
Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali membedakan dengan sangat jelas antara aspek lahiriah harta dan sikap batin (hati) manusia terhadap harta tersebut. Harta pada hakikatnya adalah alat neutral; yang menjadikannya terpuji atau tercela adalah bagaimana hati menyikapi dan bagaimana tangan menggunakannya. Berikut adalah penjelasan lengkap, lugas, dan tuntas mengenai konsep tersebut berdasarkan pemikiran Imam Al-Ghazali:
1. Harta: Di Antara Terpuji dan Tercela
Al-Ghazali membagi pandangan tentang harta menjadi dua sisi yang ekstrem sebelum meletakkan garis tengah yang proporsional.
- Harta yang Tercela: Harta menjadi tercela apabila ia berubah fungsi dari "alat" menjadi "tujuan". Ketika seseorang mencintai harta demi zat harta itu sendiri (mengumpulkannya tanpa memanfaatkan), atau menjadikannya sarana untuk memuaskan syahwat, kesombongan, dan kemegahan duniawi. Harta jenis ini menipu dan melalaikan manusia dari mengingat Allah.
- Harta yang Terpuji: Harta menjadi terpuji jika dipandang sebagai bekal perjalanan menuju akhirat (زاد إلى الآخرة). Harta berfungsi untuk memenuhi kebutuhan dasar jasmani (pangan, sandang, papan) agar manusia tenang dalam beribadah, serta digunakan untuk kebaikan sosial (zakat, sedekah, membantu sesama, menuntut ilmu).
Hakikat Harta: Harta itu seperti ular. Di dalamnya ada racun yang mematikan (fitnah dunia, kesombongan), namun di tangan seorang ahli, ia bisa diekstrak menjadi obat penawar yang sangat mujarab (sarana ibadah dan amal jariyah).
2. Penyakit Hati: Cinta Harta, Kebakhilan, Rakus, dan Tamak
Ketika hati telah condong pada dunia, muncullah rantai penyakit spiritual berikut:
- Cinta Harta (Hubbud Dunya): Akar dari segala kesalahan. Manusia merasa aman dan kekal jika memiliki harta yang banyak.
- Kebakhilan (Al-Bukhl): Keengganan mengeluarkan harta pada tempat yang seharusnya, baik secara syariat (seperti zakat) maupun secara muruah/kepatutan sosial (menolong orang yang kesulitan).
- Rakus (Al-Hirsh) & Tamak (Ath-Thama'): Rakus adalah keinginan kuat untuk terus menambah apa yang sudah dimiliki tanpa pernah merasa cukup. Tamak adalah menggantungkan harapan dan keinginan pada apa yang ada di tangan orang lain.
3. Penawar: Sifat Qana'ah (Merasa Cukup)
Qana'ah adalah kemampuan hati untuk rela dan rida dengan apa yang ada, serta tidak cemas terhadap apa yang belum dimiliki. Sifat ini adalah benteng utama dari kerakusan.
Cara Mengobati Rakus/Tamak & Menumbuhkan Qana'ah:
Al-Ghazali membaginya menjadi tiga langkah praktis (terapi ilmu dan amal):
- Terapi Tindakan (Gaya Hidup): Membatasi pengeluaran dan membiasakan diri hidup hemat (iqtishad). Jika gaya hidup sederhana, tekanan untuk mencari harta secara berlebihan akan hilang dengan sendirinya.
- Terapi Pikiran (Mengelola Ekspektasi): Jangan melihat ke atas dalam urusan dunia, melainkan lihatlah ke bawah (orang yang lebih miskin). Sadarilah bahwa rezeki yang ditetapkan Allah tidak akan tertukar dan ajal tidak akan datang sebelum rezeki itu genap.
- Terapi Mental (Memahami Hakikat): Menyadari bahwa kemuliaan manusia terletak pada ilmu dan takwa, bukan pada jumlah nominal harta. Harta yang menumpuk justru menambah panjang hisab di hari kiamat.
4. Keutamaan Dermawan (As-Sakha') dan Mengutamakan Orang Lain (Al-Itsar)
Lawan dari kebakhilan adalah kedermawaan. Al-Ghazali membagi tingkatan memberi menjadi beberapa level:
- Dermawan (Sakhi): Memberikan sebagian harta dan menyisakan sebagian lainnya untuk diri sendiri dengan sukarela.
- Mengutamakan Orang Lain (Itsar): Tingkatan tertinggi (pinnacle of generosity), di mana seseorang memberikan harta kepada orang lain padahal dirinya sendiri sedang sangat membutuhkan. Allah memuji sifat ini dalam Surah Al-Hasyr ayat 9.
Cara Mengobati Kebakhilan:
- Menyadari Dampak Buruk: Pahami bahwa bakhil dibenci Allah, dibenci manusia, dan membuat jiwa menjadi kerdil serta gelisah.
- Memaksa Diri (Riyadah): Mulai bersedekah secara paksa, meskipun hati merasa berat. Lakukan secara konsisten sampai tindakan memberi tersebut berubah menjadi kebiasaan dan karakter alami.
- Mengingat Kematian: Sadarilah bahwa harta yang dipertahankan mati-matian pada akhirnya akan ditinggalkan untuk ahli waris, sementara dosanya ditanggung sendiri.
5. Dialektika Kaya (Al-Ghina) vs Fakir (Al-Faqr)
Manakah yang lebih utama, orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar?
| Sifat | Keutamaan & Sudut Pandang Ihya' | Risiko Utama |
| Kefakiran (Al-Faqr) | Terpuji secara mutlak bagi jiwa yang bersih. Fakir membebaskan manusia dari hisab yang panjang, kesibukan mengelola dunia, dan menjaga hati agar tetap merasa butuh kepada Allah (iftiqar). | Jika tidak disertai sabar, bisa menggelincirkan pada kekufuran dan hasad. |
| Kekayaan (Al-Ghina) | Terpuji hanya jika statusnya sebagai perantara. Menjadi mulia jika pemiliknya bersikap seperti "bendahara Allah" mengambil secukupnya untuk kebutuhan hidup dan menyalurkan sisanya untuk kemaslahatan umat. | Sangat rentan memicu sifat sombong, melampaui batas, dan melalaikan akhirat. |
Kesimpulan Akhir Al-Ghazali: Kefakiran secara umum lebih aman bagi keselamatan akhirat seorang mukmin karena ringannya beban pertanggungjawaban. Namun, status terbaik bukanlah miskin atau kaya secara lahiriah, melainkan memiliki hati yang fakir (selalu butuh kepada Allah) dan jiwa yang kaya (merasa cukup dengan pemberian-Nya). Harta di tangan, bukan di dalam hati. Harta digunakan untuk melayani agama, bukan manusia yang diperbudak oleh harta.