
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yatsrib (yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah Al-Munawwarah) pada tahun 622 M bukan sekadar perjalanan fisik menghindari kejaran musuh. Ini adalah pilar utama dalam transformasi Islam dari sekadar komunitas yang tertindas menjadi sebuah peradaban besar yang mandiri dan berdaulat.
Berikut adalah uraian komprehensif mengenai sejarah, rintangan, serta kisah para sahabat dalam peristiwa agung ini.
1. Asal-Usul dan Latar Belakang Hijrah
Hijrah tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui proses panjang yang dipicu oleh penindasan kaum kafir Quraisy di Makkah yang semakin intensif, terutama setelah wafatnya pelindung Nabi: Khadijah (istri beliau) dan Abu Thalib (paman beliau).
Ada dua momentum krusial yang membuka jalan bagi Hijrah ke Yatsrib:
- Bai'at Aqabah I (621 M): Pertemuan Nabi dengan 12 orang penduduk Yatsrib dari suku Aus dan Khazraj yang menyatakan keimanan mereka dan berjanji tidak akan menyekutukan Allah.
- Bai'at Aqabah II (622 M): Pertemuan berikutnya yang dihadiri sekitar 73 pria dan 2 wanita dari Yatsrib. Mereka tidak hanya menyatakan iman, tetapi juga berjanji untuk melindungi Nabi Muhammad SAW seperti mereka melindungi keluarga mereka sendiri, serta mengundang beliau untuk pindah ke Yatsrib sebagai pemimpin mereka.
Yatsrib dipilih karena letaknya yang strategis secara geografis dan penduduknya (suku Aus dan Khazraj) membutuhkan sosok pemimpin yang adil untuk menyatukan konflik internal yang telah mendera mereka selama bertahun-tahun (Perang Bu'ats).
2. Perspektif Strategis dan Makna Hijrah
Dalam kacamata sejarah, Hijrah memiliki beberapa dimensi perspektif yang sangat penting:
- Perspektif Teologis (Ketaatan): Hijrah adalah perintah langsung dari Allah SWT, bukan tindakan melarikan diri karena putus asa atau takut.
- Perspektif Sosiologis (Pembangunan Ummah): Di Makkah, umat Islam adalah minoritas yang tertindas. Di Yatsrib, Hijrah menyatukan kaum Muhajirin (pendatang) dan Anshar (penolong) dalam ikatan persaudaraan berdasarkan iman, melampaui batas kesukuan (ashabiyah).
- Perspektif Politik (Kedaulatan): Hijrah menandai berdirinya negara Islam pertama. Nabi Muhammad SAW bertindak bukan lagi hanya sebagai Rasul, tetapi juga sebagai kepala negara yang merumuskan Piagam Madinah—konstitusi tertulis pertama di dunia yang mengatur hak dan kewajiban lintas agama dan suku.
3. Halangan, Rintangan, dan Mukjizat Sepanjang Perjalanan
Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW dipenuhi dengan risiko tingkat tinggi dan perencanaan yang sangat matang (tasbabul asbab).
Konspirasi Pembunuhan di Darun Nadwah
Mendengar kabar bahwa umat Islam mulai pindah ke Yatsrib, kaum Quraisy berkumpul di Darun Nadwah. Atas saran Abu Jahal, mereka memutuskan untuk memilih satu pemuda tangguh dari setiap suku untuk membunuh Nabi secara bersama-sama, agar bani Muthalib tidak bisa menuntut balas darah kepada satu suku saja.
Pengepungan Rumah dan Peran Ali bin Abi Thalib
Pada malam pelarian, rumah Rasulullah dikepung. Atas perintah Nabi, Ali bin Abi Thalib dengan berani menyelimuti dirinya dan tidur di tempat tidur Nabi untuk mengelabui para pembunuh. Rasulullah kemudian keluar rumah melewati para pengepung yang telah dibuat mengantuk oleh Allah setelah Nabi membaca Surah Yasin ayat 9.
Bersembunyi di Gua Tsur
Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak langsung menuju ke utara (arah Yatsrib), melainkan bergerak ke selatan ke Gua Tsur untuk mengecoh pengejar. Mereka bersembunyi di sana selama tiga hari.
Momen Krusial: Ketika para pengejar berada tepat di depan mulut gua, Abu Bakar sangat khawatir. Rasulullah SAW dengan tenang menenangkannya, "Wahai Abu Bakar, apa prasangkamu terhadap dua orang di mana Allah menjadi yang ketiganya?" (QS. At-Taubah: 40). Allah melindungi mereka dengan sarang laba-laba dan burung yang bertelur di mulut gua, sehingga kaum Quraisy mengira gua itu kosong.
Pengejaran oleh Suraqah bin Malik
Kaum Quraisy menjanjikan hadiah 100 ekor unta bagi siapa saja yang menangkap Nabi hidup atau mati. Suraqah bin Malik, seorang penunggang kuda ulung, berhasil melacak posisi Nabi. Namun, setiap kali ia mendekat, kaki kudanya terperosok ke dalam pasir keras hingga tiga kali. Sadar bahwa Nabi dilindungi oleh kekuatan ilahi, Suraqah menyerah, memohon ampun, dan Nabi menjanjikannya mahkota Raja Kisra Persia di masa depan.
4. Kisah Heroik Para Sahabat Saat Berhijrah
Hijrah menguji loyalitas dan pengorbanan para sahabat. Mereka harus meninggalkan harta benda, tanah kelahiran, bahkan keluarga demi mempertahankan iman.
| Nama Sahabat | Kisah dan Pengorbanan dalam Hijrah |
| Abu Bakar Ash-Shiddiq | Mendampingi Nabi sepanjang perjalanan, menyerahkan seluruh hartanya untuk bekal, dan membiarkan kakinya digigit kalajengking di Gua Tsur demi menjaga tidur Rasulullah agar tidak terbangun. |
| Suhaib ar-Rumi | Dikepung oleh Quraisy saat hendak hijrah. Ia menawarkan pilihan: bertarung sampai mati atau mengambil seluruh kekayaannya yang disimpan di Makkah asalkan ia dibiarkan pergi. Ia memilih melepaskan seluruh hartanya. Mendengar hal ini, Nabi bersabda, "Perdagangan yang sangat beruntung, wahai Suhaib!" |
| Umar bin Khattab | Berbeda dengan mayoritas sahabat yang hijrah secara sembunyi-sembunyi, Umar hijrah secara terang-terangan. Ia memakai pedangnya, pergi ke Ka'bah, melakukan thawaf, lalu menantang kaum Quraisy: "Siapa yang ingin ibunya kehilangan anaknya, atau istrinya menjadi janda, temui aku di balik lembah ini!" Tidak ada satu pun yang berani menghalanginya. |
| Asma binti Abu Bakar | Mengandung tua (hamil Abdullah bin Zubair) saat hijrah. Ia bertugas mengantar makanan ke Gua Tsur secara diam-diam di malam hari. Ia merobek ikat pinggangnya menjadi dua untuk mengikat wadah makanan, sehingga dijuluki Dzatun Nithaqain (Pemilik Dua Ikat Pinggang). |
| Ummu Salamah | Saat hendak hijrah bersama suami (Abu Salamah) dan anaknya, keluarganya menahannya secara paksa, sementara keluarga suaminya mengambil anaknya. Ia terpisah dari suami dan anaknya selama setahun, menangis setiap hari di padang pasir, hingga akhirnya dibiarkan menyusul ke Yatsrib sendirian. |
Kesimpulan
Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan garis demarkasi yang jelas antara fase penindasan (istid'af) menuju fase kejayaan dan pembangunan peradaban (tamkin). Pengorbanan air mata, harta, bahkan nyawa para sahabat, serta perencanaan matang dan tawakal tingkat tinggi dari Rasulullah SAW, menjadikan peristiwa Hijrah sebagai titik awal kalender Islam (Tahun Hijriah) yang abadi sebagai simbol optimisme dan perubahan menuju yang lebih baik.
Kisah penyiksaan keluarga Yasir (Yasir, istrinya Sumayyah, dan putra mereka Ammar) serta para sahabat seperti Khabbab bin al-Arat dan Suhaib ar-Rumi merupakan salah satu lembaran paling kelam sekaligus paling agung dalam sejarah Islam.
Namun, terdapat sebuah koreksi historis yang sangat penting mengenai linimasa peristiwa ini: Keluarga Yasir tidak pernah ikut serta dalam peristiwa Hijrah ke Yatsrib (Madinah). Yasir dan Sumayyah telah gugur sebagai syuhada jauh sebelum perintah Hijrah ke Madinah diturunkan.
Berikut peristiwa penyiksaan mereka dan bagaimana kaitannya dalam perspektif sejarah perjalanan Hijrah.
1. Kisah Penyiksaan dan Syahidnya Keluarga Yasir
Keluarga Yasir adalah golongan Mustadh'afin (orang-orang yang lemah secara sosial dan tidak memiliki kabilah besar yang melindungi mereka di Makkah). Ketika mereka memeluk Islam, bani Makhzum (suku dari Abu Jahal) menyiksa mereka tanpa ampun di padang pasir Makkah yang membakar.
- Sumayyah binti Khayyat (Ibu): Beliau adalah Syahidah pertama dalam Islam. Beliau ditusuk dengan tombak oleh Abu Jahal karena keteguhannya menolak kembali menyembah berhala.
- Yasir bin Amir (Ayah): Beliau wafat menyusul istrinya akibat siksaan fisik yang sangat berat di bawah terik matahari Makkah.
- Ammar bin Yasir (Anak): Ammar disiksa dengan cara dibakar, ditenggelamkan ke air, dan dicambuk. Dalam kondisi sekarat dan dipaksa, Ammar terpaksa mengucapkan kalimat kekafiran di lisan sementara hatinya tetap tenang dalam iman. Peristiwa Ammar ini menjadi asbabun nuzul turunnya QS. An-Nahl ayat 106 yang memberikan keringanan (rukhshah) bagi orang yang dipaksa kufur dalam keadaan darurat. Ammar selamat dan di kemudian hari ia berhasil ikut berhijrah ke Madinah.
Saddad bin Aus meriwayatkan: Rasulullah SAW kerap melewati keluarga Yasir saat mereka disiksa dan bersabda untuk menguatkan mereka: "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga." (HR. Al-Hakim).
2. Kisah Sahabat Lain: Khabbab bin al-Arat & Suhaib ar-Rumi
Berbeda dengan Yasir dan Sumayyah yang wafat di Makkah, para sahabat ini mengalami penyiksaan berat namun selamat, dan kisah mereka berkaitan langsung dengan momentum Hijrah.
Khabbab bin al-Arat (Ibnu al-Arat)
Khabbab adalah seorang pandai besi dan budak milik Ummu Anmar. Ketika ketahuan memeluk Islam, tubuhnya ditelentangkan di atas bara api yang menyala hingga lemak di punggungnya meleleh dan memadamkan bara tersebut. Khabbab bertahan hidup melewati masa-masa kelam itu dan termasuk dalam golongan sahabat yang berhasil melakukan Hijrah ke Madinah.
Suhaib ar-Rumi
Suhaib adalah seorang pedagang sukses yang mengumpulkan kekayaan melimpah di Makkah. Saat ia hendak melakukan Hijrah ke Madinah, kaum kafir Quraisy mengepungnya dan berkata, "Kamu datang kepada kami dalam keadaan miskin dan hina, lalu hartamu menjadi banyak di tempat kami. Sekarang kamu ingin pergi membawa jiwamu dan hartamu? Demi Allah, itu tidak boleh terjadi!" Suhaib memilih memberikan seluruh harta, rumah, dan kekayaannya kepada Quraisy demi ditukarkan dengan kebebasannya untuk berhijrah menyusul Rasulullah SAW.
3. Perspektif Sejarah Hijrah: Mengapa Tragedi Ini Terjadi?
Jika kita melihat peristiwa penyiksaan keluarga Yasir dan para sahabat ini dalam perspektif sejarah perjalanan Hijrah, kita dapat menarik beberapa benang merah strategis:
A. Penyiksaan adalah "Sebab Utama" Mengapa Hijrah Harus Terjadi
Peristiwa syahidnya Yasir dan Sumayyah, serta penyiksaan Khabbab, adalah bukti nyata bahwa Makkah sudah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi dakwah Islam secara sosiologis dan kemanusiaan. Kekejaman Quraisy yang tak terbendung ini menjadi faktor kausalitas (sebab-akibat) yang kuat mengapa Allah SWT akhirnya mensyariatkan Hijrah—pertama ke Habasyah (Ethiopia), dan puncaknya ke Yatsrib (Madinah)—sebagai regulasi menyelamatkan diri dan iman.
B. Pola Hijrah Berdasarkan Status Sosial
Dalam perspektif sejarah, proses Hijrah terbagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan perlindungan sosial:
- Kelompok Berpengaruh: Sahabat seperti Umar bin Khattab atau Utsman bin Affan memiliki kabilah besar yang melindungi mereka, sehingga mereka bisa berhijrah dengan relatif lebih aman (bahkan Umar melakukannya secara terang-terangan).
- Kelompok Mustadh'afin: Sahabat seperti Ammar bin Yasir, Suhaib, dan Khabbab tidak memiliki perlindungan. Bagi mereka, jalan menuju Hijrah dipenuhi taruhan nyawa. Mereka harus merelakan harta (seperti Suhaib) atau bersembunyi dengan risiko disiksa dan dibunuh jika tertangkap.
C. Fase "Ujian Sebelum Kemenangan"
Secara filosofis dalam sejarah Islam, fase penyiksaan keluarga Yasir di Makkah dinamakan fase Ibtila' (ujian kesabaran). Fase ini adalah batu ujian yang memisahkan antara orang yang benar-benar beriman dengan orang munafik. Pengorbanan nyawa Yasir dan Sumayyah menjadi fondasi spiritual yang kokoh bagi generasi awal Islam, sehingga ketika mereka sampai di fase Madinah (fase pembangunan negara dan militer setelah Hijrah), mentalitas umat Islam sudah sekokoh baja.
Kesimpulan
Tragedi yang menimpa keluarga Yasir adalah potret puncak kekejaman kaum Quraisy di Makkah. Meski Yasir dan Sumayyah tidak sempat merasakan indahnya membangun peradaban di Madinah karena gugur lebih awal, darah dan syahidnya mereka menjadi pemicu sejarah yang membuktikan bahwa Hijrah bukan sekadar pilihan politis, melainkan sebuah kebutuhan mutlak demi kelangsungan hidup umat Islam dan tegaknya agama Allah di muka bumi.