info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Hari Harimau: Sejarah, Konservasi, dan Kebahagiaan
Hari Harimau: Sejarah, Konservasi, dan Kebahagiaan
Hari Harimau: Sejarah, Konservasi, dan Kebahagiaan

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Hari Harimau Internasional (Global Tiger Day) diperingati setiap tanggal 29 Juli. Peringatan ini bukan sekadar panggung seremoni, melainkan panggil nada darurat bagi dunia untuk menyelamatkan sang "Raja Hutan" dari jurang kepunahan.

1. Sejarah dan Asal Usul

Sejarah Hari Harimau Internasional bermula pada tahun 2010 dalam ajang KTT Harimau (Saint Petersburg Tiger Summit) di Rusia.

  • Kondisi Kritis: Saat itu, para ahli memperkirakan populasi harimau liar di dunia telah merosot tajam hingga 95% dalam kurun waktu satu abad, tersisa hanya sekitar 3.200 ekor.
  • Komitmen TX2: Dalam KTT tersebut, 13 negara pemilik habitat harimau (Tiger Range Countries, termasuk Indonesia) sepakat menandatangani Deklarasi St. Petersburg. Komitmen ini dikenal dengan target TX2, yaitu berambisi menggandakan jumlah harimau liar di alam bebas pada tahun 2022.
  • Penetapan Hari Peringatan: Tanggal 29 Juli resmi ditunjuk sebagai Global Tiger Day untuk terus meningkatkan kesadaran, pendanaan, serta dukungan politik global bagi konservasi harimau secara berkelanjutan.

2. Perspektif Kelestarian Alam dan Kehidupan Manusia

Keberadaan harimau tidak bisa dipisahkan dari impian manusia untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera, nyaman, sehat walafiat, dan bahagia. Mengapa?

🐅 Harimau sebagai Umbrella Species (Spesies Payung)

Harimau berada di puncak rantai makanan. Dengan melindungi satu spesies harimau beserta wilayah jelajahnya yang luas, secara otomatis kita melindungi ribuan spesies flora dan fauna lain serta seluruh ekosistem hutan hujan di dalamnya.

🍃 Penjaga Penyeimbang Ekosistem & Kesehatan Manusia

  • Keseimbangan Alam: Harimau mengendalikan populasi satwa herbivora (seperti babi hutan dan rusa). Jika harimau punah, ledakan populasi herbivora akan merusak vegetasi hutan dan memicu hama bagi pertanian warga sekitar.
  • Sumber Kesejahteraan dan Kesehatan (Health & Wellbeing): Hutan yang terjaga karena habitat harimau berfungsi sebagai paru-paru dunia, penyerap karbon, penyedia air bersih, dan pengatur iklim. Udara yang bersih dan ketersediaan air yang melimpah adalah fondasi utama manusia untuk hidup sehat walafiat.

🛡️ Mencegah Bencana untuk Kesejahteraan dan Keamanan

Hutan yang rusak akibat alih fungsi lahan dan perburuan liar tidak hanya mengusir harimau, tetapi juga memicu bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan krisis iklim. Menjaga ruang hidup harimau berarti menjaga benteng alam yang melindungi pemukiman manusia, menciptakan rasa aman dan nyaman.

3. Menghubungkan Kelestarian Harimau dengan Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati (sustainability & happiness) lahir dari keharmonisan antara manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup.

Ketika harimau dapat meraung bebas di habitat aslinya tanpa ancaman jerat dan perburuan, itu menandakan ekosistem bumi sedang dalam keadaan sehat. Hutan yang sehat memberi manusia jaminan udara segar, air bersih, iklim yang stabil, dan ketahanan pangan.

Menjaga kelestarian harimau adalah investasi jangka panjang agar generasi mendatang dapat menikmati bumi yang aman, tenteram, sejahtera, dan bahagia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *