info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Wafat Soekarno dan Dampak Geopolitik
Wafat Soekarno dan Dampak Geopolitik
Wafat Soekarno dan Dampak Geopolitik

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Wafatnya Ir. Soekarno bukan sekadar akhir dari hidup seorang proklamator, melainkan sebuah titik balik krusial yang mengubah haluan politik Indonesia sekaligus menggeser peta persaingan Perang Dingin di Asia Tenggara.

Berikut ulasan mendalam mengenai hari wafat, sejarah, asal-usul momentum tersebut, serta dampaknya terhadap geopolitik nasional dan global.

1. Hari Wafat dan Asal-Usul Sejarahnya

Ir. Soekarno wafat pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada usia 69 tahun.

Asal-usul atau latar belakang menuju hari wafatnya Bung Karno diselimuti oleh tragedi politik yang memilukan. Setelah peristiwa G30S pada tahun 1965, kekuasaan Soekarno perlahan-lahan dikikis melalui Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) tahun 1966, hingga akhirnya ia resmi lengser pada tahun 1967 digantikan oleh Jenderal Soeharto.

Indonesian President Sukarno was taken prisoner by Dutch troops in an attempt to retain control of Indonesia.

Setelah kehilangan kekuasaannya, Bung Karno menjalani hari-hari terakhirnya sebagai tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta. Dalam status tahanan tersebut, beliau mengalami tekanan psikologis yang berat, diisolasi dari sahabat dan keluarganya, serta tidak mendapatkan perawatan medis yang layak untuk penyakit gangguan ginjal kronis yang dideritanya. Kondisi kesehatan yang terus memburuk tanpa penanganan memadai inilah yang akhirnya merenggut nyawa Sang Proklamator.

2. Perspektif Geopolitik Indonesia Sepeninggal Soekarno

Wafatnya Soekarno (dan runtuhnya Orde Lama) menandai perubahan radikal 180 derajat dalam arah geopolitik domestik dan regional Indonesia.

  • Pembalikan Haluan Ideologi Ekonomi dan Politik: Soekarno dikenal dengan kebijakan anti-imperialisme yang keras, menolak bantuan Barat ("Go to hell with your aid"), dan membawa Indonesia condong ke blok Komunis (Poros Jakarta-Peking-Pyongyang). Begitu Soekarno tumbang dan wafat, Pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto langsung memutar kemudi ke arah Barat (kapitalisme). Indonesia membuka pintu selebar-lebarnya bagi investasi asing melalui UU PMA 1967 dan menjalin hubungan erat dengan AS dan sekutunya.
  • Arsitek Stabilitas Regional (Lahirnya ASEAN): Pada masa akhir kekuasaannya, Soekarno mengobarkan konfrontasi "Ganyang Malaysia" karena menganggap Malaysia sebagai proyek neokolonialisme Inggris. Sepeninggal pengaruh Soekarno, Indonesia menghentikan konfrontasi tersebut dan justru menginisiasi berdirinya ASEAN pada tahun 1967. Indonesia berubah dari negara radikal penyulut konflik regional menjadi "kakak tertua" yang menjaga stabilitas politik di Asia Tenggara.

3. Perspektif Geopolitik Dunia

Di panggung global, hilangnya figur Soekarno meredam salah satu suara paling vokal dari negara-negara berkembang.

  • Kemenangan Blok Barat di Asia Tenggara: Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, kejatuhan dan wafatnya Soekarno adalah kemenangan geopolitik terbesar mereka di Asia Tenggara selama Perang Dingin. Saat AS sedang kepayahan dalam Perang Vietnam untuk membendung komunisme, Indonesia—negara terbesar di kawasan tersebut—justru "jatuh" ke pelukan Barat secara sukarela tanpa perlu invasi militer langsung dari AS.
  • Meredupnya Kekuatan Ketiga (Non-Blok): Soekarno adalah salah satu arsitek utama Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 dan Gerakan Non-Blok (GNB) 1961. Beliau memperkenalkan konsep New Emerging Forces (NEFOs) untuk melawan dominasi negara-negara mapan (Old Established Forces/OLDEFOs). Sepeninggal Soekarno, gerakan ini kehilangan singa podiumnya yang paling karismatik. GNB tetap berjalan, namun arahnya berubah dari yang tadinya konfrontatif dan anti-Barat menjadi lebih pragmatis dan fokus pada kerja sama ekonomi pembangunan.

Kesimpulan:

Hari wafatnya Soekarno adalah akhir dari era romantis-revolusioner Indonesia. Geopolitik pasca-Soekarno menandai transisi dari sebuah negara yang ambisius memimpin dunia baru yang anti-kolonialisme, menjadi negara yang pragmatis, fokus pada pembangunan ekonomi domestik, dan memilih menyelaraskan diri dengan sistem kapitalisme global demi stabilitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *