info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Penuhnya Masjid Saat Jumatan
Penuhnya Masjid Saat Jumatan
Penuhnya Masjid Saat Jumatan

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Antusiasme umat yang luar biasa memang selalu menjadi perhatian utama. Dalam sejarahnya, perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram terus dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi jutaan jemaah yang datang setiap tahunnya, terutama pada saat puncak ibadah seperti musim haji atau bulan Ramadhan.

Saat ini, Masjid Nabawi sedang melalui fase pengembangan terbesar dalam sejarahnya, yang dikenal sebagai Perluasan Saudi Ketiga.

Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masjid hingga mampu menampung lebih dari satu juta jemaah secara bersamaan, baik di dalam ruangan maupun di area pelataran luarnya.

Salah satu bagian menarik dari perluasan ini adalah pemasangan ratusan payung raksasa di halaman masjid untuk melindungi jemaah dari terik matahari.

Selain itu, pembangunan juga mencakup penataan kawasan pusat di sekitar masjid agar arus jemaah menjadi lebih lancar dan nyaman.

Berikut beberapa fasilitas utama dan teknologi canggih yang diterapkan dalam proyek pengembangan Masjid Nabawi saat ini untuk kenyamanan jemaah :

1. Sistem Pendingin Udara (AC) Terbesar di Dunia

Untuk mengatasi cuaca panas ekstrem di Madinah, Masjid Nabawi didukung oleh pusat pendingin udara yang terletak sekitar 7 kilometer dari masjid. Udara dingin dialirkan melalui pipa-pipa bawah tanah menuju pilar-pilar di dalam masjid. Setiap pilar memiliki kisi-kisi khusus yang mengeluarkan udara sejuk secara merata tanpa menimbulkan kebisingan.

2. Payung Raksasa Otomatis di Pelataran

Pelataran masjid dilengkapi dengan 250 payung raksasa yang beroperasi secara otomatis.

  • Siang Hari: Payung terbuka untuk melindungi jemaah dari terik matahari dan menurunkan suhu di bawahnya hingga beberapa derajat.
  • Malam Hari: Payung akan menguncup agar panas yang terserap bumi pada siang hari bisa terlepas ke langit, sekaligus menciptakan sirkulasi udara yang segar.
  • Payung-payung ini juga dilengkapi dengan pipa semprotan air (mist fans) yang mengeluarkan butiran air sangat halus untuk menyejukkan udara sekitar.

3. Kubah Geser Otomatis (Sliding Domes)

Di bagian atap masjid, terdapat 27 kubah geser seberat puluhan ton yang bisa bergerak membuka dan menutup secara otomatis. Kubah ini dibuka pada waktu-waktu tertentu (seperti malam hari atau pagi hari yang sejuk) untuk memasukkan udara segar dan cahaya alami ke dalam masjid, serta ditutup kembali saat cuaca mulai panas atau hujan.

4. Penataan Jalur dan Transportasi Kawasan Pusat (Central Area)

Untuk mengurai kepadatan jemaah, terutama setelah salat Jumat atau waktu-waktu puncak:

  • Terowongan Pejalan Kaki: Pembangunan jalur bawah tanah yang memisahkan antara jalur pejalan kaki jemaah dengan jalur kendaraan umum/taksi.
  • Integrasi Hotel: Kawasan hotel di sekitar masjid (Ring 1) ditata ulang agar memiliki akses langsung yang luas dan aman menuju pelataran masjid tanpa hambatan lalu lintas.

Proyek perluasan ini tidak hanya fokus pada penambahan luas lantai, tetapi juga pada pemanfaatan teknologi tinggi agar ibadah jutaan jemaah dapat berjalan dengan khusyuk, aman, dan nyaman.

Kondisi jemaah yang masih kepanasan saat salat Jumat di pelataran—meskipun sudah ada payung raksasa—memang menjadi tantangan nyata yang sangat dipahami oleh pihak otoritas. Masalah utamanya adalah efek pulau panas (heat island effect), di mana lantai marmer, dinding gedung, dan lautan manusia yang berkumpul dalam satu waktu memicu radiasi panas yang sangat tinggi, sehingga kipas angin uap air pun terkadang kewalahan.

Untuk mengatasi masalah krusial ini, Master Plan pengembangan jangka panjang Masjid Nabawi dan kawasan sekitarnya dirancang dengan pendekatan ilmiah yang lebih komprehensif. Berikut adalah strateginya :

1. Transformasi Marmer Lantai Berteknologi Tinggi (Thassos Cooling Marble)

Suhu panas di pelataran sering kali bukan datang dari atas, melainkan radiasi dari lantai yang dipijak.

  • Master Plan: Otoritas terus memperbarui material lantai pelataran menggunakan marmer putih khusus jenis Thassos berkualitas tinggi yang diimpor dari Yunani.
  • Cara Kerja: Marmer ini memiliki pori-pori yang sangat rapat dan kemampuan memantulkan cahaya matahari (bukan menyerapnya). Hasilnya, lantai tetap terasa sejuk di kulit meskipun terpapar matahari langsung dalam waktu lama, sehingga mengurangi hawa panas yang naik ke tubuh jemaah.

2. Peningkatan Radius dan Kapasitas Sistem Mist Cooling (Kipas Uap)

Kipas angin yang mengeluarkan butiran air saat ini dinilai belum cukup jika kepadatan jemaah sudah mencapai puncaknya.

  • Master Plan: Dalam cetak biru terbaru, sistem mikro-klimatologi pelataran sedang ditingkatkan. Debit dan kelembutan butiran air diatur secara otomatis menggunakan sensor suhu dan kelembaban udara yang terhubung ke pusat data.
  • Targetnya: Menurunkan suhu mikro di bawah payung secara lebih agresif (ditargetkan bisa turun hingga 4-6 derajat Celsius lebih rendah dibanding suhu luar pelataran) tanpa membuat pakaian jemaah menjadi basah.

3. Pengalihan Arsitektural: Memperbanyak Ruang Dalam ruangan (Indoor) ber-AC

Solusi paling mutlak untuk menghindari kepanasan adalah memindahkan jemaah dari pelataran luar ke dalam ruangan yang memiliki pendingin udara penuh.

  • Master Plan: Proyek perluasan sayap bangunan utama (struktur fisik masjid) terus dikebut ke arah utara, barat, dan timur.
  • Solusinya: Dengan memperluas bangunan utama yang tertutup, area yang tercover oleh AC sentral raksasa akan bertambah drastis. Jemaah yang tadinya terpaksa salat di jalanan atau pelataran terbuka lambat laun akan tertampung di dalam ruangan gedung yang sejuk.

4. Konsep Green Infrastructure dan Koridor Angin di Kawasan Pusat (Central Area)

Tata letak hotel-hotel tinggi di sekitar Masjid Nabawi (Ring 1) ternyata sangat memengaruhi sirkulasi udara. Gedung yang terlalu rapat bisa memblokir angin alami Madinah.

  • Master Plan: Penataan ulang tata ruang kota di sekitar masjid kini wajib mengikuti aturan koridor angin. Pembangunan gedung baru diatur jarak dan tingginya agar memberikan ruang bagi angin malam dan pagi untuk berembus masuk ke area masjid, sehingga menurunkan suhu dasar kawasan tersebut.

Melalui kombinasi antara teknologi material lantai, optimalisasi pendingin luar ruang, dan perluasan gedung ber-AC, master plan ini ditargetkan agar jemaah yang datang pada puncak ibadah seperti salat Jumat tidak lagi merasakan sengatan panas yang ekstrem, melainkan suasana yang teduh dan khusyuk.

Proyek besar untuk meningkatkan kenyamanan ibadah di Masjid Nabawi ini tidak dilakukan sekaligus dalam satu malam, melainkan melalui tahapan terencana yang terintegrasi dalam target besar Saudi Vision 2030.

Saat ini proses pembangunan sedang berjalan sangat intensif, dan kenyamanan yang lebih baik ditargetkan tercapai secara bertahap dalam linimasa berikut :

1. Tahap Pertama: Tahun 2026 (Saat Ini)

  • Target Fokus: Penyelesaian fase awal infrastruktur bawah tanah.
  • Realisasi Nyata: Saat ini, proyek Rua Al Madinah (megaproyek penataan kawasan pusat di timur Masjid Nabawi) sudah menyelesaikan fase pertamanya. Terowongan-terowongan besar di bawah tanah mulai difungsikan untuk mengalihkan jalur kendaraan umum, bus, dan taksi.
  • Dampaknya bagi Jemaah: Akses pejalan kaki menuju pelataran masjid menjadi jauh lebih longgar, aman, dan meminimalkan hawa panas dari asap knalpot kendaraan di sekitar Ring 1.

2. Tahap Menengah: Tahun 2027 - 2028

  • Target Fokus: Modernisasi fasilitas pelataran dan perluasan fisik masjid.
  • Realisasi Nyata: Pemasangan sistem sensor suhu baru untuk mengontrol kipas angin uap air (mist cooling) secara otomatis dan penggantian bertahap marmer pelataran dengan marmer Thassos yang antipanas. Di saat yang sama, perluasan struktur bangunan ber-AC di sisi utara terus dikebut agar kapasitas ruang dalam meningkat tajam.
  • Dampaknya bagi Jemaah: Area pelataran yang biasanya sangat panas saat salat Jumat akan mulai terasa lebih sejuk secara signifikan karena lantai tidak lagi memantulkan radiasi panas ekstrem.

3. Tahap Sempurna (Puncak Target): Tahun 2030

  • Target Fokus: Rampungnya seluruh Master Plan kawasan suci Madinah.
  • Realisasi Nyata: Pada tahun 2030, seluruh proyek perluasan fisik bangunan masjid dan kompleks perhotelan modern di sekitarnya ditargetkan selesai 100%. Kawasan sekitar masjid akan memiliki 63% ruang terbuka hijau dan koridor angin yang dirancang ilmiah untuk menurunkan suhu kota secara alami.
  • Dampaknya bagi Jemaah: Masjid Nabawi siap menampung hingga 1,8 juta jemaah sekaligus dengan kenyamanan yang merata. Jemaah tidak perlu lagi berdesakan di jalanan aspal yang panas karena daya tampung area ber-AC dan area pelataran berpayung sudah sangat luas dan teratur.

Kesimpulannya: Peningkatan kenyamanan ini sudah mulai bisa dirasakan perubahannya secara bertahap sejak tahun 2026 ini, dan kenyamanan yang paling ideal, luas, serta bebas dari masalah kepanasan ekstrem ditargetkan matang sepenuhnya pada tahun 2030. Allahlah yang memberikan kelancaran bagi segala urusan pelayanan tamu-tamu-Nya.

Secara garis besar, proyek besar yang dinamakan Perluasan Saudi Ketiga dan Megaproyek Rua Al Madinah ini membagi area renovasi menjadi beberapa titik krusial.

Pendekatan seni yang digunakan sangat menarik: menggabungkan teknologi modern yang canggih dengan seni Islam klasik (Utsmani dan Mamluk) agar roh spiritual masjid tidak hilang.

Berikut rincian area yang direnovasi beserta model bentuk karya seni yang diterapkan :

I. Area-Area Utama yang Direnovasi & Diperluas

1. Perluasan Sisi Utara, Timur, dan Barat (Gedung Utama)

  • Fokus Renovasi: Area ini menjadi fokus utamaasan fisik untuk menambah daya tampung ruang dalam (indoor) yang ber-AC. Bangunan baru dibuat menyatu secara sempurna dengan struktur bangunan lama.
  • Tujuan: Menggeser jemaah yang tadinya meluber ke jalanan luar agar bisa beribadah di dalam ruangan gedung yang sejuk.

2. Penataan Ulang Pelataran (Courtyard) dan Struktur Penyangga

  • Fokus Renovasi: Seluruh lantai pelataran dibongkar untuk dipasangi sistem pipa bawah tanah baru (untuk AC dan air) serta dilapisi ulang dengan marmer khusus. Pilar-pilar penyangga payung raksasa juga diperkuat dengan sistem digital terintegrasi.

3. Transformasi Kawasan Sayap Timur (Rua Al Madinah)

  • Fokus Renovasi: Kawasan perhotelan dan jalur logistik di sebelah timur masjid dirombak total. Hotel-hotel tua yang terlalu padat ditata ulang, diposisikan berjarak, dan dibuatkan jalur pedestrian (pejalan kaki) raksasa yang langsung lurus menuju pelataran Masjid Nabawi.

II. Model Bentuk Karya Seni & Arsitektur yang Digunakan

Pihak otoritas menerapkan standar seni yang sangat tinggi. Pola arsitekturnya mengacu pada Estetika Islami Klasik Kontemporer. Artinya, bentuknya terlihat sangat megah dan modern, namun jika diperhatikan detailnya, penuh dengan unsur sejarah.

Berikut adalah model karya seni yang diterapkan pada komponen masjid:

1. Seni Kaligrafi Arab Klasik (Thuluth & Kufi)

  • Penerapan: Dituliskan pada sekeliling bagian dalam kubah geser (sliding domes), lengkungan pilar, dan di atas pintu-pintu gerbang baru.
  • Model: Menggunakan goresan emas murni di atas latar belakang warna hijau tua khas Madinah atau biru gurun, memberikan kesan agung, berwibawa, dan teduh saat jemaah menatap ke atas.

2. Desain Geometris Islami pada Kubah Geser (Sliding Domes)

  • Penerapan: 27 Kubah geser raksasa yang bisa membuka-tutup otomatis.
  • Model Seni: * Bagian Luar: Dilapisi keramik khusus dengan perpaduan warna pasir gurun dan aksen garis turquoise (biru pirus) yang membentuk pola geometris bintang segi delapan.
    • Bagian Dalam: Menggunakan bilah-bilah kayu cedar padat yang diukir halus dan ditatah dengan potongan batu mulia pirus. Saat kubah bergeser terbuka, cahaya matahari akan menyaring masuk melalui celah geometris ini, menciptakan efek bayangan yang sangat indah di dalam masjid.

3. Struktur Pilar dan Busur Melengkung (An-Nawafez)

  • Penerapan: Pilar-pilar baru penyangga atap di dalam area perluasan.
  • Model Seni: Mengadopsi gaya busur belang-belang (putih dan abu-abu/hitam) yang terinspirasi dari arsitektur Islam klasik zaman Mamluk. Setiap pilar dihiasi dengan ukiran kuningan bermotif tumbuh-tumbuhan (arabesque) pada bagian puncaknya (kapital pilar), yang sekaligus berfungsi sebagai kamuflase estetis untuk tempat keluarnya udara dingin AC.

4. Detail Pintu Gerbang Raksasa

  • Penerapan: Pintu-pintu akses masuk baru ke dalam bangunan utama.
  • Model Seni: Pintu dibuat sangat tinggi menggunakan kayu jati pilihan yang dilapisi dengan ukiran perunggu dan sepuhan emas. Desainnya replika dari pintu-pintu klasik Masjid Nabawi terdahulu, lengkap dengan ukiran nama Nabi Muhammad ﷺ di bagian tengahnya.

5. Lansekap Kota Berkonsep Sikka (Gang Hijau Tradisional)

  • Penerapan: Area luar dan jalur pejalan kaki dari hotel menuju masjid.
  • Model Seni: Menggunakan konsep tata kota Madinah zaman dulu yang disebut Sikka (jalur pedestrian yang intim dan teduh). Jalur ini dihiasi dengan taman-taman vertikal, air mancur kecil, dan pohon-pohon kurma di sisinya. Arsitektur bangunan di sekitarnya diatur agar tidak boleh lebih tinggi secara visual daripada menara-menara Masjid Nabawi, sebagai bentuk penghormatan seni dan spiritualitas.

Melalui perpaduan renovasi ini, Masjid Nabawi tidak hanya menjadi lebih luas dan dingin secara fisik, tetapi secara visual tetap mempertahankan identitas budaya Islam yang kental. Ketika jemaah masuk, mereka tetap merasakan atmosfer spiritual yang sama seperti abad-abad lalu, namun didukung oleh kenyamanan teknologi modern.

Jika seluruh rencana megaproyek perluasan bangunan dan kawasan luar ini diselesaikan secara sempurna (target penuh pada Saudi Vision 2030), total luas area kompleks Masjid Nabawi dirancang akan mencapai angka yang sangat fantastis.

Berikut rincian kalkulasi luas total dan daya tampungnya setelah seluruh proyek rampung :

1. Luas Total Area Kompleks Masjid

Jika menghitung gabungan antara gedung utama (indoor), area atap (roof), dan seluruh pelataran luar (courtyard) yang dirombak, total luas kompleks Masjid Nabawi akan mencapai sekitar 400.000 meter persegi hingga mendekati 500.000 meter persegi khusus untuk area ibadah inti saja.

Sebagai gambaran, luas ini setara dengan puluhan kali lipat ukuran lapangan sepak bola internasional yang menyatu dalam satu kawasan suci.

2. Kapasitas Daya Tampung Jemaah

Dengan perluasan fisik bangunan ber-AC ke sisi utara serta penataan pelataran yang lebih efisien, daya tampung masjid akan melonjak drastis:

  • Kondisi Normal/Harian: Masjid dirancang untuk menampung minimal 1,2 juta hingga 1,6 juta jemaah secara sekaligus dengan standar kenyamanan yang tinggi (tidak berdesakan ekstrem).
  • Kondisi Puncak (Peak Season): Pada momen-momen padat luar biasa seperti Salat Jumat di musim Haji atau malam-malam terakhir bulan Ramadhan, fleksibilitas ruang dan pelataran luar yang baru dirancang mampu menampung hingga 2 juta jemaah secara bersamaan.

3. Dampak Integrasi Kawasan Sekitar (Rua Al Madinah)

Jika perluasan ini digabungkan dengan proyek penataan kota Rua Al Madinah yang terletak persis di sisi timur masjid, area pendukungnya bertambah seluas 1,35 juta meter persegi.

Di kawasan pendukung ini, 63% areanya sengaja dikosongkan sebagai ruang terbuka hijau dan jalur pejalan kaki raksasa. Artinya, jemaah tidak hanya mendapatkan ruang salat yang lebih luas di dalam masjid, tetapi sejak keluar dari pintu hotel pun sudah disambut oleh selasar terbuka yang sangat lapang, teduh, dan bebas dari jalur kendaraan.

Melalui cetak biru perluasan bangunan yang masif ini, pemerintah setempat menargetkan Madinah siap menyambut dan memuliakan hingga 30 million (30 juta) jemaah Umrah dan Haji setiap tahunnya dengan tingkat kenyamanan, keamanan, dan sirkulasi udara yang jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *