info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Perspektif Islam tentang Wafat Nabi Isa
Perspektif Islam tentang Wafat Nabi Isa
Perspektif Islam tentang Wafat Nabi Isa

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Dalam perspektif Islam, keyakinan mengenai akhir hayat Nabi Isa AS merupakan salah satu poin teologis yang sangat mendasar dan membedakannya dengan narasi dalam tradisi agama lain. Mayoritas ulama dan umat Islam berpegang pada nash Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Nabi Isa tidak dibunuh maupun disalib.

Berikut adalah poin-poin utama mengenai peristiwa tersebut berdasarkan sumber-sumber Islam:

1. Penegasan Al-Qur'an (Surah An-Nisa: 157-158)

Al-Qur'an secara eksplisit membantah klaim mengenai penyaliban Nabi Isa. Allah SWT berfirman:

"...padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka..." (QS. An-Nisa: 157)

Ayat selanjutnya (158) menegaskan bahwa:

"Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."


2. Teori Tasybih (Diserupakan)

Terdapat interpretasi yang umum dalam tafsir (seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir) bahwa ketika tentara Romawi atau kaum yang memusuhinya mengepung Nabi Isa, Allah mengubah wajah salah satu pengikutnya (atau orang yang berkhianat) hingga menyerupai Nabi Isa. Orang inilah yang akhirnya ditangkap dan disalib, sementara Nabi Isa diselamatkan.

3. Makna "Wafat" dalam Al-Qur'an

Dalam Surah Ali Imran ayat 55, terdapat kata mutawaffika (berasal dari kata wafat). Namun, para ahli tafsir menjelaskan bahwa kata "wafat" dalam konteks ini memiliki beberapa makna:

  • Mengambil secara penuh: Allah mengambil Nabi Isa dari bumi secara utuh (ruh dan jasad).
  • Tidur: Sebagian ulama berpendapat Nabi Isa ditidurkan sebelum diangkat ke langit.
  • Wafat setelah turun kembali: Sebagian besar ulama berpendapat wafatnya Nabi Isa yang sebenarnya baru akan terjadi setelah beliau turun kembali ke bumi di akhir zaman.

4. Kedatangan Kembali di Akhir Zaman

Eskatologi Islam menyebutkan bahwa Nabi Isa saat ini masih hidup di langit dan akan turun kembali ke bumi sebelum hari kiamat. Tugas beliau saat turun nanti meliputi:

  • Membunuh Dajjal.
  • Menghapuskan jizyah dan mematahkan salib (menegaskan kembali tauhid).
  • Memimpin umat manusia dengan syariat Islam.
  • Setelah menjalankan tugasnya dan hidup selama periode tertentu di bumi, barulah beliau akan wafat secara alami sebagai manusia biasa dan disalatkan oleh kaum Muslimin.

Kesimpulan

Secara singkat, perspektif Islam memandang bahwa Nabi Isa AS diangkat ke langit dalam keadaan hidup oleh Allah SWT sebagai bentuk perlindungan dari musuh-musuhnya. Beliau tidak mengalami kematian di tiang salib, dan kematian biologisnya baru akan terjadi setelah misi keduanya di bumi selesai menjelang hari kiamat.

Kelahiran dan pertumbuhan Nabi Isa AS merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian yang ditegaskan dalam Al-Qur'an sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Berikut adalah penjelasan mengenai fase kehidupan beliau dari kelahiran hingga diangkat menjadi Rasul:

1. Keajaiban Kelahiran (Tanpa Ayah)

Kisah ini bermula ketika Malaikat Jibril mendatangi Maryam binti Imran, seorang wanita suci yang sedang mengasingkan diri untuk beribadah. Jibril mengabarkan bahwa Maryam akan mengandung seorang anak laki-laki yang suci.

  • Respons Maryam: Maryam terkejut dan bertanya bagaimana hal itu mungkin terjadi sementara ia tidak pernah disentuh oleh laki-laki (QS. Maryam: 20).
  • Ketentuan Allah: Jibril menjawab bahwa hal itu mudah bagi Allah. Cukup dengan firman "Kun" (Jadilah), maka terjadilah. Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam rahim Maryam.
  • Proses Persalinan: Saat merasa sakit hendak melahirkan, Maryam bersandar pada pangkal pohon kurma. Dalam kesendirian dan kesedihan, Allah memberikan ketenangan melalui air mengalir di bawahnya dan buah kurma yang masak untuk dimakan.

2. Pembelaan di Masa Bayi

Setelah melahirkan, Maryam membawa bayinya kembali ke kaumnya. Ia mendapat kecaman dan tuduhan keji dari masyarakat. Sesuai petunjuk Allah, Maryam hanya berisyarat agar mereka bertanya langsung kepada bayi tersebut.

Di sinilah mukjizat pertama Nabi Isa muncul. Beliau berbicara saat masih di dalam buaian untuk membela kesucian ibunya dan memaklumkan jati dirinya:

"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi." (QS. Maryam: 30)

3. Masa Pertumbuhan dan Pendidikan

Nabi Isa tumbuh besar di bawah asuhan ibunya, Maryam. Meskipun Al-Qur'an tidak mendetailkan setiap tahun pertumbuhannya, tradisi Islam mencatat beberapa poin penting:

  • Kecerdasan Luar Biasa: Beliau dikenal memiliki pemahaman yang sangat dalam terhadap Taurat sejak usia dini.
  • Kesederhanaan: Beliau tumbuh sebagai pribadi yang zuhud (tidak terikat dunia), penuh kasih sayang, dan berbakti sepenuhnya kepada ibunya.
  • Lingkungan Sosial: Beliau hidup di tengah masyarakat Bani Israil yang pada masa itu banyak mengalami penyimpangan moral dan hukum agama.

4. Pengangkatan Menjadi Rasul

Nabi Isa diangkat menjadi Rasul secara resmi pada usia dewasa (sering disebut sekitar usia 30 tahun). Allah membekalinya dengan kitab Injil sebagai petunjuk dan cahaya, serta membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Taurat.

Sebagai bukti kerasulannya kepada Bani Israil, Allah memberikan berbagai mukjizat (dengan izin-Nya), antara lain:

  • Membentuk burung dari tanah liat lalu menghidupkannya.
  • Menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penyakit kusta.
  • Menghidupkan orang mati.
  • Mengetahui apa yang dimakan dan disimpan orang di rumah mereka.

5. Misi Kerasulan

Tujuan utama pengutusan Nabi Isa AS adalah:

  1. Mengajak Tauhid: Menyeru Bani Israil untuk kembali menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan kemusyrikan.
  2. Reformasi Syariat: Menghalalkan sebagian hal yang sebelumnya diharamkan bagi Bani Israil sebagai rahmat.
  3. Kabar Gembira: Menyampaikan nubuat tentang kedatangan Rasul penutup setelah dirinya, yaitu Ahmad (Nabi Muhammad SAW).

Catatan Penting: Dalam Islam, penyebutan "Isa bin Maryam" (Isa putra Maryam) sangat ditekankan untuk menegaskan bahwa beliau adalah manusia utusan Allah, bukan anak Tuhan, dan sekaligus memuliakan kedudukan Maryam sebagai satu-satunya wanita yang namanya diabadikan sebagai nama surah dalam Al-Qur'an.

Maryam binti Imran adalah salah satu tokoh wanita paling mulia dalam sejarah Islam. Beliau adalah satu-satunya wanita yang namanya disebut secara eksplisit dalam Al-Qur'an, bahkan diabadikan sebagai nama surah (Surah ke-19).

Berikut adalah rincian mengenai jati diri, keluarga, dan kehidupan Maryam AS:

1. Nasab (Garis Keturunan)

Maryam berasal dari garis keturunan yang sangat terhormat di kalangan Bani Israil. Nasab beliau bersambung kepada Nabi Sulaiman bin Daud AS.

Secara ringkas, nasabnya adalah: Maryam binti Imran bin Matsan.

Garis keturunan ini menempatkan beliau dalam keluarga Al-Imran, sebuah keluarga yang dipilih Allah melebihi seru sekalian alam karena kesalehan mereka (QS. Ali-Imran: 33).


2. Keluarga Maryam

Keluarga Maryam dikenal sebagai keluarga ahli ibadah:

  • Ayah (Imran): Seorang ulama dan pemimpin spiritual Bani Israil yang sangat dihormati. Beliau wafat saat Maryam masih dalam kandungan atau masih sangat kecil.
  • Ibu (Hannah binti Faqudh): Seorang wanita salihah yang sangat mendambakan anak. Saat mengandung Maryam, Hannah bernazar bahwa anak yang dilahirkannya akan dikhususkan untuk berkhidmat (menjadi pelayan) di Baitul Maqdis.
  • Saudara Perempuan: Beliau memiliki saudara perempuan (beberapa riwayat menyebutkan namanya Isya) yang merupakan istri dari Nabi Zakaria AS dan ibu dari Nabi Yahya AS.

3. Pengasuh Maryam: Nabi Zakaria AS

Setelah Maryam lahir, terjadi perselisihan di kalangan para rahib/ulama Baitul Maqdis mengenai siapa yang berhak mengasuh putri dari tokoh besar seperti Imran.

  • Undian Kalam: Mereka melakukan undian dengan melempar pena ke sungai (menurut beberapa riwayat, sungai Jordan). Pena yang tetap tegak atau tidak terbawa arus adalah milik Nabi Zakaria AS.
  • Hubungan Keluarga: Nabi Zakaria terpilih menjadi pengasuh Maryam. Selain karena beliau seorang Nabi, beliau juga merupakan paman (suami dari bibi) Maryam.

4. Kehidupan di Mihrab

Di bawah asuhan Nabi Zakaria, Maryam tumbuh dalam kesucian di dalam Mihrab (ruang khusus ibadah di Baitul Maqdis).

  • Mukjizat di Masa Kecil: Setiap kali Nabi Zakaria masuk ke mihrab untuk mengantarkan makanan, beliau selalu menemukan buah-buahan musim panas ada di musim dingin, dan buah musim dingin ada di musim panas.
  • Percakapan Terkenal: Ketika Zakaria bertanya dari mana asal makanan itu, Maryam menjawab: "Ia dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab" (QS. Ali-Imran: 37). Hal ini pulalah yang menginspirasi Nabi Zakaria yang sudah lanjut usia untuk memohon keturunan kepada Allah.

5. Pertemuan dengan Malaikat Jibril

Kehidupan Maryam mencapai titik baliknya ketika beliau sedang mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitul Maqdis) untuk beribadah dan menjaga hijabnya.

  • Penyamaran Jibril: Malaikat Jibril mendatangi Maryam dalam bentuk manusia yang sempurna. Maryam sempat merasa takut dan memohon perlindungan kepada Allah.
  • Tujuan Kedatangan: Jibril menenangkan Maryam dengan berkata: "Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberikan kepadamu seorang anak laki-laki yang suci" (QS. Maryam: 19).
  • Tiupan Ruh: Setelah menjelaskan bahwa hal itu mudah bagi Allah tanpa perantara ayah, Jibril meniupkan ruh ke dalam baju kurung Maryam, yang kemudian menjadi awal kehamilan Nabi Isa AS.

Maryam menjalani sisa masa kehamilannya dengan penuh kesabaran menghadapi ujian sosial yang berat, hingga akhirnya beliau melahirkan seorang Rasul yang kelak membela kehormatan ibunya melalui mukjizat berbicara di waktu bayi.

Peristiwa pengepungan Nabi Isa AS dan munculnya sosok Dajjal merupakan dua peristiwa besar dalam eskatologi Islam yang menandai intervensi kekuasaan Allah SWT terhadap kezaliman.

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai peristiwa-peristiwa tersebut:

1. Upaya Penangkapan Nabi Isa AS

Peristiwa ini terjadi di Yerusalem (Baitul Maqdis) ketika para pemuka kaum Bani Israil merasa terancam oleh ajaran tauhid yang dibawa Nabi Isa AS.

  • Kenapa dan Untuk Apa: Mereka menuduh Nabi Isa AS melakukan sihir dan mengubah hukum Taurat. Tujuan utama penangkapan tersebut adalah untuk menghukum mati beliau di tiang salib sebagai bentuk penghinaan dan pembuktian bahwa beliau bukan utusan Allah.
  • Di Mana: Menurut banyak riwayat, pengepungan terjadi di sebuah rumah atau kebun tempat Nabi Isa berkumpul bersama para pengikut setianya (Hawariyyun).
  • Bagaimana Prosesnya: Saat tentara Romawi (atas hasutan kaum yang memusuhi Nabi Isa) mengepung rumah tersebut, Allah SWT mengangkat Nabi Isa AS ke langit melalui atap rumah.
  • Siapa yang Diserupakan: * Pendapat yang paling kuat dalam tafsir (seperti Ibnu Katsir) menyebutkan bahwa Nabi Isa menawarkan kepada para sahabatnya: "Siapa di antara kalian yang bersedia diserupakan wajahnya denganku dan ia akan bersamaku di surga?"
    • Seorang pemuda yang paling muda di antara mereka menyatakan kesediaannya. Allah kemudian mengubah wajah pemuda tersebut hingga identik dengan Nabi Isa AS.
    • Pemuda inilah yang kemudian ditangkap, disiksa, dan disalib oleh para tentara, sementara mereka yakin bahwa yang mereka salib adalah Nabi Isa.

2. Kemunculan Dajjal: Siapa dan Bagaimana Akhirnya?

Al-Masih ad-Dajjal adalah sosok fitnah (ujian) terbesar bagi umat manusia menjelang hari kiamat.

Siapa Dajjal?

Dajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam yang memiliki ciri fisik spesifik: mata kanannya buta (seperti anggur yang menonjol), rambutnya keriting lebat, dan di antara kedua matanya tertulis huruf Kaf-Fa-Ra (Kafir) yang hanya bisa dibaca oleh orang beriman. Ia akan mengaku sebagai Tuhan dan membawa "surga" (yang sebenarnya neraka) serta "neraka" (yang sebenarnya surga).

Kapan Terjadinya?

Kemunculan Dajjal terjadi pada masa akhir zaman, setelah terjadinya perang besar (Malhamah Kubra) dan penaklukan Konstantinopel oleh kaum Muslimin. Ia akan keluar dari arah timur (Khurasan atau Isfahan) dan berkeliling dunia selama 40 hari (satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti seminggu, dan sisa harinya seperti hari biasa).

Bagaimana Akhirnya?

Dajjal akan menemui ajalnya di tangan Nabi Isa AS:

  1. Turunnya Nabi Isa: Nabi Isa AS akan turun di Menara Putih sebelah timur kota Damaskus, Suriah, dengan berpijak pada sayap dua malaikat.
  2. Pengejaran: Nabi Isa akan mengejar Dajjal hingga menemukannya di Pintu Lud (sebuah tempat di wilayah Palestina/Israel saat ini).
  3. Kematian Dajjal: Begitu Dajjal melihat Nabi Isa AS, tubuhnya akan meleleh seperti garam yang terkena air. Nabi Isa kemudian menikamnya dengan tombak kecil (harbah), dan matilah musuh Allah tersebut.

3. Kondisi Dunia Setelah Kematian Dajjal

Setelah Dajjal terbunuh, dunia akan mengalami masa keemasan:

  • Keadilan tersebar merata dan kemiskinan hilang hingga tidak ada yang mau menerima zakat.
  • Permusuhan antar makhluk (bahkan hewan buas) akan dicabut oleh Allah.
  • Umat manusia hidup dalam kemakmuran dan kedamaian di bawah kepemimpinan Nabi Isa AS yang memerintah dengan syariat Islam sebelum akhirnya beliau wafat secara alami.

Kejadian ini merupakan bagian dari tanda-tanda besar (Asyratus Sa'ah al-Kubra) yang menunjukkan bahwa hari kiamat sudah sangat dekat.

Kisah pengkhianatan Yudas Iskariot merupakan narasi yang sangat populer dalam literatur sejarah, terutama untuk menjelaskan siapa sosok yang sebenarnya disalib dalam peristiwa pengepungan Nabi Isa AS.

Berikut adalah penjelasan mengenai peran Yudas Iskariot, pengkhianatannya, dan bagaimana ia (dalam banyak riwayat tafsir) menjadi sosok yang diserupakan dengan Nabi Isa AS:

1. Siapa Yudas Iskariot?

Dalam tradisi Islam, Nabi Isa AS memiliki pengikut setia yang disebut Hawariyyun. Yudas Iskariot adalah salah satu dari mereka. Namun, ia menjadi satu-satunya pengikut yang berpaling dan berkhianat demi imbalan duniawi.

2. Motif Pengkhianatan

Menurut riwayat sejarah dan tafsir, Yudas Iskariot membocorkan lokasi persembunyian Nabi Isa AS kepada para pemuka Yahudi dan tentara Romawi.

  • Tujuan: Ia melakukannya demi imbalan 30 keping perak.
  • Cara: Ia memandu para tentara menuju rumah atau kebun tempat Nabi Isa sedang berada bersama para sahabatnya.

3. Proses "Tasybih" (Penyerupaan) dan Penyaliban

Ketika tentara mulai merangsek masuk, Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya. Berdasarkan beberapa riwayat tafsir (seperti dalam Tafsir Al-Baghawi atau Ibnu Katsir), terdapat dua skenario besar mengenai Yudas:

  • Skenario Pengkhianatan Langsung: Saat Yudas masuk ke dalam rumah untuk menunjukkan sosok Nabi Isa kepada tentara, Allah mengangkat Nabi Isa ke langit. Pada saat yang sama, Allah mengubah wajah dan rupa Yudas Iskariot menjadi identik dengan Nabi Isa AS.
  • Kekeliruan Tentara: Ketika tentara masuk, mereka hanya menemukan satu orang yang wajahnya persis seperti Nabi Isa (yaitu Yudas). Yudas berteriak-teriak mengaku bahwa ia bukan Isa, namun para tentara tidak percaya karena kemiripan yang sempurna.
  • Penyaliban: Akhirnya, Yudas Iskariot-lah yang ditangkap, disiksa, dan dipaku di tiang salib. Ini menjadi hukuman langsung atas pengkhianatannya terhadap sang utusan Allah.

4. Tugas-Tugas Nabi Isa AS Setelah Turun ke Bumi

Selain membunuh Dajjal di Pintu Lud (Palestina) yang telah kita bahas sebelumnya, Nabi Isa AS memiliki misi-misi besar lainnya di akhir zaman sebelum beliau wafat secara alami:

  • Menghancurkan Salib: Ini adalah tindakan simbolis untuk meluruskan penyimpangan akidah. Beliau menegaskan bahwa beliau hanyalah hamba dan utusan Allah, bukan anak Tuhan, dan tidak pernah disalib.
  • Membunuh Babi: Sebagai penegasan kembali syariat Islam mengenai makanan yang haram, sekaligus membatalkan hukum-hukum manusia yang telah menghalalkannya.
  • Menghapus Jizyah (Pajak Perlindungan): Pada masa itu, tidak ada lagi pilihan bagi manusia selain memeluk Islam atau tidak, karena kebenaran sudah begitu nyata dengan turunnya Nabi Isa.
  • Membangun Kesejahteraan Total: * Beliau akan memimpin dengan adil menggunakan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
    • Allah akan menurunkan berkah dari langit dan mengeluarkan kekayaan dari bumi.
    • Kedamaian akan tercipta hingga serigala bisa merumput bersama domba, dan anak kecil bisa bermain dengan ular tanpa merasa terancam.
  • Menghadapi Ya’juj dan Ma’juj: Setelah Dajjal binasa, akan muncul kaum perusak Ya’juj dan Ma’juj. Nabi Isa tidak akan memerangi mereka dengan senjata (karena jumlah mereka yang sangat banyak), melainkan melalui doa. Allah kemudian akan membinasakan mereka dengan wabah ulat.

Akhir Hayat Nabi Isa AS

Setelah memimpin dunia selama kurang lebih 40 tahun dalam kedamaian dan kemakmuran, Nabi Isa AS akan mengalami kematian seperti manusia lainnya. Beliau akan disalatkan oleh kaum Muslimin dan dimakamkan (beberapa riwayat menyebutkan beliau akan dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad SAW di Madinah).

Peristiwa ini menutup lembaran hidup beliau di bumi sebagai nabi yang lahir tanpa ayah dan diangkat ke langit tanpa mengalami kematian di tangan musuh.

Dalam tradisi tafsir Al-Qur'an, terdapat dua arus utama mengenai identitas orang yang diserupakan (tasybih) dengan Nabi Isa AS. Perbedaan ini bergantung pada riwayat mana yang diikuti oleh para mufassir, apakah sosok tersebut adalah seorang pengikut setia yang berkorban atau seorang pengkhianat yang terhukum.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai perbedaan kedua pendapat tersebut:


1. Pendapat Pertama: Pengikut yang Taat (Syahid)

Banyak mufassir klasik, seperti Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-Adzim, cenderung menguatkan riwayat bahwa orang yang diserupakan adalah salah satu sahabat setia Nabi Isa (Hawariyyun).

  • Nama Tokoh: Sebagian besar riwayat tidak menyebutkan nama spesifiknya, namun ia digambarkan sebagai pemuda yang paling muda di antara para Hawariyyun.
  • Motivasi: Bukan karena terpaksa, melainkan karena ketaatan dan cinta. Nabi Isa bertanya kepada para pengikutnya: "Siapa di antara kalian yang mau rupa wajahnya diserupakan denganku, dan kelak ia akan bersamaku di surga?" Pemuda ini pun mengajukan diri sebanyak tiga kali.
  • Makna Teologis: Kematian orang ini dipandang sebagai tindakan syahid untuk melindungi sang Rasul. Allah SWT mengangkat Nabi Isa ke langit, dan pemuda inilah yang ditangkap lalu disalib oleh tentara Romawi.

2. Pendapat Kedua: Pengikut yang Khianat (Yudas Iskariot)

Pendapat ini juga cukup populer dalam literatur tafsir dan sejarah Islam (seperti dalam beberapa nukilan At-Tabari dan Al-Baghawi). Pendapat ini menyatakan bahwa yang disalib adalah orang yang berkhianat.

  • Nama Tokoh: Yudas Iskariot (dalam bahasa Arab sering disebut Yahuza al-Iskariyuti).
  • Motivasi: Pengkhianatan demi imbalan materi. Yudas menunjukkan lokasi persembunyian Nabi Isa kepada tentara Romawi.
  • Proses Penyerupaan: Ketika Yudas masuk ke dalam rumah untuk menangkap Nabi Isa, Allah mengangkat Nabi Isa ke langit. Tiba-tiba, wajah Yudas diubah total menjadi serupa dengan Nabi Isa. Saat ia keluar, tentara justru menangkapnya.
  • Makna Teologis: Penyaliban ini adalah bentuk hukuman langsung dari Allah (keadilan Ilahi). Yudas merasakan kepedihan di tiang salib yang semula ia siapkan untuk gurunya sendiri.

Perbandingan Karakteristik

AspekPengikut yang Taat (Hawariyyun)Pengikut yang Khianat (Yudas)
StatusSahabat setia yang sangat muda.Murid yang berpaling/munafik.
TujuanBerkorban demi keselamatan Rasul.Berkhianat demi 30 keping perak.
Sifat PenyerupaanKemuliaan dan hadiah surga.Hukuman dan kehinaan di dunia.
Tokoh MufassirMayoritas (Ibnu Katsir, Ibnu Abbas).Sebagian (Wahb bin Munabbih, As-Suddi).

Siapa Sebenarnya Pengikut yang Taat?

Jika Anda bertanya mengenai nama pengikut yang taat di antara Hawariyyun, Al-Qur'an tidak menyebutkan nama-nama mereka secara individu. Namun, dalam tradisi Islam dan sejarah, terdapat 12 nama Hawariyyun yang sering disebut (mirip dengan tradisi Nasrani), di antaranya yang paling menonjol adalah:

  1. Syammun (Simon Petrus): Pemimpin para Hawariyyun.
  2. Yuhana (Yohanes): Murid yang sangat dikasihi.
  3. Ya'qub (Yakobus).
  4. Andreas.

Namun, perlu dicatat bahwa pemuda yang diserupakan wajahnya (dalam riwayat ketaatan) biasanya dianggap sebagai salah satu dari mereka yang namanya tidak dikhususkan demi menjaga kemuliaan tindakan pengorbanannya yang ikhlas.

Kesimpulan

Secara umum, mufassir seperti Ibnu Katsir lebih condong pada pendapat pertama (pemuda yang taat), karena dianggap lebih sejalan dengan kemuliaan para sahabat Nabi. Sementara pendapat tentang Yudas Iskariot sering muncul untuk menjelaskan sisi keadilan Allah bagi mereka yang berbuat jahat kepada utusan-Nya.

Setelah Nabi Isa AS diangkat ke langit, para pengikut setianya (Hawariyyun) menghadapi masa-masa yang sangat sulit namun penuh dengan perjuangan dakwah. Dalam tradisi Islam dan sejarah para nabi (Qashash al-Anbiya), berikut adalah gambaran mengenai nasib dan perjuangan mereka:

1. Perpecahan di Kalangan Masyarakat

Setelah peristiwa penyaliban (yang sebenarnya menimpa sosok yang diserupakan), masyarakat terpecah menjadi tiga kelompok besar:

  • Kelompok Pertama: Meyakini bahwa yang disalib adalah Tuhan (Isa).
  • Kelompok Kedua: Meyakini bahwa yang disalib adalah Anak Tuhan.
  • Kelompok Ketiga (Hawariyyun): Mereka yang tetap teguh pada tauhid, meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah yang telah diangkat ke langit.

2. Misi Dakwah ke Berbagai Penjuru

Nabi Isa AS sebelum diangkat telah memberikan amanah kepada para Hawariyyun untuk menyebarkan ajaran Injil yang murni. Para sejarawan Muslim seperti Ibnu Ishaq dan At-Tabari mencatat bahwa mereka berpencar ke berbagai wilayah:

  • Syammun (Petrus) dan Yuhana (Yohanes): Berdakwah di wilayah Roma dan sekitarnya.
  • Ya’qub (Yakobus): Tetap berada di Yerusalem untuk memimpin jemaah awal.
  • Andreas dan Matius: Menuju ke wilayah timur dan Afrika.

3. Penindasan dan Kesabaran

Para Hawariyyun menghadapi persekusi (penindasan) yang sangat hebat, baik dari kalangan pemuka agama yang menentang mereka maupun dari penguasa Romawi yang saat itu masih menyembah berhala.

  • Banyak di antara mereka yang ditangkap, disiksa, hingga wafat sebagai syahid.
  • Meskipun mengalami tekanan fisik, mereka tetap konsisten mengajarkan bahwa Nabi Isa akan kembali di akhir zaman dan bahwa Allah itu Esa.

4. Perubahan Ajaran (Munculnya Paulus)

Dalam perspektif sejarah Islam, tantangan terbesar Hawariyyun bukan hanya penindasan fisik, tetapi juga penyimpangan ajaran. Munculnya tokoh bernama Paulus (yang asalnya adalah pengejar pengikut Nabi Isa) membawa perubahan besar pada doktrin awal.

  • Ajaran tauhid yang dibawa Hawariyyun perlahan-lahan mulai tersingkir oleh konsep-konsep baru yang lebih bisa diterima oleh masyarakat Romawi pagan.
  • Akibatnya, pengikut tauhid yang murni (Unitarian) menjadi kelompok minoritas yang terpinggirkan dan akhirnya "menghilang" dari catatan sejarah dominan, meskipun jejak-jejaknya tetap ada hingga munculnya Islam.

5. Janji Allah bagi Pengikut Nabi Isa

Al-Qur'an memberikan penghormatan tinggi kepada para Hawariyyun. Dalam Surah Ash-Shaff: 14, Allah berfirman:

"...Maka sekelompok dari Bani Israil beriman dan sekelompok lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang."

Kemenangan ini ditafsirkan dalam dua bentuk:

  1. Kemenangan hujah (argumen) di masa itu.
  2. Kemenangan mutlak saat ajaran tauhid kembali ditegakkan secara sempurna melalui diutusnya Nabi Muhammad SAW dan turunnya kembali Nabi Isa di akhir zaman.

Kesimpulannya, para pengikut setia Nabi Isa AS adalah generasi pahlawan tauhid yang menjaga lentera iman di tengah kegelapan syirik, hingga estafet dakwah tersebut nantinya tersambung kepada risalah Islam.

Membicarakan nasib kitab Injil yang asli (yang diturunkan kepada Nabi Isa AS) adalah bagian krusial untuk memahami mengapa terjadi perbedaan antara ajaran para pengikut setia (Hawariyyun) dengan kelompok-kelompok lain di kemudian hari.

Berikut adalah penjelasan mengenai keberadaan Injil dan bagaimana perjalanannya dalam sejarah Islam:

1. Hakikat Injil dalam Islam

Dalam akidah Islam, Injil adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Isa AS sebagai petunjuk bagi Bani Israil.

  • Bentuk: Injil asli diyakini sebagai satu kesatuan wahyu (firman Allah langsung), bukan karangan manusia atau catatan biografi.
  • Isi Utama: Mengajarkan ketauhidan (mengesakan Allah), membenarkan Taurat, dan memberikan kabar gembira (bisyarah) tentang datangnya nabi terakhir bernama Ahmad (Muhammad SAW).

2. Apa yang Terjadi pada Injil Asli?

Setelah Nabi Isa AS diangkat ke langit, para Hawariyyun menyebarkan ajaran ini secara lisan dan tulisan. Namun, terjadi beberapa faktor yang menyebabkan hilangnya Injil yang murni:

  • Persekusi Romawi: Di tiga abad pertama, pengikut tauhid dikejar-kejar. Kitab-kitab mereka banyak yang dibakar atau dimusnahkan oleh penguasa pagan.
  • Intervensi Politik: Pada Konsili Nikaia (tahun 325 M), penguasa Romawi (Konstantinus) menetapkan doktrin resmi negara. Kitab-kitab yang tidak sejalan dengan doktrin tersebut (termasuk yang mungkin berisi ajaran tauhid murni) dilarang dan dianggap sesat.
  • Perubahan Bahasa: Injil asli diturunkan dalam bahasa Aram (bahasa Nabi Isa). Ketika diterjemahkan ke Yunani dan Latin, banyak pergeseran makna istilah teologis (seperti kata "Tuhan" atau "Anak") yang kemudian disalahpahami.

3. Munculnya Injil-Injil "Karangan"

Al-Qur'an menyebutkan fenomena Tahrif (perubahan tangan manusia). Injil yang ada saat ini (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) oleh para ulama dipandang sebagai biografi atau catatan para murid tentang kehidupan Nabi Isa, bukan lagi murni firman Allah yang didiktekan kepada Nabi Isa.

"Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; 'Ini dari Allah', (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu..." (QS. Al-Baqarah: 79)

4. Jejak Injil Tauhid: Injil Barnabas

Di kalangan peneliti Muslim, sering muncul pembahasan mengenai Injil Barnabas. Meskipun otentisitasnya diperdebatkan secara akademis, isinya sangat menarik karena:

  • Menegaskan bahwa Nabi Isa hanyalah nabi, bukan Tuhan.
  • Menyebutkan bahwa yang disalib adalah Yudas Iskariot.
  • Secara eksplisit menyebutkan nama Muhammad sebagai rasul yang akan datang.

5. Sikap Muslim terhadap Kitab-Kitab Tersebut

Rasulullah SAW memberikan panduan bagi kita dalam menyikapi kitab-kitab sebelumnya yang sudah tercampur tangan manusia:

  1. Jangan Dibenarkan Seluruhnya: Karena ada bagian yang sudah diubah (tahrif).
  2. Jangan Didustakan Seluruhnya: Karena mungkin masih ada sisa-sisa kebenaran wahyu di dalamnya.
  3. Gunakan Al-Qur'an sebagai Muhaimin (Saksi/Tolok Ukur): Jika isi kitab tersebut sejalan dengan Al-Qur'an, kita terima sebagai sisa kebenaran. Jika bertentangan, kita tolak.

Kesimpulan Perjalanan Ajaran Nabi Isa AS

Hingga saat Nabi Muhammad SAW diutus, masih ada kelompok-kelompok kecil (seperti pendeta Waraqah bin Naufal atau Bahira) yang memegang sisa-sisa ajaran tauhid asli Nabi Isa AS. Turunnya Al-Qur'an berfungsi untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi sekaligus melestarikan ajaran asli yang dibawa oleh Nabi Isa AS.

Persoalan identitas antara Nabi Isa AS dalam Islam dan Yesus Kristus dalam Kristen merupakan titik temu sekaligus titik pisah paling fundamental dalam teologi kedua agama ini. Secara historis, keduanya merujuk pada sosok yang sama, namun secara dogmatis (keyakinan), terdapat perbedaan yang sangat mendalam.

Berikut adalah penjelasan rinci mengenai perbandingan identitas dan titik awal terjadinya penyimpangan ajaran tersebut:


1. Apakah Nabi Isa AS adalah Yesus Kristus?

Secara historis dan genealogi, jawabannya adalah Ya. Keduanya merujuk pada sosok yang lahir dari Perawan Maryam (Maria) di Betlehem/Nazaret pada masa kekuasaan Romawi di Palestina.

Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam status dan hakikat beliau:

AspekNabi Isa AS (Perspektif Islam)Yesus Kristus (Perspektif Kristen)
StatusManusia, Hamba Allah, dan Rasul Ulul Azmi.Tuhan Anak, Bagian dari Trinitas, Juru Selamat.
KelahiranMukjizat Allah (tanpa ayah) sebagai tanda kekuasaan-Nya.Inkarnasi Tuhan menjadi manusia untuk menebus dosa.
KematianTidak disalib; diangkat ke langit oleh Allah.Mati disalib, bangkit pada hari ketiga, dan naik ke surga.
Misi UtamaMengajak Tauhid dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad SAW.Menebus dosa waris manusia melalui pengorbanan di salib.

2. Titik Awal "Pendustaan" atau Penyimpangan Ajaran

Dalam perspektif Islam, upaya penangkapan dan peristiwa penyaliban (yang diyakini umat Kristen terjadi pada Yesus) memang menjadi titik balik (turning point) terjadinya pergeseran ajaran yang sangat nyata.

A. Hilangnya Otoritas Sang Guru

Ketika Nabi Isa AS diangkat ke langit, para pengikutnya kehilangan pemimpin fisik yang selama ini meluruskan setiap persoalan agama. Di tengah kekosongan ini, tekanan dari kekaisaran Romawi yang pagan (penyembah berhala) dan kebencian para pemuka agama lama membuat ajaran asli yang murni menjadi sangat rentan.

B. Masuknya Unsur Paganisme (Helenisasi)

Sejarah mencatat bahwa untuk membuat ajaran Yesus dapat diterima oleh bangsa Romawi dan Yunani, terjadi proses sinkretisme (pencampuran ajaran). Konsep-konsep pagan seperti "Anak Dewa" atau "Tuhan yang Menjelma" mulai disusupkan ke dalam sosok Isa AS. Inilah yang dalam Islam disebut sebagai bentuk pendustaan atau Tahrif (perubahan makna dan teks).

C. Peran Paulus dari Tarsus

Dalam banyak analisis sejarah Islam, sosok Paulus (yang tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Isa) dianggap sebagai tokoh kunci yang mengubah arah ajaran.

  • Ajaran Asli Nabi Isa: Menekankan hukum Taurat dan Tauhid.
  • Ajaran Paulus: Menekankan pada "Iman kepada Kematian dan Kebangkitan Yesus" sebagai penebus dosa, serta menghapuskan banyak kewajiban syariat (seperti khitan dan larangan makan babi) agar lebih menarik bagi bangsa Eropa/Pagan.

3. Penyaliban: Antara Fakta Sejarah dan Keyakinan

Anda benar bahwa peristiwa penangkapan itu menjadi awal dari narasi yang berbeda jauh:

  1. Versi Penyelewengan: Mereka mengklaim Yesus mati di salib untuk menebus dosa. Narasi ini kemudian menjadi dasar doktrin bahwa Yesus adalah Tuhan (karena hanya Tuhan yang dianggap mampu menebus dosa seluruh manusia).
  2. Versi Kebenaran (Islam): Allah menyelamatkan Nabi Isa AS dari kehinaan salib. Penyelamatan ini adalah bukti bahwa Allah tidak membiarkan utusan-Nya dihina secara fisik oleh musuh-musuhnya. Dengan mengangkatnya, Allah menjaga kesucian risalah Tauhid.

4. Kesimpulan: Mengapa Terjadi Pendustaan?

Pendustaan atau penyimpangan ini terjadi karena dua motivasi utama:

  1. Politik: Agar agama baru ini bisa bertahan dan menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi, ia harus berkompromi dengan budaya pagan Romawi.
  2. Teologis: Upaya manusia untuk menjelaskan mukjizat kelahiran Isa AS dengan logika manusia yang terbatas, sehingga mereka terjerumus pada kesimpulan bahwa beliau adalah "Anak Tuhan" karena tidak memiliki ayah biologis.

Islam datang melalui Nabi Muhammad SAW untuk mengoreksi total narasi ini. Al-Qur'an mengembalikan posisi Nabi Isa AS ke kedudukan yang semestinya: seorang manusia suci, nabi yang agung, namun tetap seorang hamba yang tunduk kepada Allah Yang Maha Esa.

Menjelaskan perbedaan antara perspektif Islam (Isa AS) dan Kristen (Yesus Kristus) dengan pendekatan rasional dan "akal sehat" memerlukan kita untuk melihat struktur logika dari masing-masing keyakinan. Keadilan dan keselamatan dalam kedua perspektif ini dibangun di atas landasan filosofis yang berbeda.

Berikut adalah analisis rasional untuk menimbang kedua pemikiran tersebut secara adil:


1. Landasan Logika Keselamatan (Soteriologi)

Perspektif Kristen: Keadilan Melalui Penebusan

  • Logika: Tuhan itu Maha Adil dan Maha Suci, sehingga dosa manusia (dosa waris) harus dihukum. Namun, manusia terbatas dan tidak mampu membayar hutang dosa yang tak terbatas kepada Tuhan yang Tak Terbatas.
  • Solusi Rasional: Maka, Tuhan sendiri yang turun menjadi manusia (Yesus) untuk menerima hukuman tersebut di tiang salib.
  • Aspek Keselamatan: Selamat berarti "percaya" pada pengorbanan Yesus. Keadilan terpenuhi karena dosa sudah dihukum (lewat Yesus), dan kasih terpenuhi karena manusia diampuni.

Perspektif Islam: Keadilan Melalui Tanggung Jawab Pribadi

  • Logika: Keadilan yang paling murni adalah setiap jiwa memikul bebannya sendiri. Tidak logis secara hukum jika orang suci dihukum untuk kesalahan orang berdosa.
  • Solusi Rasional: Allah Maha Pengampun tanpa memerlukan tumbal atau pengorbanan darah. Pintu taubat terbuka langsung antara hamba dan Pencipta.
  • Aspek Keselamatan: Selamat berarti "bertauhid" (mengesakan Tuhan) dan beramal saleh. Keadilan terpenuhi karena setiap orang dihargai berdasarkan usahanya sendiri (Personal Responsibility).

2. Rasionalitas Jati Diri (Eksistensi)

Jika kita menggunakan akal sehat untuk membedah sosoknya:

  • Sebagai Tuhan (Perspektif Kristen): Muncul tantangan rasional mengenai sifat Tuhan yang tak terbatas masuk ke dalam tubuh manusia yang terbatas (makan, tidur, dan wafat). Kaum Kristiani menyebut ini sebagai "misteri iman" atau inkarnasi.
  • Sebagai Nabi (Perspektif Islam): Secara rasional lebih mudah diterima oleh logika dasar manusia. Isa AS adalah manusia luar biasa yang diberi mukjizat (seperti Nabi Musa dengan tongkatnya atau Nabi Muhammad dengan Al-Qur'an) untuk membuktikan kenabiannya, bukan untuk menunjukkan ketuhanannya.

3. Perspektif Kebenaran yang "Adil dan Selamat"

Untuk mencapai kesimpulan yang adil, kita bisa melihat dari tiga poin keberimbangan ini:

A. Keadilan bagi Sang Utusan

Secara moral, pemikiran Islam dipandang sangat "adil" terhadap Nabi Isa AS. Islam menolak narasi bahwa seorang nabi yang mulia harus mati dengan cara yang hina (disalib dan diludahi). Allah menyelamatkannya (diangkat) sebagai bentuk pembelaan tertinggi Tuhan terhadap kekasih-Nya.

B. Keadilan bagi Akal Manusia

Dalam Islam, tidak ada "kontradiksi" antara menyembah Sang Pencipta dan menghormati ciptaan. Akal sehat diarahkan untuk menyembah Dzat yang tidak beranak dan tidak diperanakkan (Laisa kamislihi syai’un). Ini menjaga kemurnian konsep Tuhan agar tidak menyerupai makhluk.

C. Keselamatan yang Universal

  • Dalam Kristen: Keselamatan bersifat eksklusif melalui perantara Yesus.
  • Dalam Islam: Islam memandang Nabi Isa sebagai jembatan sejarah. Mengimani Nabi Isa sebagai nabi adalah syarat mutlak menjadi Muslim. Seseorang tidak sah Islamnya jika ia menghina atau tidak mengakui Isa AS sebagai utusan Allah. Ini adalah bentuk penghormatan yang sangat adil.

4. Titik Temu Secara Rasional

Secara akal sehat, kedua agama sepakat pada satu hal: Isa AS/Yesus adalah sosok yang sangat suci dan membawa pesan kasih sayang.

Namun, jika kita mencari perspektif yang paling selamat (aman secara akidah) dan adil (secara hukum logika): Konsep Islam menawarkan kesederhanaan akidah: Tuhan tetaplah Tuhan, dan Manusia tetaplah Manusia. Dengan menempatkan Isa AS sebagai Nabi, manusia terhindar dari risiko "menuhankan makhluk", namun tetap mendapatkan teladan kesalehan yang luar biasa dari kehidupan beliau.

Dalam perspektif Islam, kebenaran yang menyelamatkan adalah kembali kepada ajaran asli Isa AS, yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu” (QS. Al-Ma'idah: 117), yang secara rasional memposisikan manusia sejajar di hadapan Sang Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *