info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Hadis Penciptaan Adam AS
Hadis Penciptaan Adam AS
Hadis Penciptaan Adam AS

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Penciptaan Nabi Adam AS merupakan salah satu peristiwa agung yang dijelaskan secara rinci baik dalam Al-Qur'an maupun melalui hadis-hadis Rasulullah SAW. Berikut adalah beberapa hadis sahih yang menjelaskan proses, asal-usul, dan bentuk penciptaan Adam AS :

1. Asal-Usul Tanah Penciptaan

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Adam diciptakan dari berbagai jenis tanah yang diambil dari seluruh penjuru bumi, yang memengaruhi keberagaman sifat dan rupa manusia.

"Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh permukaan bumi, maka anak cucu Adam muncul sesuai dengan unsur tanah tersebut. Di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan perpaduan antara warna-warna tersebut. Ada yang bersifat lembut, keras, jahat, maupun baik." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Ukuran Fisik Adam AS

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dijelaskan mengenai tinggi badan Nabi Adam saat pertama kali diciptakan.

"Allah menciptakan Adam dalam bentuknya, tingginya enam puluh hasta (sekitar 30 meter). Setelah menciptakannya, Allah berfirman: 'Pergilah dan ucapkanlah salam kepada malaikat itu, dan dengarkanlah penghormatan mereka kepadamu, karena itulah penghormatanmu dan penghormatan keturunanmu'." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Waktu Penciptaan

Nabi SAW memberikan informasi spesifik mengenai hari di mana Adam diciptakan, yakni hari Jumat, yang menjadikannya hari paling mulia dalam sepekan.

"Hari terbaik di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan dari surga." (HR. Muslim)

4. Proses Peniupan Ruh

Dalam sebuah hadis panjang mengenai penciptaan, disebutkan bahwa setelah jasad Adam terbentuk dari tanah dan mengering (seperti tembikar), Allah membiarkannya selama beberapa waktu sebelum meniupkan ruh ke dalamnya.

"Ketika Allah membentuk Adam di surga, Dia membiarkannya selama waktu yang dikehendaki-Nya. Iblis kemudian mengelilinginya untuk melihat apa itu. Ketika Iblis mendapatinya berongga, ia tahu bahwa makhluk ini diciptakan dengan sifat yang tidak bisa menahan nafsu (lemah)." (HR. Muslim)

5. Kesamaan Fitrah Manusia

Hadis-hadis ini juga sering kali menekankan bahwa meskipun manusia memiliki latar belakang yang berbeda, secara hakiki kita semua berasal dari akar yang sama.

"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan bapak kalian adalah satu (Adam). Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula orang non-Arab atas orang Arab... kecuali dengan takwa." (HR. Ahmad)

Kisah perdebatan atau ihtijaj antara Nabi Adam AS dan Nabi Musa AS merupakan salah satu riwayat yang sangat masyhur dalam hadis sahih. Dialog ini tidak terjadi di alam dunia, melainkan di alam ruh atau dalam pertemuan yang Allah kehendaki.

Narasi Hadis

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

"Musa mendebat Adam, ia berkata: 'Engkau adalah Adam yang telah mengeluarkan manusia dari surga dan menyengsarakan mereka karena kesalahanmu.'

Adam menjawab: 'Engkau adalah Musa yang telah Allah pilih dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, lalu engkau mencelaku atas suatu perkara yang telah Allah takdirkan kepadaku sebelum aku diciptakan?'"

Rasulullah SAW kemudian bersabda: "Maka Adam berhasil mengalahkan hujah Musa."


Poin-Poin Utama Perdebatan

Untuk memahami mengapa Nabi Adam AS dianggap memenangkan perdebatan tersebut, kita perlu melihat argumen dari kedua belah pihak:

1. Argumen Nabi Musa AS (Sudut Pandang Syariat & Sebab-Akibat) Nabi Musa melihat dari sisi lahiriah bahwa tindakan Nabi Adam memakan buah khuldi adalah penyebab terusirnya manusia dari kenikmatan surga ke kesulitan dunia. Musa menggunakan pendekatan hukum atau syariat, di mana sebuah pelanggaran membawa konsekuensi berat bagi keturunannya.

2. Argumen Nabi Adam AS (Sudut Pandang Takdir/Qadar) Nabi Adam tidak membantah kesalahannya, namun ia menekankan pada aspek ketetapan Allah (Masyiatullah). Beliau berargumen bahwa peristiwa tersebut sudah tertulis dalam takdir Allah jauh sebelum beliau diciptakan. Adam ingin menjelaskan bahwa turunnya manusia ke bumi bukanlah "kecelakaan" akibat dosanya semata, melainkan rencana besar Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.

Mengapa Adam AS Menang dalam Perdebatan?

Para ulama, termasuk Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, menjelaskan beberapa alasan mengapa argumen Adam lebih kuat dalam konteks ini:

  • Bukan Pembelaan untuk Dosa Baru: Adam tidak menggunakan takdir untuk melegalkan dosa yang akan dilakukan. Beliau menggunakan takdir sebagai penghibur atau penjelasan atas musibah/peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu dan sudah beliau taubati.
  • Hikmah di Balik Penurunan ke Bumi: Jika Adam tidak turun ke bumi, maka tidak akan ada nabi-nabi, tidak ada ujian iman, dan tidak ada penampakan sifat-sifat Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
  • Telah Bertaubat: Secara syariat, Adam telah bertaubat dan taubatnya diterima oleh Allah. Mencela seseorang atas dosa yang telah dimaafkan oleh Allah secara total dianggap tidak tepat dalam debat tersebut.

Pelajaran yang Dapat Diambil

  • Keseimbangan antara Ikhtiar dan Tawakal: Kita dilarang menggunakan takdir sebagai alasan untuk berbuat dosa, namun kita diajarkan menggunakan takdir untuk menerima musibah yang sudah terjadi agar tidak terlarut dalam penyesalan yang merusak.
  • Ilmu Allah yang Melampaui Logika: Apa yang kita anggap sebagai "kerugian" (keluar dari surga) seringkali merupakan bagian dari rencana besar Allah yang lebih mulia (menjadi penguasa bumi dan kembali ke surga dengan derajat yang lebih tinggi melalui amal saleh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *