
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Berikut adalah penjelasan lugas dan tuntas mengenai poin-poin pokok akidah dan pemikiran Imam al-Ghazali yang bersumber dari kitab Ihya' Ulumiddin (khususnya pada bab Kitab Qawa'id al-Aqa'id).
1. Akidah Ahlus Sunnah (Al-I'tiqad) & Metodologi Imam al-Ghazali
Dalam Ihya' Ulumiddin, Imam al-Ghazali menegaskan bahwa akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah) adalah fondasi utama sebelum seseorang melangkah ke pembersihan jiwa (tasawuf). Bagi beliau, keimanan yang benar bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan keyakinan yang menghujam di hati, yang kemudian melahirkan rasa takut (khauf) dan harap (raja') kepada Allah.
Pembimbingan Secara Bertahap
Imam al-Ghazali menekankan bahwa mendidik akidah harus dilakukan secara bertahap (tadarruj), terutama untuk orang awam dan anak-anak:
- Tahap Pertama: Mendiktekan kalimat akidah yang ringkas untuk dihafal dan diterima bulat-bulat tanpa beban dalil filsafat yang rumit.
- Tahap Kedua: Menumbuhkan pemahaman mendalam secara alami melalui ibadah, tadabur Al-Qur'an, dan keteladanan.
- Tahap Ketiga: Memperkuatnya dengan dalil logis sederhana jika muncul keraguan, tanpa menjerumuskannya ke dalam perdebatan teologis (ilmu kalam) yang ekstrem, kecuali jika dalam kondisi darurat (menepis syubhat).
2. Prinsip Penyucian (Tanzih)
Tanzih berarti menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan, keserupaan dengan makhluk (tasybih), atau mengambil tempat/bentuk fisik (tajsim).
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa Allah tidak bertempat, tidak berarah (tidak di atas, bawah, kanan, atau kiri secara fisik), tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, dan tidak berubah-ubah. Segala ayat atau hadis yang secara lahiriah mengisyaratkan fisik (seperti tangan, wajah, atau bersemayam) wajib dipahami dengan prinsip tanzih—baik melalui metode tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah) atau ta'wil (mengartikannya sesuai keagungan bahasa Arab, seperti 'tangan' diartikan sebagai kekuasaan).
3. Sifat-Sifat Ma'ani (Tujuh Sifat Utama)
Al-Ghazali merinci sifat-sifat wajib bagi Allah yang menjadi poros tegaknya alam semesta ini:
- Al-Hayah (Maha Hidup): Allah maha hidup dengan kehidupan yang abadi, tidak bermula dan tidak berakhir. Sifat hidup ini menjadi syarat mutlak bagi adanya sifat-sifat lainnya seperti tahu, kuasa, dan berkehendak.
- Al-Qudrah (Maha Kuasa): Kekuasaan mutlak untuk menciptakan (al-ijad) atau meniadakan (al-i'dam) segala sesuatu yang bersifat mungkin (makhluk). Tidak ada satu atom pun yang bergerak atau diam tanpa kuasa-Nya.
- Al-Ilm (Maha Mengetahui): Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu—yang wajib, yang mustahil, dan yang mungkin. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, akan terjadi, bahkan apa yang tidak terjadi jika terjadi bagaimana bentuknya. Ilmu-Nya tidak bertambah dan tidak berkurang.
- Al-Iradah (Maha Berkehendak): Sifat yang mengkhususkan setiap makhluk. Mengapa langit berwarna biru, mengapa manusia lahir di tahun tertentu, semuanya ditentukan oleh Iradah Allah. Segala yang terjadi di alam semesta, baik kebaikan maupun keburukan, terjadi atas kehendak-Nya (meski keburukan tidak diridai-Nya).
- Al-Sam' & Al-Bashar (Maha Mendengar & Maha Melihat): Allah mendengar segala suara (bahkan bisikan hati) dan melihat segala wujud (bahkan semut hitam di atas batu hitam di kegelapan malam). Pendengaran dan penglihatan Allah suci dari organ fisik seperti telinga atau mata.
- Al-Kalam (Maha Berbicara): Allah memiliki sifat kalam yang bersifat qadim (tidak bermula), yang bukan berupa suara, huruf, atau bahasa. Al-Qur'an yang kita baca adalah indikasinya (manifestasi) di alam materi dari Sifat Kalam-Nya yang abadi.
4. Af'al (Perbuatan Allah)
Prinsip dasar Af'alullah (perbuatan-perbuatan Allah) dalam akidah ini adalah:
- Pencipta Tunggal: Allah adalah satu-satunya pencipta materi sekaligus pencipta perbuatan makhluk-Nya (Kholiqu kulli syai').
- Konsep Kasb (Usaha): Manusia memiliki kehendak bebas yang lemah (ikhtiar), namun tindakan nyata dari kehendak tersebut diciptakan oleh Allah. Pertemuan antara kehendak manusia dan ciptaan Allah inilah yang disebut kasb, yang menjadi dasar adanya pahala dan dosa.
- Keadilan Mutlak: Allah tidak wajib berbuat baik (shalah wa ashlah) kepada makhluk. Jika Allah memberi nikmat, itu adalah karunia (fadhl); jika Allah memberi azab, itu adalah keadilan ('adl). Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, melainkan makhluk-lah yang akan ditanya.
5. Makna Islam & Kalimat Syahadat Kedua
Makna Islam: Ketundukan dan Penyerahan Diri
Secara bahasa dan syariat, Islam adalah al-istislam (penyerahan diri secara total) dan al-inqiyad (ketundukan lahiriah kepada hukum Allah). Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa Islam sering kali merujuk pada amalan lahiriah (syahadat, salat, zakat), sedangkan Iman merujuk pada pembenaran hati (tashdiq). Namun, dalam kesempurnaan agama, keduanya tidak bisa dipisahkan: Islam tanpa iman adalah kemunafikan, dan Iman tanpa Islam (ketundukan) adalah kefasikan atau kekufuran.
Makna Kalimat Kedua (Syahadat Rasul)
"Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah" (Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
Imam al-Ghazali membedah makna kalimat ini ke dalam tiga konsekuensi logis:
- Membenarkan (Tashdiq): Menyakini tanpa ragu bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang diutus kepada seluruh jin dan manusia, membawa syariat yang menghapus syariat sebelumnya.
- Menaati (Tha'ah): Menerima dan mengamalkan segala apa yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang.
- Memercayai Gaib: Membenarkan segala kabar yang dibawa oleh Nabi mengenai perkara gaib, seperti alam barzakh (siksa dan nikmat kubur), pertanyaan Munkar dan Nakir, hari kebangkitan (ba'ats), padang mahsyar, jembatan (shirath), timbangan (mizan), serta syafaat Nabi, hingga ketetapan surga dan neraka.
Bab 3 Rahasia Bersuci
Berikut adalah penjelasan lugas dan tuntas mengenai Bab Rahasia Bersuci (Asrar al-Thaharah) yang disarikan dari kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam al-Ghazali.
Imam al-Ghazali membagi bersuci menjadi 4 tingkatan, di mana bersuci fisik (dari hadas dan najis) merupakan tingkatan pertama (paling dasar) sebagai gerbang untuk menyucikan anggota badan dari dosa, menyucikan hati dari akhlak tercela, dan menyucikan jiwa dari selain Allah.
1. Bersuci dari Hadas & Adab Buang Hajat
Hadas adalah kondisi tidak suci secara maknawi pada diri seorang muslim yang menghalanginya untuk ibadah seperti salat. Hadas kecil dihilangkan dengan wudhu, hadas besar dengan mandi, dan keduanya bisa digantikan dengan tayamum dalam kondisi darurat.
Sebelum bersuci dari hadas, seseorang harus membersihkan diri dari najis melalui urusan buang hajat (istinja). Imam al-Ghazali merinci adabnya dengan sangat saksama:
- Adab Masuk & Keluar: Mendahulukan kaki kiri saat masuk dan membaca doa perlindungan dari setan. Mendahulukan kaki kanan saat keluar dan membaca doa syukur atas ringannya beban tubuh dari kotoran.
- Posisi & Lokasi: Jangan menghadap atau membelakangi kiblat (jika di tempat terbuka/tanpa dinding pembatas). Dilarang buang hajat di air yang tenang (tidak mengalir), di bawah pohon berbuah, di jalanan tempat orang lewat, atau di tempat berteduh.
- Sikap saat Hajat: Menjaga keheningan (tidak berbicara), tidak membawa benda bertuliskan nama Allah/Rasul, dan menuntaskan sisa kotoran (berdehem lembut bagi laki-laki untuk memastikan kencing tuntas).
- Cara Istinja: Menggunakan tangan kiri. Boleh menggunakan 3 buah batu suci yang dapat membersihkan (atau tisu/batu modern) lalu disempurnakan dengan air, atau cukup dengan air saja (yang mana ini lebih utama).
2. Tata Cara Wudhu (Lahir & Batin)
Bagi Imam al-Ghazali, wudhu bukan sekadar membasuh kulit, melainkan simbol pembersihan panca indra dari maksiat. Beliau menekankan pentingnya membaca doa khusus di setiap basuhan.
1. Niat dan Membasuh Telapak Tangan
Persiapan, Membaca Basmalah, berniat menghilangkan hadas kecil, lalu membasuh kedua telapak tangan tiga kali sebelum dimasukkan ke dalam wadah air.
2. Berkumur (Madmadah), sebanyak 3 Kali, Memasukkan air ke dalam mulut untuk membersihkannya. Batin berniat: "Ya Allah, bantulah aku membaca kitab-Mu dan memperbanyak zikir."
3. Menghirup Air ke Hidung (Istinsyaq), sebanyak 3 Kali, Menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya (istintsar). Batin berniat menghirup wewangian surga dan berlindung dari bau busuk neraka.
4. Membasuh Wajah, Fardu (3 Kali), Membasuh seluruh wajah secara merata dari tumbuhnya rambut kepala hingga dagu, dan dari telinga kanan ke telinga kiri, dibarengi niat wudhu di dalam hati.
5. Membasuh Kedua Tangan, Fardu (3 Kali), Membasuh tangan kanan lalu kiri, mulai dari ujung jari hingga melewati siku. Batin berdoa agar kelak menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan.
6. Mengusap Kepala dan Telinga, Fardu & Sunah, Mengusap sebagian atau seluruh kepala dengan air baru (bukan sisa tangan), kemudian langsung mengusap bagian luar dan dalam kedua telinganya dengan jari telunjuk dan jempol.
7. Membasuh Kedua Kaki, Fardu (3 Kali), Membasuh kaki kanan lalu kiri hingga melewati mata kaki, sembari membersihkan sela-sela jari kaki menggunakan jari kelingking tangan kiri.
8. Tertib & Doa Penutup: Semua urutan di atas dilakukan secara berurutan (tertib). Setelah selesai, menghadap kiblat dan membaca Syahadat serta doa: "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri."
3. Tata Cara Mandi (Ghusl)
Mandi wajib diperlukan untuk mensucikan diri dari hadas besar (seperti junub, selesai haid, atau nifas).
- Pembersihan Awal: Membasuh kedua telapak tangan, lalu membersihkan segala kotoran atau najis yang menempel di badan (terutama kemaluan).
- Berwudhu: Melakukan wudhu secara sempurna seperti wudhu salat. Boleh menunda membasuh kaki di akhir mandi jika air menggenang di lantai.
- Mengguyur Kepala: Menyiram air ke kepala sebanyak 3 kali sambil berniat di dalam hati untuk menghilangkan hadas besar. Pastikan air meresap hingga ke dasar kulit rambut.
- Meratakan Air ke Seluruh Tubuh: Mengguyur badan bagian kanan terlebih dahulu (depan dan belakang), kemudian bagian kiri (depan dan belakang).
- Menggosok Lipatan Tubuh: Menggosok bagian-bagian yang tersembunyi seperti ketiak, bagian dalam telinga, pusar, sela-sela jari, dan sela-sela lipatan kulit agar tidak ada bagian yang terlewat dari air.
4. Tata Cara Tayamum
Tayamum adalah keringanan (rukhsah) pengganti wudhu atau mandi menggunakan debu yang suci, berlaku hanya jika tidak ada air, sakit yang menghalangi penggunaan air, atau suhu dingin yang ekstrem yang bisa membahayakan nyawa.
- Syarat Utama: Harus sudah masuk waktu salat, sudah berusaha mencari air, dan menggunakan debu yang murni (bersih, kering, tidak bercampur kapur atau tepung, dan bukan debu musta'mal/bekas tayamum).
Langkah-langkah Tayamum:
- Tepukan Pertama: Letakkan kedua telapak tangan di atas debu suci dengan jari-jari dirapatkan.
- Mengusap Wajah: Tiup sedikit debu di tangan (agar tidak terlalu tebal), lalu usapkan ke seluruh wajah dari atas ke bawah bersamaan dengan niat di dalam hati untuk diperbolehkannya salat (bukan niat menghilangkan hadas, karena debu tidak menghilangkan hadas melainkan hanya membolehkan salat).
- Tepukan Kedua: Letakkan kembali kedua telapak tangan di atas debu dengan jari-jari direnggangkan (agar debu masuk ke sela jari).
- Mengusap Tangan: Gunakan telapak tangan kiri untuk mengusap punggung tangan kanan mulai dari ujung jari hingga siku, lalu putar telapak tangan kiri ke bagian dalam lengan kanan hingga pergelangan tangan. Lakukan hal yang sama untuk tangan kiri menggunakan telapak tangan kanan. Saling silangkan jari-jari di akhir untuk meratakan debu.
Keterbatasan Tayamum: Satu kali tayamum hanya berlaku untuk satu kali salat fardu dan beberapa salat sunah. Jika masuk waktu salat fardu berikutnya, seseorang wajib melakukan tayamum yang baru.