
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Pendahuluan: Mercusuar Ilmu di Tanah Buduran
Pondok Pesantren Al-Khoziny, yang berdiri tegak di Desa Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, lebih dari sekadar lembaga pendidikan; ia adalah mercusuar ilmu, penjaga tradisi, dan kawah candradimuka yang telah menempa ribuan insan sejak awal abad ke-20, diperkirakan antara tahun 1915 hingga 1927 Masehi. Didirikan oleh KHR. Khozin Khoiruddin dan diteruskan oleh putranya, KHR. Mohammad Abbas Khozin, pesantren yang akrab disebut Pesantren Buduran ini mewarisi jejak panjang perjuangan para ulama Nusantara. Usianya yang melampaui satu abad menjadikannya saksi bisu berbagai era, menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi zaman, namun tetap teguh pada misi utamanya: membina santri menjadi insan paripurna—manusia seutuhnya yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah. Perjalanan menuju cita-cita luhur ini dipenuhi dengan perjuangan dan pengorbanan yang tak terhitung nilainya, baik dari para pendiri, pengasuh, maupun para santri itu sendiri.
Jejak Sejarah dan Fondasi Spiritual: Perjuangan Para Pendiri
Pendirian Pondok Pesantren Al-Khoziny berawal dari kepedulian KHR. Khozin Khoiruddin terhadap masyarakat Buduran yang saat itu nyaris tidak tersentuh ajaran Islam. Keputusan untuk mendirikan pesantren di Buduran, meskipun beliau tetap tinggal di Siwalanpanji, menunjukkan pengorbanan pribadi demi dakwah. Awalnya, tempat tersebut hanya berupa rumah kediaman KHR. Mohammad Abbas Khozin sepulang dari Makkah. Namun, sambutan hangat masyarakat dan kebutuhan akan bimbingan agama segera mengubah kediaman itu menjadi pusat pengajaran ilmu.
Perjuangan awal ini bukan hanya tentang mendirikan fisik bangunan, tetapi menanamkan akar spiritual dan intelektual. Dengan tradisi mengkhatamkan Tafsir Jalalain secara rutin, KHR. Mohammad Abbas, atau yang akrab dipanggil Kiai Abbas Buduran, meletakkan fondasi keilmuan yang kuat, menjadikannya pesantren salaf yang disegani. Para pendiri berjuang melawan keterbatasan, baik dari segi sarana maupun penerimaan masyarakat, dengan hanya mengandalkan ketulusan, keikhlasan, dan karisma seorang kiai. Pengorbanan para masyayikh (guru besar) Al-Khoziny tidak hanya terbatas pada mengajar, tetapi juga menjadi teladan nyata dalam ketekunan beribadah, kesederhanaan, dan istikamah.
Integrasi Pendidikan: Perjuangan Melawan Keterbatasan Zaman
Seiring berjalannya waktu, Al-Khoziny menunjukkan perjuangan adaptif. Dalam rangka membina insan paripurna yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas spiritual, pesantren ini melakukan integrasi pendidikan. Pada periode kepengasuhan selanjutnya, sistem pendidikan diklasifikasikan menjadi pendidikan formal, dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA), dan bahkan berlanjut hingga tingkat perguruan tinggi dengan berdirinya Institut Agama Islam (IAI) Al-Khoziny.
Langkah ini merupakan perjuangan besar. Menggabungkan tradisi pesantren salaf yang kental dengan pengajaran kitab kuning melalui sistem sorogan dan wetonan, dengan kurikulum pendidikan formal, membutuhkan pengorbanan energi, pemikiran, dan sumber daya. Tujuan utamanya adalah memastikan santri tidak hanya menguasai ilmu agama secara mendalam (tafaqquh fiddin), tetapi juga memiliki kecakapan akademis dan profesional yang memadai. Mereka harus menjadi pribadi yang kompleks: berakhlak mulia, pandai ilmu agama, sekaligus cerdas secara intelektual dan memiliki keterampilan hidup. Inilah bentuk perjuangan dalam membina keseimbangan antara ilmu dunia dan akhirat.
Pilar-Pilar Pembinaan Karakter: Pengorbanan Harian Santri
Inti dari perjuangan Al-Khoziny terletak pada pembinaan karakter santri yang dilakukan secara holistik, mencakup dimensi spiritual, sosial, dan intelektual. Pendidikan di pesantren ini tidak mengenal istilah libur total; setiap hari adalah perjuangan, setiap jam adalah pengorbanan.
- Pengorbanan Spiritual: Santri Al-Khoziny ditempa dengan rutinitas ibadah yang ketat, mulai dari salat berjamaah yang tak pernah terlewat, puasa sunah, hingga kegiatan thariqah yang merupakan warisan spiritual para sesepuh. Ajaran utama, seperti yang dirumuskan di masa KHR. Abdul Mujib Abbas, menekankan pentingnya istiqamah dalam beribadah dan menuntut ilmu. Santri mengorbankan waktu tidur, waktu luang, dan kenyamanan pribadi demi mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyerap ilmu. Keteladanan Kiai yang tetap mengajar meskipun sakit menjadi pengorbanan yang mengajarkan arti ketekunan sejati.
- Perjuangan Intelektual: Kegiatan belajar di pesantren seringkali berlangsung hingga larut malam. Santri harus berjuang keras menguasai kitab-kitab klasik berbahasa Arab gundul (kitab kuning) dengan sistem sorogan (membaca di hadapan kiai) dan wetonan (pengajian massal). Selain itu, mereka juga wajib mengikuti pendidikan formal di madrasah atau institut. Perjuangan ganda ini membentuk pribadi yang gigih, haus ilmu, dan mampu berpikir kritis melalui tradisi Bahtsul Masail (diskusi pemecahan masalah keagamaan).
- Pengorbanan Sosial dan Kemandirian: Tradisi Ro'an (kerja bakti gotong royong) adalah salah satu bentuk pengorbanan yang ditunggu-tunggu dan dihargai. Meskipun terkadang disalahartikan dari sudut pandang modern, bagi komunitas pesantren, Ro'an adalah pelajaran berharga tentang gotong royong, kemandirian, dan tabarrukan (mencari keberkahan) melalui khidmat (pengabdian) kepada kiai dan pesantren. Santri mengorbankan waktu istirahat mereka untuk merawat fasilitas, bekerja, atau membantu pembangunan, menumbuhkan jiwa sosial dan rasa memiliki yang mendalam. Mereka dididik untuk tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan etos kerja yang kuat.
Insan Paripurna: Hasil dari Perjuangan dan Pengorbanan
Tujuan akhir dari semua perjuangan dan pengorbanan ini adalah melahirkan insan paripurna—manusia yang utuh dan sempurna. Paripurna di sini bermakna:
- Berilmu dan Beramal: Menguasai ilmu agama dan umum, serta mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari, sesuai pesan Kiai: "menuntut ilmu dan membagikannya kepada orang lain."
- Berkarakter Kuat: Memiliki keteguhan spiritual (istiqamah), akhlak mulia (tawadu dan zuhud), serta jiwa sosial yang tinggi (ghirah sosial).
- Siap Memimpin: Mampu menjadi ulama, tokoh masyarakat, pemimpin, dan pendidik yang membawa kemaslahatan bagi umat, sebagaimana telah dicetak oleh Al-Khoziny dengan melahirkan ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh berpengaruh di Nusantara.
Penutup: Warisan Keteguhan
Perjuangan Pondok Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo dalam membina santri menjadi insan paripurna adalah kisah abadi tentang keteguhan, keikhlasan, dan pengorbanan. Mereka tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga tradisi riyadhah (latihan spiritual), etos kerja, dan semangat pengabdian yang menjadi bekal tak ternilai bagi para santri.
Bahkan ketika menghadapi ujian berat, seperti tragedi yang menimpa salah satu bangunannya, semangat pengorbanan para santri dan solidaritas alumni serta masyarakat justru menjadi bukti nyata betapa kokohnya fondasi spiritual dan karakter yang telah ditanamkan oleh para masyayikh Al-Khoziny selama lebih dari satu abad. Pesantren ini akan terus berjuang, berkorban, dan berdiri tegak sebagai benteng peradaban Islam, melanjutkan misi suci mencetak generasi penerus yang beriman, berilmu, dan berkontribusi nyata bagi bangsa dan agama.