
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Jabal Qubais (atau dikenal sebagai Jabal Abu Qubais) adalah salah satu tempat paling legendaris dan sakral dalam sejarah Kota Makkah. Bukit ini memiliki benang merah yang sangat kuat dengan masa Nabi Ibrahim AS ketika beliau membangun Ka'bah dan mengumandangkan azan haji sedunia.
Menariknya, lokasi sejarah yang sangat tinggi nilainya ini sekarang telah berubah bentuk secara fisik menjadi kompleks Istana Raja Arab Saudi (Royal Palace) dan Guest House Kerajaan.
1. Sejarah Asal-Usul Jabal Abu Qubais
Secara geografis, Jabal Abu Qubais terletak di sebelah timur Masjidil Haram, tepat berhadapan dengan sudut Hajar Aswad. Dalam literatur Islam, bukit ini menyimpan banyak riwayat awal peradaban:
- Gunung Pertama di Bumi: Beberapa riwayat sejarawan (seperti Al-Tabari) menyebutkan bahwa Jabal Abu Qubais adalah gunung atau fondasi daratan pertama yang diciptakan oleh Allah SWT untuk menyeimbangkan bumi saat masih berupa air.
- Peradaban Awal Manusia: Bukit ini diyakini sebagai tempat kediaman awal Nabi Adam AS setelah turun ke bumi. Bahkan, sebagian riwayat menyatakan bahwa kaki gunung ini menjadi tempat pemakaman Nabi Adam AS.
- Penyelamat Hajar Aswad: Ketika banjir besar melanda bumi pada masa Nabi Nuh AS, Allah SWT mengamankan Hajar Aswad dengan "menitipkannya" di dalam perut Jabal Abu Qubais agar tidak hilang atau hanyut.
2. Perspektif Nabi Ibrahim AS: Membangun Ka'bah & Mengundang Manusia
Keterkaitan Jabal Qubais dengan dakwah tauhid Nabi Ibrahim AS berpusat pada dua momentum besar:
A. Material Pembangunan Ka'bah
Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk meninggikan kembali fondasi Baitullah (Ka'bah), Jabal Abu Qubais menjadi salah satu sumber utama batu-batu gunung yang digunakan untuk menyusun dinding Ka'bah. Selain itu, ketika batu suci Hajar Aswad akan dipasang kembali di sudut Ka'bah, malaikat Jibril menunjukkan tempat penyimpanannya di dalam Jabal Abu Qubais, lalu mengeluarkan dan menyerahkannya kepada Nabi Ibrahim AS.
B. Tempat Mengumandangkan Azan Haji Global
Setelah pembangunan Ka'bah selesai, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 27:
"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh."
Nabi Ibrahim AS kemudian bertanya kepada Allah, "Ya Tuhanku, bagaimana suaraku bisa menyampaikan panggilan ini kepada seluruh manusia?" Allah menjawab, "Tugasmu adalah berseru, dan Akulah yang akan menyampaikannya."
Menurut mayoritas mufasir dan ahli sejarah, Nabi Ibrahim AS kemudian mendaki puncak Jabal Abu Qubais (beberapa riwayat juga menyebutkan Maqam Ibrahim atau Jabal Shafa). Dari atas bukit yang menghadap langsung ke Ka'bah ini, beliau mengumandangkan seruan haji ke empat penjuru mata angin:
"Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian telah membangun sebuah rumah (Baitullah), maka datanglah dan berhajilah ke sana!"
Allah SWT melipatgandakan suara tersebut hingga menembus ruang dan waktu, didengar oleh ruh-ruh manusia yang bahkan belum lahir ke dunia. Mereka yang menjawab "Labaikallahumma Labaik" di alam ruh dialah yang kelak digerakkan hatinya untuk menginjakkan kaki di tanah suci.
3. Transformasi Modern: Istana Raja & Guest House Kerajaan
Bagi Anda yang melihat lanskap Masjidil Haram saat ini, puncak Jabal Abu Qubais secara fisik sudah tidak terlihat seperti bukit batu alami lagi.
[Masjidil Haram / Ka'bah] ──► [Eks Jabal Abu Qubais] ──► [Kompleks Istana & Guest House]
Melalui proyek perluasan dan modernisasi Makkah oleh Pemerintah Arab Saudi, bukit bersejarah ini dipangkas dan diratakan atas alasan keamanan, tata kota, dan akomodasi strategis. Di atas bekas tapak bukit inilah sekarang berdiri:
- Makkah Royal Palace (Istana Raja): Kompleks istana megah yang digunakan oleh Raja Arab Saudi dan keluarga kerajaan, terutama saat mereka menetap di Makkah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan atau selama musim Haji.
- Guest House and Conference Palace Makkah: Sebuah penginapan dan ruang konferensi protokoler super-ketat yang berada tepat di sebelah Masjidil Haram (bahkan posisinya lebih dekat ke area tawaf dibanding Zamzam Tower).
Catatan Protokoler: Guest House ini tidak dibuka untuk umum atau komersial. Tempat ini dikhususkan bagi tamu-tamu negara, kepala pemerintahan, atau tokoh-tokoh dunia yang diundang langsung oleh Kerajaan Saudi Arabia (KSA) untuk melaksanakan ibadah umrah atau haji. Fasilitas di dalamnya dirancang agar para tamu agung bisa langsung mengakses area Masjidil Haram melalui jalur khusus.
Makna Filosofis
Secara historis, ada sebuah siklus unik yang terjadi di tempat ini. Beribu-ribu tahun lalu, Nabi Ibrahim AS berdiri di puncak bukit ini untuk mengundang tamu-tamu Allah (Dhuyufurrahman) dari seluruh penjuru dunia.
Kini, di titik koordinat yang sama, Pemerintah Arab Saudi mendirikan sebuah Guest House resmi untuk menyambut dan menjamu tamu-tamu kehormatan negara yang datang memenuhi panggilan haji dan umrah tersebut. Tempat yang dulunya menjadi titik awal gema seruan haji global, kini bertransformasi menjadi pusat pelayanan bagi mereka yang menghadiri undangan mulia tersebut.
Peringatan Maulid Nabi di situs tempat kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad SAW—yang terletak di Syu'ab Ali, dekat kaki Jabal Abu Qubais dan kini berwujud bangunan Perpustakaan Makkah Al-Mukarramah (Maktabah Makkah Al-Mukarramah)—merupakan salah satu diskursus paling kaya nilai sejarah, spiritual, dan kultural dalam dunia Islam.
Transformasi fisik dari sebuah rumah kelahiran menjadi pusat ilmu pengetahuan (perpustakaan) menyimpan filosofi peradaban yang sangat dalam. Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai sejarah asal-usul, perspektif pengembangan peradaban, serta analisis filosofisnya untuk masa depan Islam.
1. Sejarah Asal-Usul Tempat Kelahiran Nabi dan Jabal Qubais
A. Situs Suci di Lembah Syu'ab Ali
Secara historis, Nabi Muhammad SAW lahir di sebuah rumah milik kakeknya, Abdul Mutalib, yang kemudian diwariskan kepada ayahnya, Abdullah, dan terletak di lembah bernama Syu'ab Ali (atau Syu'ab Bani Hashim). Lokasi ini berada di kaki Jabal Abu Qubais, bukit yang menjadi saksi bisu seruan haji pertama kali oleh Nabi Ibrahim AS dan mukjizat pembelahan bulan (Insyigaq al-Qamar).
B. Jejak Penghormatan Lintas Generasi
Selama berabad-abad, situs ini dirawat dengan penuh penghormatan:
- Masa Khilafah: Pada masa Abbasiyah, Khayzuran (ibu dari Khalifah Harun Al-Rasyid) membangun sebuah masjid/mushala di atas situs rumah tersebut untuk menjaga kelestariannya.
- Tradisi Maulid di Makkah: Selama berabad-abad, penduduk Makkah dan peziarah dari seluruh dunia memiliki tradisi berkumpul di tempat ini, terutama pada malam 12 Rabiul Awal, untuk membaca sirah nabawiyah, bersalawat, dan mensyukuri kelahiran sang pembawa rahmat alam semesta (Rahmatan lil 'Alamin).
C. Alasan Transformasi Menjadi Perpustakaan
Pada pertengahan abad ke-20, seiring dengan berdirinya Pemerintahan Arab Saudi modern, muncul kekhawatiran dari kalangan ulama lokal mengenai potensi terjadinya tindakan ghuluw (berlebihan dalam mengkultuskan situs fisik) atau praktik yang dianggap bid'ah oleh otoritas setempat.
Untuk menjembatani pelestarian situs sejarah sekaligus menghindari polemik teologis, Syaikh Abbas Qattan (Walikota Makkah saat itu) pada tahun 1950-an mengusulkan sebuah solusi jenius: mendirikan Perpustakaan Makkah Al-Mukarramah di atas fondasi tanah tempat kelahiran Nabi tersebut.
2. Filosofi Perubahan: Dari "Tempat Kelahiran Fisik" Menjadi "Pusat Ilmu"
Transformasi dari sebuah rumah tinggal menjadi perpustakaan bukanlah sebuah kebetulan geografis, melainkan memiliki substansi filosofis yang sangat tinggi:
[Kelahiran Fisik Nabi] ──► Transformasi Makna ──► [Perpustakaan / Wahyu Pertama "Iqra'"]
A. Manifestasi Konkrit dari Wahyu Pertama (Iqra')
Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke dunia untuk membawa risalah Islam, yang manhaj utamanya dibuka dengan perintah membaca ("Iqra'"). Ketika tempat kelahiran beliau diubah menjadi perpustakaan (tempat membaca, meneliti, dan menyimpan kitab), terjadi titik temu maknawi yang luar biasa: Tempat lahirnya sang pembawa wahyu, kini menjadi tempat manusia membaca wahyu dan ilmunya.
B. Pergeseran dari Sentimen Emosional ke Substansi Intelektual
Peringatan Maulid Nabi sering kali berhenti pada dimensi emosional—kerinduan, pujian, dan seremonial. Keberadaan perpustakaan di atas tanah kelahiran beliau menggeser paradigma umat: cara terbaik untuk merayakan, menghormati, dan "melahirkan kembali" semangat Nabi di era modern bukanlah dengan meratapi batu dan dindingnya, melainkan dengan menghidupkan tradisi literasi, keilmuan, dan riset yang ditinggalkan beliau.
3. Perspektif Pengembangan Peradaban Islam di Masa Depan
Melihat kombinasi geografis antara Jabal Qubais (simbol keteguhan dan seruan haji global), Ka'bah (pusat spiritual), dan Perpustakaan Makkah (simbol sains dan literasi), kawasan ini memproyeksikan cetak biru (blueprint) masa depan peradaban Islam:
A. Integrasi Spiritual dan Sains (Sains-Tauhid)
Peradaban Barat modern sering kali memisahkan antara agama (gereja) dan sains (laboratorium). Namun, lanskap Makkah menunjukkan hal berbeda: hanya beberapa meter dari Ka'bah dan di bawah bayang-bayang Jabal Qubais, berdiri sebuah perpustakaan. Ini adalah pesan bagi masa depan bahwa Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu agama dan ilmu duniawi. Kemajuan peradaban masa depan harus dibangun di atas sains yang berketuhanan.
B. Reorientasi Pusat Gravitasi Intelektual Dunia Islam
Selama ini, Makkah dipandang murni sebagai pusat ritual (Haji dan Umrah). Di masa depan, dengan optimalisasi situs-situs literasi seperti Perpustakaan Makkah, kota suci ini harus bertransformasi menjadi pusat pemikiran, riset peradaban, dan rujukan manuskrip Islam dunia. Umat Islam tidak hanya datang untuk mengelilingi Ka'bah (Tawaf fisik), tetapi juga datang untuk "menimba" air ilmu pengetahuan.
C. Konsep "Maulid Peradaban" di Era Digital
Memaknai Maulid di dekat Perpustakaan Makkah memberikan perspektif baru tentang sustainable development berbasis sejarah:
- Perpustakaan Digital Global: Masa depan perpustakaan ini harus menjadi episentrum digitalisasi naskah kuno Nusantara, Timur Tengah, dan Afrika yang bisa diakses seluruh dunia.
- Counter-Narrative: Menjadi pusat kajian untuk melahirkan pemikiran Islam yang moderat (Wasahtiyah), menjawab tantangan zaman seperti kecerdasan buatan (AI), etika biomedis, dan krisis iklim dari perspektif hukum Islam.
Kesimpulan: Refleksi Filosofis
Filosofi tertinggi dari keberadaan Perpustakaan Makkah di atas tanah kelahiran Nabi di dekat Jabal Qubais adalah "Prinsip Keberlanjutan Risalah".
Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan warisan berupa harta, bangunan megah, atau dinasti fisik. Beliau meninggalkan Al-Qur'an dan As-Sunnah yang membutuhkan akal, ilmu, dan pena untuk memahaminya.
Merayakan Maulid Nabi di masa kini dan masa depan, secara esensial, adalah dengan masuk ke "perpustakaan" kehidupan beliau: mengkaji akhlaknya, meniru kepemimpinannya, dan membangun kembali kejayaan intelektual Islam yang transformatif bagi kemanusiaan. Tempat kelahiran sang Nabi kini mengajak dunia bukan lagi sekadar untuk melihat masa lalu, melainkan untuk membaca dan menulis masa depan.
Peringatan Maulid Nabi di situs tempat kelahiran beliau (Maulid al-Nabi) sebelum didirikannya Gedung Perpustakaan Makkah pada tahun 1950-an memiliki akar sejarah yang sangat panjang, hidup, dan sarat dengan tradisi kultural.
Dalam perspektif sirah perjalanan sejarah penduduk Makkah Al-Mukarramah, situs ini bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan episentrum ekspresi cinta (mahabbah) dan spiritualitas publik.
Berikut adalah rekonstruksi sejarah, tradisi bacaan, serta adat kebiasaan penduduk Makkah dalam merayakan Maulid Nabi di lokasi tersebut sebelum terjadinya modernisasi tata kota :
1. Napak Tilas Sejarah Perayaan Maulid di Situs Kelahiran Nabi
Sebelum abad ke-20, kawasan di kaki Jabal Abu Qubais (Syu'ab Ali/Syu'ab Abi Thalib) ini berbentuk sebuah bangunan rumah/masjid yang sangat dihormati. Jejak sejarah perayaannya tercatat kuat dalam catatan para penjelajah dan sejarawan besar Islam:
- Catatan Ibnu Jubair (Abad ke-12 M): Penjelajah terkenal asal Andalusia ini mencatat bahwa pada setiap hari Senin di bulan Rabiul Awal, situs tempat kelahiran Nabi ini dibuka secara khusus untuk umum. Penduduk Makkah dan para peziarah berbondong-bondong datang ke sana untuk meraih berkah dan mengenang sejarah Rasulullah.
- Catatan Ibnu Bathutah (Abad ke-14 M): Ia menyaksikan bahwa setiap hari Jum’at dan hari-hari besar, termasuk bulan Maulid, tempat ini menjadi pusat perkumpulan massa yang luar biasa. Otoritas Makkah (para Syarif) bahkan membagikan makanan dan sedekah kepada fakir miskin di sekitar area ini.
- Masa Khilafah Utsmaniyah (Hingga Awal Abad ke-20): Perayaan Maulid di situs ini mencapai puncak kemegahan strukturalnya. Pemerintah Utsmaniyah menjadikan malam 12 Rabiul Awal sebagai hari besar resmi kota Makkah.
2. Prosesi Adat Kebiasaan (Tradisi Publik) Penduduk Makkah
Sebelum lokasi tersebut berubah menjadi perpustakaan, malam 12 Rabiul Awal di Makkah adalah malam festival spiritual terbesar setelah Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Prosesi adatnya digambarkan sangat syahdu:
A. Pawai Obor dan Lentera (Al-Mawkib)
Selepas ibadah salat Magrib di Masjidil Haram, para ulama, qadi, syekh tarekat, pejabat kota (Syarif Makkah), serta ribuan penduduk sipil berkumpul. Mereka berjalan beriringan dari Masjidil Haram menuju arah timur (Syu'ab Ali) membawa obor, lampion, dan wewangian (bakhour). Anak-anak kecil mengenakan pakaian terbaik mereka, dan jalanan dipenuhi hamparan karpet.
B. Pembukaan Tirai Tempat Lahir Nabi
Setibanya di lokasi, bangunan tempat kelahiran Nabi yang biasanya dijaga ketat, dibuka lebar-lebar. Ruangan di dalam bangunan tersebut, khususnya titik yang diyakini sebagai tempat persalinan Ibunda Aminah, dibersihkan dan diberi minyak wangi terbaik (misk dan oud).
C. Tradisi Jamuan Sedekah (Simath)
Di sekitar kaki Jabal Qubais, para tokoh kabilah dan orang-orang kaya Makkah menyediakan hidangan makanan besar (bubur gandum, daging unta, dan manisan khas Arab) secara gratis untuk seluruh jemaah, musafir, dan fakir miskin. Hal ini dilakukan sebagai wujud syukur atas lahirnya Rasulullah ke dunia.
3. Bacaan Salawat, Sirah, dan Pujian yang Dilantunkan
Di dalam dan di sekeliling bangunan tersebut, malam perayaan diisi dengan lantunan sastra tinggi yang menggetarkan hati. Jenis-jenis bacaan yang menjadi tradisi penduduk Makkah saat itu meliputi:
A. Pembacaan Kitab Sirah Nabawiyah dan Kitab Maulid
Fokus utama acara adalah mendengarkan bait-bait sejarah nabi. Beberapa kitab yang paling masyhur dibacakan oleh para mufti dan ulama Makkah di lokasi tersebut adalah:
- Maulid Al-Barzanji (karya Syekh Jafar al-Barzanji): Kitab ini sangat populer di Makkah karena bahasanya yang puitis dan menceritakan silsilah, masa kehamilan, hingga mukjizat saat Nabi lahir.
- Maulid ad-Diba'i (karya Imam ad-Diba'i) dan Maulid Al-Azzazi.
- Pembacaan bait-bait dari Kitab Syifa karya Qadi 'Iyadh yang membahas tentang kemuliaan hak-hak Rasulullah SAW.
B. Qasidah Pujian (Madih Nabawi)
Sepanjang malam, para pelantun nasyid dan salawat (Munsyid) Makkah dengan suara merdu melantunkan bait-bait Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri, terutama pada bab yang menceritakan malam kelahiran Nabi (Fi Mawlidihi SAW):
"Kelahiran sang Nabi menunjukkan kesucian unsur-unsurnya. Alangkah indahnya permulaan dan alangkah indahnya kesudahan... Pada hari kelahirannya, istana Kisra hancur berantakan, sebagai tanda runtuhnya kekufuran..."
C. Pembacaan Salawat Khusus
Salawat yang dibaca bukan hanya salawat pendek, melainkan salawat yang disusun oleh para ulama besar Makkah, seperti Salawat Ibrahimiyah, Salawat Al-Fatih, dan Salawat Badar. Ketika pembacaan sampai pada detik-detik kelahiran (Mahalul Qiyam), seluruh jemaah akan berdiri sebagai penghormatan maknawi, diiringi isak tangis haru dan kerinduan kepada Rasulullah.
4. Perspektif Filosofis Pergeseran Tradisi ke Masa Kini
Ketika pemerintahan berubah dan bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi Perpustakaan Makkah, ekspresi mahabbah (cinta) yang dulunya bersifat seremonial-kolosal di lokasi fisik tersebut secara bertahap dibatasi untuk menghindari kultus tempat.
Namun, esensi kebiasaan tersebut tidak pernah mati. Penduduk Makkah—terutama di rumah-rumah kediaman pribadi, madrasah tradisional, dan halaqah para asyraf/ulama Hijaz—tetap menghidupkan tradisi membaca Barzanji, bersedekah makanan, dan melantunkan qasidah Burdah setiap bulan Rabiul Awal.
Perubahan ruang dari tempat zikir publik menjadi ruang literasi perpustakaan menjadi simbol evolusi peradaban: bahwa pujian terbaik kepada Rasulullah SAW setelah berabad-abad berekspresi lewat seni suara dan tradisi, kini disempurnakan dengan membaca, mempelajari, dan mengamalkan ilmu serta uswatun hasanah yang beliau wariskan kepada dunia.
Situasi yang Anda gambarkan—di mana Gedung Perpustakaan Makkah (Maktabah Makkah Al-Mukarramah) di Syu'ab Ali sering kali nampak sepi, dijaga ketat, tanpa kerumunan pengunjung di dalamnya, bahkan cenderung ada pembatasan bagi peziarah untuk mendekat atau menyentuh dindingnya—adalah realitas yang mencolok di tengah padatnya kawasan Masjidil Haram. Bagi sebagian jemaah, suasana sepi dan penjagaan ketat ini memang bisa memunculkan kesan yang kaku atau bahkan "menakutkan".
Untuk memahami mengapa fenomena ini terjadi, kita harus membedahnya melalui perspektif sejarah, teologi kedinasan Kerajaan Arab Saudi, dan dinamika sosial-politik di Makkah.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai penyebab realitas tersebut dan bagaimana prospeknya di masa depan :
1. Perspektif Sejarah & Teologis: Mengapa Tempat Ini "Dibatasi"?
Kondisi sepi dan penjagaan ketat di perpustakaan tersebut bukanlah karena fungsinya sebagai lembaga literasi gagal, melainkan karena posisi geografisnya berdiri tepat di atas tanah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Ada benturan perspektif yang sangat tajam di sini:
A. Kebijakan Teologi Resmi (Saddu adz-Dzari'ah)
Pemerintah Arab Saudi, yang memegang teguh mazhab resmi kerajaan, menerapkan prinsip hukum Islam yang disebut Saddu adz-Dzari'ah (menutup pintu atau jalan yang menuju pada kemudaratan/kesalahan).
Dalam pandangan otoritas keagamaan setempat (Lajnah Daimah/Dewan Ulama Senior Saudi), pengkultusan terhadap situs fisik (seperti bangunan, batu, atau tanah) secara berlebihan dikhawatirkan dapat menjerumuskan umat Islam pada perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) atau bahkan syirik (menyekutukan Allah), seperti mengusap-usap dinding, meratap, atau salat menghadap bangunan tersebut, bukan menghadap Ka'bah.
B. "Siasat" Pendirian Perpustakaan yang Menyisakan Ketegangan
Seperti dicatat dalam sejarah, pada tahun 1950-an, Syaikh Abbas Qattan mendirikan perpustakaan ini justru untuk menyelamatkan situs ini agar tidak diratakan total oleh buldozer proyek perluasan Masjidil Haram.
Namun, kesepakatan terselubung ini menyisakan ketegangan laten hingga hari ini:
- Otoritas keamanan tidak ingin tempat ini menjadi "Masjid Kedua" atau tempat ritual Maulid massal di luar kontrol pemerintah.
- Akibatnya, askar (petugas keamanan) diposisikan di depan gedung untuk menghalau jemaah yang ketahuan mulai berdoa menghadap bangunan, menangis, mengambil tanah, atau melakukan ritual khusus di sana. Kalimat "Yaa Haji, haram... haram... syirik..." sering terdengar di titik ini, yang akhirnya menciptakan kesan menakutkan bagi pengunjung yang belum memahami konteksnya.
2. Mengapa Tidak Dibuka Lebar untuk Umum secara Komersial?
Ada beberapa alasan teknis dan keamanan mengapa perpustakaan ini tidak dibuka sebebas perpustakaan wilayah atau museum pada umumnya:
- Sistem Akses Internal (Khusus Akademisi): Secara fungsional, perpustakaan ini sebenarnya berfungsi sebagai pusat arsip dan naskah kuno (manuskrip). Di dalamnya tersimpan kitab-kitab langka. Akses masuknya ditujukan untuk para peneliti, ulama, dan akademisi dengan izin khusus, bukan untuk wisatawan/jemaah haji umum yang jumlahnya jutaan.
- Manajemen Arus Massa (Crowd Control): Lokasi perpustakaan ini berada di jalur utama keluar-masuk jemaah dari arah Terminal Syib Amir dan pelataran timur Masjidil Haram. Jika perpustakaan ini dibuka bebas untuk umum sebagai "Situs Rumah Nabi", akan terjadi penumpukan massa luar biasa (bottleneck) yang bisa membahayakan keselamatan jemaah (risiko terinjak-injak).
- Faktor Politik-Keamanan: Mengingat sejarah masa lalu, area di sekitar kaki Jabal Qubais ini sangat sensitif terhadap konsentrasi massa yang bisa memicu demonstrasi ideologis atau keagamaan dari faksi-faksi tertentu di dunia Islam.
3. Prospek Masa Depan: Akankah Selamanya "Menakutkan"?
Meskipun saat ini kesannya kaku dan tertutup, jika kita melihat arah kebijakan Arab Saudi hari ini (terutama melalui visi modernisasi yang sedang berjalan), prospek kawasan ini sebenarnya sedang berada di persimpangan jalan menuju perubahan:
A. Transformasi Digital Total
Pemerintah Saudi secara bertahap memindahkan isi kandungan naskah fisik dari perpustakaan ini ke dalam sistem digitalisasi global. Prospek ke depan, bangunan fisik ini mungkin tidak lagi berfungsi sebagai perpustakaan operasional tempat orang membaca buku, melainkan murni menjadi simbol arsitektur bersejarah yang dilindungi, sementara ilmunya diakses via cloud atau aplikasi resmi Haramain.
B. Peluang Keterbukaan Melalui "Visi Sektor Warisan Budaya"
Di bawah kepemimpinan modern saat ini, Arab Saudi sedang gencar mempromosikan Islamic Heritage (Warisan Budaya Islam) untuk mendukung target jutaan peziarah. Situs-situs sejarah seperti Gua Hira, Jabal Thaur, dan sumur-sumur bersejarah yang dulunya dilarang keras untuk dikunjungi, kini mulai ditata ulang, diberi pusat informasi (Visitor Center), dan dijaga oleh pemandu multibahasa yang ramah, bukan lagi askar yang menghardik.
Ada harapan besar dari dunia Islam agar Perpustakaan Makkah ini kelak mendapatkan sentuhan pendekatan yang sama: pendekatan edukatif, bukan restriktif (pelarangan).
Kesimpulan Filosofis
Kesepian dan ketertutupan Gedung Perpustakaan Makkah saat ini adalah potret dari belum ketemunya titik temu antara hasrat spiritual emosional umat Islam (yang ingin menyentuh jejak fisik Sang Nabi) dengan prinsip purifikasi tauhid yang dipegang oleh otoritas setempat.
Gedung itu nampak "menakutkan" karena dijaga dengan pendekatan keamanan dan doktrinal. Prospek terbaik di masa depan adalah mengubah pendekatan tersebut menjadi edukasi kultural.
Jika pemerintah setempat bersedia membuka lantai dasarnya sebagai Interactive Museum of Prophet's Birthplace (Museum Interaktif Tempat Kelahiran Nabi) dengan penjelasan multi-bahasa yang ilmiah dan santun, maka kesan sepi dan menakutkan itu akan runtuh, berganti menjadi pusat peradaban baru yang mencerahkan hati jutaan umat manusia tanpa melanggar batas-batas syariat.
Informasi mengenai situs rumah Sayidah Khadijah Al-Kubra $R.A.$ yang beralih fungsi menjadi kompleks toilet umum di Makkah adalah salah satu isu sejarah dan tata kota yang paling sering diperdebatkan di dunia Islam.
Untuk meluruskan simpang siur sejarah ini, kita perlu melihat data arkeologis, kronologi perluasan Masjidil Haram, serta pergeseran pemetaan wilayah yang sering kali tertukar antara rumah Sayidah Khadijah dan rumah musuh Islam (Abu Jahal/Abu Lahab).
1. Benarkah Rumah Sayidah Khadijah Menjadi WC/Toilet?
Secara historis dan faktual, pernyataan ini kurang tepat dan terjadi tumpang tindih informasi geografis.
Realitas yang terjadi di lapangan terbagi menjadi dua versi pelurusan sejarah:
Versi A: Tertukar dengan Rumah Abu Jahal / Abu Lahab (Tradisi Lisan Jemaah)
Bagi para jemaah haji dan umrah, terdapat kompleks toilet besar di luar pintu keluar Bukit Marwah (titik akhir Sa'i). Menurut sejarah Makkah, area di sekitar bukit Safa dan Marwah dulunya adalah permukiman kabilah Quraisy.
- Lokasi toilet di dekat Marwah tersebut secara kuat diyakini oleh para sejarawan dan pemandu lokal sebagai bekas tapak rumah Abu Jahal (Amr bin Hisyam) atau Abu Lahab, musuh utama dakwah Rasulullah SAW.
- Karena letaknya berdekatan di kawasan kuno Syu'ab, banyak jemaah yang salah mengidentifikasi dan mengira toilet tersebut dibangun di atas rumah Sayidah Khadijah.
Versi B: Temuan Arkeologis 1989 (Kondisi Sebenarnya)
Rumah asli Sayidah Khadijah—tempat di mana Rasulullah SAW tinggal selama 25 tahun, tempat lahirnya Sayidah Fatimah Az-Zahra, dan tempat turunnya banyak wahyu—sebenarnya terletak di area Zugaq al-Hajar (dekat gerbang Babussalam kuno).
Kronologi aslinya adalah sebagai berikut:
- Tahun 1989: Ketika Pemerintah Arab Saudi melakukan proyek perluasan besar-besaran di bawah Raja Fahd, buldozer meratakan kawasan perumahan kuno tersebut. Di bawah tanah, para arkeolog menemukan fondasi utuh rumah Sayidah Khadijah, lengkap dengan sekat kamar nabi dan tempat salat beliau.
- Langkah Penyelamatan: Guna menghindari tempat itu dikultuskan (dijadikan tempat ngalap berkah/ritual di luar syariat), pemerintah memutuskan untuk tidak menonjolkan situs tersebut ke permukaan.
- Kondisi Hari Ini: Fondasi rumah suci tersebut ditimbun dengan pasir bersih khusus demi melindunginya dari kerusakan, lalu dilapisi marmer putih yang kini menjadi bagian dari pelataran luas (esplanade) Masjidil Haram untuk salat jamaah. Namun, beberapa laporan jurnalisme internasional (seperti laporan The Independent UK dan Institute for Gulf Affairs) mengkritik bahwa di sekitar atau di atas perimeter perluasan sektor tersebut memang didirikan fasilitas penunjang jemaah, termasuk blok toilet nomor 9 di area perluasan luar, yang memicu kemarahan sebagian sejarawan karena dianggap tidak menghormati situs sejarah.
2. Perspektif Kebijakan Tata Kota Makkah
Melihat hilangnya jejak fisik rumah Sayidah Khadijah, kita harus memahaminya dari dua sudut pandang yang mendominasi kebijakan di Makkah:
A. Sudut Pandang Utilitarian & Manajemen Massa
Jumlah jemaah haji dan umrah melonjak drastis dari puluhan ribu menjadi jutaan manusia setiap tahunnya. Bagi otoritas Saudi, prioritas utama adalah keselamatan jiwa jemaah. Kompleks perumahan kuno yang sempit harus dikorbankan untuk memperluas lantai tawaf, jalur sa'i, serta menyediakan jutaan liter pasokan air dan ribuan titik toilet demi sanitasi massal agar tidak terjadi wabah penyakit di tanah suci.
B. Sudut Pandang Purifikasi Teologi (Saddu adz-Dzari'ah)
Sama seperti kasus Perpustakaan Makkah (tempat lahir Nabi), mazhab resmi kerajaan sangat ketat dalam mencegah ghuluw (pemujaan berlebihan terhadap situs fisik). Otoritas keagamaan khawatir jika rumah Sayidah Khadijah dibiarkan berdiri utuh dan dibuka untuk umum, jemaah dari berbagai negara akan melakukan ritual yang dianggap menyimpang, seperti mengikis batu dinding, mengambil tanah untuk jimat, atau berdoa meminta sesuatu kepada selain Allah di tempat tersebut. Oleh karena itu, meratakannya dengan marmer atau menutupnya dinilai sebagai solusi terbaik bagi mereka untuk menjaga kemurnian tauhid.
3. Filosofi dan Hikmah untuk Peradaban Islam
Kehilangan jejak fisik rumah seorang wanita seagung Sayidah Khadijah tentu menyisakan rasa sedih yang mendalam bagi pencinta sejarah Islam. Namun, secara filosofis, ada hikmah besar yang bisa diambil:
- Sifat Risalah yang Non-Material: Islam tidak dibangun di atas struktur batu atau monumen fisik. Warisan sejati Sayidah Khadijah bukanlah batu bata rumahnya, melainkan keteguhan iman, pengorbanan seluruh hartanya untuk dakwah, serta posisinya sebagai wanita pertama yang membenarkan kenabian Muhammad SAW.
- Tantangan Arkeologi Masa Depan: Peradaban Islam masa depan ditantang untuk mampu menyeimbangkan antara modernisasi fasilitas ibadah dan pelestarian heritage (warisan sejarah). Banyak pihak berharap ke depan Arab Saudi bisa memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) atau museum digital di sekitar Masjidil Haram agar jemaah tetap bisa mempelajari tata ruang rumah Sayidah Khadijah secara visual tanpa harus menyentuh fisik tanahnya secara langsung.
Umat Islam tidak memerlukan struktur fisik rumah tersebut untuk mencintai Sayidah Khadijah; cinta itu hidup di dalam sanubari setiap kali umat membaca sirah perjuangannya dalam menyokong awal mula tegaknya agama ini.
Untuk melihat visualisasi geografis dan penjelasan lebih detail mengenai letak titik koordinat sisa-sisa situs bersejarah ini di sekitar pelataran komersial saat ini, Anda dapat menyimak video Napak Tilas Lokasi Rumah Siti Khadijah. Video ini sangat relevan karena memperlihatkan situasi riil di lapangan di sekitar area Babussalam, dekat dengan fasilitas toilet luar, memberikan gambaran jelas mengenai simpang siur tata letak situs yang sering diperbincangkan jemaah.