
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Sejarah pemeliharaan, pengembangan, dan aktivitas Masjid Nabawi di Madinah pasca-era Turki Usmani (setelah runtuhnya kekhalifahan pada awal abad ke-20) memasuki babak baru yang sangat signifikan. Periode ini didominasi oleh era pemerintahan Arab Saudi (dimulai dari Raja Abdul Aziz hingga Raja Salman), di mana masjid ini mengalami transformasi arsitektur terbesar dalam sejarah Islam dan repositori fungsinya sebagai pusat peradaban global.
Berikut penjelasan mendalam mengenai perspektif sejarah pemeliharaan, pembangunan, serta dinamika aktivitas di Masjid Nabawi pasca-Turki Usmani :
1. Perspektif Sejarah Pemeliharaan dan Pembangunan (Fisik)
Setelah era Turki Usmani—yang terkenal dengan perluasan Sultan Abdul Majid I yang kokoh dan estetis—pemerintahan Arab Saudi mengambil alih tanggung jawab penuh atas dua masjid suci (Khadimul Haramain). Pembangunan dibagi ke dalam beberapa tahapan besar:
A. Perluasan Pertama Era Saudi (1951–1955 M / Raja Abdul Aziz)
Raja Abdul Aziz Al-Saud memulai proyek modernisasi pertama. Perluasan ini mempertahankan bagian bangunan peninggalan Sultan Abdul Majid I (Turki Usmani), namun memperluas area masjid ke arah utara, timur, dan barat.
- Karakteristik: Menggunakan beton bertulang untuk pertama kalinya, penambahan tiang-tiang marmer dengan ornamen kuningan, serta pembangunan menara-menara baru yang modern namun tetap serasi dengan arsitektur klasik.
B. Perluasan Besar-Besaran (1985–1994 M / Raja Fahd)
Ini adalah proyek monumental yang mengubah total lanskap Masjid Nabawi. Luas bangunan masjid meningkat secara drastis untuk menampung lonjakan jamaah haji dan umrah modern.
- Inovasi Arsitektur: Pemasangan kubah-kubah geser (sliding domes) otomatis yang dapat dibuka-tutup untuk mengatur sirkulasi udara dan cahaya alami.
- Halaman Luar (Courtyard): Pembangunan halaman luas berlantai marmer khusus yang memantulkan panas, dilengkapi dengan sistem pencahayaan raksasa.
C. Proyek Modernisasi dan Perluasan Berkelanjutan (Era Raja Abdullah & Raja Salman)
Fokus pada era kontemporer ini adalah kenyamanan maksimal, integrasi teknologi digital, dan kapasitas masif.
- Payung Raksasa Otomatis: Pemasangan 250 payung hidrolik raksasa di halaman masjid yang dilengkapi dengan sistem penyemprot air mikro (mist-cooling system) untuk menurunkan suhu udara.
- Mega Proyek Perluasan Raja Abdullah: Dirancang untuk membuat kapasitas total masjid (indoor dan outdoor) mampu menampung lebih dari 1,6 hingga 2 juta jamaah pada puncak musim haji.
2. Dinamika Aktivitas dan Kegiatan Masjid
Pasca-era Usmani, Masjid Nabawi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual (salat dan iktikaf), tetapi juga berkembang menjadi pusat pelayanan jamaah internasional dan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis teknologi.
A. Revitalisasi Pusat Pendidikan dan Dakwah
- Mata Kuliah Halakah Tradisional: Tradisi penyampaian ilmu agama melalui halakah (halaqah) di tiang-tiang masjid tetap dipertahankan. Ulama-ulama besar dari berbagai mazhab menyampaikan kuliah fikih, tafsir, dan hadis yang diterjemahkan secara langsung (real-time) ke berbagai bahasa melalui perangkat audio nirkabel.
- Perpustakaan Masjid Nabawi: Mengalami digitalisasi besar-besaran. Perpustakaan ini menyimpan manuskrip kuno (sebagian dari era Usmani dan sebelumnya) sekaligus menyediakan akses digital bagi peneliti dari seluruh dunia.
- Akademisi Al-Qur'an dan Sunnah: Pusat hafalan Al-Qur'an dan mutun ilmiah yang melayani ribuan santri lokal maupun peziarah internasional secara terstruktur.
B. Aktivitas Khidmah (Pelayanan) Jamaah Berbasis Teknologi
Pemerintah membentuk Badan Pengelola Masjidil Haram dan Masjid Nabawi (Presidency of the Religious Affairs of the Grand Mosque and the Prophet's Mosque) yang mengatur manajemen operasional secara modern:
- Distribusi Air Zamzam: Sistem logistik canggih yang membawa air Zamzam dari Makkah ke Madinah, didistribusikan melalui ribuan dispenser dan robot pintar pembawa botol air di dalam masjid.
- Manajemen Ziarah Makam Rasulullah dan Raudah: Untuk menjaga ketertiban, pasca-pandemi dan memasuki era digitalisasi modern, akses masuk ke Raudah (Riyadhul Jannah) diatur ketat menggunakan aplikasi digital (seperti Nusuk). Hal ini meminimalkan desak-desakan dan memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh jamaah.
C. Pusat Hubungan Internasional dan Budaya Islam
- Pameran Internasional dan Museum: Di sekitar kompleks masjid, dibangun museum-museum modern, seperti The International Fair and Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization. Aktivitas ini bertujuan memberikan edukasi sejarah secara visual dan interaktif kepada jutaan peziarah lintas negara.
Kesimpulan
Secara historis, jika era Turki Usmani mewariskan keindahan seni arsitektur Islam klasik yang detail dan artistik, maka era pasca-Usmani (terutama era Saudi) menekankan pada skala masif, fungsionalitas modern, dan integrasi teknologi.
Masjid Nabawi sesudah Turki Usmani bertransformasi dari sebuah masjid regional yang bersejarah menjadi sebuah megaproyek arsitektur religius yang mampu melayani jutaan manusia sekaligus, tanpa menghilangkan marwah spiritual dan historis dari tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad SAW.
Sejarah pemeliharaan, pengembangan, dan aktivitas di Masjidil Haram, Makkah, pasca-era Turki Usmani (setelah awal abad ke-20) menandai era ekspansi paling radikal dan masif dalam sepanjang sejarah Islam. Keberadaan teknologi modern, beton bertulang, serta meningkatnya jumlah jamaah haji dan umrah secara eksponensial memaksa terjadinya transformasi total pada tata ruang dan manajemen operasional pusat kiblat umat Islam ini.
Berikut penjelasan mendalam mengenai perspektif sejarah pemeliharaan, pembangunan, serta berbagai aktivitas di Masjidil Haram pasca-Turki Usmani :
1. Perspektif Sejarah Pemeliharaan dan Pembangunan (Fisik)
Warisan arsitektur Turki Usmani di Masjidil Haram ditandai dengan kubah-kubah kecil dan selasar ikonik yang dibangun pada masa Sultan Salim II dan Sultan Murad IV. Setelah kendali wilayah Hijaz beralih ke pemerintahan Arab Saudi, dilakukan restrukturisasi arsitektur yang dibagi ke dalam tiga gelombang perluasan utama (Saudi Expansions):
A. Perluasan Saudi Pertama (1955–1973 M / Raja Saud dan Raja Faisal)
Ini adalah langkah awal modernisasi Masjidil Haram untuk mengantisipasi mulai digunakannya transportasi udara oleh jamaah haji.
- Struktur Mas'a (Tempat Sa'i): Jalur Sa'i antara Shofa dan Marwah dibangun secara permanen menjadi dua lantai, dilengkapi dengan atap dan dinding pembatas demi kenyamanan jamaah.
- Selasar dan Lantai Dua: Area salat diperluas dengan membangun lantai dua di sekeliling masjid. Pembangunan ini mengitari struktur selasar lama peninggalan era Usmani tanpa merusaknya secara keseluruhan pada fase ini.
B. Perluasan Saudi Kedua (1988–1993 M / Raja Fahd)
Perluasan ini berfokus pada estetika modern, kenyamanan termal (suhu udara), dan penambahan area luar secara masif.
- Pembangunan Gedung Baru: Ditambahkan sayap bangunan baru di sisi barat (dikenal sebagai Area Raja Fahd) dengan arsitektur yang megah, lengkap dengan dua menara baru yang menjulang tinggi.
- Sistem Pendingin Sentral: Mulai digunakannya sistem pendingin udara (AC) skala besar untuk area dalam ruangan, serta pemasangan lantai marmer khusus berbasis batu alam Thassos yang mampu menyerap panas, sehingga tetap dingin meski terpapar terik matahari.
- Halaman Luar (Courtyards): Area sekitar masjid dibersihkan dari pemukiman padat dan disulap menjadi alun-alun luar yang luas untuk menampung limpahan jamaah pada waktu salat Jumat dan hari raya.
C. Perluasan Saudi Ketiga (2008–Sekarang / Raja Abdullah dan Raja Salman)
Ini adalah proyekasan paling ambisius dan terbesar dalam sejarah Masjidil Haram, yang mengubah total lanskap geografis utara Makkah.
- Kompleks Perluasan Utara: Pembangunan gedung raksasa di sisi utara (Area Raja Abdullah) yang memiliki kapasitas ratusan ribu jamaah sekaligus dengan arsitektur modern berlantai multi-tingkat.
- Mataf (Area Tawaf) Baru: Area tawaf di sekeliling Ka'bah dirombak total. Struktur cincin berjalan (floating ring) bertingkat dibangun khusus untuk mengakomodasi jamaah lansia, pengguna kursi roda, dan kereta dorong elektrik, guna memisahkan mereka dari jalur tawaf utama di lantai dasar.
- Modernisasi Infrastruktur: Pembangunan Terowongan Pedestrian Kudai, sistem transportasi bus terintegrasi, dan perluasan kompleks sanitasi serta tempat wudu bawah tanah.
2. Dinamika Aktivitas dan Kegiatan di Dalam Masjid
Seiring dengan membesarnya kapasitas fisik, aktivitas keagamaan, pendidikan, dan manajerial di dalam Masjidil Haram juga mengalami pergeseran ke arah institusional yang sangat terstruktur.
A. Transformasi Dakwah dan Ilmu Pengetahuan
- Institut dan Kuliah Masjidil Haram (Ma'had Al-Haram): Lembaga pendidikan formal di dalam masjid yang mengajarkan ilmu syariah (fikih, ushul fikih, hadis, dan akidah) kepada penuntut ilmu dari berbagai negara.
- Halaqah Al-Qur'an dan Transmisi Sanad: Setiap sudut masjid diisi oleh lingkaran-lingkaran hafalan Al-Qur'an baik untuk anak-anak maupun dewasa. Jamaah internasional dapat menyetorkan hafalan mereka untuk mendapatkan ijazah/sanad yang tersambung hingga Rasulullah SAW.
- Penerjemahan Khotbah Instan: Khotbah Jumat dan hari raya di mimbar Masjidil Haram kini disiarkan secara langsung dengan penerjemahan instan ke dalam lebih dari 10 bahasa utama dunia (termasuk bahasa Indonesia/Melayu, Inggris, Prancis, Urdu, dan Hausa) melalui aplikasi digital dan frekuensi radio FM.
B. Aktivitas Khidmat dan Manajemen Operasional Berbasis Teknologi
- Sistem Distribusi Air Zamzam: Sumur Zamzam kuno yang dulunya diakses menggunakan timba diproteksi dan dimodernisasi. Air Zamzam kini dialirkan melalui pipa-pipa steril ke pabrik pengisian King Abdullah, disaring menggunakan sinar ultraviolet, dan didistribusikan ke dalam masjid melalui jutaan kontainer higienis serta robot pelayan otomatis.
- Pemeliharaan Ka'bah dan Kiswah: Pemeliharaan Hajar Aswad, Makam Ibrahim, dan struktur Ka'bah dilakukan secara berkala menggunakan teknologi kimia pembersih mutakhir. Pembuatan Kiswah (kain penutup Ka'bah) dipindahkan dari yang semula diimpor (pada era Usmani sering dikirim dari Mesir atau Turki) ke pabrik khusus milik pemerintah lokal di Makkah (Umm Al-Qura) dengan standar sutra dan benang emas tertinggi.
- Digitalisasi Manajemen Alur Peziarah: Melalui aplikasi digital (seperti Nusuk), pengaturan jadwal umrah dilakukan secara ketat untuk mengontrol kepadatan (crowd control) di area Mataf demi keselamatan jiwa peziarah.
C. Pelayanan Sosial dan Logistik Ibadah
- Buka Puasa Bersama Masif: Setiap hari Senin, Kamis, dan selama bulan Ramadan, Masjidil Haram menyelenggarakan aktivitas logistik makanan terbesar di dunia, menyediakan hidangan buka puasa (kurma, air Zamzam, dan roti) di sepanjang saf-saf salat dalam hitungan menit, dan membersihkannya kembali hanya dalam waktu kurang dari 15 jam sebelum ikamah salat.
Kesimpulan
Jika pada era Turki Usmani Masjidil Haram dipelihara dengan sentuhan seni estetika klasik kekhalifahan tradisional yang terbatas oleh kapasitas ruang abad pertengahan, maka dalam perspektif pasca-Usmani, Masjidil Haram telah bermutasi menjadi pusat ibadah global berteknologi tinggi. Pembangunan fisik ditekankan pada ketahanan struktur, kapasitas masif untuk jutaan manusia, serta kecepatan mobilitas massa. Di sisi lain, aktivitas di dalamnya bertransformasi menjadi sebuah ekosistem keagamaan yang terstruktur rapi, mempertemukan tradisi keilmuan Islam klasik dengan efisiensi manajemen modern.