanah tersebut, Sultan Nuruddin Zanki tidak ingin mengambil risiko di masa depan. Beliau memerintahkan proyek teknik sipil militer yang sangat masif di sekeliling makam:

  • Penggalian Parit Dalam: Pasukan Sultan menggali parit yang sangat dalam di sekeliling Hujrah Syarifah (area makam Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar) hingga menyentuh lapisan air bawah tanah atau batuan dasar.
  • Pengecoran Timah Cair (Liquid Lead): Parit yang dalam tersebut kemudian diisi dan dicor dengan timah cair yang dicampur dengan batu-batu solid dari dasar hingga ke permukaan tanah.
  • Benteng Bawah Tanah: Ketika timah tersebut mendingin dan mengeras, ia menjelma menjadi dinding pembatas metal raksasa yang sangat tebal, kokoh, dan tidak mungkin bisa ditembus atau digali lagi oleh alat sekop konvensional dari arah luar mana pun.

Hubungannya dengan Era Ottoman

Meskipun peristiwa dramatis pengecoran timah ini terjadi pada era Dinasti Zanki (1162 M), Dinasti Ottoman (Utsmaniyah) yang berkuasa ratusan tahun setelahnya (mulai abad ke-16) memiliki andil besar dalam merawat dan memperkuat warisan benteng ini.

Para Sultan Ottoman tidak pernah membongkar coran timah Sultan Nuruddin tersebut, melainkan memperkuat bagian atasnya dengan membangun dinding batu perimeter yang dilapisi ubin keramik berestetika tinggi, membangun struktur Kubah Hijau, serta menempatkan pasukan penjaga khusus (Aghawat) untuk memastikan keamanan mutakhir area makam dari segala bentuk gangguan fisik maupun ideologis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *