
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang diperingati setiap tanggal 20 Desember bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah pengingat akan kekuatan kolektif bangsa dalam menghadapi krisis.
1. Sejarah dan Asal-Usul HKSN
HKSN lahir dari semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Akar sejarahnya bermula dari peristiwa Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948.
- Latar Belakang (1948-1949): Sehari setelah Belanda menduduki Yogyakarta (19 Desember 1948), seluruh lapisan rakyat bersatu tanpa sekat untuk membantu para pejuang dan korban perang. Kementerian Sosial kemudian menyadari bahwa kemerdekaan hanya bisa dipertahankan jika ada ikatan sosial yang kuat (solidaritas).
- Awal Mula (1958): Secara resmi, peringatan ini dimulai pada 20 Desember 1958 oleh Menteri Sosial H. Moeljadi Djojomartono dengan nama Hari Sosial.
- Perubahan Nama:
- 1976: Berubah menjadi Hari Kebaktian Sosial.
- 1983: Berubah menjadi Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) hingga sekarang.
- Filosofi: Menumbuhkan kembali nilai gotong royong, kekeluargaan, dan kepedulian antar sesama sebagai modal sosial bangsa.
2. Perspektif HKSN dalam Bencana Banjir Bandang Sumut & Aceh
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara dan Aceh di akhir tahun 2025 menjadi ujian nyata bagi implementasi nilai-nilai HKSN. Berikut adalah perspektifnya:
A. Solidaritas Tanpa Batas Wilayah
Dalam krisis ini, kesetiakawanan sosial terlihat dari mobilisasi bantuan yang tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat sipil di luar daerah bencana. Munculnya dapur umum swadaya dan penggalangan dana digital menunjukkan bahwa "jarak" bukan penghalang untuk merasa senasib sepenanggungan.
B. Kritik terhadap Ketimpangan Sosial
Sosiolog menekankan bahwa dampak banjir bandang di Sumut dan Aceh diperparah oleh ketimpangan sosial. Kelompok masyarakat miskin di pinggiran sungai menjadi yang paling rentan. Dalam perspektif HKSN, kesetiakawanan bukan hanya memberi bantuan saat bencana (reaktif), tetapi juga memperjuangkan keadilan sosial dan kelestarian lingkungan agar bencana serupa tidak terulang (proaktif).
C. Gotong Royong dalam Mitigasi dan Pemulihan
Kesetiakawanan sosial termanifestasi dalam peran tokoh agama dan relawan lokal di Aceh dan Sumut yang menjadi garda terdepan evakuasi sebelum bantuan pusat tiba. Hal ini membuktikan bahwa modal sosial di tingkat akar rumput adalah kunci utama resiliensi bangsa.
D. Tantangan "Solidaritas Elit"
Presiden Prabowo Subianto dan jajaran menteri (seperti Mendagri Tito Karnavian) dalam pernyataannya menekankan pentingnya pemerintah daerah yang memiliki fiskal kuat untuk membantu daerah yang terdampak. Ini adalah bentuk "Kesetiakawanan Antar-Pemerintah" (Inter-governmental Solidarity) yang diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat.
Ringkasan Peristiwa Bencana 2025
| Aspek | Detail Kejadian |
| Lokasi Utama | Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat |
| Penyebab | Curah hujan ekstrim (Siklon Tropis Senyar) & Deforestasi |
| Dampak Sosial | Ratusan jiwa meninggal, ribuan mengungsi, dan krisis logistik |
| Aksi HKSN | Penyaluran bantuan dari berbagai organisasi, gerakan "Indonesia Setiakawan" |
Peringatan HKSN di tengah duka banjir Sumatera adalah momentum bagi kita untuk tidak hanya berbagi sembako, tetapi juga berkomitmen pada pemulihan lingkungan dan penguatan jejaring sosial di tingkat lokal.
Sejarah Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional Video ini memberikan penjelasan mengenai asal-usul HKSN yang bermula dari semangat perjuangan rakyat di Yogyakarta pasca Agresi Militer Belanda.
Sejarah Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) - YouTube
Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial · 185 views

https://youtube.com/watch?v=8EKN74QCiUA%3Fhl%3Den%26rel%3D0%26showinfo%3D0%26enablejsapi%3D1%26origin%3Dhttps%253A%252F%252Fgemini.google.com%26widgetid%3D3%26forigin%3Dhttps%253A%252F%252Fgemini.google.com%252Fshare%252F7d52c8e920a6%26aoriginsup%3D0%26vf%3D1