info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Cerita kronologis peristiwa ambruknya bangunan musolla ponpes Al-Khoziny Buduran Sidoarjo hingga golden time
Cerita kronologis peristiwa ambruknya bangunan musolla ponpes Al-Khoziny Buduran Sidoarjo hingga golden time
Cerita kronologis peristiwa ambruknya bangunan musolla ponpes Al-Khoziny Buduran Sidoarjo hingga golden time

oleh. Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Ini adalah kronologi peristiwa ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, hingga masuk fase golden time evakuasi, berdasarkan informasi yang tersedia:

Kronologi Ambruknya Mushala Ponpes Al-Khoziny

1. Tahap Pembangunan (Sebelum Kejadian)

Bangunan musala (yang direncanakan tiga atau empat lantai) masih dalam proses pembangunan atau renovasi. Pembangunan ini sudah berlangsung sekitar sembilan hingga sepuluh bulan.

Pada saat kejadian, lantai dasar digunakan sebagai musala untuk salat berjamaah, sementara lantai di atasnya (lantai tiga atau lantai terakhir) sedang dalam tahap pengecoran roof deck (atap cor).

Proses pengecoran di lantai teratas ini dilaporkan sudah berlangsung sejak pagi hingga sekitar pukul 12.00 WIB pada hari kejadian.

2. Detik-Detik Kejadian (Senin, 29 September 2025)

Sekitar Pukul 15.00 WIB (Waktu Salat Ashar): Para santri putra Ponpes Al-Khoziny sedang melaksanakan salat Ashar berjamaah di lantai dasar/lantai bawah bangunan tersebut. Jumlah santri diperkirakan mencapai ratusan orang.

Momen Ambruk: Ketika salat Ashar memasuki rakaat kedua, struktur bangunan yang baru dicor di lantai atas (diduga karena penopang tidak kuat menahan beban cor semen) tiba-tiba ambruk atau roboh.

Dampak: Runtuhan material (cor semen, batu, dll.) dari lantai atas langsung menimpa area musala di bawahnya. Terdengar suara gemuruh dan getaran seperti gempa, disertai dengan debu yang membubung tinggi. Ratusan santri yang sedang salat terjebak di bawah reruntuhan.

Upaya Awal: Santri dan warga yang selamat/berada di sekitar lokasi segera berupaya menyelamatkan diri dan menolong korban yang terjebak.

3. Evakuasi Awal dan Kedatangan Bantuan

Segera setelah kejadian, petugas gabungan (Polisi, TNI, BPBD, Basarnas) bersama relawan dan warga setempat bergerak cepat melakukan evakuasi korban.

Korban luka-luka dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat, seperti RS Siti Hajar, RSUD Notopuro, dan RS Delta Surya Sidoarjo.

Data awal mencatat banyak korban luka-luka dan adanya korban meninggal dunia. Evakuasi cukup sulit karena material bangunan yang berat.

Fase Golden Time Evakuasi

Golden Time dalam konteks evakuasi bencana (terutama korban yang tertimbun reruntuhan) adalah periode kritis di mana kemungkinan untuk menemukan korban dalam keadaan selamat masih sangat tinggi. Periode ini umumnya dihitung dalam 48 hingga 72 jam pertama setelah insiden terjadi.

Pengejaran Golden Time: Tim SAR gabungan bekerja keras menggunakan peralatan seadanya hingga alat berat (seperti ekskavator) untuk mencari korban yang diduga masih terjebak di bawah puing-puing, sambil berusaha menghindari risiko keruntuhan susulan.

Kondisi Saat Golden Time Berakhir: Menjelang atau saat periode golden time ini berakhir (sekitar hari kedua atau ketiga pasca-kejadian), tim evakuasi menghadapi tantangan berat. Laporan observasi menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang menyusut dan bahkan munculnya bau tidak sedap di sekitar lokasi, yang menjadi indikasi pahit bagi harapan keluarga korban yang masih menunggu.

Tindakan Lanjutan: Setelah golden time berlalu dan tidak ada tanda-tanda korban selamat, fokus operasi bergeser. Tim SAR mulai mempertimbangkan penggunaan alat berat secara lebih intensif untuk mengangkat puing, meskipun dengan risiko tinggi, demi menemukan jenazah korban agar bisa diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

Peristiwa ini menyebabkan puluhan santri menjadi korban luka-luka, dan beberapa di antaranya meninggal dunia. Dugaan awal penyebab ambruknya bangunan adalah kegagalan konstruksi karena penopang cor lantai atas tidak kuat menahan beban.

Himbauan kepada wali santri, santri, ustaz ustadzah, masyarakat, pemerintah dan pengelola pondok pesantren terkait ambruknya musala Al-Khoziny

Musibah ambruknya musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, merupakan duka mendalam bagi seluruh pihak. Berikut adalah himbauan dan pesan yang ditujukan kepada berbagai elemen terkait sebagai respons dan pembelajaran pasca-kejadian:

Himbauan dan Pesan Pasca Musibah Ponpes Al-Khoziny

1. Untuk Wali Santri (Orang Tua/Keluarga)

Ketabahan dan Keikhlasan: Diharapkan para wali santri tetap tabah dan ikhlas menerima musibah ini sebagai takdir Allah SWT. Fokuskan energi pada upaya dukungan psikologis dan pemulihan bagi santri yang selamat.

Fokus pada Kesehatan Mental: Pastikan putra/putri Anda yang menjadi korban atau menyaksikan kejadian menerima pendampingan psikologis (trauma healing) yang memadai, baik dari pihak pesantren maupun pemerintah.

Komunikasi Terbuka: Tetap jalin komunikasi yang terbuka dan kooperatif dengan pihak pondok pesantren dan tim SAR terkait informasi korban dan proses pemulangan/perawatan.

Dukungan pada Santri: Berikan dukungan penuh dan rasa aman kepada anak-anak agar mereka dapat kembali bangkit dari trauma dan melanjutkan proses belajar.

2. Untuk Santri (Korban dan Seluruh Penghuni Ponpes)

Pemulihan Psikologis: Bagi santri yang menjadi korban atau saksi, segera manfaatkan layanan pendampingan untuk memulihkan trauma. Ingatlah bahwa meminta bantuan adalah langkah yang kuat dan penting.

Solidaritas: Jaga semangat solidaritas dan saling menguatkan antar sesama santri. Doakan para korban yang meninggal dunia agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Fokus Belajar: Setelah masa pemulihan, kembali fokus pada kegiatan belajar mengajar (thalabul 'ilmi), dengan keyakinan bahwa musibah ini adalah ujian yang akan menguatkan iman.

3. Untuk Ustaz/Ustadzah (Tenaga Pendidik)

Prioritaskan Keselamatan: Pedomani setiap himbauan keselamatan dan pastikan seluruh santri yang masih berada di lingkungan ponpes aman dan nyaman.

Dampingi Santri: Lakukan pendampingan intensif kepada santri, terutama dalam aspek psikososial. Kehadiran dan ketenangan Anda sangat dibutuhkan untuk menenangkan hati para santri dan wali santri.

Jadilah Jembatan Komunikasi: Berperan aktif sebagai jembatan informasi yang akurat antara pengelola ponpes, wali santri, dan pihak berwenang.

4. Untuk Pengelola Pondok Pesantren (Kiai dan Yayasan)

Pertanggungjawaban dan Permohonan Maaf: Pimpinan ponpes telah menyampaikan permohonan maaf kepada wali santri dan masyarakat, hal ini perlu dilanjutkan dengan sikap transparansi dan tanggung jawab penuh terhadap seluruh proses penanganan korban.

Audit Konstruksi Total: Segera lakukan audit total kelayakan dan kekuatan konstruksi pada seluruh bangunan yang ada di kompleks ponpes, bekerjasama dengan ahli sipil dan instansi pemerintah terkait.

Penegakan Standar Bangunan: Pastikan semua pembangunan dan renovasi ke depan mematuhi standar keselamatan bangunan (termasuk memiliki IMB jika dipersyaratkan) dan diawasi oleh tenaga ahli yang kompeten.

Peningkatan Layanan Keamanan: Tingkatkan prosedur layanan dan perlindungan intensif bagi santri, serta terus menerus memberikan rasa nyaman.

5. Untuk Pemerintah (Pusat, Provinsi, dan Daerah)

Tanggung Jawab Korban: Pastikan seluruh biaya perawatan dan pemulihan korban luka-luka ditanggung penuh oleh pemerintah (Provinsi Jatim telah menyatakan hal ini).

Evaluasi Nasional: Kementerian terkait (Kementerian Agama, Kementerian PUPR) didorong untuk segera melakukan evaluasi dan audit kelayakan konstruksi di seluruh pondok pesantren di Indonesia untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Dampingi Konstruksi: Pemerintah harus turun tangan aktif mendampingi dan memberikan konsultasi teknis konstruksi yang aman dan layak bagi lembaga pendidikan seperti pesantren, terutama yang sedang melakukan pembangunan.

Usut Tuntas Penyebab: Lakukan investigasi menyeluruh untuk mengusut tuntas penyebab ambruknya bangunan, termasuk dugaan kelalaian atau kegagalan konstruksi.

6. Untuk Masyarakat Umum

Dukungan Kemanusiaan: Berikan dukungan doa dan bantuan kemanusiaan (seperti logistik atau kebutuhan darurat) bagi para korban dan tim evakuasi.

Hindari Spekulasi: Hindari penyebaran informasi yang tidak terverifikasi (hoaks) yang dapat memperkeruh suasana dan menambah beban psikologis keluarga korban.

Hormati Proses Evakuasi: Berikan ruang penuh bagi tim SAR gabungan untuk bekerja secara optimal, terutama saat mereka berada dalam fase krusial seperti golden time.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *