Oleh : Drs. KH. Ahmad Muhammad, MA
Tato menurut hukum Islam dan berbagai agama.
Tato adalah praktik melukis atau membuat gambar permanen pada kulit dengan memasukkan pigmen tinta di bawah lapisan kulit. Pandangan terhadap tato sangat bervariasi di antara berbagai agama, mulai dari larangan tegas hingga penerimaan dalam konteks tertentu. Berikut adalah penjelasan mengenai pandangan tato menurut beberapa agama besar:
1. Hukum Tato dalam Islam
Dalam Islam, tato secara umum dianggap haram (dilarang). Pandangan ini didasarkan pada beberapa alasan utama:
- Mengubah Ciptaan Allah: Tato dianggap sebagai bentuk mengubah ciptaan Allah (العقل) yang sempurna. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW melaknat orang-orang yang membuat tato dan orang yang meminta ditato. Hal ini termasuk dalam perbuatan yang terlarang dan bahkan dianggap dosa besar.
- Menghalangi Air Wudu: Tato permanen yang dibuat dengan memasukkan tinta di bawah kulit dianggap menghalangi air wudu untuk mencapai kulit. Hal ini dapat membatalkan wudu, yang merupakan syarat sahnya salat, sehingga salat menjadi tidak sah. Sebagian ulama berpendapat bahwa jika tato tersebut dibuat sebelum seseorang masuk Islam atau dalam kondisi terpaksa, maka tobat sudah cukup untuk menghapus dosanya tanpa perlu menghilangkannya jika hal tersebut membahayakan.
- Najis: Sebagian ulama juga berpendapat bahwa tato menjadikan bagian tubuh yang ditato menjadi najis karena darah yang tertahan di bawah kulit.
Namun, ada perbedaan pendapat mengenai tato yang tidak permanen atau tato "henna" yang dibuat di atas kulit dan tidak menusuk. Tato jenis ini umumnya tidak dianggap haram, asalkan tidak menyerupai tato permanen dan tidak menghalangi air wudu.
2. Pandangan Tato dalam Kristen
Pandangan tentang tato dalam Kekristenan bervariasi, baik antara Katolik dan Protestan, serta antara individu dan denominasi.
Ayat Alkitab: Ayat yang paling sering dirujuk adalah Imamat 19:28: "Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN."
Penafsiran Larangan: Banyak umat Kristen, terutama dari kalangan Protestan, menafsirkan ayat ini sebagai larangan mutlak terhadap tato. Alasannya, tubuh manusia adalah "Bait Roh Kudus" (1 Korintus 6:19) dan harus dijaga serta dihormati, bukan dirusak. Tato juga sering dikaitkan dengan praktik-praktik paganisme atau penyembahan berhala pada masa Perjanjian Lama.
Penafsiran Konteks: Sebagian lainnya berpendapat bahwa larangan ini harus dilihat dalam konteksnya, yaitu praktik keagamaan bangsa Israel yang dilarang untuk meniru praktik ritual pagan di sekitar mereka, seperti merajah tubuh untuk memanggil arwah orang mati. Oleh karena itu, jika tato dibuat dengan motivasi yang benar (misalnya, untuk mengekspresikan iman atau sebagai karya seni) dan tidak terkait dengan ritual pagan, maka tidak dilarang secara mutlak.
Gereja Katolik: Gereja Katolik tidak memiliki larangan atau anjuran yang tegas mengenai tato. Oleh karena itu, hal ini dikembalikan kepada pertimbangan hati nurani umat. Penting untuk mempertimbangkan motivasi di balik pembuatan tato, apakah itu menghormati tubuh atau justru sebaliknya. Beberapa umat Katolik bahkan menggunakan tato untuk mengekspresikan iman mereka, seperti gambar salib, Bunda Maria, atau santo-santa.
3. Pandangan Tato dalam Agama Yahudi
Dalam Yudaisme, tato secara mutlak dilarang. Larangan ini juga bersumber dari ayat yang sama dengan Kekristenan, yaitu Imamat 19:28.
Alasan Larangan: Tubuh manusia dianggap sebagai "ciptaan Tuhan" yang sempurna dan tidak boleh dirusak. Tato dianggap sebagai tindakan merusak tubuh yang diberikan oleh Tuhan. Selain itu, praktik tato pada zaman kuno sering kali terkait dengan penyembahan berhala.
Konsekuensi: Dalam tradisi Yahudi, orang yang memiliki tato masih bisa dikuburkan di pemakaman Yahudi, meskipun ada mitos yang beredar sebaliknya. Namun, praktik ini sangat tidak dianjurkan dan dianggap melanggar hukum Yahudi (Halakha).
4. Pandangan Tato dalam Agama Hindu
Dalam Hindu, pandangan terhadap tato tidak diatur secara ketat, dan praktik ini lebih dipengaruhi oleh tradisi budaya lokal daripada teks-teks keagamaan.
Simbol Spiritual dan Seni: Tato dalam tradisi Hindu sering digunakan untuk tujuan spiritual, ritual, atau sebagai ekspresi seni. Tato bisa melambangkan pengabdian kepada dewa-dewi tertentu, seperti Om, Ganesha, atau simbol-simbol suci lainnya.
Tradisi dan Budaya: Di beberapa wilayah di India, tato telah menjadi bagian dari tradisi suku dan budaya selama berabad-abad, digunakan untuk menandakan identitas, status, atau sebagai jimat pelindung.
5. Pandangan Tato dalam Agama Buddha
Dalam agama Buddha, tidak ada larangan eksplisit mengenai tato. Pandangan ini lebih menekankan pada niat dan motivasi di baliknya.
Tato Spiritual (Sak Yant): Di beberapa negara penganut Buddha, terutama di Thailand dan Kamboja, tato memiliki makna spiritual yang mendalam. Tato yang dikenal sebagai Sak Yant adalah tato suci yang dipercaya dapat memberikan perlindungan, keberuntungan, dan kekuatan. Tato ini dibuat oleh biksu atau ahli tato spiritual dengan mantra dan ritual tertentu.
Batin vs. Penampilan: Ajaran Buddha lebih menekankan pada pengembangan batin dan pembebasan dari penderitaan. Penampilan luar, termasuk tato, dianggap sekunder. Selama tato tersebut tidak dibuat dengan niat buruk atau tidak menghalangi praktik spiritual, maka tidak dianggap masalah. Namun, stigma sosial terhadap tato di beberapa budaya mungkin membuat sebagian biksu memilih untuk tidak memilikinya.
Secara keseluruhan, pandangan agama terhadap tato sangatlah beragam. Sementara beberapa agama melarangnya secara mutlak karena dianggap merusak tubuh atau terkait dengan praktik terlarang, agama lain memandangnya dari sudut pandang niat, konteks budaya, atau sebagai bentuk ekspresi spiritual.
Jelaskan proses bertato
Proses bertato adalah seni melukis permanen pada kulit yang melibatkan beberapa tahapan, dari persiapan hingga perawatan. Prosedur ini harus dilakukan oleh seniman tato profesional di studio yang bersih dan steril untuk meminimalkan risiko kesehatan.
Berikut adalah penjelasan lengkap tentang proses bertato:
1. Tahap Persiapan dan Konsultasi
Sebelum tinta menyentuh kulit, ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan:
Konsultasi Desain: Anda akan berdiskusi dengan seniman tato mengenai desain yang diinginkan. Seniman akan memberikan saran tentang ukuran, posisi, dan warna tato agar sesuai dengan anatomi tubuh dan visi Anda.
Penyiapan Kulit: Seniman akan mencukur area kulit yang akan ditato untuk memastikan tidak ada rambut yang menghalangi. Kemudian, kulit dibersihkan secara menyeluruh dengan cairan antiseptik untuk membunuh bakteri dan mencegah infeksi.
Transfer Desain: Desain yang sudah disetujui dicetak pada kertas stensil khusus. Kertas ini kemudian ditempelkan pada kulit, meninggalkan cetakan garis-garis halus yang akan menjadi panduan bagi seniman saat proses menato.
2. Proses Bertato (Penusukan Jarum)
Ini adalah inti dari prosesnya, di mana tinta dimasukkan ke dalam lapisan kulit.
Pengaturan Alat: Seniman akan menyiapkan mesin tato, jarum, dan tinta. Semua peralatan ini, terutama jarum dan tabung, harus steril dan sekali pakai untuk mencegah penularan penyakit.
Penusukan Jarum: Dengan menggunakan mesin tato, seniman akan mulai menusukkan jarum dengan cepat dan berulang ke lapisan dermis (lapisan kedua) kulit. Mesin tato modern beroperasi dengan kecepatan ratusan hingga ribuan tusukan per menit.
Tinta: Setiap tusukan jarum membawa pigmen tinta dan menyimpannya di lapisan dermis. Lapisan ini dipilih karena sel-selnya lebih stabil daripada epidermis (lapisan terluar), sehingga tinta bisa bertahan permanen.
Sesi Tato: Proses ini bisa memakan waktu berjam-jam, tergantung pada ukuran dan kerumitan desain. Untuk tato yang besar, biasanya dibutuhkan beberapa sesi untuk menyelesaikannya.
3. Perawatan Pasca-Tato
Setelah tato selesai, kulit akan mengalami luka terbuka dan sangat rentan. Perawatan yang tepat sangat krusial untuk mencegah infeksi dan memastikan hasil tato yang optimal.
Pembersihan dan Pembungkusan: Seniman akan membersihkan area tato, mengeringkannya dengan lembut, dan mengoleskan salep khusus. Kemudian, area tersebut akan dibungkus dengan perban atau plastik steril untuk melindunginya dari bakteri.
Tahap Penyembuhan: Tato yang baru selesai adalah luka, dan proses penyembuhannya bisa memakan waktu 2 hingga 4 minggu. Selama masa ini, kulit akan terasa sakit, bengkak, dan mungkin sedikit berdarah.
Panduan Perawatan, Seniman akan memberikan instruksi rinci, yang biasanya meliputi:
- Membersihkan secara teratur dengan sabun antibakteri yang lembut.
- Mengoleskan salep khusus atau pelembap tanpa pewangi.
- Menghindari paparan sinar matahari langsung, berenang, atau merendam tato dalam air.
- Tidak menggaruk atau mengelupas kulit yang mengering.
Dengan mengikuti semua tahapan ini, Anda bisa mendapatkan hasil tato yang indah dan meminimalkan risiko kesehatan.
Bertato dalam prespektif kesehatan
Bertato, meskipun populer sebagai bentuk seni dan ekspresi diri, memiliki beberapa risiko kesehatan yang penting untuk dipahami. Proses ini melibatkan penusukan kulit berulang-ulang dengan jarum, yang membawa potensi masalah medis jika tidak dilakukan dengan benar.
Berikut adalah beberapa perspektif kesehatan terkait tato:
1. Infeksi
Ini adalah salah satu risiko paling umum. Kulit yang baru ditato adalah luka terbuka, dan jika alat yang digunakan tidak steril atau perawatan pasca-tato tidak tepat, bakteri, virus, atau jamur dapat masuk ke dalam luka dan menyebabkan infeksi.
Penyebab: Penggunaan jarum yang tidak steril, tinta yang terkontaminasi, atau lingkungan studio yang tidak bersih.
Gejala: Kemerahan, bengkak, nyeri yang meningkat, demam, keluarnya nanah, atau ruam. Infeksi yang parah bisa menyebar ke seluruh tubuh dan memerlukan perawatan medis intensif, seperti antibiotik.
Penyakit Menular: Jarum yang terkontaminasi darah dari orang lain dapat menularkan penyakit serius seperti Hepatitis B, Hepatitis C, HIV, dan Tetanus.
2. Reaksi Alergi
Beberapa orang dapat mengalami reaksi alergi terhadap komponen tinta tato.
Penyebab: Tinta tato mengandung berbagai pigmen dan bahan kimia, seperti nikel, merkuri, dan senyawa logam lainnya. Tinta berwarna cerah, terutama merah, hijau, kuning, dan biru, paling sering menjadi pemicu alergi.
Gejala: Ruam gatal, bengkak, dan iritasi pada area tato. Reaksi ini dapat terjadi segera setelah tato dibuat atau bahkan bertahun-tahun kemudian.
3. Masalah Kulit Lainnya
Tato dapat memicu berbagai kondisi kulit.
Granuloma: Benjolan kecil yang terbentuk di sekitar tato. Ini adalah respons tubuh terhadap partikel tinta yang dianggap sebagai "benda asing".
Keloid: Pertumbuhan jaringan parut yang berlebihan dan menonjol. Orang dengan kecenderungan genetik untuk membentuk keloid lebih berisiko mengalami kondisi ini di area tato.
Sensitivitas Matahari: Beberapa tinta tato dapat membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari, menyebabkan gatal, kemerahan, dan bahkan lepuh saat terpapar.
4. Komplikasi Saat Pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Meskipun jarang terjadi, tato dapat menimbulkan masalah selama pemeriksaan MRI.
Penyebab: Tinta tato yang mengandung partikel logam (seperti oksida besi) dapat bereaksi dengan medan magnet kuat dari alat MRI.
Dampak: Hal ini bisa menyebabkan sensasi terbakar, bengkak, atau kemerahan pada area tato. Selain itu, pigmen tato juga dapat mengganggu kualitas gambar MRI, mempersulit dokter untuk mendiagnosis kondisi tertentu.
5. Risiko Kanker Kulit
Hubungan antara tato dan kanker kulit masih menjadi subjek penelitian, dan belum ada bukti konklusif yang menunjukkan bahwa tato secara langsung menyebabkan kanker kulit. Namun, ada beberapa kekhawatiran:
Bahan Kimia dalam Tinta: Beberapa pigmen tinta tato mengandung zat karsinogenik (penyebab kanker), seperti benzoapyrene dalam tinta hitam. Zat-zat ini dapat diserap oleh tubuh dan tersimpan di kelenjar getah bening.
Penyulit Diagnosis: Tato dapat menutupi tahi lalat atau lesi kulit lainnya, sehingga menyulitkan deteksi dini kanker kulit seperti melanoma.
Tips untuk Meminimalkan Risiko Kesehatan:
Untuk mengurangi risiko di atas, sangat penting untuk memilih studio tato yang profesional dan bereputasi baik. Berikut adalah beberapa langkah yang harus diperhatikan:
Kehigienisan: Pastikan seniman tato menggunakan jarum baru yang masih tersegel dan peralatan lain yang steril.
Tinta Berkualitas: Tanyakan tentang jenis tinta yang digunakan. Tinta yang disetujui untuk penggunaan kulit lebih aman.
Perawatan Pasca-Tato: Ikuti semua instruksi perawatan yang diberikan oleh seniman tato dengan cermat, termasuk membersihkan area tato secara teratur, mengoleskan salep, dan melindunginya dari sinar matahari.
Secara keseluruhan, bertato tidak bebas risiko. Calon pelanggan harus menyadari potensi masalah kesehatan dan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk memastikan proses yang seaman mungkin. Jika terjadi komplikasi setelah bertato, segera konsultasikan dengan dokter atau dermatolog.
Image masyarakat di berbagai negara terkait tato, jelaskan.
Persepsi masyarakat terhadap tato sangat bervariasi di berbagai negara, sering kali dipengaruhi oleh sejarah, budaya, dan nilai-nilai sosial setempat. Berikut adalah gambaran umum citra tato di beberapa wilayah di dunia:
1. Jepang
Di Jepang, tato memiliki stigma negatif yang kuat, terutama di kalangan generasi yang lebih tua.
Sejarah: Tato, atau irezumi, secara historis dikaitkan dengan kelompok kriminal Yakuza. Pada abad ke-17, tato digunakan sebagai hukuman untuk menandai penjahat.
Persepsi Modern: Meskipun popularitas tato meningkat di kalangan anak muda, banyak tempat umum seperti pemandian air panas (onsen), kolam renang, dan pusat kebugaran masih melarang orang bertato untuk masuk. Stigma ini juga dapat menjadi hambatan di lingkungan kerja profesional.
Perubahan: Seiring dengan globalisasi dan pengaruh budaya Barat, persepsi ini mulai sedikit melunak, namun perubahan tersebut terjadi secara bertahap dan lambat.
2. Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, tato telah mengalami pergeseran citra yang signifikan dari waktu ke waktu.
Sejarah: Tato pernah dikaitkan dengan anggota militer, pelaut, dan kelompok "pinggiran" masyarakat.
Persepsi Modern: Saat ini, tato diterima secara luas sebagai bentuk seni dan ekspresi diri. Sekitar 30% orang dewasa di AS memiliki setidaknya satu tato. Popularitasnya didorong oleh selebritas, musisi, dan atlet. Meskipun demikian, masih ada beberapa perusahaan yang memiliki kebijakan melarang tato terlihat di tempat kerja, terutama di industri yang lebih konservatif.
3. Polinesia
Tato adalah bagian integral dari budaya dan warisan di banyak pulau Polinesia, termasuk Samoa, Tahiti, dan Selandia Baru.
Sejarah dan Makna: Tato, yang berasal dari kata tatau, bukan hanya hiasan. Setiap desain memiliki makna yang mendalam, menceritakan kisah hidup seseorang, status sosial, garis keturunan, prestasi, dan perjalanan spiritual.
Tradisi: Proses menato tradisional sering kali merupakan ritual sakral yang menggunakan alat-alat pahat tangan. Tato dianggap sebagai kanvas komunikasi budaya antar generasi.
Penerimaan: Di wilayah ini, orang bertato sangat dihormati dan tato adalah simbol kebanggaan, kekuatan, dan identitas budaya.
4. Korea Selatan
Sama seperti Jepang, tato di Korea Selatan memiliki citra yang cukup negatif dan tabu.
Persepsi: Secara historis, tato dikaitkan dengan geng kriminal atau anggota dunia bawah tanah. Tato masih dianggap sebagai tanda pemberontakan dan kurang profesional.
Aturan Hukum: Secara teknis, praktik menato dianggap sebagai prosedur medis yang hanya boleh dilakukan oleh dokter berlisensi, sehingga banyak seniman tato beroperasi secara ilegal.
Perubahan: Meskipun demikian, banyak selebritas K-Pop dan seniman muda mulai secara terbuka memamerkan tato mereka, yang perlahan-lahan mengubah pandangan masyarakat. Namun, media televisi sering kali memburamkan atau menutupi tato para selebritas.
5. Indonesia
Di Indonesia, persepsi tato bervariasi tergantung pada suku dan daerahnya.
Tato Tradisional: Di beberapa suku, seperti Suku Mentawai di Sumatera Barat dan Suku Dayak di Kalimantan, tato adalah tradisi kuno yang sakral. Tato berfungsi sebagai identitas suku, simbol status sosial, penanda spiritual, atau bahkan simbol kecantikan.
Persepsi Modern: Di kota-kota besar, tato lebih dianggap sebagai seni tubuh dan ekspresi diri. Namun, di beberapa komunitas, tato masih sering dikaitkan dengan citra negatif, seperti kriminalitas atau pemberontakan, terutama di kalangan generasi yang lebih tua. Stigma ini dapat memengaruhi pandangan di lingkungan pekerjaan.
Bagamana bertato dalam kaitannya dengan budi pekerti dan kejahatan.
Pandangan masyarakat tentang hubungan antara tato, budi pekerti, dan kejahatan adalah isu yang kompleks, sering kali didasari oleh stereotip dan prasangka historis. Tidak ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa memiliki tato secara inheren mencerminkan kurangnya budi pekerti atau kecenderungan untuk berbuat jahat. Namun, kaitan ini muncul karena beberapa alasan.
1. Stereotip Historis dan Kejahatan
Secara historis, di banyak budaya, tato memang sering dikaitkan dengan kelompok kriminal. Contoh paling jelas terlihat pada Yakuza di Jepang atau geng jalanan di Amerika Serikat, di mana tato digunakan untuk menunjukkan afiliasi, status, atau riwayat kriminal. Akibatnya, pandangan umum terbentuk: jika seseorang memiliki tato, mereka mungkin anggota dari kelompok yang melanggar hukum.
Tato sebagai Tanda Pemberontakan: Tato juga sering menjadi simbol pemberontakan terhadap norma-norma sosial. Ini membuat masyarakat konservatif melihatnya sebagai penolakan terhadap nilai-nilai budi pekerti yang mapan.
2. Budi Pekerti dan Nilai Sosial
Budi pekerti adalah tentang perilaku moral, etika, dan nilai-nilai baik. Memiliki tato tidak secara langsung berhubungan dengan hal-hal ini. Seseorang yang bertato bisa jadi seorang dokter, guru, atau relawan yang berdedikasi tinggi. Sebaliknya, seseorang tanpa tato pun bisa melakukan tindakan yang tidak bermoral.
Namun, dalam masyarakat yang masih memegang teguh tradisi, penampilan fisik sering kali dianggap sebagai cerminan karakter. Tato, terutama yang berukuran besar atau terlihat jelas, bisa dipandang sebagai tindakan yang tidak menghormati tubuh atau melanggar norma kesopanan. Hal ini menyebabkan orang yang bertato sering kali menghadapi prasangka di lingkungan kerja atau sosial.
Kesimpulan
Pada akhirnya, pandangan bahwa tato terkait dengan kejahatan atau kurangnya budi pekerti adalah stereotip yang tidak akurat. Meskipun secara historis tato pernah digunakan oleh kelompok kriminal, saat ini tato lebih sering menjadi bentuk ekspresi diri, seni, dan identitas pribadi.
Menilai budi pekerti seseorang hanya berdasarkan penampilan fisik, seperti memiliki tato, adalah cara pandang yang dangkal. Budi pekerti sejati tercermin dari tindakan, kejujuran, dan perlakuan seseorang terhadap orang lain, bukan dari lukisan di kulit mereka.
Adakah bangsa dan negara yang adat istiadatnya bertato ?
Ya, banyak suku dan bangsa di dunia yang memiliki tradisi bertato yang kuat, di mana tato tidak hanya dianggap sebagai seni, tetapi juga sebagai bagian penting dari adat istiadat dan identitas budaya mereka. Tato bagi mereka memiliki makna mendalam, bukan sekadar hiasan.
Berikut adalah beberapa contohnya:
1. Suku Mentawai, Indonesia
Suku Mentawai yang mendiami Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat memiliki tradisi tato (titi) yang diperkirakan sebagai salah satu yang tertua di dunia. Tato bagi mereka adalah "busana abadi" yang dibawa mati. Setiap motif tato Mentawai menceritakan kisah hidup, status sosial, peran dalam masyarakat, atau bahkan kedudukan spiritual. Tato juga berfungsi sebagai simbol keseimbangan antara manusia dan alam.
2. Suku Māori, Selandia Baru
Suku Māori di Selandia Baru memiliki tradisi tato wajah yang disebut Tā Moko. Tato ini bukan sekadar gambar; setiap ukiran pada wajah laki-laki (moko) dan dagu perempuan (moko kauae) adalah manifestasi fisik dari whakapapa (silsilah leluhur) dan mana (status atau kekuatan spiritual). Tā Moko berfungsi sebagai paspor identitas yang menceritakan garis keturunan, status, dan pencapaian seseorang.
3. Suku Polinesia
Di seluruh kepulauan Polinesia, termasuk Samoa, Tahiti, dan Hawaii, tradisi tato (tatau) adalah bagian penting dari budaya. Tato digunakan untuk menandai identitas, status sosial, peran dalam masyarakat, dan bahkan sebagai pelindung spiritual. Motif-motif tato Polinesia sering kali rumit dan setiap simbolnya memiliki makna unik, yang berfungsi sebagai "kanvas komunikasi" yang menceritakan kisah pribadi dan warisan keluarga.
4. Suku Kalinga, Filipina
Di wilayah Pegunungan Cordillera, Luzon, Filipina, Suku Kalinga memiliki tradisi tato yang dijaga hingga saat ini oleh seniman tato legendaris seperti Apo Whang-Od. Bagi suku ini, tato adalah simbol kecantikan, kejantanan, dan status sosial. Wanita yang sudah ditato dianggap lebih menarik dan siap menikah, sementara pria dengan tato yang melimpah dianggap sebagai pejuang berani dan memiliki status yang lebih tinggi dalam masyarakat.