info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Keanekaragaman Hayati: Kunci Perdamaian Sejahtera
Keanekaragaman Hayati: Kunci Perdamaian Sejahtera
Keanekaragaman Hayati: Kunci Perdamaian Sejahtera

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (International Day for Biological Diversity) yang diperingati setiap tanggal 22 Mei bukan sekadar perayaan lingkungan biasa. Hari ini merupakan refleksi global tentang bagaimana manusia bergantung sepenuhnya pada jaring-jaring kehidupan (biodiversitas) untuk bertahan hidup, sekaligus jembatan menuju tatanan dunia yang tenteram, damai, berkeadilan, dan sejahtera.

1. Sejarah Asal-Usul

Lahirnya hari peringatan ini berakar dari kesadaran global bahwa aktivitas manusia telah memicu krisis kepunahan massal spesies yang mengancam stabilitas planet.

  • Konvensi Keanekaragaman Hayati (1992): Pada KTT Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro tahun 1992, para pemimpin dunia menyepakati Convention on Biological Diversity (CBD). Ini adalah perjanjian hukum internasional pertama yang secara komprehensif membahas perlindungan keanekaragaman hayati.
  • Penetapan Awal oleh PBB (1993): Pada akhir tahun 1993, Majelis Umum PBB awalnya menetapkan tanggal 29 Desember (hari di mana Konvensi tersebut mulai berlaku) sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Internasional.
  • Pergeseran ke Tanggal 22 Mei (2000): Pada bulan Desember 2000, PBB mengubah tanggal peringatan menjadi 22 Mei. Alasan utamanya adalah untuk mengadopsi teks Konvensi Keanekaragaman Hayati yang terjadi pada 22 Mei 1992 di Nairobi, serta menghindari banyaknya hari libur global yang jatuh di akhir Desember.

2. Perspektif Global: Mewujudkan Dunia yang Tenteram, Damai, Berkeadilan, dan Sejahtera

Keanekaragaman hayati bukan hanya soal menyelamatkan hutan atau satwa langka. Perspektif modern melihat biodiversitas sebagai fondasi utama geopolitik, ekonomi, dan kemanusiaan universal.

A. Ketenteraman dan Kedamaian (Resolusi Konflik Berbasis Sumber Daya)

"Kelangkaan alam memicu perang, kelestarian alam merajut perdamaian."

Banyak konflik antarnegara maupun internal dipicu oleh perebutan sumber daya alam yang menipis (seperti air bersih, tanah subur, dan hasil laut).

  • Ketahanan Pangan: Dengan menjaga keanekaragaman hayati, pasokan pangan dunia menjadi lebih stabil karena kita memiliki varietas genetik yang tahan terhadap perubahan iklim dan hama. Pangan yang cukup meminimalisir risiko kelaparan yang sering kali menjadi pemantik kerusuhan sosial dan migrasi massal.
  • Stabilitas Iklim: Ekosistem yang sehat (seperti hutan hujan tropis dan tumpukan mangrove) adalah penyerap karbon alami. Menjaga biodiversitas berarti meredam bencana iklim ekstrem, yang secara langsung mencegah konflik akibat perebutan wilayah aman.

B. Berkeadilan (Keadilan Ekologis dan Akses yang Merata)

Perspektif keadilan dalam keanekaragaman hayati diatur ketat dalam Protokol Nagoya, yang menekankan pembagian keuntungan yang adil dan merata atas pemanfaatan sumber daya genetik.

  • Hak Masyarakat Adat: Bangsa-bangsa di dunia kini menyadari bahwa masyarakat adat adalah penjaga terbaik biodiversitas. Menghormati hak-hak mereka atas tanah adat adalah bentuk keadilan sosial nyata.
  • Keadilan Antargenerasi: Menjaga keanekaragaman hayati hari ini adalah kewajiban moral agar generasi masa depan tidak mewarisi planet yang rusak dan tandus.
  • Kesetaraan Global: Negara-negara berkembang yang kaya akan biodiversitas (megadiverse countries, seperti Indonesia dan Brasil) harus mendapatkan kompensasi dan kerja sama teknologi yang adil dari negara-negara maju yang memanfaatkan sumber daya tersebut untuk industri farmasi atau pangan.

C. Kesejahteraan (Ekonomi Berkelanjutan / Bioeconomy)

Biodiversitas adalah motor penggerak ekonomi jangka panjang yang tak ternilai harganya.

  • Jasa Ekosistem Gratis: Alam menyediakan penyerbukan tanaman oleh serangga, pemurnian air oleh akar pohon, dan pembentukan tanah subur secara gratis. Jika jasa ini digantikan teknologi manusia, biayanya mencapai triliunan dolar.
  • Farmasi dan Kesehatan: Lebih dari 50% obat-obatan modern berbahan dasar molekul alami yang ditemukan di hutan dan lautan. Kehilangan satu spesies berarti kehilangan potensi obat untuk penyakit mematikan di masa depan.
  • Ekonomi Hijau dan Biru: Sektor pariwisata berbasis alam (ecotourism) dan perikanan berkelanjutan membuka jutaan lapangan kerja global tanpa merusak bumi.

Kesimpulan: Kerangka Kerja Pasca-2020 (Kunming-Montreal)

Saat ini, bangsa-bangsa di dunia bergerak di bawah panduan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal. Target ambisiusnya dikenal sebagai "30 by 30", yaitu melindungi minimal 30% daratan dan 30% lautan bumi pada tahun 2030.

Bagi kehidupan bangsa-bangsa sedunia, Hari Keanekaragaman Hayati Internasional adalah alarm tahunan yang mengingatkan bahwa kita tidak bisa membangun kesejahteraan di atas planet yang sekarat. Harmoni dengan alam (Living in Harmony with Nature) adalah satu-satunya jalan mutlak untuk mencapai tatanan dunia yang damai, adil, dan sejahtera seutuhnya.

Ketika kita berbicara tentang "dunia yang sekarat", kita sedang melihat sebuah fenomena di mana rantai kehidupan yang menghubungkan manusia, alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, hingga siklus cuaca sedang mengalami disrupsi hebat. Bumi sebenarnya tidak akan hancur secara fisik, namun daya dukungnya untuk menyokong kehidupan makhluk hidup di dalamnya berada dalam titik kritis.

1. Manusia: Sang Pengubah Bentang Alam

Manusia adalah satu-satunya spesies yang memiliki kemampuan untuk mengubah geografi dan iklim bumi secara masif. Aktivitas industri, pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan konsumsi berlebih sejak abad ke-19 telah mendorong bumi ke era baru yang oleh para ilmuwan disebut Antroposen (era di mana manusia menjadi penggerak utama perubahan lingkungan).

Ironisnya, alih-alih menjaga rumahnya, aktivitas ini menciptakan efek domino yang merusak elemen alam lainnya.

2. Suhu Udara yang Terus Memanas

Jantung dari krisis "dunia sekarat" adalah Pemanasan Global (Global Warming). Gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida ($CO_2$) dan metana ($CH_4$) terperangkap di atmosfer, bertindak seperti selimut yang menahan panas matahari keluar dari bumi.

  • Suhu Ekstrem: Suhu rata-rata bumi terus memecahkan rekor tertinggi. Hal ini memicu gelombang panas (heatwaves) yang mematikan di berbagai belahan dunia, mencairkan gletser di kutub, dan menaikkan permukaan air laut.

3. Cuaca dan Musim yang Menjadi "Anomali"

Kenaikan suhu udara secara langsung merusak siklus hidrologi (sistem sirkulasi air bumi), yang berakibat pada kacaunya cuaca dan musim.

  • Musim yang Tak Menentu: Musim kemarau dan musim hujan tidak lagi mengikuti pola tradisional. Kemarau bisa menjadi sangat panjang dan gersang, sementara musim hujan datang dalam waktu singkat namun dengan intensitas ekstrem yang memicu banjir bandang.
  • Cuaca Ekstrem: Badai tropis, topan, dan siklon menjadi lebih sering terjadi dan jauh lebih merusak karena mendapat energi tambahan dari suhu laut yang menghangat.

4. Tumbuh-tumbuhan: Paru-Paru yang Terbakar dan Mengering

Tumbuh-tumbuhan dan hutan adalah pilar utama yang menyerap karbon dan menghasilkan oksigen. Namun, mereka kini menjadi korban sekaligus indikator kerusakan alam.

  • Kebakaran Hutan Masif: Suhu udara yang panas dan kemarau ekstrem membuat hutan mudah terbakar secara spontan atau sengaja dibakar untuk lahan sawit/tambang. Kehilangan hutan berarti kehilangan kemampuan bumi untuk "bernapas".
  • Kegagalan Adaptasi Flora: Tumbuhan memerlukan stabilitas suhu dan air untuk proses fotosintesis dan penyerbukan. Ketika musim bergeser secara ekstrem, banyak jenis pohon dan tanaman pangan gagal berbuah atau bahkan mati kekeringan.

5. Hewan: Krisis Kepunahan Massal Keenam

Hewan berada di ujung tombak kepunahan akibat hilangnya habitat, perubahan suhu, dan rusaknya rantai makanan.

  • Kehilangan Habitat: Saat hutan ditebang dan kutub mencair, hewan seperti harimau, gajah, hingga beruang kutub kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan. Hal ini memicu konflik vertikal antara hewan dan manusia.
  • Kerusakan Ekosistem Laut: Suhu laut yang memanas menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching). Ketika terumbu karang mati, ekosistem laut yang menampung 25% biota laut runtuh, berdampak pada kepunahan ikan secara massal.

6. Jaring-Jaring Kehidupan: Segala Sesuatu Saling Terhubung

Untuk memahami bagaimana semua elemen ini bekerja dan mengalami kerusakan bersama, kita bisa melihat contoh rantai sebab-akibat berikut:

[Aktivitas Manusia & Industri] 
       │
       ▼
[Emisi Gas Rumah Kaca Meningkat] 
       │
       ▼
[Suhu Udara Bumi Memanas] 
       │
       ├──────────────────────────────────────────┐
       ▼                                          ▼
[Cuaca & Musim Menjadi Ekstrem]           [Kekeringan & Kebakaran Hutan]
       │                                          │
       ▼                                          ▼
[Tumbuh-tumbuhan & Pangan Mati]          [Habitat Hewan Hancur & Punah]
       │                                          │
       └───────────────────┬──────────────────────┘
                           │
                           ▼
            [Ancaman Kelaparan & Krisis]
             (Kembali Berdampak pada Manusia)

Ketika satu mata rantai putus—misalnya, ketika serangga penyerbuk (seperti lebah) punah akibat suhu yang terlalu panas—maka tumbuh-tumbuhan tidak bisa bereproduksi. Jika tumbuhan mati, hewan herbivora kelaparan, dan pada akhirnya manusia akan kehilangan sumber pangan dan air bersih.

Harapan di Tengah Krisis

Istilah "dunia sekarat" adalah sebuah peringatan keras, bukan akhir dari cerita. Alam memiliki kemampuan luar biasa untuk memulihkan diri (self-healing) jika manusia memberikan ruang dan mengubah perilakunya.

Melalui transisi ke energi bersih (surya dan angin), penghentian deforestasi, perlindungan keanekaragaman hayati, dan penerapan gaya hidup berkelanjutan, laju kerusakan ini masih bisa ditahan demi mengembalikan harmoni kehidupan bagi generasi mendatang.

Sebagai salah satu negara megadiverse terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa di darat, laut, dan udara. Namun, ambisi mengejar pertumbuhan ekonomi sering kali menyisakan raport merah bagi lingkungan.

Dalam prospek menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan tidak lagi bisa bertumpu pada eksploitasi merusak. Keberhasilan menjadi negara maju sangat tergantung pada kemampuan kita memulihkan tiga pilar ekosistem utama ini.

1. Ekosistem Darat: Paru-Paru yang Terfragmentasi

Keadaan Saat Ini:

  • Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan: Jutaan hektar hutan alam telah berubah menjadi perkebunan monokultur skala besar, pertambangan, dan pemukiman.
  • Kepunahan Satwa Endemik: Habitat yang menyusut memicu konflik vertikal antara manusia dan satwa (seperti gajah dan harimau di Sumatra). Satwa ikonik seperti Orangutan dan Badak Jawa berada di ambang kepunahan.
  • Degradasi Tanah dan Bencana: Hilangnya vegetasi hutan menyebabkan erosi masif, tanah longsor di musim hujan, dan kekeringan ekstrem di musim kemarau.

Langkah Pemulihan Segera:

  • Moratorium dan Penegakan Hukum: Menghentikan total pemberian izin pembukaan hutan alam baru (primer) dan menindak tegas korporasi pembakar hutan atau penambang ilegal.
  • Reboisasi Berbasis Koridor Ekologi: Menanam kembali hutan yang rusak bukan sekadar menanam pohon, melainkan membangun kembali "koridor hijau" agar satwa liar dapat bergerak dan berkembang biak tanpa terisolasi.
  • Transformasi Pertanian (Agroforestri): Mendorong pola tani yang memadukan tanaman perkebunan dengan pohon hutan untuk menjaga kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati lokal.

2. Ekosistem Laut: Ibu Pertiwi Biru yang Terkepung

Keadaan Saat Ini:

  • Polusi Sampah Plastik: Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar ke laut di dunia. Plastik terfragmentasi menjadi mikroplastik yang masuk ke dalam pencernaan ikan dan akhirnya dikonsumsi manusia.
  • Kerusakan Terumbu Karang dan Mangrove: Pengeboman ikan, pemanasan suhu laut (coral bleaching), dan pembabatan hutan mangrove untuk tambak udang konvensional telah merusak benteng pesisir kita.
  • Overfishing: Eksploitasi ikan yang berlebihan oleh kapal besar (termasuk Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing) membuat nelayan tradisional semakin miskin karena kehabisan stok ikan di wilayah pesisir.

Langkah Pemulihan Segera:

  • Perluasan Kawasan Konservasi Perairan (KKP): Mengakselerasi target perlindungan laut hingga 30% pada tahun 2045, di mana zona inti benar-benar bebas dari aktivitas penangkapan ikan agar ekosistem bisa memulihkan diri.
  • Restorasi Skala Masif (Mangrove & Lamun): Menggalakkan kembali penanaman mangrove dan padang lamun. Ekosistem ini memiliki kemampuan menyerap karbon (Blue Carbon) hingga 5 kali lebih kuat daripada hutan daratan.
  • Infrastruktur Pengelolaan Sampah dari Hulu: Melarang penggunaan plastik sekali pakai secara nasional dan membenahi sistem manajemen sampah di tingkat darat agar tidak sejengkal pun plastik lolos ke sungai dan laut.

3. Ekosistem Udara: Atmosfer yang Menyesakkan

Keadaan Saat Ini:

  • Polusi Udara Perkotaan: Kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah penyangganya sering kali menempati peringkat kualitas udara terburuk di dunia akibat emisi kendaraan bermotor dan pembakaran batu bara di PLTU.
  • Kabut Asap Kebakaran Hutan: Kebakaran lahan gambut musiman melepaskan miliaran ton karbon ke atmosfer, memicu ISPA pada jutaan warga, dan merusak hubungan diplomatik dengan negara tetangga.
  • Transisi Energi yang Lambat: Ketergantungan Indonesia pada energi fosil (khususnya batu bara) masih sangat tinggi, yang memperparah sumbangan emisi gas rumah kaca global.

Langkah Pemulihan Segera:

  • Pensiun Dini PLTU Batu Bara: Mempercepat penghentian operasional pembangkit listrik berbasis batu bara dan beralih secara masif ke Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti tenaga surya, angin, dan geotermal.
  • Elektrifikasi Transportasi Publik: Bukan sekadar memindahkan kepemilikan ke mobil listrik pribadi, melainkan membenahi massal transportasi publik berbasis listrik yang terintegrasi di seluruh kota besar.
  • Penerapan Pajak Karbon secara Tegas: Memberikan disinsentif finansial bagi industri yang membuang emisi melebihi batas, dan memberikan insentif bagi industri hijau.

Menuju Indonesia Emas 2045: Paradoks Menjadi Peluang

Dalam visi Indonesia Emas, paradigma lama yang menganggap "Lingkungan hidup adalah beban biaya bagi pertumbuhan ekonomi" harus diubah total menjadi "Lingkungan hidup adalah modal utama keberlanjutan ekonomi".

Jika Indonesia mampu memulihkan darat, laut, dan udaranya, kita tidak hanya menyelamatkan alam, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang luar biasa besar:

  1. Ekonomi Hijau dan Biru (Green & Blue Economy): Industri pariwisata berbasis alam (ecotourism), budidaya laut berkelanjutan, dan industri daur ulang akan menyerap jutaan tenaga kerja baru yang terdidik.
  2. Perdagangan Karbon Internasional (Carbon Market): Dengan hutan tropis dan laut luas yang lestari, Indonesia bisa menjadi "Superpower Karbon" dunia, di mana negara luar membayar Indonesia atas jasanya menjaga paru-paru dunia.
  3. Ketahanan Nasional: Alam yang sehat menjamin ketersediaan air bersih, pangan yang melimpah, udara sehat yang menurunkan biaya kesehatan negara, serta meminimalisir konflik sosial akibat perebutan sumber daya alam.

Indonesia Maju tidak diukur dari seberapa banyak gedung pencakar langit atau nikel yang berhasil dikeruk, melainkan dari bagaimana bangsa ini mampu hidup selaras dengan alamnya—mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, tenteram, dan lestari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *