info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Wafat Adam AS dan Wasiat Syits AS
Wafat Adam AS dan Wasiat Syits AS
Wafat Adam AS dan Wasiat Syits AS

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Kisah wafatnya Nabi Adam AS dan wasiat yang ditinggalkannya kepada Nabi Syits AS merupakan bagian penting dalam sejarah kenabian yang melambangkan keberlanjutan risalah di muka bumi.

Wafatnya Nabi Adam AS

Menjelang akhir hayatnya, Nabi Adam AS merasakan ajalnya sudah dekat. Menurut beberapa riwayat, beliau jatuh sakit sebelum meninggal dunia.

  • Keinginan Terakhir: Dalam keadaan sakit, Nabi Adam AS sempat mengungkapkan keinginannya kepada anak-anaknya untuk memakan buah-buahan dari surga.
  • Pertemuan dengan Malaikat: Ketika anak-anaknya pergi mencari buah tersebut, mereka bertemu dengan para malaikat yang membawa kain kafan dan ramuan wangi dari surga. Malaikat memberitahu bahwa waktu Nabi Adam AS di dunia telah usai.
  • Proses Pemakaman: Para malaikatlah yang memandikan, mengafani, menyalatkan, dan memakamkan jasad Nabi Adam AS. Hal ini menjadi tuntunan bagi umat manusia mengenai tata cara pengurusan jenazah.

Wasiat kepada Nabi Syits AS

Sebelum wafat, Nabi Adam AS menunjuk putranya, Syits AS, sebagai penerus kepemimpinan dan penjaga risalah ketauhidan. Syits sendiri berarti "pemberian Allah," karena ia lahir setelah wafatnya Habil.

Beberapa poin utama dalam wasiat Nabi Adam AS kepada Nabi Syits AS meliputi:

  • Penerus Kenabian: Nabi Syits diangkat menjadi nabi untuk melanjutkan dakwah kepada keturunan Adam lainnya agar tetap menyembah Allah SWT dan menjaga syariat-Nya.
  • Ilmu dan Ketakwaan: Nabi Adam mengajarkan berbagai ilmu kepada Syits, termasuk pengenalan waktu ibadah dan hikmah-hikmah tentang kehidupan dunia serta akhirat.
  • Peringatan terhadap Godaan: Nabi Adam memberikan peringatan keras kepada Syits mengenai tipu daya iblis dan pengikutnya agar keturunannya tidak tersesat seperti peristiwa yang pernah dialaminya di surga.
  • Penerimaan Shuhuf: Syits AS kemudian menerima shuhuf (lembaran wahyu) dari Allah SWT yang berisi aturan-aturan hidup bagi manusia pada masa itu.

Makna Historis

Wafatnya Nabi Adam AS menandai berakhirnya era manusia pertama sekaligus dimulainya babak baru di mana wahyu dan bimbingan Allah terus mengalir melalui garis kenabian. Nabi Syits AS memegang peranan krusial dalam menjaga moralitas dan tatanan sosial di antara saudara-saudaranya sebelum penyebaran manusia semakin meluas di bumi.

Nabi Idris AS adalah nabi kedua yang wajib diimani setelah Nabi Adam AS (dan putranya, Nabi Syits AS). Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat tekun dalam beribadah dan memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Berikut adalah beberapa poin utama dalam kisah Nabi Idris AS:

Sosok yang Cerdas dan Terampil

Nabi Idris AS sering disebut sebagai manusia pertama yang memulai berbagai peradaban teknis. Beliau dikaruniai Allah berbagai keahlian yang melampaui zamannya, di antaranya:

  • Mengenal Tulisan: Beliau diyakini sebagai manusia pertama yang mahir menulis menggunakan kalam (pena).
  • Ilmu Pengetahuan: Beliau menguasai ilmu astronomi (perbintangan) serta ilmu berhitung (matematika).
  • Keterampilan Teknis: Beliau adalah orang pertama yang mahir menjahit pakaian. Sebelum masa beliau, manusia umumnya menggunakan kulit binatang yang masih kasar sebagai penutup tubuh.

Ketekunan dalam Beribadah

Nama "Idris" sendiri berasal dari kata Darasa yang berarti "belajar" atau "mempelajari", karena ketekunannya dalam mempelajari suhuf-suhuf (lembaran wahyu) dari Allah dan Nabi Adam AS.

  • Beliau dikenal memiliki gelar "Asadul Usud" (Singa dari segala singa) karena keberaniannya dalam memerangi keturunan Qabil yang durhaka.
  • Beliau sangat disiplin dalam membagi waktunya: beberapa hari untuk berdakwah dan mengajar, dan beberapa hari lainnya khusus untuk beribadah secara total kepada Allah.

Perjalanan ke Langit dan Surga

Salah satu mukjizat dan kisah yang paling terkenal dari Nabi Idris AS adalah kunjungannya ke alam akhirat atas izin Allah.

  1. Persahabatan dengan Malaikat Maut: Karena kesalehannya, Nabi Idris berteman dengan Malaikat Maut (Izrail). Beliau meminta untuk diperlihatkan surga dan neraka agar keimanannya semakin bertambah.
  2. Merasakan Kematian: Nabi Idris pernah meminta Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya dan kemudian menghidupkannya kembali atas izin Allah, agar beliau bisa merasakan betapa dahsyatnya sakaratul maut sehingga semakin tekun beribadah.
  3. Diangkat ke Langit: Berdasarkan tafsir terhadap surat Maryam ayat 57, "Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi," banyak ulama berpendapat bahwa Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit (surga) dan tetap berada di sana. Dalam peristiwa Isra Mi'raj, Nabi Muhammad SAW pun bertemu dengan Nabi Idris AS di langit keempat.

Pelajaran dari Kisah Nabi Idris AS

Kisah beliau mengajarkan bahwa iman dan ilmu harus berjalan beriringan. Meskipun beliau sangat sibuk dengan urusan peradaban (menulis, menjahit, meneliti bintang), beliau tidak pernah melalaikan zikir dan ketaatannya kepada Allah SWT. Beliau membuktikan bahwa kemajuan teknologi dan kecerdasan intelektual seharusnya membuat manusia semakin tunduk kepada Penciptanya.




























Kisah wafatnya Nabi Adam AS dan wasiat yang ditinggalkannya kepada Nabi Syits AS merupakan bagian penting dalam sejarah kenabian yang melambangkan keberlanjutan risalah di muka bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *