info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Hari Dharma Samudra: Sejarah dan Pertahanan
Hari Dharma Samudra: Sejarah dan Pertahanan
Hari Dharma Samudra: Sejarah dan Pertahanan

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Hari Dharma Samudra yang diperingati setiap tanggal 15 Januari bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat akan heroisme dan tonggak penting dalam sejarah maritim Indonesia.

1. Sejarah Asal-Usul: Peristiwa Laut Arafuru

Hari Dharma Samudra bermula dari Pertempuran Laut Arafuru pada 15 Januari 1962. Peristiwa ini merupakan bagian dari Operasi Pembebasan Irian Barat (Trikora).

  • Latar Belakang: Ketegangan antara Indonesia dan Belanda mengenai status Irian Barat memuncak. Indonesia berupaya melakukan infiltrasi untuk mendaratkan pasukan di Irian Barat.
  • Insiden: Tiga kapal cepat torpedo TNI Angkatan Laut—KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau—dihadang oleh kapal perang Belanda yang jauh lebih besar dan modern, dibantu oleh pesawat udara.
  • Gugurnya Komodor Yos Sudarso: Menyadari ketimpangan kekuatan, Komodor Yos Sudarso yang berada di KRI Macan Tutul melakukan manuver berani untuk menarik perhatian musuh agar dua kapal lainnya bisa selamat. KRI Macan Tutul tenggelam setelah dihantam meriam Belanda.
  • Pesan Terakhir: Sebelum gugur, Komodor Yos Sudarso memekikkan pesan melalui radio: "Kobarkan semangat pertempuran!"

2. Perspektif Keamanan dan Pertahanan NKRI

Dari sudut pandang pertahanan, Hari Dharma Samudra memiliki makna strategis bagi kedaulatan Indonesia:

A. Doktrin Pertahanan Maritim

Peristiwa 1962 membuktikan bahwa sebagai negara kepulauan, pertahanan tidak bisa hanya berfokus di darat. Hari ini menjadi simbol transisi Indonesia menuju kekuatan maritim yang disegani di kawasan, sesuai dengan visi Poros Maritim Dunia.

B. Efek Gentar (Deterrence Effect)

Pengorbanan di Laut Arafuru menunjukkan kemauan politik (political will) yang kuat untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah NKRI, meski dengan keterbatasan alutsista. Dalam teori pertahanan, semangat juang (moril) adalah komponen intangible yang meningkatkan daya tangkal suatu negara.

C. Keamanan di Wilayah Perbatasan (ZEE)

Saat ini, tantangan beralih dari konfrontasi militer terbuka menjadi sengketa wilayah di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), pencurian ikan, dan penyelundupan. Hari Dharma Samudra menjadi momentum untuk memperkuat patroli keamanan laut demi melindungi sumber daya alam nasional.


3. Relevansi Masa Kini

Dalam konteks modern, peringatan ini mencakup tiga pilar utama:

  1. Modernisasi Alutsista: Melanjutkan semangat Yos Sudarso dengan memperbarui armada laut agar memiliki teknologi yang setara atau melebihi ancaman potensial.
  2. Kedaulatan Maritim: Menjaga keutuhan wilayah dari klaim sepihak negara asing (seperti di Laut Natuna Utara).
  3. SDM Unggul: Membentuk prajurit yang tidak hanya berani, tetapi juga menguasai teknologi maritim terkini.

Kesimpulan: Hari Dharma Samudra adalah simbol "Jalesveva Jayamahe" (Di Laut Kita Jaya). Ia mengingatkan bahwa kedaulatan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kita menjaga samudera.

Mengenai strategi militer pada masa Operasi Trikora serta bagaimana kekuatan tempur laut Indonesia bertransformasi hingga saat ini.

1. Strategi Militer Operasi Trikora (1961-1962)

Operasi ini bukan sekadar serangan langsung, melainkan kombinasi antara diplomasi dan tekanan militer yang dikenal dengan strategi Infiltrasi.

Fase Operasi

  • Fase Infiltrasi (Hingga akhir 1962): Memasukkan unit-unit kecil melalui laut dan udara ke daratan Irian Barat untuk mengganggu konsentrasi Belanda dan memicu perlawanan rakyat lokal.
  • Fase Eksploitasi: Serangan terbuka besar-besaran terhadap pos-pos pertahanan Belanda.
  • Fase Konsolidasi: Menegakkan kekuasaan RI secara mutlak di seluruh wilayah Irian Barat.

Peran Kapal Cepat Torpedo (KCT)

Pada pertempuran Laut Arafuru, penggunaan kapal kelas Jaguar (seperti KRI Macan Tutul) adalah taktik "Hit and Run". Kapal-kapal ini kecil, sangat cepat (hingga 40 knot), dan sulit dideteksi radar pada masanya. Namun, tantangan terbesarnya adalah minimnya perlindungan udara (air cover), yang akhirnya menjadi faktor kunci kekalahan taktis di Laut Arafuru saat pesawat Neptune Belanda menyerang dari langit.


2. Evolusi Kekuatan TNI AL: Dulu vs Sekarang

Indonesia pernah menjadi kekuatan laut terkuat di Belahan Bumi Selatan pada era 1960-an berkat bantuan Uni Soviet. Saat ini, fokusnya adalah pada Kemandirian Industri Pertahanan.

AspekEra Trikora (1960-an)Era Modern (Sekarang)
Kapal Induk/PenjelajahMemiliki KRI Irian (Penjelajah terbesar di kelasnya).Fokus pada Kapal Cepat Rudal (KCR) dan Perusak Kawal Rudal (PKR).
TeknologiAnalog, mengandalkan keberanian manual.Network Centric Warfare, Radar Jarak Jauh, dan Rudal berpemandu.
Kapal Selam12 Kapal Selam Kelas Whiskey.Kelas Nagapasa (DSME 1400) dan rencana akuisisi kelas Scorpene.
ProduksiSeluruhnya impor (terutama Uni Soviet).Produksi lokal oleh PT PAL (Contoh: Kapal LPD dan KCR 60m).

3. Strategi Pertahanan Maritim Masa Depan

Saat ini, TNI AL menerapkan strategi Minimum Essential Force (MEF) yang bergeser menuju Green Water Navy (kemampuan menjaga wilayah regional dan ZEE secara efektif).

Fokus Utama saat ini:

  • Integrated Fleet Weapon System (SSAT): Menyatukan KRI, Pesawat Udara, Marinir, dan Pangkalan dalam satu komando yang terintegrasi.
  • Penguatan Natuna Utara: Pembangunan pangkalan militer terpadu di Natuna sebagai respons terhadap ketegangan di Laut Cina Selatan.
  • Teknologi Drone (UAV): Penggunaan drone bawah air (UUV) dan udara untuk pengawasan wilayah perbatasan tanpa risiko kehilangan personel.

Analisis Singkat

Tragedi KRI Macan Tutul memberikan pelajaran berharga bagi pertahanan kita: "Jangan pernah mengirim armada laut tanpa perlindungan udara yang memadai." Itulah sebabnya saat ini TNI AL selalu menekankan sinergi dengan TNI AU dalam setiap operasi maritim.

mari kita bandingkan secara visual dan teknis antara KRI Macan Tutul (kapal legendaris era 1962) dengan KCR 60m (Kelas Sampari) yang menjadi tulang punggung kapal cepat rudal modern TNI AL saat ini.

Perbandingan Spesifikasi: Tradisi vs Teknologi Modern

FiturKRI Macan Tutul (Kelas Jaguar)KCR 60m (Kelas Sampari)
Era Operasional1960 - 19622014 - Sekarang
Asal NegaraJerman BaratIndonesia (PT PAL)
Kecepatan Maks40 Knot (Sangat Cepat)28 - 30 Knot
Persenjataan Utama4 Torpedo, 2 Kanon 40mmRudal Anti-Kapal (Exocet MM40 Block 3)
Sistem PertahananManual/VisualElectronic Counter Measure (ECM) & Decoy
Radar/SensorRadar Navigasi DasarCombat Management System (CMS) Terintegrasi

Perbedaan Filosofi Tempur

1. Jangkauan Serang (Range)

  • KRI Macan Tutul: Harus mendekat dalam jarak visual (jarak dekat) untuk melepaskan torpedo. Ini sangat berisiko karena kapal terekspos meriam lawan.
  • KCR Modern: Menggunakan prinsip "Fire and Forget". Dengan rudal Exocet, kapal ini bisa menghancurkan musuh dari jarak lebih dari 180 km, jauh sebelum musuh melihat kapal kita di cakrawala.

2. Kemandirian Produksi

Salah satu pencapaian terbesar dalam perspektif pertahanan NKRI adalah transisi dari kapal impor ke kapal buatan dalam negeri. KCR 60m diproduksi oleh PT PAL di Surabaya, yang artinya jika terjadi konflik, kita memiliki kemampuan mandiri untuk perbaikan dan produksi ulang tanpa bergantung pada negara lain.

3. Teknologi Siluman (Stealth)

KCR modern dirancang dengan desain lambung yang meminimalkan pancaran radar (Radar Cross Section). Berbeda dengan KRI Macan Tutul yang sangat mudah terdeteksi radar pesawat tempur, KCR modern lebih sulit dilacak, memberikan keunggulan dalam serangan mendadak.


Visualisasi Konsep

Jika kita gambarkan dalam sebuah skenario:

Sekarang: Teknologi adalah pengganda kekuatan (Force Multiplier). Satu unit KCR modern memiliki daya hancur yang jauh lebih besar daripada satu skadron kapal era 60-an berkat akurasi rudal berpemandu.

Dulu (1962): Keberanian adalah senjata utama. Komodor Yos Sudarso harus menjadi "umpan" agar kapal lain bisa lolos karena keterbatasan jangkauan senjata.

Sejarah telah mengajarkan kita bahwa keberanian saja tidak cukup tanpa dukungan teknologi. Apakah Anda tertarik untuk melihat bagaimana kekuatan kapal selam Indonesia (seperti kelas Nagapasa atau Scorpene) berperan dalam strategi pertahanan bawah laut NKRI saat ini?

Strategi bawah laut adalah elemen paling rahasia dan mematikan dalam pertahanan maritim Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan banyak "choke points" (titik sempit strategis), kapal selam adalah senjata deteren (penangkal) yang paling efektif.

1. Kekuatan Kapal Selam Indonesia Saat Ini

Saat ini, kekuatan bawah laut kita bertumpu pada Kelas Nagapasa (Type 209/1400) hasil kerja sama dengan Korea Selatan, dan langkah besar menuju akuisisi teknologi Scorpene Evolved dari Prancis.

Spesifikasi Utama: Kelas Nagapasa

  • Teknologi: Menggunakan mesin diesel-elektrik yang sangat senyap.
  • Persenjataan: Torpedo Black Shark (jangkauan 50 km) yang bisa dikendalikan dengan kabel, serta kemampuan meluncurkan rudal anti-kapal dari bawah air.
  • Kemandirian: KRI Alugoro (405) adalah kapal selam pertama yang dirakit di Indonesia (PT PAL), menandai sejarah baru kemampuan teknis bangsa.

2. Strategi Bawah Laut di Titik Strategis (Choke Points)

Indonesia memiliki kendali atas jalur pelayaran dunia melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Strategi pertahanan kita menggunakan kapal selam untuk:

  1. Silent Sentinel (Penjaga Senyap): Kapal selam ditempatkan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Mereka sulit dideteksi dan bisa memantau pergerakan armada asing tanpa memicu ketegangan diplomatik.
  2. Anti-Access/Area Denial (A2/AD): Jika terjadi konflik, kapal selam berfungsi untuk menutup akses masuk bagi kapal induk atau kapal perang besar lawan ke wilayah perairan pedalaman Indonesia.
  3. Intelligence Gathering: Melakukan pengintaian (surveilans) terhadap aktivitas ilegal atau pergerakan militer di zona perbatasan seperti Laut Natuna Utara.

3. Masa Depan: Scorpene Evolved & Teknologi Lithium-Ion

Langkah terbaru pemerintah adalah kesepakatan pembangunan dua kapal selam Scorpene Evolved di Surabaya. Mengapa ini penting?

  • Baterai Lithium-Ion: Teknologi ini memungkinkan kapal selam menyelam lebih lama dan melaju lebih cepat di bawah air dibandingkan baterai timbal-asam konvensional.
  • Full Stealth: Scorpene dikenal memiliki tingkat kebisingan yang sangat rendah, membuatnya hampir "mustahil" dideteksi oleh sonar musuh saat sedang beroperasi dalam mode senyap.
  • Transfer Teknologi: Pembangunan di PT PAL memastikan teknisi Indonesia menguasai teknologi kapal selam paling canggih di dunia.

4. Analisis Strategis

Mengacu pada semangat Hari Dharma Samudra, modernisasi kapal selam adalah bentuk penghormatan terbaik bagi para pahlawan. Jika dulu kita kehilangan KRI Macan Tutul karena keterbatasan teknologi, kini Indonesia membangun kekuatan yang mampu menghancurkan ancaman bahkan sebelum ancaman tersebut memasuki wilayah teritorial kita.

Filosofi Kapal Selam: "Tabah Sampai Akhir" (Wira Ananta Rudira). Ini mencerminkan mentalitas prajurit yang siap menjaga kedaulatan dalam kesunyian di bawah laut.

Jika kapal perang dan kapal selam adalah "otot" pertahanan kita, maka Radar/Sonar adalah "mata dan telinga", sementara Pasukan Khusus adalah "belati tajam" yang bekerja dalam bayang-bayang.

1. Radar dan Sonar: Mata dan Telinga Samudra

Dalam pertempuran maritim modern, siapa yang mendeteksi lebih dulu, dialah yang menang.

A. Radar (Radio Detection and Ranging) - Di Atas Air

Radar bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik ke udara.

  • Cara Kerja: Gelombang memantul saat mengenai kapal atau pesawat musuh dan kembali ke antena.
  • Teknologi Modern TNI AL: Kapal jenis PKR (Perusak Kawal Rudal) kita seperti KRI Raden Eddy Martadinata (331) menggunakan radar Long Range Search yang bisa melacak ratusan target sekaligus hingga jarak ratusan kilometer.
  • IFF (Identification Friend or Foe): Sistem ini sangat penting agar kita tidak salah menembak kapal kawan sendiri.

B. Sonar (Sound Navigation and Ranging) - Di Bawah Air

Karena gelombang radio tidak bisa merambat di dalam air, kita menggunakan gelombang suara.

  • Active Sonar: Mengirimkan "ping" suara. Jika mengenai kapal selam musuh, suara memantul balik. (Kekurangannya: Posisi kita juga jadi ketahuan).
  • Passive Sonar: Hanya mendengarkan suara mesin atau baling-baling kapal musuh tanpa mengirim sinyal. Inilah yang digunakan kapal selam kita untuk tetap "senyap".
  • VDS (Variable Depth Sonar): Alat yang diturunkan dari kapal permukaan ke kedalaman tertentu untuk mendeteksi kapal selam yang bersembunyi di balik lapisan termoklin (perbedaan suhu air yang bisa membelokkan suara).

2. Pasukan Khusus TNI AL: KOPASKA & Yontaifib

Mereka adalah pasukan elit yang dilatih untuk misi-misi mustahil dengan risiko tertinggi.

A. KOPASKA (Komando Pasukan Katak)

Didirikan oleh Bung Karno pada 1962, semboyannya adalah "Tan Hana Wighna Tan Sirna" (Tak ada rintangan yang tak dapat dilalui).

  • Spesialisasi: Sabotase bawah air, peledakan kapal musuh (underwater demolition), dan pembebasan sandera di laut.
  • Ciri Khas: Kemampuan infiltrasi menggunakan torpedo manusia atau menyelam tanpa gelembung (closed-circuit) agar tidak terdeteksi musuh.

B. Yontaifib (Batalyon Intai Amfibi) - Bagian dari Korps Marinir

Mereka adalah mata-mata depan sebelum pendaratan amfibi besar-besaran dilakukan.

  • Spesialisasi: Intai tempur di darat, laut, dan udara. Mereka sering diterjunkan dari pesawat atau keluar dari peluncur torpedo kapal selam untuk memetakan pantai musuh.
  • DENJAKA: Elit dari yang terelit. Pasukan ini merupakan gabungan personel terbaik KOPASKA dan Taifib untuk penanggulangan terorisme maritim.

3. Sinergi: Bagaimana Semua Ini Bekerja Bersama?

Bayangkan sebuah skenario di Laut Natuna Utara:

  1. Radar pangkalan mendeteksi kapal asing yang masuk tanpa izin.
  2. Kapal Selam (menggunakan Passive Sonar) membuntuti dari bawah air tanpa terlihat.
  3. KOPASKA dikirim menggunakan kapal cepat (RHIB) atau helikopter untuk melakukan pemeriksaan (VBSS - Visit, Board, Search, and Seizure).
  4. Jika situasi memanas, KCR (Kapal Cepat Rudal) sudah siap mengunci target dari jarak jauh menggunakan data koordinat dari radar.

Refleksi Hari Dharma Samudra: Jika dulu Komodor Yos Sudarso harus bertempur secara terbuka dengan risiko tinggi, teknologi Radar/Sonar dan kematangan Pasukan Khusus saat ini bertujuan agar prajurit kita bisa menyerang secara presisi tanpa harus mengorbankan diri secara sia-sia.


Mari kita buat sebuah simulasi taktis strategis. Skenarionya adalah "Operasi Perisai Selat Lombok". Selat ini adalah salah satu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang sangat dalam dan menjadi jalur alternatif utama jika Selat Malaka diblokade.

Skenario: Menghalau Gugus Tugas Kapal Induk Asing (Aggressor)

Bayangkan sebuah armada asing mencoba melewati Selat Lombok tanpa izin dengan niat provokasi.

Tahap 1: Deteksi Dini (The Eyes and Ears)

  • Satelit & Radar Pantai: Radar pengawas pantai di Bali dan Lombok mendeteksi adanya pergerakan kapal permukaan besar di jarak 300 km.
  • Pesawat Patroli Maritim (CN-235 MPA): TNI AL meluncurkan pesawat patroli. Dengan radar Ocean Master, mereka mengidentifikasi bahwa itu adalah satu Kapal Induk dikawal dua Kapal Perusak (Destroyer).
  • Drone (UAV): Drone intai terbang tinggi untuk mengirimkan siaran video real-time ke Pusat Komando di Jakarta.

Tahap 2: Pagar Senyap (The Silent Killers)

  • KRI Alugoro (Kapal Selam): Sudah berada dalam posisi "duduk" di kedalaman selat (thermal layer). Kapal selam ini mematikan seluruh mesin dan hanya menggunakan Passive Sonar.
  • Taktik: Kapal selam tidak menyerang, tetapi mengirimkan data posisi musuh secara akurat melalui sinyal akustik ke markas pusat. Musuh sama sekali tidak menyadari ada "predator" di bawah mereka.

Tahap 3: Pencegatan & Sabotase (The Sharp Blade)

  • KOPASKA & Denjaka: Jika kapal asing tersebut melambat atau berhenti di wilayah teritorial, tim elit dikirim menggunakan KCR 60m yang bergerak cepat di malam hari (mode senyap).
  • Infiltrasi: Personel KOPASKA menggunakan Sea Rider atau terjun dari helikopter (Fast Rope) untuk melakukan pemeriksaan paksa jika diplomasi gagal.

Tahap 4: Penangkalan Rudal (The Final Strike)

Jika armada asing menunjukkan niat agresif (mengunci radar tempur):

  • KCR (Kapal Cepat Rudal): Empat unit KCR kelas Sampari muncul dari balik pulau-pulau kecil di sekitar Lombok (memanfaatkan geografi untuk bersembunyi dari radar).
  • Serangan Koordinasi: KCR menembakkan rudal Exocet MM40 Block 3. Di saat yang sama, Kapal Selam meluncurkan Torpedo Black Shark.
  • Efek: Musuh harus menghadapi serangan dari atas dan bawah air secara bersamaan (Saturation Attack), membuat sistem pertahanan mereka kewalahan.

Ringkasan Kekuatan Taktis NKRI

ElemenFungsi dalam Simulasi
GeografiMenggunakan pulau-pulau untuk persembunyian (Guerilla Sea Warfare).
KCRPemukul reaksi cepat dengan daya hancur tinggi.
Kapal SelamAncaman psikologis dan fisik yang tidak terlihat.
Radar/SonarMemastikan kita memukul tanpa meleset.
Pasukan KhususResolusi konflik presisi tinggi (Operasi Non-Perang).

Pelajaran dari Simulasi

Skenario ini menunjukkan bahwa pertahanan Indonesia saat ini menganut prinsip Defensif Aktif. Kita tidak berniat menyerang negara lain, tetapi jika kedaulatan di selat-selat kita diganggu, sinergi antara Teknologi (Radar/Sonar), Alutsista (KCR/Kapal Selam), dan Manusia (Pasukan Khusus) akan menjadi benteng yang sangat sulit ditembus.

Ini adalah bentuk nyata dari amanah Komodor Yos Sudarso: "Kobarkan semangat pertempuran", namun dijalankan dengan kecerdasan taktis masa kini.

bagaimana rudal Exocet bekerja mencari sasarannya?

Rudal Exocet MM40 Block 3 yang dimiliki TNI AL adalah "kartu as" dalam pertempuran laut modern. Rudal ini adalah senjata fire-and-forget (tembak dan lupakan) yang dirancang untuk menghancurkan kapal musuh dengan presisi tinggi dari jarak yang sangat jauh.

1. Fase Peluncuran (Boost Phase)

Setelah data koordinat sasaran dari Radar Kapal atau Pesawat Patroli dimasukkan ke dalam komputer rudal, Exocet ditembakkan.

  • Motor Roket: Di detik-detik awal, roket pendorong membawa rudal keluar dari tabung peluncur dan memberikannya kecepatan awal untuk mencapai ketinggian tertentu.
  • Transisi ke Turbojet: Setelah mencapai kecepatan tertentu, mesin roket lepas dan mesin Turbojet (seperti mesin pesawat jet kecil) menyala. Ini membuat Exocet Block 3 bisa terbang jauh hingga 180–200 km.

2. Fase Perjalanan (Mid-course Phase)

  • Sea-Skimming (Terbang Sangat Rendah): Ini adalah keunggulan utama Exocet. Rudal ini terbang hanya 1–2 meter di atas permukaan laut.
  • Mengapa Rendah? Untuk "bersembunyi" dari radar musuh. Karena lengkungan bumi dan gangguan dari ombak laut (sea clutter), radar kapal musuh akan sangat sulit mendeteksi rudal yang terbang serendah ini hingga jaraknya sudah sangat dekat.
  • Navigasi GPS & Inersial: Selama perjalanan, rudal dipandu oleh GPS dan sistem inersial internal agar tetap pada jalur yang benar tanpa perlu dikendalikan lagi oleh kapal pengirim.

3. Fase Pencarian Mandiri (Terminal Phase)

Inilah tahap yang paling mematikan. Ketika sudah mendekati koordinat target (sekitar 10-15 km terakhir):

  • Active Radar Seeker: Rudal menyalakan radarnya sendiri yang berada di moncong depan. Ia mulai "melihat" dan mengunci target secara mandiri.
  • Manuver Menghindar: Jika kapal musuh mencoba menembak jatuh rudal ini dengan senapan mesin penangkis (seperti CIWS Phalanx), Exocet Block 3 mampu melakukan manuver "zig-zag" atau high-G maneuvers secara otomatis untuk menghindar.

4. Benturan dan Dampak (The Hit)

  • Delayed Action Fuse: Rudal tidak meledak saat menyentuh kulit kapal, melainkan menembus ke dalam lambung kapal terlebih dahulu baru kemudian meledak di bagian dalam (kamar mesin atau gudang amunisi).
  • Hulu Ledak: Dengan berat sekitar 165 kg bahan peledak tinggi, satu hantaman Exocet cukup untuk melumpuhkan kapal perusak (destroyer) atau menenggelamkan kapal yang lebih kecil.

Peran Strategis bagi NKRI

Dengan memiliki Exocet MM40 Block 3, kapal kecil TNI AL (seperti KCR 60m) memiliki "tangan yang panjang".

Analogi: Kapal kita tidak perlu berduel jarak dekat seperti di film-film lama. Kita bisa menembak dari balik cakrawala (Over the Horizon), sehingga kapal musuh mungkin akan tenggelam sebelum mereka sempat melihat siapa yang menembak mereka.


Menghubungkan ke Sejarah

Jika di Laut Arafuru 1962 KRI Macan Tutul hanya memiliki torpedo yang jarak jangkauannya sangat pendek dan harus mendekat ke meriam Belanda, kini dengan Exocet, TNI AL bisa menjaga kedaulatan dengan risiko personel yang jauh lebih minimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *