
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Muharram adalah bulan yang sangat istimewa dalam Islam—bukan sekadar penanda pergantian tahun baru Hijriah, tetapi juga salah satu dari empat bulan haram (bulan yang disucikan dan dilarang melakukan peperangan/kezaliman).
Di dalam bulan ini, terdapat satu hari yang sangat agung, yaitu Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Hari ini menyimpan rekam jejak sejarah keselamatan para nabi terdahulu sekaligus membawa anjuran ibadah dari Rasulullah SAW.
Berikut penjelasan mengenai peristiwa sejarah dan anjuran amalan di hari Asyura.
1. Peristiwa Sejarah Para Nabi di Hari Asyura
Berdasarkan berbagai riwayat sejarah dan kitab tafsir (seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Bidayah wan Nihayah), tanggal 10 Muharram adalah hari di mana Allah SWT memberikan kemenangan dan keselamatan kepada para utusan-Nya dari kezaliman musuh.
Berikut beberapa peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 10 Muharram:
- Nabi Musa AS & Bani Israil Selamat dari Firaun: Ini adalah peristiwa paling masyhur yang menjadi dasar utama puasa Asyura. Pada hari ini, Allah membelah Laut Merah untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya, sekaligus menenggelamkan Firaun dan tentaranya.
- Berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh AS: Setelah berminggu-minggu terapung di tengah banjir bandang yang menenggelamkan bumi, bahtera Nabi Nuh akhirnya berlabuh dengan selamat di Bukit Judi pada hari Asyura sebagai tanda dimulainya kehidupan baru yang bersih dari kekufuran.
- Nabi Ibrahim AS Selamat dari Kobaran Api: Raja Namrud membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup karena menghancurkan berhala. Namun, pada hari Asyura, Allah menjadikan api itu dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim.
- Nabi Yunus AS Keluar dari Perut Ikan: Setelah bertahan dan terus bertasbih di dalam kegelapan perut ikan paus selama beberapa waktu, Allah mengabulkan taubat Nabi Yunus dan mengeluarkannya ke daratan dengan selamat pada hari ini.
- Nabi Yusuf AS Bebas dari Penjara: Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara Mesir akibat fitnah, Nabi Yusuf dibebaskan dan dibersihkan namanya pada hari Asyura.
- Kesembuhan Nabi Ayyub AS: Setelah bertahun-tahun diuji dengan penyakit kulit parah yang membuat seluruh hartanya habis dan dikucilkan masyarakat, Allah menyembuhkan Nabi Ayyub pada hari Asyura.
Catatan Sejarah Kelam: Di samping kemuliaan para nabi terdahulu, sejarah Islam juga mencatat peristiwa memilukan pada 10 Muharram tahun 61 Hijriah, yaitu tragedi Karbala. Cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali RA, gugur syahid dalam pertempuran yang tidak seimbang melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Bagi umat Islam, hari ini juga menjadi momen refleksi atas perjuangan menegakkan kebenaran.
2. Anjuran Rasulullah SAW di Hari Asyura
Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada bulan Muharram. Beliau bersabda: "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim).
Secara spesifik, berikut adalah anjuran amalan di hari Asyura:
A. Puasa Asyura (10 Muharram)
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa. Rasulullah lalu bersabda, "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Maka beliau berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa.
- Keutamaan: Menggugurkan dosa-dosa kecil setahun yang lalu. $$ \text{Puasa Asyura} \rightarrow \text{Penghapus Dosa 1 Tahun yang Lalu} $$
B. Puasa Tasu'a (9 Muharram) sebagai Pembeda
Agar ibadah umat Islam tidak persis sama dengan ibadah kaum Yahudi (tasyabbuh), Rasulullah SAW berniat untuk menambah puasa satu hari sebelumnya di akhir hayat beliau:
"Apabila datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (Tasu'a)." (HR. Muslim). Namun, beliau wafat sebelum mendapati bulan Muharram tahun berikutnya.
Oleh karena itu, para ulama menganjurkan format puasa Muharram sebagai berikut:
- Format Utama (Paling Afdal): Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasu'a dan Asyura).
- Format Alternatif: Puasa tanggal 10 dan 11 Muharram (jika luput berpuasa di tanggal 9).
- Format Minimal: Puasa tanggal 10 Muharram saja (tetap sah dan mendapat pahala, meski makruh tanzih menurut sebagian ulama karena menyamai Yahudi).
C. Melapangkan Nafkah untuk Keluarga
Sebagian ulama (seperti Imam Ahmad dan ulama mazhab Syafi'i) menganjurkan untuk memberikan nafkah atau hidangan yang lebih baik/banyak dari biasanya kepada keluarga (istri dan anak-anak) pada hari Asyura.
Hal ini didasarkan pada hadis: "Barangsiapa yang melapangkan nafkah bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun itu." (HR. Thabrani dan Baihaqi). Meskipun derajat hadis ini diperbincangkan, mengamalkannya dengan niat sedekah dan membahagiakan keluarga dinilai baik.
D. Memperbanyak Amal Saleh Umum
Bulan Muharram adalah bulan haram di mana pahala amal saleh dilipatgandakan (dan sebaliknya, dosa kemaksiatan juga dinilai lebih berat). Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memperbanyak:
- Sedekah kepada anak yatim dan fakir miskin.
- Bertaubat dan membaca istigfar.
- Menyambung tali silaturahmi.
Selain kisah-kisah keselamatan para nabi yang telah disebutkan sebelumnya, dalam literatur sejarah Islam, kitab-kitab klasik (tarikh), serta kitab muktabar seperti I'anatut Thalibin dan Nuzhatul Majalis, hari Asyura (10 Muharram) memang sering dikaitkan dengan fase awal penciptaan manusia, khususnya Nabi Adam AS dan Sayyidah Hawa, serta beberapa kisah besar lainnya.
1. Peristiwa Terkait Nabi Adam AS dan Hawa
Dalam beberapa riwayat, hari Asyura menjadi saksi dari awal mula sejarah umat manusia di bumi. Ada tiga momen krusial terkait Nabi Adam dan Hawa yang terjadi pada 10 Muharram:
- Penciptaan Nabi Adam AS: Beberapa ulama ahli sejarah menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS pertama kali dari tanah pada hari Asyura, sebelum akhirnya ditiupkan ruh dan ditempatkan di surga.
- Diterimanya Taubat Nabi Adam AS: Ini adalah peristiwa yang paling masyhur. Setelah Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bumi di tempat yang terpisah akibat memakan buah khuldi, mereka bertahun-tahun memohon ampun dengan doa yang diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. Al-A'raf: 23). Allah SWT akhirnya menerima taubat Nabi Adam dan Hawa tepat pada tanggal 10 Muharram.
- Pertemuan Kembali di Jabal Rahmah: Setelah taubat mereka diterima, atas izin Allah, Nabi Adam dan Hawa kembali dipertemukan di Padang Arafah (Jabal Rahmah) setelah sekian lama terpisah di bumi. Ada riwayat yang menyebut momen bersatunya kembali pasang surut umat manusia ini terjadi di hari Asyura.
2. Kisah-Kisah Penting Lainnya di Hari Asyura
Selain kisah Nabi Adam, tradisi Islam juga mencatat berbagai peristiwa kosmik (alam semesta) dan kisah nabi lainnya yang bertumpu pada tanggal 10 Muharram:
A. Peristiwa Kosmik dan Penciptaan
- Penciptaan Langit, Bumi, dan Qalam: Beberapa kitab klasik menyebutkan bahwa Allah SWT memulai penciptaan tujuh lapis langit, bumi, laut, pegunungan, serta Qalam (pena takdir) dan Lauh Mahfuzh pada hari Asyura.
- Turunnya Hujan Pertama: Sebagian riwayat menyatakan bahwa rahmat berupa hujan yang pertama kali turun dari langit ke bumi terjadi pada tanggal 10 Muharram.
B. Kisah Nabi-Nabi Lainnya
- Kenaikan Nabi Isa AS ke Langit: Ketika kaum kafir Quraisy atau Romawi (dalam konteks sejarah Nabi Isa) mengepung tempat tinggalnya untuk menyalibnya, Allah SWT menyelamatkan Nabi Isa AS dengan mengangkatnya hidup-hidup ke langit pada hari Asyura.
- Kembalinya Penglihatan Nabi Ya'qub AS: Nabi Ya'qub AS mengalami kebutaan akibat terus-menerus menangisi hilangnya Nabi Yusuf AS. Pada hari Asyura, kesedihannya berakhir dan penglihatannya dipulihkan oleh Allah SWT setelah jubah Nabi Yusuf diusapkan ke wajahnya.
- Nabi Idris AS Diangkat ke Tempat yang Tinggi: Nabi Idris AS diberikan mukjizat dan kemuliaan oleh Allah SWT dengan diangkat ke tempat yang tinggi (langit/surga) pada hari Asyura karena ketakwaannya yang luar biasa.
3. Catatan Kritis Umat Islam Terhadap Riwayat Ini
Penting untuk Dipahami: Peristiwa seperti selamatnya Nabi Musa dari Firaun dan berlabuhnya kapal Nabi Nuh memiliki dasar dalil yang shahih (kuat) dalam hadis-hadis Bukhari dan Muslim.
Sementara itu, kisah-kisah seperti penciptaan Nabi Adam, penerimaan taubatnya, hingga pengangkatan Nabi Isa pada 10 Muharram sebagian besar bersumber dari riwayat Israilat (cerita ahli kitab terdahulu) atau hadis-hadis dengan derajat dhaif (lemah).
Meskipun demikian, para ulama memperbolehkan kisah-kisah ini diceritakan dalam konteks Fadhailul A'mal (keutamaan amal) dan sejarah, guna menambah rasa takjub kita kepada keagungan Allah SWT serta mempertebal motivasi untuk mengisi hari Asyura dengan memperbanyak amal saleh.
Kisah-kisah mengenai keutamaan bulan Muharram dan peristiwa sejarah yang terjadi pada hari Asyura (10 Muharram) tersebar di berbagai jenis kitab klasik lintas disiplin ilmu, mulai dari kitab hadis, sejarah (tarikh), tafsir, hingga kitab wa'az (nasihat/bimbingan spiritual).
1. Kitab Kategori Hadis & Syarah
A. Al-Jami' al-Shahih (Shahih Bukhari)
- Konten Asyura: Memuat hadis-hadis paling otentik (shahih) mengenai latar belakang puasa Asyura, terutama dialog Rasulullah SAW dengan kaum Yahudi di Madinah terkait penyelamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun.
- Pengarang: Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari (194–256 H).
- Penerbitan Populer:
- Dar Thauq al-Najah (Arab Saudi/Mesir), cetakan ber-sanad yang ditahqiq oleh Syaikh Ahmad Syakir.
- Dar al-Kutub al-Ilmiyyah (Beirut, Lebanon), edisi multi-volume ringkas.
B. Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari
- Konten Asyura: Kitab syarah (penjelasan) Shahih Bukhari ini mengulas secara sangat detail aspek bahasa, hukum fikih puasa Asyura, serta menjabarkan kronologi sejarah selamatnya Nabi Musa AS dan tenggelamnya Firaun.
- Pengarang: Imam Badruddin al-Aini (762–855 H).
- Penerbitan Populer: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah (Beirut, Lebanon) dan Dar al-Fikr (Beirut), biasanya terbit dalam 25 jilid besar.
2. Kitab Kategori Fikih & Syarah (Tradisi Syafi'iyyah)
A. I'anatut Thalibin ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in
- Konten Asyura: Pada jilid ke-2 bab puasa, kitab ini merangkum secara spesifik daftar mukjizat para nabi yang terjadi pada 10 Muharram (seperti selamatnya Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, kesembuhan Nabi Ayyub, hingga bebasnya Nabi Yusuf). Kitab ini menjadi rujukan utama pesantren di Indonesia saat membahas khazanah Asyura.
- Pengarang: Syaikh Al-Allamah Sayyid Bakri Muhammad Syatha al-Dimyati (wafat 1310 H).
- Penerbitan Populer:
- Dar al-Kutub al-Islamiyah (Jakarta, Indonesia) – Edisi teks kuning/putih lux yang sangat populer di Asia Tenggara.
- Dar al-Fikr (Beirut, Lebanon) – Terbit dalam 4 jilid kokoh.
3. Kitab Kategori Sejarah (Tarikh) & Tafsir
A. Al-Bidayah wan Nihayah
- Konten Asyura: Menjelaskan penciptaan alam semesta, kisah para nabi terdahulu (termasuk Nabi Adam AS dan pertobatannya), serta mencatat secara detail kronologi tragedi berdarah gugurnya Sayyidina Husain bin Ali RA di Karbala pada 10 Muharram 61 H.
- Pengarang: Imam Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir (Ibnu Katsir) (701–774 H).
- Penerbitan Populer:
- Dar Hajr (Kairo, Mesir), tahqiq Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki (ini adalah cetakan terbaik dan paling akurat).
- Dar al-Kutub al-Ilmiyyah (Beirut, Lebanon).
4. Kitab Kategori Kebajikan, Doa, & Nasihat (Wa'az/Fadhail)
Perlu dicatat bahwa kitab-kitab dalam kategori ini memuat kisah Asyura yang sangat luas, dari penciptaan kosmik hingga kisah Adam dan Hawa, namun para ulama mengingatkan bahwa sebagian riwayat di dalamnya berstatus lemah (dhaif) atau bersumber dari hikayat.
A. Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafais
- Konten Asyura: Kitab bimbingan akhlak dan spiritual yang merinci berbagai kejadian luar biasa di hari Asyura, termasuk fase penciptaan awal langit dan bumi, kisah bertemunya kembali Nabi Adam dan Hawa, hingga keutamaan menyantuni anak yatim pada hari tersebut.
- Pengarang: Syaikh Abdurrahman bin Abdussalam al-Shafuri asy-Syafi'i (wafat 894 H).
- Penerbitan Populer:
- Dar al-Kutub al-Ilmiyyah (Beirut, Lebanon) – Edisi 1 atau 2 jilid hard cover.
- Dar al-Kutub al-Islamiyah (Jakarta, Indonesia) – Banyak beredar di toko kitab lokal dengan kertas Lux/Kuning.
B. Kanzun al-Najah wa al-Surur fi Ad'iyyah al-Taysir al-Ushur
- Konten Asyura: Kitab khusus yang merangkum doa-doa akhir dan awal tahun Hijriah, rahasia kemuliaan bulan Muharram, amalan-amalan utama hari Asyura, serta doa khusus hari Asyura (Doa Asyura) yang bersanad hingga para ulama besar.
- Pengarang: Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds (1280–1334 H), seorang ulama besar keturunan Kudus, Jawa Tengah, yang pernah menjadi imam dan pengajar di Masjidil Haram, Makkah.
- Penerbitan Populer: Dar al-Hawi (Beirut) atau banyak dicetak ulang oleh penerbit lokal seperti Menara Kudus (Jawa Tengah, Indonesia).
C. Durratun Nashihin fil Wa'zhi wal Irsyad
- Konten Asyura: Memuat satu bab khusus (Majelis) yang membahas panjang lebar tentang kemuliaan 10 Muharram, mukjizat para nabi, serta anjuran-anjuran sosial dan ibadah pada hari Asyura.
- Pengarang: Syaikh Utsman bin Hasan al-Khubawi (wafat 1224 H).
- Penerbitan Populer: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah (Beirut) dan Penerbit Al-Hidayah (Surabaya, Indonesia) untuk versi cetakan lokal ber-makna pesantren.