info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Artikel  »  MUHAMMAD RASULULLAH SAW : Super Leader Super Manager
MUHAMMAD RASULULLAH SAW : Super Leader Super Manager
MUHAMMAD RASULULLAH SAW : Super Leader Super Manager

Oleh : Achmad Muhammad Badjuri

Muhammad Rasulullah saw, samudra hikmah yang luas tak bertepi dan taman kearifan yang indah penuh warna. “Dengan memerhatikan semua standar ukuran kehebatan manusia, kita bisa bertanya, apakah ada orang yang lebih hebat dari dia? ....Dia adalah rasul, nabi, filsuf, orator, legislator (penentu hukum), pemimpin tentara, negosiator ulung, pembaharu, pemimpin keagamaan, pendiri lebih dari 20 wilayah negara berasas agama. Dialah Muhammad.” ( Alphonse De Lamartine, Paris : 1854)

Pendahuluan

Mengkaji perjalanan hidup Nabi Muhammad saw adalah bagaikan mengarungi samudra nan luas tak bertepi. Wisdom dan hikmah yang terpancar darinya sangat banyak seolah kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Bagaikan taman, ia juga adalah manusia pilihan yang memberikan suri keteladanan yang indah dan mengagumkan dalam hampir semua spektrum kehidupan, baik pribadi, keluarga maupun masyarakat. Keteladanannya juga kita temukan dalam aspek bisnis, militer, budaya, dakwah, kesehatan, sosial politik, serta hukum dan pendidikan.

Ibarat seorang penyelam yang mencari mutiara di samudra nan luas maka ia tidak akan pernah benar-benar mengarungi samudra tersebut sampai lengkap kesemua penjurunya. Kita mengira seolah sudah menjelajahi jauh ke berbagai pelosok. Padahal sesungguhnya kita baru bergerak tidak jauh dari pantai tempat perahu bertambat. Siapapun yang mengkajinya pasti tidak akan lengkap. Seberapa pun upaya yang dicurahkan pasti tidak akan sempurna.

Menyadari hal tersebut, penulis dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati memohon kepada Allah swt untuk memberanikan diri melangkah mencari sedikit atau sepercik bahkan sekelumit mutiara yang tersebar luas tersebut. Mencari bunga-bunga indah di taman kearifan Rasulullah saw. Upaya ini dirangkai dan dituangkan dalam materi acara latihan dan pendidikan kader Majlis Ulama Indonesia daerah kabupaten Sidoarjo pada hari Sabtu 21 Nopember 2015 di aula kantor Pemda Sidoarjo.

Terdapat 8 spektrum leadership dan managerial Rasulullah saw yang meliputi dimensi pengembangan diri, bisnis dan kewirausahaan, keluarga, manajemen dakwah, hukum, sosial politik, pendidikan peradaban dan strategi militer.

1. Kepemimpinan dan Pengembangan Diri

Subhanallah, pembacaan yang mendalam tentang masa kecil dan remaja serta awal usia dewasa Rasulullah saw mengantarkan kita pada suatu cakrawala baru bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang yang mampu mengembangkan diri dan mengatasi berbagai kesulitan hidup dengan luar biasa. Ia terlahir yatim, usia 6 tahun yatim piatu dan diasuh sang kakek. Usia 8 tahun kakek pun meninggal dan dititipkan kepada sang paman yang sedang-sedang saja dan sering kekurangan. Dalam usia di bawah 10 tahun ia harus mengais nafkahnya sendiri menjadi penggembala, mencari kayu bakar, buruh batu dan pasir serta bekerja srabutan untuk penduduk Mekah. Hingga akhirnya menjadi pengusaha tangguh nyaris tanpa modal. Bagaimana Muhammad saw muda melakukan ini semua? Seni kepemimpinan dan pengembangan diri Rasulullah saw.

Pelajaran yang harus kita ambil adalah bagaimana dia berjuang melawan semua keterbatasan sehingga mampu menjadi remaja idaman Mekah, pemuda yang dipercaya kaumnya untuk melakukan tugas mulia dan penting antara lain seperti mendamaikan perselisihan antar suku saat usia 18 tahun yang dikenal dengan perjanjian hilful fudhul, dan dipercaya meletakkan hajar aswad yang kemudian dijuluki Al-Amin saat usia 35 tahun serta menjadi pemimpin yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia.

2. Kepemimpinan bisnis dan kewirausahaan

Fenomena lain yang harus kita cermati dari perjalanan karir Nabi Muhammad saw adalah di bidang bisnis dan kewirausahaan yang merupakan unsur penting dalam meraih kesuksesan hidup. Banyak orang ingin sukses dalam hidup dan bisnis tetapi melanggengkan cara hidup dan kebiasaan-kebiasaan orang gagal. Di sisi lain banyak orang berhasil namun dengan menempuh cara tidak halal.

Rasulullah saw mengajarkan kebiasaan-kebiasaan sukses. Ia mencontohkan bagaimana membangun jiwa enterpreneurship, bagaimana memulai strategi bisnis dengan minim modal. Bagaimana membangun kepercayaan para investor dan mitra usaha. Ia memilih komoditi yang laku di pasaran. Ia menjelajahi pasar-pasar regional Jazirah Arabia. Tatkala menjadi nabi, ia menetapkan kebijakan ekonomi politik yang mampu menopang lahir dan berkembangnya suatu peradaban baru. Ia membangun Baitul Mal (Federal Reserve). Ia mengadopsi mata uang anti inflasi (Islamic Gold Dinar). Ia menyatakan perang terhadap korupsi dan penyelewengan. Ia mendorong kreatifitas dan inovasi dalam berbagai bidang industri dan perdagangan global. Ia mengajarkan umatnya untuk hidup kaya dalam taqwa, zuhud dalam berkelimpahan, mandiri serta memberdayakan sesama.

Namun ia mengingatkan umatnya untuk selalu berorientasi pada rezeki yang halal dan menjauhi yang haram. “Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban melaksanakan fardhu-fardhu lainnya”. (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman No. 1191). Rasulullah saw menegaskan bahwa kesuksesan hanya akan diperoleh jika kita ikhlas, sungguh-sungguh, bekerja keras, serta memberikan karya terbaik dalam semua bidang profesi kita. Atau apa yang ia namakan dengan konsep Itqan. “Sesungguhnya Allah taala sangat senang dengan seorang hamba yang melakukan suatu tugas secara itqan”. (HR. Al-Baihaqi, ibid. No. 5080). Dalam terminologi Islam, itqan berarti doing the job at the best possible quality, melakukan suatu tugas dengan kualitas terbaik.

3. Menata Keluarga Harmonis

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu sisi kehidupan Rasulullah saw yang paling banyak disalahpahami adalah aspek kehidupan keluarganya. Kesalahpahaman ini bukan saja terjadi di kalangan orientalis, tetapi tidak sedikit juga terdapat di kalangan umat Islam sendiri. Banyak yang menuduh bahwa praktik poligami Rasul memiliki banyak masalah, ia haus wanita, ia seorang fedofil, dan lain sebagainya.

Hampir bisa dipastikan, kesalahpahaman ini terjadi karena distorsi informasi dan pembacaan yang kurang akurat. Kita jarang mengkaji berapa usia Rasul saat menikah lagi, bagaimana kondisi sosial ekonomi janda-janda tua yang dinikahinya. Berapa jumlah anak bawaan janda-janda tersebut, serta bagaimana dampak dakwah dan kemenangan sosial politis yang ditimbulkan. Bagaimana Rasul menjadi kakek teladan, suami yang bijaksana, ayah idaman keluarga serta mertua yang penuh pengertian dan seterusnya.

Nabi Muhammad saw bersabda : “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada kluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku di antara kalian.” (HR. At-Tirmidzi No. 3895) Menurut Siti Aisyah, “Beliau melayani keluarga, menjahit baju, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluan sendiri, dan menambal timba. Begitu tiba waktu shalat, beliau lalu shalat.”

4. Manajemen Dakwah

Rasulullah saw juga adalah contoh pendakwah yang sangat sukses. Karena jumlah kaum Muslimin yang tidak kurang dari 1,3 milyar orang yang tersebar di seluruh penjuru dunia, berbondong-bondongnya orang Amerika, Eropa dan China untuk mengkaji dan memeluk Islam serta rasa cinta umat yang begitu besar terhadap utusan Allah ini adalah bukti yang tidak terbantahkan dari kesuksesan manajemen dakwah Rasulullah saw. Ia mengajak manusia menempuh jalan hidayah, jalan yang lurus, lempang dan terang benderang. Ia mengajar manusia untuk memikirkan makna dan tujuan hidup, apa yang harus dilakukan saat hidup dan apa yang akan dibawa setelah berakhirnya hidup.

Ia mengajarkan hidup rukun dan toleransi dengan umat pemeluk agama lain. Tidak sedikit cendekiawan Kristen, Budha atau Hindu mengakui risalah damai dan toleransi positif yang dibawa Nabi Besar Muhammad saw. Seperti yang diungkapkan Pandit Gyanandra, “Mereka tidak bisa melihat bahwa satu-satunya senjata Muhammad adalah senjata kemurahan hati, petunjuk, persahabatan, kemauan untuk memaafkan, senjata yang menaklukkan musuh-musuhnya dan membersihkan hati mereka. Senjata itu lebih tajam daripada pedang baja.” (Pandit Gyanandra Dev Sharma Shastri, Gorakhpur, 1928).

Hampir semua pengamat baik Muslim maupun non muslim, jika mereka obyektif akan menyadari kebesaran kekuatan risalah dakwah Rasulullah saw. “Empat tahun setelah kematian Justinian, 569 M, lahir di Mekah di tanah Arab, seorang yang memberikan pengaruh terbesar bagi umat manusia. Orang itu adalah Muhammad.” (John William Draper, A History of The Intellectual Development of Europe, London, 1875).

5. Kepemimpinan Sosial Politik

Berbeda dengan kebanyakan nabi dan guru spiritual lainnya, Muhammad saw adalah seorang presiden (kepala negara) dan pimpinan sosial politik masyarakatnya. Ia berhasil membangun masyarakat Madinah dengan peradaban baru, serta membawa Madinah menjadi suatu model kerukunan antar umat beragama dan etnis meski sangat heterogen. Di dalamnya ada kaum pendatang (Muhajirin) dan penduduk asli. Di antara penduduk asli ada yang Muslim (Anshar), dan banyak juga yang non Muslim. Di kalangan Muslim pun ada yang benar-benar tulus, tetapi tidak sedikit juga yang Munafiq di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul. Di kalangan non Muslim ada yang penganut Paganisme, Nasrani dan Yahudi. Kaum Paganisme memiliki rajanya sendiri yaitu Ka'ab bin Ashraf. Yahudi pun bersuku-suku seperti Bani Nadhir, Bani Quraidhah, dan Bani Qainuqa'. Pertanyaannya, bagaimana Rasulullah saw mengendalikan kerukunan dan keharmonisan Madinah.

Washington Irving mengatakan : “Dia memperlakukan kawan dan orang asing, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dengan cara yang adil. Dia dicintai oleh rakyat jelata karena dia menerima mereka dengan kebaikan hati dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka. ....Ketika dia memiliki kekuasaan yang amat besar, ia tetap sederhana dalam sikap dan penampilannya, sama seperti ketika dia dalam keadaan sengsara.” (Life of Mohamet, London, 1889) Tidak heran, dengan kepiawaian sosial politik Rasulullah Muhammad saw yang sangat tinggi Sir George Bernard Shaw mengatakan, “Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa beberapa ratus tahun dari sekarang, Islamlah agama tersebut.” (Sir George Bernard Shaw, The Genuine Islam, 1936).

6. Pembelajar dan Guru Peradaban

Rasulullah saw adalah pembelajar sejati dan guru besar peradaban dunia. Meski tumbuh di kalangan yang minim praktik baca tulis, Rasulullah saw adalah pembelajar yang cepat. Ia belajar dari pasar, belajar dari teman-teman, belajar dari peristiwa, belajar dari perjalanan dagang, dan belajar dari alam. Dengan bimbingan khusus dari Allah swt melalui malaikat Jibril, Rasulullah saw dalam waktu cepat menjadi insan dan Nabi yang cerdas dan knowledgeable. Nabi saw mengajarkan mulianya ilmu dan urgensi ilmu untuk mencapai kesuksesan dunia akhirat. Lebih dari itu ia pun memberikan teladan “holistic learning method”. Bahwa proses belajar mengajar yang efektif memerlukan scanning & levelling, active interaction & learning conditioning. Belajar baru membuahkan hasil jika ada story telling, analogy & case study, body language, self reflection, focus & point basis dan affirmation & repetition.

Rasulullah saw menegaskan, “Ilmu adalah warisan para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan emas atau pun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR.Abu Dawud No. 3643). Oleh karena itu, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah No. 224).

7. Pengembangan Hukum

Satu hal yang menarik untuk dicatat dalam bidang hukum, bahwa Mahkamah Agung (Supreme Court) Amerika Serikat memberikan pengakuan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw sebagai satu dari 18 Law Giver terbesar sepanjang sejarah. Ia disandingkan bersama tokoh hukum dunia seperti Hammurabi, Julius Caesar, Justinian, dan Charlemagne. Pembacaan yang komprehensif terhadap sistem hukum yang diajarkan Rasulullah saw akan mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa Hukum Islam itu syumul (menyeluruh), jalb al-mashalih (mengedepankan kemaslahatan) dan qillatu taklif (tidak memberatkan). Ia bersifat murunah (flexible) wasathiyah (moderasi) serta menjunjung tinggi al-'adalah (keadilan). Rasulullah saw juga mengajarkan tadarruj (unsur pertahapan) dalam pengembangan dan pelaksanaannya.

Rasulullah saw benar-benar memberikan contoh penegakan hukum tanpa pandang bulu. Ia mengatakan “Yang menghancurkan orang-orang terdahulu tidak lain adalah, bahwa ketika yang mencuri di antara mereka orang terhormat, mereka melepaskannya; tetapi ketika yang mencuri di antara mereka adalah orang lemah, mereka menjeratnya dengan hukuman. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan tegakkan hukuman dengan memotong tangannya.” HR. Al-Bukhari No. 3475).

8. Kepemimpinan dan Strategi Militer

Dalam aspek militer, adalah benar apa yang dikatakan oleh Sun Tzu bahwa panglima perang yang hebat adalah komandan yang mampu mengalahkan musuh tanpa jatuh korban yang banyak. Selama 10 tahun mempertahankan kedaulatan Islam, Rasulullah telah memimpin tidak kurang dari 9 perang besar dan mengatur 53 ekpedisi militer (beberapa ahli sejarah memiliki catatan jumlah ekspedisi militer yang berbeda-beda). Tetapi dalam interaksi militer yang luar biasa besar dan panjang itu, korban jatuh hanya 379 jiwa saja. Ya hanya tiga ratus tujuh puluh sembilan saja. Bandingkan dengan korban 15.323.100 jiwa pada perang dunia pertama dan 62.537.400 jiwa pada perang dunia kedua. Rasulullah mengajarkan kepada para pemimpin dunia agar ikhlas ketika menyusun strategi militer. Tugas kita bukanlah untuk menumpas manusia, tetapi menyingkirkan para penghalang kebenaran.

Ia bersabda, “Berperanglah kalian atas nama Allah, di jalan Allah, melawan orang-orang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan mencincang, jangan membunuh anak-anak, wanita, orang yang sudah tua renta, dan orang-orang yang menyendiri di biara Nasrani, jangan menebang pohon kurma dan pohon apa pun, dan jangan merobohkan bangunan.” (HR. Muslim No. 4619).

Menjadi Rahmat yang Abadi Sepanjang Masa

Rasulullah Muhammad saw dicintai Allah dan menjadi teladan bagi manusia. Beliau mengasihi, memberi, dan melayani. Beliau berdoa dan merenung. Beliau adalah cahaya yang menuntun kepada Mahacahaya. Dengan mempelajari kehidupannya, orang kembali kepada Sumber Kehidupan serta menemukan cahaya dan cinta-Nya.

Rasul mungkin telah pergi meninggalkan dunia, tetapi beliau telah mengajarkan kita agar tidak pernah melupakan-Nya, Pelindung Tertinggi, Penyaksi, Yang paling Dekat. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah berarti melangkah menuju kebebasan sejati; mengakui Muhammad saw sebagai Rasul berarti belajar mencintainya di saat dirinya tidak ada lagi dan mencintainya saat dia hadir dengan terus mengikuti suri tauladannya agar hidup kita sukses secara seimbang baik spiritual, intelektual, emosional, sosial, maupun finansial.

Sekitar 23 tahun Nabi Muhammad saw mencari jalan menuju kebebasan dan pembebasan spiritual. Beliau menerima wahyu berangsur-angsur di tengah-tengah lingkungan hidupnya seolah-olah Allah swt sedang berdialog dengannya dalam sejarah, dalam keabadian. Nabi Muhammad saw mendengarkan-Nya, berdialog dengan-Nya, dan merenungi ayat-ayat-Nya siang dan malam, dalam kehangatan persahabatan dari para sahabatnya dan di tengah keheningan padang pasir Arab.

Allah swt berfirman :

Tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya`[21]: 107).

Redaksi ayat di atas sangat singkat, tetapi mengandung makna yang sangat luas. Hanya dengan lima kata yang terdiri atas dua puluh lima huruf, termasuk huruf penghubung yang terletak pada awal ayat itu, menyebut empat hal pokok : (1) Rasul/Utusan Allah, dalam hal ini Nabi Muhammad saw; (2) yang mengutus beliau, dalam hal ini Allah; (3) yang diutus kepada mereka, al 'Alamin; dan (4) risalah, yang semuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, yakni rahmat yang sangat besar sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah (indefinitif) dari kata tersebut. Ditambah lagi dengan menggambarkan ketercakupan sasaran dalam semua waktu dan tempat.

Rasulullah saw adalah rahmat, bukan hanya karena beliau membawa ajaran, melainkan sosok dan kepribadian beliau adalah rahmat yang dianugerahkan Allah swt kepada umat manusia.

Al-hamdu lillahi rabb al-'alamin

(Dikutip dan disarikan dari : Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad saw “The Super Leader Super Manager”, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec dan Tim TAZKIA, Cet. III, September 2012).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *