
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam perspektif Islam, kisah Nabi Isa AS merupakan salah satu mukjizat terbesar yang mencakup peristiwa masa lalu dan peristiwa besar di masa depan menjelang hari kiamat.
Berikut adalah kronologi lengkapnya berdasarkan sumber Al-Qur'an dan Hadis sahih :
1. Peristiwa Pengangkatan ke Langit
Ketika kaum Yahudi yang menentang dakwah Nabi Isa AS berencana untuk membunuhnya, mereka mengepung tempat persembunyian beliau. Namun, Allah SWT menyelamatkan utusan-Nya dengan cara yang luar biasa.
- Penyerupaan Wajah: Allah mengubah wajah salah seorang pengkhianat (atau pengikut yang bersedia berkorban, menurut beberapa riwayat) menjadi sangat mirip dengan Nabi Isa AS. Orang inilah yang akhirnya ditangkap dan disalib.
- Proses Pengangkatan: Allah mengangkat Nabi Isa AS ke langit dalam keadaan hidup, baik ruh maupun jasadnya.
- Landasan Dalil: Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 157-158:"...Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka... Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya."
2. Munculnya Dajjal dan Fitnah Akhir Zaman
Nabi Isa AS saat ini berada di langit dan akan turun kembali ketika dunia berada dalam puncak kekacauan.
- Kondisi Dunia: Fitnah Dajjal telah merajalela. Dajjal melakukan perjalanan ke seluruh dunia, menyesatkan manusia dengan sihir dan pengakuan sebagai Tuhan.
- Pengepungan Umat Islam: Umat Islam yang tetap beriman terdesak hingga ke wilayah Syam (Damaskus/Yerusalem) di bawah kepemimpinan Imam Mahdi. Saat mereka bersiap untuk salat Subuh, barulah Nabi Isa AS turun.
3. Detik-detik Turunnya Nabi Isa AS
Berdasarkan hadis riwayat Muslim, berikut adalah detail kepulangan beliau:
- Lokasi: Beliau akan turun di Menara Putih (Al-Manaratul Baidha’) di timur kota Damaskus, Suriah.
- Penampilan: Beliau turun dengan mengenakan dua lembar pakaian yang dicelup minyak za'faran, sambil meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Rambutnya tampak basah seolah baru selesai mandi.
- Tugas Pertama: Beliau menolak menjadi imam salat karena kehormatan diberikan kepada Imam Mahdi dari umat Nabi Muhammad SAW, sebagai tanda bahwa Nabi Isa AS turun bukan membawa syariat baru, melainkan mengikuti syariat Islam.
4. Pertempuran dan Kematian Dajjal
Setelah salat, pengejaran terhadap Dajjal dimulai.
- Pengejaran ke Gerbang Lud: Nabi Isa AS mengejar Dajjal hingga ke Gerbang Lud (sebuah wilayah di Palestina/dekat Tel Aviv saat ini).
- Kematian Dajjal: Begitu Dajjal melihat Nabi Isa AS, tubuhnya mulai meleleh seperti garam yang terkena air. Nabi Isa AS kemudian menghujamkan tombaknya ke arah Dajjal hingga tewas.
- Kekalahan Pengikut Dajjal: Setelah pemimpinnya tewas, pasukan Dajjal kocar-kacir dan tidak ada tempat bagi mereka untuk bersembunyi.
5. Masa Kepemimpinan dan Kedamaian
Setelah fitnah Dajjal berakhir dan Ya’juj serta Ma’juj dibinasakan (juga atas doa Nabi Isa AS), dunia memasuki fase keemasan:
| Aspek | Kondisi di Masa Nabi Isa AS |
| Keadilan | Beliau memimpin dengan adil berdasarkan syariat Islam. |
| Simbolis | Beliau mematahkan salib dan membunuh babi (menghapus penyimpangan agama sebelumnya). |
| Kesejahteraan | Harta melimpah hingga tidak ada yang mau menerima sedekah. |
| Kedamaian | Permusuhan antarmanusia hilang, bahkan hewan buas dan ternak hidup berdampingan tanpa saling menyakiti. |
6. Wafatnya Nabi Isa AS
Nabi Isa AS tidak hidup selamanya di bumi. Setelah menjalankan tugasnya dan tinggal di bumi selama waktu yang ditentukan (beberapa riwayat menyebutkan 40 tahun):
- Wafat secara Alami: Beliau akan wafat seperti manusia pada umumnya.
- Pemakaman: Umat Islam akan mensolati jenazahnya dan memakamkannya. Beberapa riwayat menyebutkan beliau akan dimakamkan di dekat makam Nabi Muhammad SAW di Madinah, meskipun hal ini menjadi pembahasan di kalangan ulama.
Setelah wafatnya Nabi Isa AS, dunia perlahan akan kembali mengalami kemunduran moral hingga benar-benar terjadi kiamat besar (hancurnya alam semesta).
Menghadapi perbedaan narasi antara Islam dan Kristen mengenai akhir hidup Yesus (Nabi Isa AS) secara rasional memerlukan pendekatan analisis historis-kritis dan logika komparatif. Secara akal sehat, kita tidak bisa memaksakan satu iman di atas yang lain, namun kita bisa mencari "titik temu" atau penjelasan yang masuk akal mengapa perbedaan itu muncul.
Berikut adalah langkah-langkah rasional untuk mengompromikan dan memahami kedua informasi tersebut :
1. Memahami Titik Perbedaan Utama
Secara rasional, kita harus memetakan di mana letak perbedaannya:
- Perspektif Kristen: Yesus mati di salib sebagai penebus dosa, dikuburkan, bangkit pada hari ketiga, dan naik ke surga.
- Perspektif Islam: Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib; Allah mengangkatnya ke langit, dan yang disalib adalah orang yang diserupakan dengannya (teori Substitusi).
2. Analisis Rasional: Teori Penyerupaan vs. Fakta Visual
Salah satu cara mengompromikan ini secara akal sehat adalah dengan melihat aspek visual pada saat kejadian:
- Kesamaan: Kedua agama sepakat bahwa ada "sosok" yang dipaku di kayu salib di Bukit Golgota. Masyarakat pada saat itu melihat peristiwa penyaliban tersebut secara fisik.
- Kompromi Rasional: Secara historis, penyaliban itu terjadi di mata publik. Namun, Islam memberikan informasi "balik layar" bahwa sosok tersebut bukan Isa yang asli. Dalam logika hukum, ini disebut kekeliruan identitas (mistaken identity).
- Kesimpulan: Informasi Kristen benar secara "lahiriah/pengamatan manusia" pada saat itu, sedangkan informasi Islam mengklaim kebenaran "hakiki/metafisika".
3. Pendekatan "Swoon Theory" (Teori Pingsan)
Beberapa pemikir rasional mencoba mencari jalan tengah melalui teori bahwa Isa memang naik ke kayu salib, namun tidak sampai wafat.
- Beliau hanya pingsan atau mengalami mati suri (karena durasi penyaliban yang singkat).
- Setelah diturunkan, beliau dirawat, sembuh, dan kemudian "pergi" (diangkat atau hijrah).
- Hal ini menjelaskan mengapa murid-muridnya melihatnya "bangkit" (Kristen) dan mengapa Al-Qur'an mengatakan ia "tidak dibunuh/disalib hingga mati" (Islam).
4. Evaluasi Sumber Sejarah
Secara rasional, kita harus melihat jarak waktu penulisan sumber:
- Injil: Ditulis puluhan tahun setelah kejadian berdasarkan tradisi lisan murid-muridnya yang melihat kejadian dari jauh (karena mereka takut ditangkap).
- Al-Qur'an: Turun 600 tahun kemudian sebagai teks yang mengklaim fungsi Musaddiq (membenarkan yang asli) dan Muhaimin (mengoreksi yang melenceng).
Logika Rasional: Jika Anda adalah seorang hakim, Anda akan melihat bahwa narasi Kristen didasarkan pada saksi mata manusia (yang bisa tertipu oleh penglihatan), sementara narasi Islam didasarkan pada otoritas wahyu yang mengklaim memiliki data dari "Tuhan" yang mengatur peristiwa tersebut.
5. Sinkronisasi Akhir Zaman (Eskatologi)
Menariknya, kedua agama memiliki titik temu yang sangat kuat di masa depan:
- Keduanya sepakat bahwa Yesus/Isa AS akan turun kembali ke bumi.
- Keduanya sepakat ia akan mengalahkan kekuatan jahat (Dajjal/Antikristus).
Jalan Pemikiran Terdekat dengan Kebenaran: Secara rasional, jika kedua sumber yang berbeda secara fundamental ini sepakat pada satu titik (kepulangan Yesus), maka besar kemungkinan tokoh ini memang memiliki peran kosmik yang belum selesai.
Kesimpulan Rasional
Untuk mendapatkan pemikiran yang mendekati kebenaran, kita bisa menggunakan logika berikut:
- Penyaliban adalah fakta sejarah bagi saksi mata (Kristen benar secara empiris-manusiawi).
- Keselamatan Isa adalah fakta bagi keyakinan teologis (Islam benar secara metafisika-ketuhanan).
- Perbedaan ini muncul karena keterbatasan persepsi manusia saat itu. Tuhan "menyelamatkan" utusan-Nya tanpa harus menghilangkan peristiwa penyaliban itu sendiri dari panggung sejarah agar skenario dunia tetap berjalan.
Pendapat mufassir setentang penafsiran kata "mutawaffika" dalam Al-Qur'an, berikut berbagai pendapat mufassir tentang Imam Mahdi.
Kata "mutawaffika" ($mutawaffīka$) dalam Surah Ali Imran ayat 55 adalah titik sentral perdebatan linguistik dan teologis dalam memahami akhir hayat Nabi Isa AS. Kata ini berakar dari kata tawaffa, yang secara umum sering diartikan sebagai "mati", namun secara etimologis berarti "mengambil secara penuh".
Berikut adalah rincian penafsiran para mufassir dan pandangan mengenai Imam Mahdi :
1. Penafsiran Kata "Mutawaffika" ($mutawaffīka$)
Ayat lengkapnya berbunyi: “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mutawaffika dan mengangkatmu kepada-Ku...”
A. Makna "Mengambil Secara Penuh" (Jasad dan Ruh)
Sebagian besar mufassir arus utama (Ahlussunnah wal Jama'ah) berpendapat bahwa tawaffa di sini berarti Allah mengambil Nabi Isa secara utuh.
- Al-Thabari: Berpendapat bahwa Allah mengangkat Nabi Isa dalam keadaan hidup untuk menyelamatkannya dari musuh. Kata mutawaffika berarti "Aku mengambilmu dari bumi" (mencukupkan masa tinggalmu).
- Ibnu Katsir: Menegaskan bahwa Nabi Isa diangkat dalam keadaan hidup. Beliau merujuk pada ayat lain yang menyatakan Nabi Isa tidak dibunuh maupun disalib. Jadi, tawaffa bukan berarti kematian medis.
B. Makna "Menidurkan"
Beberapa mufassir melihat tawaffa sebagai kondisi non-aktifnya kesadaran, mirip dengan tidur.
- Al-Qurthubi: Menyebutkan satu pendapat bahwa Allah menidurkan Nabi Isa sebelum mengangkatnya ke langit agar beliau tidak merasa takut saat proses pengangkatan tersebut. Hal ini merujuk pada ayat lain di mana tidur disebut sebagai wafat kecil (Surah Az-Zumar: 42).
C. Makna "Wafat secara Medis" (Setelah Turun atau Sebelum Angkat)
- Pendapat Minoritas/Majazi: Sebagian kecil mufassir (seperti dalam beberapa tafsir kontemporer atau pemikiran rasionalis) berpendapat ada kemungkinan Nabi Isa wafat secara fisik terlebih dahulu baru ruhnya diangkat. Namun, pendapat ini ditolak oleh mayoritas karena dianggap bertentangan dengan ayat "tidak dibunuh dan tidak disalib".
- Makna Mu'akhkhar (Diakhirkan): Ada kaidah bahasa Arab Taqdim wa Ta’khir. Jadi maknanya: "Aku akan mengangkatmu (sekarang) dan akan mewatfatkanmu (nanti setelah turun ke bumi di akhir zaman)."
2. Berbagai Pendapat Mufassir tentang Imam Mahdi
Meskipun nama "Imam Mahdi" tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an, para mufassir menghubungkannya dengan ayat-ayat tentang kemenangan Islam (seperti Surah At-Taubah: 33 atau Al-Anbiya: 105) berdasarkan penjelasan Hadis Nabi SAW.
A. Pendapat Ahlussunnah wal Jama'ah
- Keturunan Nabi: Beliau adalah Muhammad bin Abdullah, keturunan Fatimah binti Rasulullah (dari jalur Hasan atau Husain).
- Peran: Muncul di akhir zaman untuk memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman. Beliau akan memimpin umat Islam selama 7 atau 9 tahun.
- Sinergi dengan Nabi Isa: Mufassir seperti Ibnu Katsir dan Al-Baghawi menjelaskan bahwa Imam Mahdi akan menjadi imam salat saat Nabi Isa turun di Damaskus. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah pemimpin politik dan agama umat Islam saat itu.
B. Pendapat Syiah
- Identitas: Mereka meyakini Imam Mahdi adalah Muhammad bin Hasan al-Askari (Imam ke-12).
- Status: Beliau diyakini sudah lahir dan saat ini berada dalam kondisi "Ghaibah" (persembunyian besar) atas izin Allah, dan akan muncul kembali di akhir zaman. Bagi Syiah, keberadaan Imam Mahdi adalah rukun iman yang sangat krusial.
C. Pandangan Sosiologis/Metaforis (Minoritas)
- Beberapa pemikir seperti Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya bersikap sangat kritis terhadap hadis-hadis Imam Mahdi. Meskipun tidak menolak secara total, beliau melihat fenomena "Mahdi" sering kali muncul sebagai simbol harapan sosial politik masyarakat yang tertindas.
- Sebagian kecil mufassir modern menganggap "Mahdi" bukanlah satu orang spesifik, melainkan simbol kebangkitan ilmu pengetahuan dan keadilan dalam Islam. Namun, pandangan ini dianggap menyimpang dari tekstual hadis yang bersifat Mutawatir (diriwayatkan sangat banyak orang).
Ringkasan Tabel Perbandingan
| Istilah/Tokoh | Makna Dominan | Tujuan Utama |
| Mutawaffika | Mengambil secara penuh (hidup-hidup) | Penyelamatan dari konspirasi pembunuhan. |
| Imam Mahdi | Pemimpin adil dari keturunan Nabi | Menyatukan umat dan menyiapkan panggung untuk Nabi Isa. |
| Nabi Isa AS | Utusan Allah yang diangkat | Membunuh Dajjal dan mengembalikan syariat tauhid. |
Secara rasional, keberadaan dua tokoh ini (Mahdi dan Isa) dalam eskatologi Islam berfungsi sebagai harapan puncak bahwa kebatilan (Dajjal) pada akhirnya akan hancur bukan hanya dengan kekuatan fisik, tapi dengan otoritas spiritual yang sah.
Korelasi antara Nabi Isa AS dan Imam Mahdi bukan sekadar pertemuan dua tokoh besar, melainkan sebuah sinergi strategis antara otoritas kenabian dan kepemimpinan umat untuk meruntuhkan sistem kemusyrikan yang mencapai puncaknya di akhir zaman (diwakili oleh Dajjal).
1. Pembagian Peran: Legitimasi dan Eksekusi
Secara rasional, perjuangan melawan kemusyrikan membutuhkan dua pilar: Legitimasi Syariat dan Kepemimpinan Politik/Militer.
- Imam Mahdi (Pemimpin Internal Umat): Beliau berperan menyatukan internal umat Islam yang sebelumnya terpecah belah. Mahdi mengonsolidasi kekuatan dan menegakkan keadilan sosial di atas pondasi tauhid.
- Nabi Isa AS (Legitimasi Universal): Kehadiran Isa AS berfungsi untuk mematahkan klaim-klaim teologis yang menyimpang. Karena beliau adalah sosok yang disembah secara keliru oleh sebagian besar dunia (sebagai Tuhan/Anak Tuhan), kemunculannya kembali untuk bersujud kepada Allah akan menghancurkan akar kemusyrikan tersebut secara total.
2. Penghancuran Simbol Kemusyrikan
Korelasi keduanya terlihat jelas dalam misi spesifik yang disebutkan dalam hadis:
- Mematahkan Salib: Nabi Isa AS akan mematahkan salib, yang secara simbolis bermakna menghentikan penyembahan kepada makhluk dan mengembalikan manusia pada tauhid murni (hanya menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa).
- Membunuh Dajjal: Dajjal adalah puncak kemusyrikan karena ia mengaku sebagai Tuhan. Imam Mahdi yang memimpin pasukan Muslim akan menyudutkan Dajjal, namun secara simbolis "hak" untuk mengeksekusi Dajjal diberikan kepada Nabi Isa AS. Hal ini menunjukkan bahwa kepalsuan ketuhanan hanya bisa dihancurkan oleh kebenaran kenabian.
3. Penegakan Syariat Tunggal
Dalam masyarakat tauhid yang mereka bangun, tidak ada lagi ruang untuk pluralisme teologis yang bercampur kesyirikan.
- Penghapusan Jizyah: Para ulama menjelaskan bahwa pada masa itu, Nabi Isa AS tidak lagi menerima Jizyah (pajak perlindungan bagi non-Muslim). Mengapa? Karena kebenaran sudah begitu nyata sehingga pilihannya hanya satu: Islam (Tauhid) atau tetap dalam kekafiran yang akan sirna.
- Satu Imam, Satu Makmum: Saat Nabi Isa AS salat di belakang Imam Mahdi, ini adalah pesan kuat bagi seluruh dunia bahwa Tauhid yang dibawa semua Nabi adalah satu. Tidak ada pemisahan antara "Agama Isa" dan "Agama Muhammad"; keduanya menyembah Tuhan yang sama.
4. Transformasi Masyarakat: Dari Materialisme ke Spiritualitas
Masyarakat tauhid yang mereka bangun ditandai dengan perubahan perilaku sosial yang drastis:
- Keadilan Ekonomi: Imam Mahdi mendistribusikan harta secara merata hingga tidak ada lagi orang yang mau menerima sedekah. Secara rasional, ini menghancurkan "kemusyrikan harta" (materialisme), di mana manusia biasanya lebih menuhankan uang daripada Allah.
- Kedamaian Semesta: Dengan hilangnya kemusyrikan, keberkahan turun dari langit. Permusuhan antarmanusia dan hewan hilang. Ini adalah korelasi langsung antara Tauhid (hubungan baik dengan Pencipta) dan Harmoni (hubungan baik dengan sesama makhluk).
Ringkasan Korelasi
| Dimensi | Peran Imam Mahdi | Peran Nabi Isa AS |
| Status | Khalifah (Pemimpin Dunia) | Nabi (Saksi Kebenaran) |
| Target | Pembersihan kezaliman sistemik | Pembersihan penyimpangan akidah |
| Metode | Jihad dan Keadilan Sosial | Mukjizat dan Kebenaran Teologis |
| Hasil | Persatuan umat Islam | Runtuhnya dogma syirik global |
Kesimpulan:
Imam Mahdi menyiapkan "wadah" (masyarakat yang adil), sementara Nabi Isa AS membawa "ruh" (kebenaran tauhid yang mutlak). Bersama-sama, mereka menutup sejarah manusia dengan kemenangan cahaya atas kegelapan, membuktikan bahwa pada akhirnya, kemusyrikan bersifat rapuh dan akan hancur oleh persatuan antara pemimpin yang adil dan nabi yang benar.