
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Era Umar bin Khattab (634–644 M) sering disebut sebagai "Zaman Keemasan Pertama" dalam sejarah Islam. Jika Abu Bakar adalah penyelamat stabilitas pasca-wafatnya Nabi, maka Umar adalah arsitek kekaisaran yang mengubah negara Madinah menjadi kekuatan adidaya dunia.
1. Ekspansi Militer dan Futuhat (Pembebasan)
Dalam waktu hanya 10 tahun, Umar berhasil meruntuhkan dominasi dua kekaisaran besar yang telah bertahan selama berabad-abad.
A. Penaklukan Kekaisaran Sassanid (Persia)
- Pertempuran Qadisiyah (636 M): Pasukan Muslim di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan raksasa Persia. Ini membuka jalan menuju ibu kota Persia, Ctesiphon.
- Pertempuran Nihawand (642 M): Dikenal sebagai "Kemenangan dari Segala Kemenangan" (Fathul Futuh), yang secara praktis mengakhiri kekuasaan Sassanid di tanah Iran.
B. Penaklukan Wilayah Bizantium (Romawi Timur)
- Pertempuran Yarmuk (636 M): Salah satu pertempuran paling menentukan dalam sejarah dunia. Pasukan Muslim mengalahkan tentara Bizantium di Suriah, memaksa Kaisar Heraklius meninggalkan wilayah Levant selamanya.
- Pembebasan Yerusalem (637 M): Patriark Sophronius menyerahkan kunci kota Yerusalem langsung kepada Umar. Umar datang dengan pakaian sederhana, menolak shalat di dalam Gereja Makam Kudus agar umat Muslim di masa depan tidak mengubah gereja tersebut menjadi masjid.
- Penaklukan Mesir (641 M): Amr bin Ash memimpin pasukan untuk membebaskan Mesir dari kekuasaan Romawi, memberikan perlindungan bagi umat Kristen Koptik yang sebelumnya tertindas.
2. Inovasi Administrasi dan Tata Negara
Umar tidak hanya menaklukkan wilayah, ia membangun sistem. Beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan konsep birokrasi modern di dunia Arab:
- Pembagian Wilayah: Membagi kekaisaran menjadi provinsi-provinsi (seperti Syam, Mesir, Kufah, Basra) yang dipimpin oleh Gubernur (Wali).
- Lembaga Keuangan (Diwan): Mendirikan Baitul Maal (Kas Negara) untuk mengelola pendapatan negara dan mendistribusikan tunjangan kepada rakyat, termasuk bagi janda, yatim, dan warga non-muslim yang miskin.
- Sistem Peradilan: Memisahkan lembaga yudikatif dari eksekutif dengan mengangkat hakim-hakim (Qadhi) yang independen.
- Kalender Hijriah: Umar-lah yang menetapkan peristiwa Hijrah Nabi sebagai titik awal kalender Islam yang kita gunakan hingga hari ini.
3. Kebijakan Sosial dan Keadilan
Umar dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang sangat disiplin namun penuh empati:
- Blusukan Malam: Umar sering berkeliling Madinah di malam hari secara rahasia untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan.
- Perlindungan Non-Muslim (Dzimmi): Di bawah kepemimpinannya, hak-hak warga non-muslim dilindungi. Mereka membayar Jizyah sebagai kompensasi perlindungan keamanan dan pembebasan dari wajib militer.
- Manajemen Militer: Ia melarang tentara Muslim menduduki tanah rakyat di wilayah yang baru ditaklukkan dan melarang mereka menjadi petani agar fokus pada pertahanan negara tetap terjaga.
4. Akhir Hayat: Syahidnya Sang Khalifah (644 M)
Kejayaan era Umar berakhir secara tragis namun heroik.
- Beliau ditikam saat sedang mengimami shalat Subuh di Masjid Nabawi oleh seorang budak Persia bernama Abu Lu'lu'ah yang menyimpan dendam pribadi.
- Sebelum wafat, Umar membentuk tim formatur (Syura) yang terdiri dari 6 sahabat senior untuk memilih penggantinya, yang kemudian menghasilkan terpilihnya Utsman bin Affan.
Perbandingan Kekuatan Global Saat Wafatnya Umar (644 M)
| Entitas | Kondisi 634 M (Awal Umar) | Kondisi 644 M (Akhir Umar) |
| Kekhalifahan Islam | Kekuatan regional di Jazirah Arab. | Adidaya baru yang menguasai Timur Tengah & Afrika Utara. |
| Kekaisaran Persia | Sedang krisis namun masih berdiri. | Runtuh total dan menjadi bagian dari wilayah Islam. |
| Kekaisaran Bizantium | Penguasa Laut Tengah dan Yerusalem. | Kehilangan Suriah, Palestina, dan Mesir; terdesak ke Anatolia. |
Warisan Umar bin Khattab
Umar meninggalkan sebuah negara yang stabil, kaya, dan memiliki sistem hukum yang kuat. Tanpa pondasi administrasi yang diletakkan Umar, ekspansi besar-besaran Islam mungkin hanya akan menjadi penaklukan militer sementara yang cepat pudar. Di tangannya, Islam menjadi peradaban dunia yang permanen.
Era Abu Bakar Ash-Shiddiq (632–634 M) adalah masa yang paling menentukan bagi kelangsungan hidup umat Islam. Sebagai Khalifah pertama, ia memikul beban berat untuk menjaga keutuhan negara Madinah yang nyaris runtuh sesaat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Berikut adalah kronika lengkap pemilihan dan kepemimpinannya:
1. Pemilihan di Saqifah Bani Sa'idah (Juni 632 M)
Wafatnya Nabi memicu krisis kepemimpinan mendadak. Kelompok Anshar (penduduk asli Madinah) berkumpul di sebuah paviliun bernama Saqifah Bani Sa'idah untuk menunjuk pemimpin dari kalangan mereka guna melindungi kota.
- Perdebatan: Mendengar kabar tersebut, Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Jarrah (mewakili Muhajirin) datang ke sana. Terjadi diskusi alot; kaum Anshar mengusulkan "satu pemimpin dari kami dan satu dari kalian."
- Argumen Abu Bakar: Beliau mengingatkan bahwa bangsa Arab hanya akan tunduk secara politis kepada suku Quraisy karena kedudukan mereka sebagai penjaga Ka'bah, namun kaum Anshar adalah penolong yang tak ternilai.
- Bai'at: Melihat kebuntuan, Umar bin Khattab segera memegang tangan Abu Bakar dan membai'atnya (sumpah setia), diikuti oleh tokoh-tokoh Anshar dan Muhajirin lainnya. Pemilihan ini didasarkan pada senioritas, kedekatan beliau dengan Nabi, dan fakta bahwa Nabi menunjuknya mengimami shalat saat beliau sakit.
2. Tantangan Awal: Perang Riddah (632–633 M)
Segera setelah dilantik, Abu Bakar menghadapi pemberontakan massal di seluruh Jazirah Arab. Banyak suku menganggap perjanjian mereka dengan Islam berakhir saat Nabi wafat.
- Tiga Bentuk Pembangkangan:
- Murtad: Kembali menyembah berhala.
- Nabi Palsu: Munculnya tokoh seperti Musailamah al-Kazzab di Yamamah.
- Penolak Zakat: Mereka tetap Muslim tapi menolak membayar pajak negara (zakat) ke Madinah.
- Ketegasan Abu Bakar: Meski disarankan oleh Umar untuk lunak, Abu Bakar berkata: "Demi Allah, jika mereka menolak menyerahkan seutas tali unta yang dulu mereka serahkan kepada Rasulullah, aku akan memerangi mereka."
- Penyelesaian: Beliau membagi pasukan Islam menjadi 11 divisi yang dikirim ke berbagai penjuru Arab. Di bawah komando jenderal jenius Khalid bin Walid, seluruh pemberontakan berhasil dipadamkan dalam waktu satu tahun. Arab kembali bersatu di bawah bendera Madinah.
3. Kodifikasi Al-Qur'an (633 M)
Salah satu warisan terbesar Abu Bakar adalah pengumpulan naskah Al-Qur'an ke dalam satu mushaf.
- Pemicu: Pada Pertempuran Yamamah melawan Musailamah al-Kazzab, sekitar 70 orang Hafiz (penghafal Al-Qur'an) gugur. Umar bin Khattab khawatir Al-Qur'an akan hilang jika para penghafalnya terus wafat dalam perang.
- Proses: Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit untuk memimpin tim pengumpulan ayat-ayat yang tertulis di pelepah kurma, batu, dan tulang, serta mencocokkannya dengan hafalan para sahabat. Mushaf pertama ini kemudian disimpan oleh Abu Bakar.
4. Awal Ekspansi ke Luar Arab (633–634 M)
Setelah stabilitas internal tercapai, Abu Bakar mulai melihat ancaman dari dua kekaisaran besar (Persia dan Bizantium) yang mulai mengintimidasi perbatasan Arab.
- Front Persia (Irak): Khalid bin Walid dikirim ke wilayah Al-Hirah (Irak) dan berhasil meraih serangkaian kemenangan cepat melawan pasukan Sassanid.
- Front Bizantium (Syam): Abu Bakar mengirim empat pasukan besar ke wilayah Suriah dan Palestina. Khalid bin Walid kemudian diperintahkan melakukan perjalanan lintas gurun yang mustahil dari Irak ke Suriah untuk membantu pasukan di sana, yang nantinya berujung pada Pertempuran Yarmuk.
5. Wafatnya Abu Bakar (Agustus 634 M)
Setelah memerintah selama kurang lebih 2 tahun 3 bulan, Abu Bakar jatuh sakit.
- Wasiat Kepemimpinan: Belajar dari ketegangan di Saqifah, Abu Bakar tidak ingin umat kembali berselisih. Beliau melakukan konsultasi (syura) dengan para sahabat senior dan secara resmi menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya.
- Wafat: Beliau wafat pada usia 63 tahun dan dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.
Ringkasan Kronika 632–634 M
| Peristiwa | Tahun | Signifikansi |
| Saqifah Bani Sa'idah | 632 M | Penentuan sistem suksesi (Khalifah). |
| Ekspedisi Usamah | 632 M | Menunjukkan kekuatan meski dalam kondisi berduka. |
| Perang Riddah | 632-633 M | Penyelamatan integrasi wilayah Jazirah Arab. |
| Pengumpulan Al-Qur'an | 633 M | Pelestarian teks suci secara tertulis. |
| Invasi Irak & Syam | 633-634 M | Awal transformasi Islam menjadi kekuatan dunia. |
Tanpa ketenangan dan ketegasan Abu Bakar di dua tahun pertama ini, negara Islam kemungkinan besar akan pecah kembali menjadi suku-suku kecil dan hilang dari panggung sejarah. Beliau adalah "Penyelamat Umat" di masa transisi paling gelap.
Khalid bin Walid dijuluki oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus). Ia adalah salah satu panglima militer terhebat dalam sejarah dunia yang tidak pernah kalah dalam lebih dari 100 pertempuran.
Kejeniusan Khalid terletak pada kemampuannya mengombinasikan kecepatan kavaleri ringan Arab dengan taktik psikologis dan pemahaman medan yang luar biasa. Berikut adalah bedah strategi utama Khalid bin Walid :
1. Kecepatan dan Mobilitas (Kavaleri Ringan)
Khalid memahami bahwa pasukan Arab unggul dalam ketahanan fisik dan kecepatan, bukan dalam beratnya zirah.
- Kavaleri Sayap: Ia sering menempatkan pasukan berkuda di kedua sayap untuk melakukan gerakan menjepit (double envelopment).
- Serangan Kilat: Ia tidak memberikan waktu bagi musuh (Persia atau Bizantium) untuk menyusun formasi kura-kura (phalanx) yang kaku. Pasukannya menyerang, mundur, lalu menyerang lagi dari sudut berbeda.
2. Perang Psikologis dan Duel Satu Lawan Satu
Sebelum pertempuran besar dimulai, Khalid hampir selalu menantang panglima lawan untuk berduel satu lawan satu (Mubarizun).
- Tujuan: Membunuh jenderal lawan di depan pasukannya sendiri untuk menjatuhkan moral musuh seketika. Khalid adalah petarung tunggal yang sangat mahir, dan keberhasilannya membunuh panglima musuh sering kali membuat tentara lawan lari sebelum perang benar-benar pecah.
- Psikologi Gurun: Ia sering menggunakan taktik "muncul dari arah yang tidak disangka," membuat musuh merasa dikepung oleh jumlah yang lebih besar dari kenyataannya.
3. Strategi Logistik: Gurun sebagai Sekutu
Musuh-musuh Islam (Bizantium dan Persia) menganggap gurun pasir sebagai rintangan mematikan, namun bagi Khalid, gurun adalah jalan tol dan benteng.
- Jalur Pelarian: Khalid selalu memposisikan pasukannya dengan gurun di belakang mereka. Jika mereka terdesak, mereka bisa mundur ke gurun di mana kavaleri berat musuh tidak bisa mengejar.
- Penyergapan Lintas Gurun: Dalam kampanye di Syam, Khalid melakukan manuver legendaris dengan memotong gurun pasir yang dianggap mustahil dilewati selama 5 hari demi mengejutkan pasukan Bizantium dari belakang. Ia memaksa unta-untanya minum air sebanyak mungkin sebagai "tangki air berjalan" untuk bertahan hidup.
4. Masterpiece Taktis: Pertempuran Yarmuk (636 M)
Di Yarmuk, Khalid memimpin 40.000 pasukan melawan sekitar 150.000 tentara Bizantium. Strateginya meliputi:
- Organisasi Ulang: Ia menyatukan faksi-faksi pasukan Muslim yang terpisah menjadi satu komando terpadu.
- Pancingan Mundur: Ia membiarkan bagian tengah pasukannya sedikit mundur untuk memancing Bizantium masuk ke dalam jebakan, lalu menghantam mereka dari samping dengan kavaleri.
- Memutus Jalur Mundur: Ia mengirim unit kecil untuk menguasai jembatan satu-satunya di belakang posisi musuh, sehingga saat Bizantium panik dan mundur, mereka terjebak di tebing dan sungai.
5. Taktik Penyamaran: Pertempuran Mu'tah (629 M)
Meskipun saat itu ia bukan panglima utama, Khalid menyelamatkan sisa pasukan Muslim dari kepungan 100.000 tentara musuh dengan trik cerdas:
- Perubahan Posisi: Di malam hari, ia memerintahkan pasukan sayap kanan pindah ke kiri, dan pasukan belakang pindah ke depan.
- Efek Debu: Ia memerintahkan sebagian pasukan untuk berputar-putar di belakang sambil menimbulkan debu yang pekat.
- Hasil: Paginya, musuh mengira bantuan besar dari Madinah telah tiba karena melihat wajah-wajah baru dan debu di kejauhan. Musuh menjadi ragu-ragu, dan Khalid menggunakan momen itu untuk mundur dengan aman tanpa dikejar.
Prinsip Utama Khalid:
"Aku membawa pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan."
Khalid tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga fleksibilitas. Ia tidak pernah menggunakan taktik yang sama dua kali secara identik. Kehebatannya membuat Umar bin Khattab akhirnya mencopotnya dari jabatan panglima di puncak kejayaannya—bukan karena benci, tetapi karena Umar khawatir umat Islam akan mulai mendewakan Khalid dan lupa bahwa kemenangan berasal dari Allah.
Dua mahakarya taktik Khalid bin Walid yang mengubah peta dunia selamanya: Pertempuran Yarmuk (melawan Romawi/Bizantium) dan Pertempuran Walaja (melawan Persia).
1. Pertempuran Yarmuk (636 M): Menghancurkan Raksasa Romawi
Dalam pertempuran ini, Khalid menghadapi rasio pasukan sekitar 1:4 (±40.000 Muslim vs ±150.000 Bizantium).
Taktik Reorganisasi:
Sebelum perang, pasukan Muslim terpecah dalam beberapa komando kecil. Khalid melakukan reformasi instan:
- Kavaleri Bergerak (The Mobile Guard): Khalid membentuk unit kavaleri elit yang terdiri dari 4.000 ksatria terbaik. Unit ini tidak ditempatkan di garis depan, melainkan di belakang sebagai "pemadam kebakaran". Jika ada lini Muslim yang jebol, unit ini akan melesat secepat kilat untuk menutup celah tersebut.
- Formasi Kuras (Kerapatan): Ia mengubah formasi longgar Arab menjadi unit-unit kecil yang sangat rapat (Karadis), meniru struktur infanteri Romawi namun dengan fleksibilitas Arab.
Manuver Skakmat:
Pada hari keenam, Khalid melancarkan serangan balik total.
- Pengusiran Kavaleri: Khalid menggunakan seluruh kavalerinya untuk mengusir kavaleri Bizantium keluar dari medan laga, meninggalkan infanteri Bizantium tanpa pelindung di sayap.
- Jepitan Sayap: Infanteri Muslim menekan dari depan, sementara kavaleri Khalid berputar dan menghantam sisi samping serta belakang Bizantium.
- Blokade Jembatan: Khalid mengirim unit kecil untuk menguasai Jembatan Wadi-ur-Raqqad, satu-satunya jalan keluar bagi Bizantium. Akibatnya, ribuan tentara Bizantium terjebak di tepi jurang yang terjal dan kocar-kadir.
2. Pertempuran Walaja (633 M): Taktik "Penjepit" Ganda
Inilah pertempuran di mana Khalid meniru taktik legendaris Hannibal (Pertempuran Cannae) untuk menghancurkan pasukan Persia Sassanid.
Taktik Penyergapan Tersembunyi:
Khalid menyadari bahwa pasukan Persia memiliki jumlah yang jauh lebih besar dan disiplin yang tinggi.
- Umpan di Tengah: Khalid memposisikan infanterinya di pusat dan membiarkan mereka bertempur hebat melawan pusat pasukan Persia.
- Dua Sayap Kavaleri Rahasia: Tanpa sepengetahuan musuh, Khalid telah menyembunyikan dua unit kavaleri di balik bukit di kedua sisi medan perang jauh sebelum fajar.
- Pengepungan Total: Saat pasukan Persia merasa hampir menang karena berhasil mendorong pusat pasukan Muslim, Khalid memberikan sinyal. Dua unit kavaleri rahasia tadi muncul dari balik bukit dan menghantam sisi belakang Persia secara bersamaan.
- Anihilasi: Pasukan Persia terkepung dalam lingkaran maut yang mengecil. Hampir seluruh pasukan Persia hancur dalam "jepitan" ini.
3. Rahasia Keunggulan Teknis Khalid
A. Senjata dan Perlengkapan
Khalid sangat memperhatikan kualitas pedang. Dalam Pertempuran Mu'tah, ia dikabarkan mematahkan sembilan pedang karena kerasnya pertempuran. Ia lebih menyukai pedang lengkung (Scimitar) yang lebih efektif untuk menebas dari atas kuda dibandingkan pedang lurus Romawi yang berat.
B. Intelijen dan Pengintaian
Khalid tidak pernah berperang tanpa informasi. Ia memiliki jaringan mata-mata dari penduduk lokal (seringkali orang Arab Kristen atau petani setempat) untuk mengetahui:
- Kekuatan logistik musuh.
- Moral panglima lawan.
- Kondisi tanah (apakah berlumpur atau berpasir).
C. Kepemimpinan dari Depan
Tidak seperti jenderal Bizantium yang memimpin dari tenda di belakang, Khalid selalu berada di barisan paling depan. Ini memberikan efek psikologis luar biasa bagi pasukannya:
- Meningkatkan moral prajurit berkali-kali lipat.
- Memungkinkan Khalid mengubah taktik secara instan di lapangan hanya dengan satu teriakan atau isyarat pedang.
Warisan Militer
Kejeniusan Khalid diakui oleh sejarawan militer modern. Ia adalah pakar dalam "War of Attrition" (Perang Kelelahan) dan "Maneuver Warfare". Keberhasilannya mengalahkan dua adidaya (Persia dan Bizantium) dalam waktu yang bersamaan tetap menjadi studi kasus wajib di akademi militer dunia hingga saat ini.
Perang Riddah (632–633 M) adalah serangkaian kampanye militer yang diluncurkan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menumpas pemberontakan suku-suku Arab yang murtad segera setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Ini adalah ujian eksistensial pertama bagi negara Islam. Tanpa kemenangan dalam perang ini, Islam mungkin hanya akan menjadi catatan kaki sejarah yang terkubur di padang pasir.
1. Latar Belakang: Mengapa Mereka Murtad?
Wafatnya Nabi memicu krisis loyalitas. Suku-suku di luar Makkah dan Madinah memiliki berbagai alasan untuk memberontak:
- Politis: Mereka merasa janji setia (bai'at) hanya berlaku kepada pribadi Nabi, bukan kepada institusi kekhalifahan atau Abu Bakar.
- Ekonomis: Banyak suku keberatan membayar Zakat, yang mereka anggap sebagai upeti atau pajak kepada Madinah.
- Munculnya Nabi Palsu: Tokoh-tokoh ambisius seperti Musailamah al-Kazzab (Bani Hanifah), Tulaihah bin Khuwailid (Bani Asad), dan seorang wanita bernama Sajah mengklaim menerima wahyu untuk menarik pengikut.
2. Strategi Jenius Abu Bakar
Meskipun Madinah dalam kondisi berduka dan terancam, Abu Bakar menunjukkan ketegasan luar biasa. Beliau membagi pasukan Muslim menjadi 11 divisi militer dengan rute operasi yang berbeda-beda untuk mengepung seluruh Jazirah Arab secara simultan.
Para Komandan Utama:
- Khalid bin Walid: Panglima tertinggi yang dikirim ke jantung pemberontakan (Tulaihah dan Musailamah).
- Ikrimah bin Abi Jahl: Dikirim menuju wilayah Yamamah dan Oman.
- Amr bin Ash: Dikirim menuju wilayah perbatasan Palestina/Syria.
3. Pertempuran Utama dalam Perang Riddah
A. Pertempuran Buzakha (Melawan Tulaihah)
Khalid bin Walid menghadapi Tulaihah bin Khuwailid. Dengan kecepatan kavalerinya, Khalid menghancurkan pasukan Tulaihah. Tulaihah melarikan diri ke Syam (dan nantinya masuk Islam kembali serta menjadi pahlawan di pertempuran selanjutnya).
B. Pertempuran di Ghamra dan Naqra
Langkah pembersihan yang dilakukan Khalid untuk memutus jalur logistik para pemberontak di Arab Tengah sebelum menghadapi ancaman terbesar: Musailamah.
C. Pertempuran Yamamah (Melawan Musailamah al-Kazzab)
Inilah pertempuran paling berdarah dan menentukan dalam Perang Riddah.
- Kekuatan Musuh: Musailamah memiliki pasukan sekitar 40.000 prajurit yang sangat fanatik di wilayah kebun yang dikelilingi tembok tinggi (Hadiqat al-Maut atau Kebun Kematian).
- Taktik Khalid: Khalid menyadari pasukan Muslim mulai goyah karena jumlah musuh yang masif. Ia membagi pasukan berdasarkan suku masing-masing agar mereka bersaing menunjukkan keberanian.
- Hasil: Pasukan Muslim berhasil menjebol gerbang kebun. Musailamah tewas di tangan Wahshi bin Harb (orang yang sama yang membunuh Hamzah di Perang Uhud).
- Dampak Besar: Sekitar 70 orang penghafal Al-Qur'an gugur di sini, yang kemudian memicu inisiatif pengumpulan Al-Qur'an secara tertulis.
4. Strategi Khalid bin Walid di Perang Riddah
Dalam kampanye ini, Khalid menggunakan prinsip "Hit and Run" dan "Psychological Warfare":
- Eksekusi Cepat: Ia tidak membiarkan satu pemberontakan bergabung dengan pemberontakan lainnya. Ia menghancurkan satu per satu dengan mobilitas tinggi.
- Diplomasi dari Posisi Kuat: Sebelum menyerang, ia sering memberikan tawaran kembali ke Islam. Jika ditolak, ia akan menyerang dengan brutalitas yang meruntuhkan mental lawan.
- Rekrutmen Mantan Musuh: Khalid cerdas; suku-suku yang sudah menyerah dan kembali masuk Islam segera ia rekrut menjadi bagian dari pasukannya untuk menyerang nabi palsu berikutnya.
5. Dampak dan Signifikansi Perang Riddah
- Unifikasi Arab: Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seluruh Jazirah Arab benar-benar bersatu di bawah satu kepemimpinan politik dan agama di Madinah.
- Kesiapan Militer: Pasukan Muslim yang memenangkan Perang Riddah menjadi veteran perang yang sangat terlatih. Mereka memiliki momentum mental yang kuat untuk langsung bergerak melakukan ekspansi ke wilayah Persia dan Bizantium.
- Penyelamatan Islam: Jika Abu Bakar memilih berkompromi dengan penolak zakat, Islam mungkin hanya akan menjadi sekte lokal yang tercerai-berai secara politik.
Setelah Jazirah Arab stabil melalui Perang Riddah, Abu Bakar segera mengalihkan pandangannya ke luar perbatasan: Irak (Persia) dan Syam (Bizantium).
Penaklukan Irak (633–638 M) adalah salah satu pencapaian militer paling brilian dalam sejarah Islam. Ini adalah bentrokan pertama antara pasukan Muslim dari gurun melawan Kekaisaran Sassanid Persia, sebuah adidaya yang telah berkuasa selama 400 tahun.
Tokoh sentral dalam fase awal ini adalah Khalid bin Walid, yang menjalankan kampanye kilat selama beberapa bulan sebelum akhirnya ditarik ke front Suriah.
1. Strategi Awal: Operasi Kilat Khalid (633 M)
Abu Bakar memerintahkan Khalid untuk bergerak ke Irak (wilayah hilir Sungai Eufrat) dengan tujuan membebaskan suku-suku Arab di sana dari tekanan Persia. Khalid menggunakan taktik "Rantai Pertempuran":
- Pertempuran Rantai (Battle of Chains): Dinamakan demikian karena tentara Persia mengikat diri mereka dengan rantai agar tidak kabur. Khalid memanfaatkan beratnya zirah mereka dengan terus memancing mereka bergerak di padang pasir hingga mereka kelelahan, lalu menghancurkannya.
- Pertempuran Sungai (Battle of River): Kemenangan taktis di mana Khalid berhasil menguasai penyeberangan sungai penting, memutus jalur logistik Persia.
- Pertempuran Walaja: Seperti yang telah kita bahas, di sinilah Khalid menggunakan taktik Penjepit Ganda (Double Envelopment) yang legendaris.
- Pertempuran Ullais: Pertempuran yang sangat sengit di mana Khalid bersumpah akan mengalirkan darah musuh di sungai jika menang (dikenal sebagai "Sungai Darah") untuk menghancurkan moral perlawanan Persia di Irak.
2. Penaklukan Al-Hirah
Al-Hirah adalah ibu kota administratif Persia di Irak bagi suku-suku Arab Lakhmid.
- Khalid mengepung kota ini. Melihat kecepatan dan kekuatan pasukan Muslim, penduduk Al-Hirah menyerah dan sepakat membayar Jizyah.
- Ini adalah kemenangan politik besar karena Al-Hirah menjadi pangkalan depan (basecamp) bagi operasi militer Muslim selanjutnya di Irak.
3. Fase Kedua: Pertempuran Qadisiyah (636 M)
Setelah Khalid ditarik ke Suriah oleh Abu Bakar, front Irak sempat mengalami kemunduran (terutama dalam Pertempuran Jembatan di mana Muslim kalah). Namun, di era Umar bin Khattab, dikirimlah panglima Saad bin Abi Waqqas.
- Kekuatan: Persia mengerahkan pasukan elitnya di bawah Jenderal Rustam Farrokhzad, lengkap dengan gajah perang.
- Duel Psikologis: Selama berhari-hari terjadi negosiasi. Utusan Muslim, Rib'i bin Amir, memberikan pernyataan terkenal di depan Rustam: "Allah mengutus kami untuk memerdekakan manusia dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan kepada Tuhan manusia."
- Taktik: Pasukan Muslim menggunakan tombak panjang untuk menusuk mata gajah-gajah Persia agar mereka panik dan berbalik menginjak pasukan sendiri.
- Hasil: Rustam tewas, pasukan Persia hancur. Qadisiyah adalah "pintu gerbang" yang terbuka lebar menuju jantung Persia.
4. Jatuhnya Ctesiphon (Madain) - 637 M
Setelah Qadisiyah, pasukan Saad bin Abi Waqqas mengepung Ctesiphon, ibu kota megah Kekaisaran Sassanid.
- Keajaiban Penyeberangan: Pasukan Muslim menyeberangi Sungai Tigris yang sedang meluap dengan kuda-kuda mereka—sebuah aksi nekat yang membuat tentara Persia ketakutan dan menganggap kaum Muslim adalah "jin" karena berani menerjang arus deras.
- Istana Putih: Kaisar Yazdegerd III melarikan diri, dan untuk pertama kalinya, bendera Islam berkibar di istana megah Persia. Harta rampasan yang luar biasa (termasuk mahkota bertahta permata dan karpet raksasa "Baharestan") dibawa ke Madinah.
5. Penyelesaian: Pertempuran Jalula dan Pendirian Kota
- Jalula (637 M): Sisa-sisa pasukan Persia mencoba bertahan di jalur menuju dataran tinggi Iran, namun kembali dikalahkan.
- Pembangunan Basra dan Kufah: Umar bin Khattab memerintahkan pembangunan dua kota militer (Amsar) ini sebagai garnisun permanen. Kota-kota ini nantinya menjadi pusat peradaban, ilmu pengetahuan, dan politik Islam yang baru di Irak.
Mengapa Irak Jatuh Begitu Cepat?
- Dukungan Lokal: Penduduk asli Irak (Arab Kristen dan petani lokal) bosan dengan pajak tinggi dan penindasan Persia. Mereka sering membantu Muslim sebagai penunjuk jalan.
- Kelelahan Sassanid: Perang puluhan tahun melawan Bizantium membuat struktur sosial dan militer Persia rapuh di bawah permukaan.
- Keyakinan Pasukan: Kontras antara kesederhanaan pasukan Muslim dengan kemewahan Persia memberikan keunggulan moral yang luar biasa.
Penaklukan Irak secara efektif memindahkan pusat gravitasi dunia dari Mediterania dan dataran tinggi Iran menuju lembah sungai Tigris dan Eufrat.
Penaklukan Mesir (639–642 M) adalah salah satu manuver paling strategis dalam sejarah ekspansi Islam. Mesir saat itu adalah "lumbung pangan" (penghasil gandum utama) bagi Kekaisaran Bizantium. Kehilangan Mesir berarti pukulan telak bagi ekonomi Konstantinopel.
Tokoh kunci dalam penaklukan ini adalah Amr bin Ash, seorang jenderal yang cerdas dan memiliki pemahaman mendalam tentang politik wilayah tersebut.
1. Inisiatif Berani Amr bin Ash (639 M)
Setelah pembebasan Syam (Suriah dan Palestina), Amr bin Ash meyakinkan Khalifah Umar bin Khattab untuk mengizinkannya bergerak ke Mesir.
- Visi Amr: Ia berargumen bahwa selama Bizantium masih menguasai Mesir, posisi Muslim di Palestina tidak akan pernah aman karena serangan laut bisa datang kapan saja dari pelabuhan Alexandria.
- Persetujuan yang Ragu: Umar awalnya ragu karena pasukan Muslim sudah tersebar di banyak front. Namun, Amr berangkat dengan hanya 4.000 pasukan kavaleri ringan.
2. Pengepungan Benteng Babylon (640 M)
Pasukan Amr memasuki Mesir melalui Aris dan Pelusium, lalu bergerak menuju jantung Mesir di wilayah Kairo saat ini, di mana berdiri Benteng Babylon yang sangat kuat.
- Bantuan Tambahan: Menyadari tembok Babylon terlalu tebal, Amr meminta bantuan ke Madinah. Umar mengirim 4.000 pasukan tambahan yang dipimpin oleh empat komandan tangguh, termasuk Zubair bin Awwam.
- Negosiasi dengan Mukaukis: Penguasa Mesir (Patriark Cyrus/Mukaukis) mencoba bernegosiasi. Namun, tuntutan Muslim tetap sama: Masuk Islam, membayar Jizyah, atau perang.
- Kejatuhan Benteng: Setelah pengepungan selama 7 bulan, Zubair bin Awwam berhasil memanjat tembok benteng dengan tangga dan bertakbir, membuat pasukan Bizantium mengira benteng telah ditembus total. Babylon jatuh pada April 641 M.
3. Penaklukan Alexandria (641–642 M)
Setelah Babylon jatuh, rute menuju Alexandria (ibu kota Mesir saat itu dan pelabuhan terbesar di dunia) terbuka lebar.
- Kota yang Tak Terpatahkan: Alexandria dilindungi oleh tembok berlapis dan memiliki akses langsung ke laut, yang berarti Bizantium bisa terus mengirim bantuan lewat kapal.
- Wafatnya Heraklius: Di tengah pengepungan, Kaisar Heraklius wafat di Konstantinopel. Terjadi perebutan kekuasaan di pusat Bizantium yang menyebabkan bantuan ke Alexandria terhenti.
- Perjanjian Damai: Alexandria akhirnya menyerah lewat diplomasi. Syaratnya: Pasukan Bizantium diizinkan pergi membawa harta benda mereka dalam waktu 11 bulan, dan gereja-gereja Kristen tetap dilindungi.
4. Kebijakan Amr bin Ash: Fustat dan Keadilan Sosial
Setelah penaklukan, Amr melakukan beberapa langkah fundamental:
- Membangun Kota Fustat: Amr tidak menjadikan Alexandria sebagai ibu kota karena lokasinya yang terlalu dekat dengan laut (rawan serangan balik Bizantium). Ia membangun Fustat (dekat Kairo sekarang) sebagai pusat pemerintahan.
- Pembangunan Masjid Amr bin Ash: Masjid pertama di benua Afrika yang menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan.
- Perlindungan Kristen Koptik: Penduduk asli Mesir (Kristen Koptik) selama ini ditindas oleh Bizantium karena perbedaan aliran gereja. Amr memberikan kebebasan beragama penuh dan mengembalikan pemimpin mereka yang diasingkan. Hal ini membuat penduduk Mesir justru lebih menyukai pemerintahan Muslim daripada Bizantium.
- Terusan Amirul Mukminin: Amr menggali kembali terusan kuno yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah untuk mempermudah pengiriman gandum dari Mesir ke Madinah yang saat itu sedang dilanda kelaparan.
5. Dampak Strategis
- Ekonomi: Madinah tidak lagi kekurangan pangan karena pasokan gandum Mesir yang melimpah.
- Basis Angkatan Laut: Penguasaan atas pelabuhan-pelabuhan Mesir nantinya memungkinkan umat Islam membangun angkatan laut yang kuat di masa Khalifah Utsman bin Affan.
- Gerbang Afrika: Mesir menjadi batu loncatan untuk penyebaran Islam ke seluruh Afrika Utara (Maghribi) hingga ke Spanyol di kemudian hari.
Penaklukan Mesir adalah contoh nyata bagaimana diplomasi dan keadilan sosial seringkali lebih efektif daripada kekuatan militer semata dalam memenangkan hati penduduk lokal.
Era Utsman bin Affan (644–656 M) adalah masa di mana Kekhalifahan Islam mencapai puncak kejayaan teritorialnya sekaligus menghadapi tantangan internal yang paling berat. Sebagai Khalifah ketiga, Utsman melanjutkan ekspansi militer yang luar biasa namun juga harus mengelola administrasi kekaisaran yang kini sangat luas dan beragam.
1. Kodifikasi Al-Qur'an (Mushaf Utsmani)
Ini adalah warisan terbesar Utsman yang menyatukan seluruh umat Islam hingga hari ini.
- Latar Belakang: Seiring meluasnya wilayah Islam ke Persia, Azerbaijan, dan Armenia, muncul perbedaan dialek (lahjah) dalam membaca Al-Qur'an. Perselisihan mulai timbul di antara pasukan Muslim tentang bacaan mana yang paling benar.
- Tindakan: Utsman membentuk tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk menyalin naskah Al-Qur'an yang disimpan Hafsah binti Umar ke dalam dialek Quraisy.
- Standarisasi: Utsman memerintahkan penggandaan mushaf tersebut dan mengirimkannya ke pusat-pusat wilayah (Makkah, Syam, Kufah, Basra, Yaman). Naskah-naskah lain yang berbeda dialek diperintahkan untuk dibakar guna menghindari perpecahan abadi.
2. Kelahiran Angkatan Laut Islam pertama
Utsman adalah tokoh yang menyadari bahwa untuk mengamankan wilayah Mediterania, Islam tidak bisa hanya mengandalkan pasukan darat.
- Inisiator: Muawiyah bin Abu Sufyan (Gubernur Syam) meyakinkan Utsman untuk membangun armada kapal perang.
- Pertempuran Dzatus Shawari (655 M): Ini adalah pertempuran laut besar pertama dalam sejarah Islam. Armada Muslim berhasil mengalahkan armada raksasa Bizantium di Laut Mediterania. Kemenangan ini mematahkan dominasi Romawi di laut dan mengamankan jalur perdagangan ke Mesir dan Syam.
3. Ekspansi Wilayah yang Masif
Di bawah kepemimpinan Utsman, wilayah Islam meluas hingga ke batas-batas yang sangat jauh:
- Timur: Pasukan Muslim menaklukkan sisa-sisa wilayah Persia hingga mencapai Khorasan, Sistan, dan mencapai sungai Indus di Afghanistan/Pakistan saat ini.
- Utara: Ekspansi berlanjut ke wilayah Armenia dan Azerbaijan, serta pengepungan pertama terhadap Siprus.
- Barat: Penaklukan berlanjut dari Mesir menuju ke arah barat (Libya modern) hingga mencapai Tunisia (Ifriqiya).
4. Inovasi Ekonomi dan Pembangunan
Utsman adalah seorang pebisnis ulung, dan keahliannya terbawa dalam cara ia memimpin negara:
- Pembangunan Infrastruktur: Beliau membangun bendungan untuk mencegah banjir di Madinah, menggali banyak sumur untuk pengairan, dan memperluas Masjidil Haram serta Masjid Nabawi.
- Kemakmuran Rakyat: Di era ini, standar hidup masyarakat meningkat drastis. Tunjangan dari Baitul Maal diberikan secara merata, dan perdagangan internasional berkembang pesat.
5. Munculnya Fitnah (Konflik Internal)
Enam tahun terakhir pemerintahan Utsman mulai diwarnai ketidakpuasan politik yang berujung pada tragedi.
- Isu Nepotisme: Kritik muncul karena Utsman banyak mengangkat anggota keluarganya (Bani Umayyah) menduduki posisi gubernur penting. Meskipun Utsman memilih mereka berdasarkan kompetensi, hal ini memicu kecemburuan suku-suku lain.
- Propaganda Abdullah bin Saba': Muncul gerakan bawah tanah yang memprovokasi massa di Mesir, Kufah, dan Basra untuk menentang kebijakan Utsman.
- Pengepungan dan Syahidnya Utsman (656 M): Kelompok pemberontak dari Mesir datang ke Madinah dan mengepung rumah Khalifah. Utsman yang tidak ingin menumpahkan darah sesama Muslim di kota Nabi, melarang para sahabat (termasuk Hasan dan Husain) untuk menyerang para pemberontak.
- Utsman akhirnya dibunuh oleh para pemberontak saat beliau sedang membaca Al-Qur'an. Kematiannya menandai berakhirnya era stabilitas mutlak dan dimulainya periode perang saudara yang dikenal sebagai Al-Fitnatul Kubra.
Perbandingan Kekhalifahan Utsman
| Sektor | Pencapaian Utama | Dampak Jangka Panjang |
| Agama | Kodifikasi Al-Qur'an Standar. | Terjaganya kemurnian teks Al-Qur'an selamanya. |
| Militer | Pembentukan Angkatan Laut. | Islam menjadi kekuatan maritim di Mediterania. |
| Wilayah | Penaklukan Kabul, Siprus, dan Afrika Utara. | Islam menjadi agama lintas benua yang sangat luas. |
| Sosial | Pembangunan sarana publik & Masjid. | Madinah menjadi pusat metropolitan Islam. |
Tragedi wafatnya Utsman bin Affan mengubah arah sejarah Islam secara permanen, memicu naiknya Ali bin Abi Thalib ke kursi kekhalifahan di tengah situasi yang sangat kacau.
Al-Fitnatul Kubra (Fitnah Besar) adalah istilah sejarah yang merujuk pada rangkaian perang saudara pertama dalam umat Islam yang terjadi pada pertengahan abad ke-7 (656–661 M). Peristiwa ini memecah kesatuan politik umat Islam dan menjadi akar kemunculan berbagai sekte, seperti Sunni, Syiah, dan Khawarij.
1. Pemicu Utama: Pembunuhan Utsman bin Affan (656 M)
Fitnah ini meledak setelah Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, dibunuh oleh pemberontak di rumahnya sendiri di Madinah. Pembunuhan seorang Khalifah di kota Nabi adalah peristiwa traumatis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
- Tuntutan Qishash: Keluarga Utsman (terutama Muawiyah bin Abu Sufyan, Gubernur Syam) menuntut agar pembunuh Utsman segera ditangkap dan dihukum mati (Qishash).
- Dilema Ali bin Abi Thalib: Ali diangkat menjadi Khalifah keempat dalam situasi kacau. Fokus utama Ali adalah menstabilkan negara yang hampir runtuh, sehingga ia menunda penangkapan pembunuh Utsman yang jumlahnya ribuan dan bercampur dengan pasukan pendukungnya sendiri.
2. Perang Jamal (Perang Unta) - 656 M
Ini adalah perang saudara pertama dalam sejarah Islam.
- Pihak yang Terlibat: Pasukan Khalifah Ali melawan pasukan yang dipimpin oleh Aisyah binti Abu Bakar, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam.
- Penyebab: Kelompok Aisyah menuntut Ali untuk segera mengadili pembunuh Utsman. Terjadi kesalahpahaman diplomatik yang dipicu oleh provokator dari kedua belah pihak (kelompok Saba'iyah).
- Hasil: Ali memenangkan pertempuran. Talhah dan Zubair gugur, sementara Aisyah dipulangkan ke Madinah dengan penuh penghormatan.
3. Perang Siffin (657 M)
Konflik paling menentukan yang mempertemukan dua kekuatan besar Islam saat itu.
- Pihak yang Terlibat: Pasukan Ali (pusat di Irak) melawan pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan (pusat di Syam/Suriah).
- Jalannya Perang: Pertempuran berlangsung berhari-hari. Saat pasukan Muawiyah hampir kalah, mereka mengangkat mushaf Al-Qur'an di ujung tombak sebagai tanda ajakan untuk berdamai lewat Al-Qur'an (Tahkim atau Arbitrase).
4. Peristiwa Tahkim dan Munculnya Khawarij
Perdamaian melalui arbitrase ini justru melahirkan masalah baru:
- Keputusan Tahkim: Proses arbitrase berakhir dengan ketidakpastian politik yang menguntungkan posisi Muawiyah dan melemahkan otoritas Ali.
- Munculnya Khawarij: Sebagian pendukung Ali kecewa karena Ali menerima arbitrase manusia daripada mengikuti hukum Allah melalui perang. Mereka keluar dari barisan Ali (Khawarij) dan menganggap baik Ali maupun Muawiyah telah melakukan dosa besar.
5. Akhir Fitnah Besar (661 M)
Fitnah ini berakhir secara tragis dengan pembunuhan Ali bin Abi Thalib oleh seorang anggota Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam saat Ali sedang shalat Subuh di Kufah.
- Amul Jama'ah (Tahun Persatuan): Putra Ali, Hasan bin Ali, sempat diangkat menjadi Khalifah namun ia memilih untuk menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah demi menghentikan pertumpahan darah umat Islam.
- Lahirnya Dinasti: Peristiwa ini menandai berakhirnya era Khulafaur Rasyidin dan dimulainya era Dinasti Umayyah.
Dampak Jangka Panjang Al-Fitnatul Kubra
Peristiwa ini meninggalkan luka sejarah yang sangat dalam:
- Perpecahan Sekte: Munculnya perbedaan teologis dan politik antara Sunni (pengikut jamaah), Syiah (pendukung Ali), dan Khawarij.
- Perpindahan Ibu Kota: Ibu kota Islam pindah dari Madinah ke Kufah (era Ali), lalu ke Damaskus (era Umayyah).
- Perubahan Sistem: Kepemimpinan Islam berubah dari sistem pemilihan/konsensus (Syura) menjadi sistem kerajaan/monarki (Waris).
Al-Fitnatul Kubra adalah pengingat sejarah tentang betapa mahalnya harga sebuah persatuan dan betapa berbahayanya fanatisme golongan dalam tubuh umat.
Era Ali bin Abi Thalib (656–661 M) adalah periode yang paling penuh gejolak dalam sejarah Khulafaur Rasyidin. Jika ketiga khalifah sebelumnya fokus pada ekspansi ke luar, era Ali hampir seluruhnya terserap oleh upaya menjaga integritas internal umat yang sedang pecah akibat Al-Fitnatul Kubra.
1. Pelantikan di Tengah Badai (656 M)
Setelah syahidnya Utsman bin Affan, Madinah berada dalam kondisi anarki. Ali bin Abi Thalib awalnya menolak jabatan khalifah, namun desakan para sahabat dan situasi yang genting membuatnya menerima amanah tersebut.
- Visi Kepemimpinan: Ali ingin mengembalikan semangat kesederhanaan dan keadilan sosial yang sangat ketat, mirip dengan era Umar bin Khattab.
- Kebijakan Radikal: Ali segera mengganti para gubernur yang diangkat oleh Utsman dan menarik kembali tanah-tanah negara yang sebelumnya diberikan kepada individu-individu tertentu. Kebijakan ini, meski adil secara prinsip, menciptakan musuh-musuh politik dari kalangan elit lama.
2. Peta Konflik: Dua Kubu Besar
Ketegangan politik pasca-pembunuhan Utsman membelah umat menjadi dua kubu utama dalam menyikapi keadilan:
| Kubu Ali bin Abi Thalib | Kubu Penuntut Balas (Muawiyah/Aisyah) |
| Prinsip: Stabilitas negara adalah prioritas utama. Penangkapan pembunuh Utsman dilakukan setelah situasi tenang. | Prinsip: Hukum Allah (Qishash) harus ditegaskan segera. Pembunuh Utsman harus diadili sebelum urusan lain. |
| Pusat: Kufah (Irak). | Pusat: Damaskus (Syam) dan Makkah. |
3. Perang Jamal (November 656 M)
Ini adalah konfrontasi fisik pertama antar-sesama Muslim. Pasukan Ali bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Aisyah binti Abu Bakar, Talhah, dan Zubair di Basra.
- Hasil: Ali memenangkan pertempuran. Talhah dan Zubair gugur. Ali memperlakukan Aisyah dengan sangat hormat dan mengawalnya kembali ke Madinah.
- Dampak: Ibu kota kekhalifahan dipindahkan dari Madinah ke Kufah untuk memudahkan koordinasi militer dan politik.
4. Perang Siffin dan Tragedi Tahkim (657 M)
Ali bergerak menuju Syam untuk menghadapi Muawiyah bin Abu Sufyan yang menolak membai'atnya.
- Pertempuran: Selama beberapa hari di tebing Siffin, pasukan Ali hampir mencapai kemenangan.
- Taktik Mushaf: Pasukan Muawiyah mengangkat mushaf Al-Qur'an di ujung tombak, meminta damai melalui Al-Qur'an. Ali, meski curiga itu taktik, terpaksa menerima karena desakan sebagian pasukannya.
- Tahkim (Arbitrase): Pertemuan antara utusan Ali (Abu Musa al-Asy'ari) dan utusan Muawiyah (Amr bin Ash). Proses ini berakhir dengan kebuntuan politik yang melemahkan legitimasi Ali dan memperkuat posisi Muawiyah sebagai penguasa de facto di Syam.
5. Munculnya Kaum Khawarij
Kelompok yang awalnya mendukung Ali kemudian berbalik memusuhinya karena Ali menerima arbitrase manusia. Mereka menganggap Ali telah kafir karena tidak menggunakan hukum Allah dalam perang.
- Pertempuran Nahrawan (658 M): Ali terpaksa memerangi kaum Khawarij yang mulai melakukan teror terhadap sesama Muslim. Meski menang, dendam kaum Khawarij justru semakin membara.
6. Syahidnya Sang Singa Allah (661 M)
Tiga orang Khawarij bersekongkol untuk membunuh Ali, Muawiyah, dan Amr bin Ash pada waktu yang sama. Hanya serangan terhadap Ali yang berhasil.
- Peristiwa: Saat Ali sedang mengimami shalat Subuh di Masjid Kufah, Abdurrahman bin Muljam menebas kepala beliau dengan pedang beracun.
- Wasiat: Ali melarang pengikutnya menyiksa pembunuhnya; beliau meminta agar hukuman dilakukan secara adil sesuai hukum Qishash. Ali wafat pada 21 Ramadhan 40 H.
Warisan Intelektual dan Spiritual
Meskipun masanya dihabiskan dalam perang saudara, Ali meninggalkan warisan yang sangat besar bagi peradaban Islam:
- Ilmu Nahwu: Beliau memerintahkan Abu al-Aswad ad-Du'ali untuk merumuskan tata bahasa Arab agar orang non-Arab tidak salah membaca Al-Qur'an.
- Sastra dan Kebijaksanaan: Kata-kata mutiara dan khutbahnya dikumpulkan dalam kitab Nahj al-Balagha, yang menjadi standar tinggi sastra Arab.
- Keadilan Sosial: Ali tetap konsisten tidak mengambil sepeser pun harta Baitul Maal untuk kepentingan pribadinya, meskipun ia adalah seorang pemimpin tertinggi.
Setelah wafatnya Ali, periode Khulafaur Rasyidin berakhir. Putra beliau, Hasan bin Ali, sempat dibai'at namun kemudian menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah demi persatuan umat (Amul Jama'ah), yang menandai berdirinya Dinasti Umayyah.