info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Sejarah dan Peran Global PMI
Sejarah dan Peran Global PMI
Sejarah dan Peran Global PMI

Oleh : DR. KH. Achmad Muhammad, MA

Hari Palang Merah Indonesia (PMI) diperingati setiap tanggal 17 September. Peringatan ini menegaskan komitmen keberlanjutan kepalangmerahan Indonesia sebagai pelopor aksi kemanusiaan di tingkat nasional maupun global.

Sejarah dan Asal Usul Pembentukan PMI

Cikal bakal pergerakan kemanusiaan ini sudah dimulai sejak masa kolonial lewat pendirian Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI) oleh pemerintah Belanda. Gagasan membentuk perhimpunan palang merah nasional sempat dirintis oleh dr. R.C.L. Senduk dan dr. Bahder Djohan pada 1932, tetapi kerap dihalangi oleh pihak Belanda maupun Jepang.

  • Perintah Presiden: Pada 3 September 1945, Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk badan Palang Merah Nasional.
  • Panitia Lima: dr. Buntaran membentuk Panitia Lima yang terdiri dari dr. R. Mochtar (Ketua), dr. Bahder Djohan (Penulis), dr. Djoehana, dr. Marzuki, dan dr. Sitanala.
  • Resmi Berdiri: Pada 17 September 1945, Perhimpunan PMI resmi dibentuk dengan Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai Ketua Umum pertama.
  • Pengakuan Legal: Pengakuan internasional diperoleh pada 1950 saat PMI masuk sebagai anggota Gerakan Palang Merah Internasional, yang kemudian diperkuat payung hukum nasional melalui UU No. 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan.

Perspektif Geopoleksosbud PMI dalam Kehidupan Global

PMI bertindak sebagai instrumen vital dalam mewujudkan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan bangsa serta peradaban dunia melalui empat aspek utama:

  • Geopolitik (Diplomasi Kemanusiaan):PMI bertindak sebagai aktor soft diplomacy Indonesia. Mengusung prinsip netralitas dan kemandirian, PMI hadir dalam bantuan kemanusiaan internasional (seperti krisis konflik, gempa bumi, dan krisis pengungsi di kawasan konflik global). Kehadiran PMI memperkuat posisi geopolitik Indonesia sebagai pembawa perdamaian (peacekeeper) sesuai amanat Pembukaan UUD 1945.
  • Ekonomi (Ketahanan & Pemulihan):Dalam lingkup ekonomi, PMI mempercepat pemulihan pascabencana (rehabilitasi dan rekonstruksi) agar aktivitas roda perekonomian masyarakat rentan tidak lumpuh. Di level global, kolaborasi pasokan logistik dan mitigasi risiko bencana menekan kerugian ekonomi nasional.
  • Sosial (Penyangga Kesejahteraan Masyarakat):PMI memegang peran sentral dalam menjamin ketersediaan darah yang aman, respons tanggap darurat bencana, serta penyediaan layanan kesehatan masyarakat. Upaya ini menciptakan masyarakat yang resilien (tangguh) dan stabil secara sosial.
  • Budaya (Internalisasi Nilai Kemanusiaan):Melalui pembinaan Korps Sukarela (KSR) dan Palang Merah Remaja (PMR), PMI menanamkan budaya gotong royong, empati lintas bangsa, serta prinsip universal kemanusiaan tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan.

Melalui komitmen pada 7 Prinsip Dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Kemanusiaan, Kesamaan, Netralitas, Kemandirian, Kesukarelaan, Kesatuan, dan Semesta), PMI senantiasa menjaga kedamaian dan ketentraman dunia sekaligus menjadi pilar ketahanan nasional Indonesia.

Palang Merah Indonesia (PMI) bertindak sebagai organisasi kemanusiaan independen sekaligus mitra strategis pemerintah (auxiliary to the public authorities). Dalam menghadapi berbagai bencana alam dan musibah kedaruratan di tanah air, PMI menerapkan mekanisme Siklus Manajemen Bencana yang terbagi dalam tiga fase utama:

1. Tanggap Darurat & Penyelamatan Kritis (Saat Terjadi Bencana)

Saat musibah terjadi, PMI memobilisasi relawan Tim SATGANA (Satuan Tugas Penanganan Bencana) dan Tim KSR (Korps Sukarela) ke tempat kejadian perkara (TKP).

  • Gempa Bumi (Contoh: NTT / Skala Masif):
    • Pencarian & Pertolongan (SAR): Membantu pencarian korban tertimbun reruntuhan bersama BASARNAS.
    • Layanan Medis Darurat: Mendirikan Pusat Kesehatan Lapangan (Rumah Sakit Lapangan) dan mengerahkan armada ambulans darurat.
    • Manajemen Logistik Darurat: Distribusi tenda pengungsi, sarung, family kit, hygiene kit, dan selimut.
  • Kecelakaan Kapal Tenggelam (Kedaruratan Perairan):
    • Pertolongan & Evakuasi: Anggota Korps Sukarela berkualifikasi khusus menyelam/SAR air dikerahkan di pelabuhan dan perairan.
    • Posko Layanan Darurat Pelabuhan: Menyediakan pertolongan pertama bagi korban selamat serta penanganan medis tingkat awal begitu korban tiba di darat.
    • Layanan Restorasi Hubungan Keluarga (RHK/Restoration of Family Links): Membantu pencarian data penumpang, pendataan korban selamat, serta menghubungkan keluarga yang terpisah akibat kepanikan kecelakaan kapal.
  • Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla):
    • Distribusi Alat Pelindung Diri (APD): Pembagian masker standar (N95/KN95) secara massal kepada warga terdampak paparan asap.
    • Posko Oksigen & Kesehatan Paru: Menyediakan klinik portabel yang dilengkapi tabung oksigen gratis bagi warga, anak-anak, dan lansia yang terserang ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

2. Dukungan Psikososial & Pelayanan Kebutuhan Dasar

Setelah masa kritis 1–3 hari pertama berlalu, penanganan bergeser pada pemulihan kondisi manusia di lokasi pengungsian.

  • Dukungan Psikososial (Psychosocial Support Program - PSP): Menurunkan tim trauma healing untuk anak-anak, lansia, dan korban selamat yang kehilangan anggota keluarga atau harta benda guna mengurangi risiko depresi dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
  • Air Bersih & Sanitasi (WASH - Water, Sanitation, and Hygiene): Mengerahkan truk-truk tangki air bersih milik PMI untuk menyuplai kebutuhan minum dan mandi pengungsi, serta membangun jamban darurat di area tenda pengungsian.
  • Dapur Umum (Mobile Kitchen): Menyediakan makanan siap saji bernutrisi bagi ribuan pengungsi dan petugas relawan setiap harinya.

3. Pemulihan Pasca-Bencana & Adaptasi Krisis (Rehabilitasi & Rekonstruksi)

Operasi kemanusiaan PMI tidak berhenti ketika media selesai meliput berita bencana.

  • Hunian Sementara (Huntara): Membantu pembangunan rumah ramah gempa bertahap bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
  • Kesiapsiagaan Berbasis Masyarakat (SIBAT): Membentuk desa/kelurahan tangguh bencana, seperti pelatihan jalur evakuasi kebakaran hutan di daerah rawan karhutla atau respon dini di wilayah pesisir.
  • Restorasi Mata Pencaharian: Memberikan bantuan modal usaha atau alay kerja darurat agar roda perekonomian keluarga terdampak bisa kembali berputar secara mandiri.

Sinergi & Dukungan Operasional PMI

Seluruh penanganan ini didukung penuh oleh Unit Donor Darah (UDD) PMI yang memasok kantong darah darurat bagi korban luka berat/operasi, serta jejaring komunikasi posko PMI dari tingkat kabupaten/kota hingga markas pusat yang terintegrasi 24 jam dengan sistem kebencanaan nasional (BNPB/BPBD).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *