
Oleh : Dr. KH. Achmad muhammad, MA.
saya akan menjelaskan tentang Hari Toilet Sedunia, sejarah asal-usulnya, serta perspektif kebersihan dan kesucian dalam beragam agama.
Hari Toilet Sedunia (World Toilet Day)
Hari Toilet Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 19 November. Hari ini adalah peringatan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk menginspirasi tindakan dalam mengatasi krisis sanitasi global.
1. Sejarah Asal-Usul
- Pendirian World Toilet Organization (WTO): Peringatan ini bermula pada tanggal 19 November 2001, bersamaan dengan didirikannya World Toilet Organization (WTO). WTO adalah organisasi nirlaba global yang didirikan oleh Jack Sim dari Singapura, fokus pada isu sanitasi.
- Pemilihan Nama: WTO sengaja memilih kata "Toilet" alih-alih "Sanitasi" agar lebih mudah diterima dan relevan dalam pesan publik, meskipun topik yang diangkat mencakup sistem sanitasi yang lebih luas.
- Pengakuan PBB: Hari Toilet Sedunia secara resmi ditetapkan sebagai hari internasional PBB pada tahun 2013 melalui Resolusi PBB A/67/L.75. Resolusi ini didorong oleh Singapura dan menyerukan tindakan bersama untuk mengakhiri krisis sanitasi global.
- Tujuan Utama: Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran tentang 3,47 miliar orang di seluruh dunia (data PBB) yang hidup tanpa akses ke sanitasi yang terkelola dengan aman, dan sekitar 419 juta orang masih buang air besar di tempat terbuka (open defecation). Sanitasi yang tidak memadai dapat mencemari sumber air dan makanan, menyebabkan penyebaran penyakit mematikan seperti kolera dan diare.
2. Perspektif Kebersihan dan Kesucian dalam Beragam Agama
Konsep kebersihan dan kesucian (sanitasi) sangat erat kaitannya dengan praktik keagamaan, di mana toilet dan proses pembersihan setelah buang hajat memiliki aturan dan adab yang spesifik.
| Agama | Konsep Utama | Perspektif Terkait Toilet/Sanitasi |
| Islam | Taharah (Kesucian) & Najis (Kotoran) | Kebersihan adalah sebagian dari iman. Bersuci (istinja') setelah buang air wajib dilakukan untuk menghilangkan najis (kotoran) agar ibadah, seperti salat, sah. Terdapat adab khusus di toilet/WC, seperti: * Tidak menghadap atau membelakangi kiblat saat buang air besar/kecil. * Membersihkan diri dengan air atau benda lain (seperti batu atau tisu, kemudian air lebih utama). * Masuk dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan. |
| Hindu | Śauca (Kemurnian) | Śauca (kemurnian fisik dan mental) adalah salah satu dari niyama (pedoman perilaku). Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sangat penting. Setelah buang hajat, air sangat ditekankan untuk membersihkan diri dan menjaga kebersihan adalah bagian dari ritual harian. Beberapa tradisi menekankan pemisahan yang ketat antara area suci (seperti kuil atau tempat ibadah) dan area pembuangan kotoran. |
| Buddha | Kemurnian Fisik dan Mental | Ajaran Buddha menekankan hidup bersih secara fisik dan mental. Praktik mandi teratur dan mencuci tangan ditekankan sebagai bagian dari kehidupan monastik dan sehari-hari. Menjaga kebersihan lingkungan (termasuk tidak membuang sampah sembarangan) adalah praktik moralitas. |
| Kristen | Tubuh sebagai Bait Roh Kudus | Meskipun tidak ada peraturan detail tentang tata letak toilet, ajaran Kristen umumnya menekankan kebersihan diri dan tubuh sebagai "Bait Roh Kudus". Kitab Suci mendorong umat untuk "menyucikan diri" dan hidup dalam kebersihan. Terdapat penekanan kuat pada tanggung jawab sosial untuk kesehatan masyarakat, yang sejalan dengan tujuan sanitasi global. |
UN-Water, sebagai mekanisme koordinasi PBB untuk air dan sanitasi, menetapkan tema tahunan untuk Hari Toilet Sedunia. Berikut adalah tema yang diusung untuk tahun 2024 dan tema yang diumumkan untuk tahun 2025:
Tentu. UN-Water, sebagai mekanisme koordinasi PBB untuk air dan sanitasi, menetapkan tema tahunan untuk Hari Toilet Sedunia.
Berikut adalah tema yang diusung untuk tahun 2024 dan tema yang diumumkan untuk tahun 2025:
Tema Hari Toilet Sedunia (19 November)
1. Tema Hari Toilet Sedunia 2025
Tema yang ditetapkan oleh UN-Water untuk Hari Toilet Sedunia 2025 adalah "Sanitation in a Changing World" (Sanitasi dalam Dunia yang Berubah).
- Slogan/Tagline: "We'll always need the toilet" (Kita akan selalu membutuhkan toilet).
- Fokus Kampanye: Kampanye ini menyoroti perlunya sistem sanitasi yang tahan masa depan (future-ready). Hal ini termasuk mengatasi tantangan yang timbul dari:
- Perubahan Iklim: Membangun toilet yang tahan terhadap banjir, kekeringan, dan bencana alam lainnya.
- Infrastruktur yang Menua: Memperkuat dan meningkatkan investasi pada infrastruktur sanitasi yang sudah ada.
- Sanitasi Inklusif: Memastikan toilet yang aman, beremisi rendah, dan dapat diakses oleh semua orang, terutama kelompok rentan seperti perempuan dan anak perempuan.
2. Tema Hari Toilet Sedunia 2024
Tema Hari Toilet Sedunia 2024 adalah "Sanitation for Peace" (Sanitasi untuk Perdamaian).
- Slogan/Tagline: "Toilets: A Place for Peace" (Toilet: Tempat untuk Kedamaian).
- Fokus Kampanye: Tema ini menekankan bagaimana sanitasi yang aman dan terlindungi sangat penting untuk martabat dan kesehatan, yang pada akhirnya berkontribusi pada stabilitas dan perdamaian.
- Ancaman terhadap Sanitasi: Krisis sanitasi sering diperburuk oleh konflik, bencana alam, dan perubahan iklim, yang dapat merusak infrastruktur air dan sanitasi, memutus layanan vital, dan menyebarkan penyakit.
- Toilet sebagai Ruang Aman: Toilet yang aman dan berfungsi menjadi ruang yang penting untuk perlindungan, martabat, dan kemajuan, terutama bagi perempuan dan anak perempuan.
Tema-tema ini secara konsisten menekankan bahwa sanitasi yang aman bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga isu hak asasi manusia, kesehatan masyarakat, pembangunan berkelanjutan, dan keadilan sosial.
Itu adalah pertanyaan yang sangat relevan!
Dengan tema Hari Toilet Sedunia 2024 yang berfokus pada "Sanitasi untuk Perdamaian" (Sanitation for Peace), fokus utama di Indonesia sering kali diterjemahkan menjadi upaya menciptakan lingkungan yang damai, aman, dan sehat melalui penghentian praktik buang air besar sembarangan (BABS) dan peningkatan fasilitas sanitasi yang layak.
Berikut adalah beberapa contoh penerapan dan inisiatif terkait Hari Toilet Sedunia di Indonesia, khususnya di sekitar peringatan tahun 2024:
1. Fokus Kampanye Utama: Menghentikan BABS dan Menjaga Lingkungan
Indonesia memiliki target nasional untuk mengakhiri praktik BABS (Open Defecation Free / ODF). Peringatan Hari Toilet Sedunia menjadi momen penting untuk mendorong pencapaian target ini.
- Pentingnya Sanitasi untuk Perdamaian: Di Indonesia, tema "Sanitasi untuk Perdamaian" sering diartikan sebagai:
- Kedamaian Komunitas: Menghentikan BABS mencegah konflik sosial dan penyakit, menciptakan kedamaian dalam komunitas.
- Perlindungan: Toilet yang aman, terutama di tempat umum dan sekolah, memberikan perlindungan, khususnya bagi perempuan dan anak perempuan.
- Pembangunan: Sanitasi yang baik adalah fondasi kemajuan ekonomi dan sosial.
- Seminar dan Sosialisasi: Peringatan di berbagai daerah, seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Palembang bekerja sama dengan organisasi seperti KIAT, mengadakan seminar besar dengan mengundang mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran tentang Sanitasi Aman dan pentingnya berhenti membuang limbah ke sungai. Ini sejalan dengan upaya menjaga kedamaian lingkungan.
2. Inisiatif Berbasis Komunitas dan Edukasi
Berbagai organisasi dan komunitas lokal mengambil pendekatan unik untuk menyuarakan pesan ini:
- Kampanye Kreatif (Contoh: Bandar Lampung): Di Bandar Lampung, peringatan dilakukan melalui acara bertajuk "Musik Tepi Sungai". Acara ini menggunakan pendekatan seni dan budaya (musik, drama, instalasi seni) di tepi Sungai Way Belau. Ini adalah cara kreatif untuk:
- Meningkatkan kesadaran akan dampak buruk sanitasi yang tidak baik terhadap sungai.
- Mendorong komitmen masyarakat terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak).
- Edukasi di Sekolah (WASH di Sekolah): Banyak inisiatif dilakukan di sekolah dasar (SD) dan menengah pertama (SMP) untuk fokus pada kebersihan toilet dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
- Data menunjukkan bahwa layanan Air, Sanitasi, dan Kebersihan (WASH) di banyak sekolah di Indonesia masih terbatas. Kampanye oleh berbagai pihak (seperti Asosiasi Toilet Indonesia dan perusahaan swasta) berfokus pada pelatihan siswa dan petugas kebersihan tentang pentingnya menjaga toilet sekolah sebagai ruang yang bersih, aman, dan proporsional.
3. Kolaborasi dan Inovasi Swasta-Publik
Perusahaan dan lembaga internasional juga terlibat aktif:
- Kemitraan Global: Perusahaan penyedia peralatan kamar mandi global (seperti LIXIL) bekerja sama dengan UNICEF melalui program "Make a Splash!" untuk meningkatkan akses sanitasi dan kebersihan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Program ini berfokus pada ketersediaan dan keterjangkauan sanitasi yang aman.
- Program Pemerintah: Pemerintah Indonesia terus menjalankan program seperti Sanitasi Desa (Sandes) dan berbagai program pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) yang bertujuan untuk memperluas akses sanitasi yang aman dan berkelanjutan di tengah tantangan seperti perubahan iklim dan banjir.
Secara keseluruhan, penerapan tema Hari Toilet Sedunia di Indonesia sangat berorientasi pada aksi nyata di tingkat komunitas dan edukasi generasi muda, dengan tujuan besar untuk mencapai target universal sanitasi layak pada tahun 2030 (SDG 6.2).
YaTentu. Target sanitasi Indonesia sangat erat kaitannya dengan komitmen global, yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals - SDGs) yang harus dicapai pada tahun 2030.
Indonesia memiliki ambisi besar untuk memastikan semua warga negara memiliki akses terhadap sanitasi dan air bersih yang layak.
Target Utama Sanitasi Indonesia (SDGs 2030)
Target utama Indonesia untuk sektor sanitasi terangkum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 6: "Menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua."
Secara spesifik, target sanitasi utama Indonesia pada tahun 2030 adalah:
| Target SDG 6.2 (Sanitasi) | Rincian Tujuan |
| Akses Universal Sanitasi Layak | Mencapai akses terhadap sanitasi dan kebersihan yang memadai dan setara untuk semua. |
| Mengakhiri BABS (ODF) | Mengakhiri praktik buang air besar sembarangan (Open Defecation) secara total di seluruh Indonesia. |
| Sanitasi Aman (Aman Kelola) | Memberikan perhatian khusus pada kebutuhan perempuan dan populasi rentan, serta memastikan penanganan tinja dan air limbah rumah tangga dikelola dengan aman (safely managed). |
Pada dasarnya, Indonesia menargetkan 100% Akses Sanitasi Layak pada tahun 2030, dan secara ideal, sebisa mungkin menuju Sanitasi Aman (Safely Managed Sanitation).
Strategi Utama untuk Mencapai Target
Untuk mencapai target ambisius ini, Pemerintah Indonesia mengandalkan strategi utama yang berfokus pada perubahan perilaku dan pembangunan infrastruktur:
1. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Ini adalah program utama yang dipimpin oleh Kementerian Kesehatan RI untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat. STBM memiliki Lima Pilar:
- Pilar 1: Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBABS/ODF). Ini adalah fokus utama, di mana pemicuan dilakukan agar masyarakat menyadari dampak buruk BABS dan membangun jamban sehat secara mandiri.
- Pilar 2: Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).
- Pilar 3: Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT).
- Pilar 4: Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PSRT).
- Pilar 5: Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga (PLCRT).
2. Pembangunan Infrastruktur (Sanitasi Aman)
Pemerintah berinvestasi dalam infrastruktur untuk memastikan tinja dikelola dengan aman, bukan hanya dibuang ke lubang seadanya:
- SPALDT (Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat): Pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal dan perpipaan di kawasan padat penduduk (perkotaan).
- Pembangunan Tangki Septik Komunal dan Individual: Membangun tangki septik yang kedap air dan aman, serta menyediakan layanan penyedotan lumpur tinja terjadwal.
- Program Sanitasi Desa (Sandes): Program untuk membangun fasilitas sanitasi, terutama di pedesaan, sering kali melalui Program PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat).
3. Aspek Kebijakan
- Penganggaran Daerah: Mendorong pemerintah daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) untuk meningkatkan alokasi APBD untuk sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL).
- Regulasi: Menguatkan regulasi terkait pengolahan limbah dan penanganan polusi air untuk mencapai Target SDG 6.3 (Meningkatkan kualitas air dan mengurangi polusi).
Sanitasi yang layak bukan hanya tentang toilet, tetapi tentang sistem terintegrasi yang mencakup perubahan perilaku, fasilitas yang memadai, dan pengolahan limbah yang aman, yang semuanya bertujuan meningkatkan kesehatan dan martabat masyarakat Indonesia.