info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Peristiwa Penting Tahun 570 M ( 8 )
Peristiwa Penting Tahun 570 M ( 8 )
Peristiwa Penting Tahun 570 M ( 8 )

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Tahun 1299 M menjadi titik balik sejarah dunia ketika Osman I (Osman Ghazi) memproklamasikan kemerdekaan wilayahnya dari Kesultanan Seljuk Rum yang sedang runtuh. Inilah awal mula Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman), sebuah kekaisaran yang nantinya akan bertahan selama lebih dari 600 tahun dan membentang di tiga benua.

Berikut adalah kisah awal berdirinya raksasa dari Anatolia ini :

1. Asal-Usul: Suku Kayi dan Ertugrul

Sebelum Osman, ayahnya yang bernama Ertugrul Bey memimpin suku Kayi, salah satu kabilah Turki Oghuz yang bermigrasi dari Asia Tengah karena menghindari serangan Mongol.

  • Hadiah Wilayah: Karena membantu Sultan Seljuk melawan Bizantium, Ertugrul diberi wilayah kecil bernama Sogut di perbatasan Bizantium (Turki modern).
  • Misi Ghazat: Suku ini hidup dengan semangat Ghazat (berjuang di jalan Allah), yang membuat mereka sangat disiplin dan tangguh secara militer.

2. Osman I: Sang Pendiri (1299–1324 M)

Setelah Ertugrul wafat, Osman mengambil alih kepemimpinan. Ia memiliki visi yang lebih besar daripada sekadar menjadi kepala suku.

  • Mimpi Osman: Legenda mengatakan Osman bermimpi sebuah pohon besar tumbuh dari dadanya dan naungannya menutupi seluruh dunia. Syekh Edebali (gurunya) menafsirkan bahwa keturunan Osman akan menguasai dunia.
  • Kemerdekaan (1299 M): Ketika Mongol melumpuhkan kekuasaan Seljuk, Osman berhenti mengirim upeti dan menyatakan wilayahnya sebagai negara berdaulat.
  • Strategi Penaklukan: Osman tidak menyerang sesama Muslim, melainkan fokus merebut kota-kota Bizantium yang lemah satu per satu.

3. Orhan Ghazi: Menuju Negara yang Terstruktur

Putra Osman, Orhan, melanjutkan ekspansi dan mengubah organisasi suku menjadi sebuah negara semi-modern.

  • Penaklukan Bursa (1326 M): Bursa menjadi ibu kota pertama Utsmaniyah. Ini adalah transisi dari kehidupan nomaden suku Kayi menjadi masyarakat perkotaan yang menetap.
  • Pasukan Janissary: Orhan mulai membentuk korps infantri elit yang nantinya menjadi pasukan paling ditakuti di Eropa.
  • Menyeberang ke Eropa: Di bawah Orhan, pasukan Utsmaniyah pertama kali menginjakkan kaki di daratan Eropa (Gelibolu/Gallipoli), memulai pengepungan terhadap wilayah Balkan.

4. Mengapa Utsmaniyah Tumbuh Sangat Cepat?

Ada beberapa faktor yang membuat kerajaan kecil ini bisa menelan Bizantium dan kerajaan-kerajaan sekitarnya:

  1. Posisi Geografis: Terletak di perbatasan Bizantium, mereka menjadi magnet bagi para pejuang (Ghazi) yang ingin berjihad.
  2. Sistem Keadilan: Utsmaniyah menawarkan pajak yang lebih rendah dan perlindungan hukum yang lebih baik bagi rakyat Kristen Bizantium dibandingkan kaisar mereka sendiri.
  3. Persaudaraan Ahi: Dukungan dari organisasi pengrajin dan ulama (Ahi) yang memberikan stabilitas sosial dan ekonomi.

5. Garis Waktu Singkat Awal Utsmaniyah

TahunPeristiwa Penting
1299 MOsman I menyatakan kemerdekaan di Sogut.
1326 MBursa ditaklukkan dan menjadi ibu kota.
1354 MPasukan Utsmaniyah mulai menguasai wilayah di Eropa (Balkan).
1389 MPertempuran Kosovo; Utsmaniyah mengukuhkan dominasi di Balkan.
1453 MMuhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.

Warisan Awal

Berdirinya Utsmaniyah menggeser pusat kekuatan dunia Islam dari Mesir (Mamluk) ke Anatolia (Turki). Mereka menggabungkan kegagahan militer suku Turki dengan sistem administrasi Persia dan hukum Islam.

Kisah ini nantinya mencapai puncaknya pada tahun 1453 M, ketika pemuda berusia 21 tahun, Sultan Muhammad Al-Fatih, mewujudkan nubuat Rasulullah SAW dengan menaklukkan Konstantinopel.

Pembangunan Observatorium Ulugh Beg di Samarkand (Uzbekistan modern) antara tahun 1420–1437 M merupakan salah satu pencapaian sains tertinggi dalam sejarah peradaban Islam. Pada masa itu, observatorium ini adalah yang paling canggih di dunia, melampaui teknologi yang ada di Eropa maupun Tiongkok.

1. Sosok di Baliknya: Sultan Ulugh Beg

Berbeda dengan penguasa Timuriyah lainnya yang fokus pada penaklukan militer, Ulugh Beg (cucu Timur Lenk) adalah seorang Sultan Ilmuwan. Ia lebih mencintai matematika dan astronomi daripada peperangan. Ia ingin menjadikan Samarkand sebagai pusat intelektual dunia.

2. Arsitektur dan Teknologi Canggih

Observatorium ini berbentuk silinder raksasa berlantai tiga dengan diameter sekitar 46 meter. Keunikan utamanya terletak pada instrumen raksasa yang tertanam di dalamnya:

  • Sekstan Raksasa (Fakhri Sextant): Ini adalah instrumen utama berupa busur derajat raksasa dengan radius 40 meter. Busur ini dibangun sangat presisi di dalam parit batu yang dalam untuk menjaga kestabilannya dari getaran.
  • Ketelitian Ekstrem: Karena ukurannya yang masif, Ulugh Beg dapat mengukur posisi bintang dan planet dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dengan alat kecil genggam pada masa itu.

3. Hasil Karya: Zij-i-Sultani

Hasil pengamatan selama belasan tahun di observatorium ini dibukukan dalam sebuah katalog bintang legendaris bernama Zij-i-Sultani. Katalog ini mencakup:

  • Posisi 1.018 bintang dengan akurasi yang luar biasa.
  • Perhitungan Tahun Tropis: Ulugh Beg menghitung panjang satu tahun adalah 365 hari, 5 jam, 49 menit, dan 15 detik. Perhitungan ini hanya berselisih 25 detik dari perhitungan satelit modern saat ini!
  • Kemiringan Sumbu Bumi: Ia menghitung kemiringan ekliptika bumi dengan angka yang sangat mendekati kebenaran ilmiah modern.

4. Pusat Intelektual Samarkand

Observatorium ini tidak berdiri sendiri. Ulugh Beg juga mendirikan Madrasah Samarkand di Alun-alun Registan. Ia mengumpulkan para ilmuwan jenius pada zamannya, seperti:

  • Al-Kashi: Pakar matematika yang menghitung nilai $\pi$ (pi) hingga 16 angka desimal.
  • Ali Qushji: Astronom yang kemudian membawa ilmu ini ke Kesultanan Utsmaniyah di Istanbul setelah kematian Ulugh Beg.

5. Kehancuran dan Penemuan Kembali

Setelah Ulugh Beg wafat (terbunuh akibat intrik politik pada 1449 M), observatorium ini dihancurkan oleh kelompok fanatik agama yang tidak menyukai sains. Lokasinya pun terlupakan selama berabad-abad.

  • Penemuan Kembali (1908): Arkeolog Rusia, Vasily Vyatkin, menemukan sisa-sisa parit sekstan raksasa tersebut setelah meneliti dokumen tanah kuno. Saat ini, situs tersebut menjadi museum dan diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Manfaat Jangka Panjang

Karya-karya dari Samarkand ini menjadi fondasi bagi astronom Eropa di masa depan, seperti Johannes Kepler dan Tycho Brahe. Hingga abad ke-17, Zij-i-Sultani tetap menjadi referensi standar astronomi di seluruh dunia, dari Inggris hingga India.

Penaklukan Konstantinopel pada 29 Mei 1453 adalah salah satu peristiwa paling transformatif dalam sejarah peradaban manusia. Peristiwa ini mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) yang telah bertahan selama 1.000 tahun dan menandai dimulainya era kejayaan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).

Tokoh utamanya adalah Sultan Muhammad II, yang kemudian dikenal dengan gelar Al-Fatih (Sang Penakluk), yang saat itu baru berusia 21 tahun.

1. Ambisi dan Nubuat

Bagi dunia Islam, penaklukan Konstantinopel bukan sekadar ekspansi wilayah, melainkan perwujudan dari nubuat Rasulullah SAW:

"Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan."

Sebelum Al-Fatih, banyak khalifah dari dinasti Umayyah hingga Ayyubiyah mencoba menaklukkannya namun gagal karena benteng kota yang legendaris.


2. Benteng Theodosius: Pertahanan "Tak Terkalahkan"

Konstantinopel dilindungi oleh Benteng Theodosius, sistem pertahanan tiga lapis yang sangat tebal dan tinggi. Selain itu, sisi lautnya dilindungi oleh Rantai Raksasa yang membentang di teluk Tanduk Emas (Golden Horn), mencegah kapal musuh masuk ke pelabuhan.


3. Strategi Jenius Al-Fatih

Sultan Muhammad Al-Fatih menggunakan teknologi dan taktik yang melampaui zamannya:

  • Meriam Raksasa (Basilica): Ia menyewa insinyur bernama Orban untuk menciptakan meriam terbesar di dunia saat itu. Meriam ini mampu menembakkan bola batu seberat 600 kg untuk menghancurkan tembok tebal Bizantium.
  • Memindahkan Kapal Lewat Darat: Ini adalah manuver paling legendaris. Karena teluk Tanduk Emas ditutup rantai raksasa, Al-Fatih memerintahkan pasukannya untuk mengangkut 70 kapal perang melewati bukit Galata dalam satu malam dengan menggunakan kayu yang dilumuri lemak. Paginya, penduduk Bizantium terkejut melihat armada Utsmaniyah sudah berada di dalam teluk mereka.

4. Detik-Detik Penaklukan

Setelah pengepungan selama 53 hari, pada dini hari 29 Mei 1453, serangan umum dilancarkan:

  • Pasukan elit Janissary berhasil menemukan titik lemah di tembok kota.
  • Kaisar terakhir Bizantium, Konstantinus XI, gugur dalam pertempuran di gerbang kota.
  • Al-Fatih memasuki kota dengan rendah hati, menuju gereja Hagia Sophia, dan mengubahnya menjadi masjid sebagai simbol kemenangan.

5. Dampak Dunia yang Luar Biasa

Penaklukan ini mengubah peta politik dan sosial dunia secara permanen:

BidangDampak
GeopolitikUtsmaniyah menjadi kekaisaran transkontinental yang menguasai jalur perdagangan antara Asia dan Eropa.
Zaman RenaissanceBanyak ilmuwan Bizantium melarikan diri ke Italia membawa manuskrip Yunani kuno, yang memicu lahirnya era Renaissance di Eropa.
Penjelajahan SamudraKarena jalur darat ke Asia dikuasai Utsmaniyah, bangsa Eropa (Spanyol/Portugis) mulai mencari jalur laut alternatif, yang berujung pada penemuan Amerika dan jalur ke Indonesia.
Teknologi MiliterMembuktikan bahwa era ksatria berbaju besi dan tembok batu sudah berakhir, digantikan oleh era Mesiu dan Artileri.

6. Kebijakan Al-Fatih Pasca Penaklukan

Meskipun menang perang, Al-Fatih menunjukkan toleransi yang tinggi. Ia memberikan jaminan keamanan kepada penduduk Kristen dan Yahudi, mengizinkan mereka menjalankan agama masing-masing, serta mengundang seniman dan ilmuwan dari seluruh dunia untuk membangun kembali Konstantinopel yang kemudian dikenal sebagai Istanbul.

Setelah menaklukkan Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih tidak menghancurkan kota tersebut, melainkan membangunnya kembali sebagai pusat peradaban dunia yang baru. Ia mengubah citra Istanbul dari kota yang sekarat menjadi kota paling kosmopolitan, maju, dan toleran pada abad ke-15.

Berikut adalah bagaimana Al-Fatih mengorganisir dan merevolusi Istanbul :

1. Kebijakan Kependudukan: "Kota untuk Semua"

Konstantinopel saat jatuh hanya berpenduduk sekitar 50.000 jiwa (sangat sepi untuk ukuran kota besar). Al-Fatih melakukan langkah-langkah drastis:

  • Repopulasi Paksa dan Sukarela: Ia memerintahkan pemindahan penduduk dari berbagai wilayah kekuasaannya (Anatolia dan Balkan), baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi, untuk menetap di Istanbul.
  • Insentif Ekonomi: Penduduk yang pindah diberi rumah, tanah, dan pembebasan pajak sementara agar roda ekonomi segera berputar.
  • Sistem Millet: Al-Fatih memberikan otonomi hukum dan agama kepada komunitas non-Muslim. Umat Kristen Ortodoks memiliki pemimpin mereka sendiri (Patriark), begitu pula komunitas Yahudi dan Armenia.

2. Transformasi Arsitektur: Dari Hagia Sophia ke Masjid Fatih

Al-Fatih ingin Istanbul memiliki karakter Islam tanpa menghapus kemegahan masa lalunya.

  • Hagia Sophia: Diubah menjadi masjid dengan menambahkan menara, namun mosaik-mosaik berharga di dalamnya hanya ditutup (tidak dihancurkan), menunjukkan penghormatan pada seni.
  • Kompleks Fatih (Kulliye): Ia membangun Masjid Fatih yang dikelilingi oleh 8 madrasah, rumah sakit, dapur umum (Imaret), perpustakaan, dan pemandian umum. Ini adalah model "pusat layanan masyarakat" terpadu pertama di dunia Islam.
  • Istana Topkapi: Dibangun sebagai pusat pemerintahan dan kediaman Sultan. Istana ini dirancang dengan taman-taman indah yang mencerminkan konsep surga dalam Islam.

3. Istanbul sebagai Pusat Intelektual dan Seni

Al-Fatih adalah seorang Polyglot (menguasai 7 bahasa) dan pecinta seni Renaissance.

  • Sahn-ı Seman: Madrasah di kompleks Fatih menjadi universitas paling bergengsi, tempat berkumpulnya ilmuwan dari Persia, Arab, dan Eropa untuk belajar hukum, kedokteran, hingga astronomi.
  • Seniman Italia: Al-Fatih mengundang pelukis terkenal dari Venesia, Gentile Bellini, untuk melukis potretnya. Ini adalah langkah yang sangat progresif dan berani pada masanya.

4. Pusat Perdagangan: Grand Bazaar (Kapalıçarşı)

Untuk membiayai renovasi kota, Al-Fatih membangun Grand Bazaar pada tahun 1455.

  • Pasar Tertutup: Ini adalah cikal bakal mal modern. Ribuan toko dibangun di bawah satu atap yang terlindungi.
  • Hub Logistik: Istanbul menjadi titik pertemuan jalur sutra darat dan jalur rempah laut. Segala barang dari sutra Tiongkok, rempah Nusantara, hingga emas Afrika melewati pasar ini.

5. Keajaiban Infrastruktur

Al-Fatih memperbaiki sistem saluran air (akuaduk) Romawi yang rusak dan membangun ratusan jembatan serta jalan baru. Ia memastikan Istanbul memiliki pasokan air bersih yang melimpah untuk mendukung populasi yang terus meledak.


Warisan Al-Fatih

Dalam waktu kurang dari 50 tahun, populasi Istanbul melonjak dari 50.000 menjadi hampir 500.000 jiwa, menjadikannya kota terbesar di Eropa pada saat itu. Visi Al-Fatih menciptakan fondasi bagi Istanbul untuk tetap menjadi pusat politik dan budaya dunia hingga jatuhnya kesultanan pada tahun 1922.

Masa pemerintahan Sultan Suleiman I (1520–1566 M), yang dikenal di Barat sebagai Suleiman the Magnificent (Suleiman yang Agung) dan di Timur sebagai Suleiman Al-Qanuni (Sang Pemberi Hukum), adalah puncak kejayaan absolut Kesultanan Utsmaniyah.

Pada era ini, Utsmaniyah bukan hanya menjadi kekuatan militer paling ditakuti, tetapi juga pusat kebudayaan, hukum, dan ekonomi dunia. Berikut adalah pilar-pilar keemasan masa Sultan Suleiman :

1. Ekspansi Militer: "Penakluk Tiga Benua"

Suleiman memimpin sendiri 13 kampanye militer besar yang memperluas wilayah Utsmaniyah hingga mencapai titik terjauhnya.

  • Eropa: Ia menaklukkan Beograd (1521) dan menghancurkan kekuatan Hungaria dalam Pertempuran Mohacs (1526). Pasukannya bahkan sempat mengepung Wina pada 1529, yang menggetarkan seluruh kerajaan Kristen di Eropa.
  • Timur Tengah & Afrika: Ia merebut Baghdad dari Persia (Safawiyah) dan menguasai sebagian besar Afrika Utara hingga Aljazair.
  • Dominasi Laut: Di bawah laksamana legendaris Hayreddin Barbarossa, angkatan laut Utsmaniyah menguasai Laut Mediterania, Laut Merah, dan Teluk Persia.

2. Gelar "Al-Qanuni": Reformasi Hukum

Meskipun di Barat ia dikenal karena penaklukannya, bagi rakyatnya ia adalah Al-Qanuni.

  • Kodifikasi Hukum: Ia menyusun ulang seluruh sistem hukum Utsmaniyah. Ia menyeimbangkan hukum Syariah (agama) dengan hukum Kanun (sipil/adat) agar berlaku adil bagi seluruh rakyatnya, termasuk warga non-Muslim.
  • Perlindungan Rakyat: Hukumnya sangat ketat dalam mencegah korupsi dan memastikan pejabat tidak menindas petani atau pedagang kecil.

3. Puncak Arsitektur: Sentuhan Mimar Sinan

Keemasan Suleiman diabadikan dalam bentuk batu dan marmer melalui karya arsitek jenius Mimar Sinan.

  • Masjid Suleymaniye: Dibangun di Istanbul, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi kompleks raksasa yang mencakup sekolah, rumah sakit, dan dapur umum.
  • Restorasi Yerusalem: Suleiman-lah yang membangun dinding kokoh yang hingga hari ini mengelilingi Kota Tua Yerusalem dan memperbaiki infrastruktur di Makkah serta Madinah.

4. Diplomasi dan Ekonomi

Suleiman adalah pemain catur politik yang handal.

  • Aliansi Perancis: Ia menjalin aliansi strategis dengan Raja Francois I dari Perancis untuk melawan dominasi Kekaisaran Habsburg (Austria-Spanyol). Ini adalah aliansi pertama antara negara Muslim dan Kristen di Eropa.
  • Pusat Perdagangan: Dengan menguasai jalur darat (Jalur Sutra) dan jalur laut (Mediterania), kas negara Utsmaniyah sangat melimpah. Istanbul menjadi kota terkaya dan paling modern pada abad ke-16.

5. Kehidupan Budaya dan Seni

Sultan Suleiman sendiri adalah seorang penyair berbakat (dengan nama pena Muhibbi) dan pengagum seni.

  • Ehl-i Hiref (Komunitas Pengrajin): Istana mempekerjakan ribuan pengrajin terbaik, mulai dari pembuat keramik Iznik, penenun sutra, hingga penulis kaligrafi.
  • Sastra dan Sejarah: Era ini melahirkan banyak sejarawan dan penyair besar yang mencatat kejayaan kekaisaran dalam manuskrip-manuskrip indah berhiaskan emas.

6. Kisah Cinta Legendaris: Hurrem Sultan

Keemasan ini juga diwarnai dengan perubahan tradisi istana. Suleiman jatuh cinta dan menikahi Hurrem Sultan (Roxelana), seorang wanita asal Ukraina yang awalnya adalah tawanan.

  • Hurrem menjadi penasihat politik yang sangat berpengaruh, memulai era yang disebut sebagai "Sultanat Wanita", di mana permaisuri memiliki peran besar dalam urusan negara.

Akhir Era Keemasan

Sultan Suleiman wafat pada tahun 1566 saat memimpin pengepungan di Szigetvar, Hungaria. Ia meninggalkan sebuah kekaisaran yang stabil, kaya, dan tak tertandingi. Namun, kepergiannya juga menandai awal dari tantangan internal yang perlahan-lahan mulai muncul di masa penerusnya.

Kejayaan Suleiman membuktikan bahwa kekuatan militer yang hebat akan jauh lebih abadi jika dibarengi dengan keadilan hukum dan kemajuan budaya.

Setelah wafatnya Suleiman, apakah Anda ingin membahas bagaimana Dinasti Safawiyah di Persia (saingan berat Utsmaniyah) juga mencapai masa keemasannya di bawah Shah Abbas I

Jika Kesultanan Utsmaniyah memiliki Suleiman yang Agung, maka bangsa Persia memiliki Shah Abbas I (memerintah 1587–1629 M) dari Dinasti Safawiyah. Ia adalah sosok yang membangkitkan kembali kejayaan Persia dan menjadikan Isfahan sebagai salah satu kota terindah di dunia.

Berikut adalah pilar keemasan Dinasti Safawiyah di bawah Shah Abbas I :

1. Reformasi Militer: Pasukan "Ghulam"

Saat naik takhta, Abbas I menghadapi ancaman dari Utsmaniyah di barat dan suku Uzbek di timur. Ia menyadari pasukan suku tradisional (Qizilbash) sulit dikendalikan.

  • Pasukan Pusat: Ia membentuk pasukan elit yang disebut Ghulam (mirip Janissary Utsmaniyah), yang terdiri dari pemuda Kristen (Georgia dan Armenia) yang masuk Islam dan setia langsung kepada Shah.
  • Teknologi Senjata Api: Dengan bantuan penasihat militer dari Inggris (Robert Shirley), Abbas I memperlengkapi pasukannya dengan artileri dan musket modern, sehingga mampu merebut kembali wilayah yang sebelumnya jatuh ke tangan Utsmaniyah.

2. Isfahan: "Nisf-e-Jahan" (Setengah Dunia)

Shah Abbas memindahkan ibu kota ke Isfahan pada tahun 1598. Ia membangun kota ini dengan perencanaan tata kota yang luar biasa, hingga muncul pepatah "Isfahan nesf-e-jahan" (Isfahan adalah setengah dunia).

Pusat keindahan Isfahan adalah Alun-alun Naqsh-e Jahan, yang dikelilingi oleh:

  • Masjid Shah (Masjid Imam): Mahakarya arsitektur dengan ubin keramik biru yang memukau.
  • Masjid Syekh Lotfollah: Masjid tanpa menara yang digunakan khusus untuk keluarga kerajaan.
  • Istana Ali Qapu: Tempat Shah menonton pertandingan polo dan menerima duta besar asing.

3. Ekonomi dan Jalur Sutra

Shah Abbas sangat paham pentingnya perdagangan global.

  • Monopoli Sutra: Ia menjadikan sutra sebagai komoditas ekspor utama negara ke Eropa.
  • Komunitas Armenia: Ia memindahkan ribuan pengrajin dan pedagang Armenia ke distrik Julfa Baru di Isfahan. Mereka menjadi perantara perdagangan internasional Safawiyah dengan dunia Barat.
  • Keamanan Karavan: Ia membangun ratusan Karavanserai (penginapan pinggir jalan) yang aman di sepanjang jalur perdagangan untuk menarik minat pedagang asing.

4. Diplomasi dan Toleransi

Berbeda dengan penguasa sebelumnya yang sangat kaku dalam ideologi Syiah, Shah Abbas lebih pragmatis.

  • Hubungan dengan Eropa: Ia menjalin hubungan diplomatik dengan Inggris, Belanda, dan Spanyol untuk mengimbangi kekuatan Utsmaniyah.
  • Toleransi Beragama: Ia mengizinkan pendirian gereja bagi komunitas Kristen Armenia dan memperlakukan kaum minoritas dengan baik selama mereka berkontribusi pada kemakmuran negara.

5. Warisan Seni dan Budaya

Era ini adalah masa keemasan bagi seni lukis miniatur Persia, kaligrafi, dan kerajinan karpet. Karpet Persia dari masa Safawiyah menjadi sangat halus dan detail, yang hingga kini masih dianggap sebagai karpet terbaik di dunia.


Perbandingan: Utsmaniyah vs Safawiyah

Meskipun sama-sama merupakan "Kekaisaran Mesiu" (Gunpowder Empires), keduanya memiliki perbedaan karakter:

  • Utsmaniyah: Lebih fokus pada ekspansi wilayah ke Eropa dan administrasi hukum yang kaku.
  • Safawiyah: Lebih fokus pada keanggunan seni, estetika arsitektur, dan identitas budaya Persia yang khas.

Persaingan antara Suleiman (Utsmaniyah) dan Shah Abbas (Safawiyah) sering kali disebut sebagai "Perang Dingin" abad pertengahan antara kekuatan Sunni di barat dan Syiah di timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *