info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Perkataan Orang Menghadapi Kematian
Perkataan Orang Menghadapi Kematian
Perkataan Orang Menghadapi Kematian

Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Menghadapi kematian sering kali memunculkan ungkapan-ungkapan yang penuh makna, refleksi, harapan, ataupun penderitaan. Perkataan orang-orang yang berada di ambang kematian biasanya dapat dikategorikan ke dalam beberapa kondisi:

1. Kata-Kata Terakhir (Last Words) Tokoh Dunia

Banyak kata-kata terakhir tokoh sejarah yang diingat karena menggambarkan kepribadian atau cara mereka memandang hidup:

  • Steve Jobs: "Oh wow. Oh wow. Oh wow." (Ungkapan kekaguman atau kedamaian di detik-detik terakhirnya).
  • Albert Einstein: Mengucapkan kalimat terakhirnya dalam bahasa Jerman kepada seorang perawat yang tidak paham bahasa Jerman, sehingga kata-kata persisnya tidak pernah diketahui.
  • Bob Marley: "Money can't buy life." (Uang tidak bisa membeli kehidupan ditujukan kepada anaknya, Ziggy).
  • Oscar Wilde: "Either that wallpaper goes, or I do." (Wallpaper ini yang pergi, atau saya humor gelap khasnya mengenai kamar hotelnya).

2. Ungkapan Psikologis & Emosional Umum

Berdasarkan pengamatan tenaga medis, pendamping pasien medis (palliative care), dan keluarga, orang yang mendekati ajalnya sering mengutarakan hal-hal berikut:

A. Penyesalan (Regrets)

  • "Saya berharap tidak bekerja terlalu keras."
  • "Saya berharap punya keberanian untuk hidup menjadi diri sendiri, bukan mengikuti harapan orang lain."
  • "Saya menyesal tidak menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga."

B. Minta Maaf dan Pengampunan

  • "Maafkan semua kesalahan saya."
  • "Tolong maafkan saya atas..."
  • "Saya sudah memaafkan semuanya."

C. Ungkapan Cinta dan Perpisahan

  • "Aku sangat mencintaimu."
  • "Terima kasih telah menemani hidupku."
  • "Jaga diri kalian baik-baik, jangan bersedih."

D. Persepsi Spiritual atau Keberadaan Lain

  • Banyak pasien melaporkan melihat kerabat atau anggota keluarga yang sudah meninggal sebelumnya: "Mereka sudah menunggu saya," atau "Ibu sudah datang menjemput."

3. Dari Sudut Pandang Agama / Spiritual

Dalam tradisi keagamaan, perkataan orang yang menghadapi kematian umumnya berfokus pada doa, pasrah, dan penyerahan diri:

  • Dalam Islam: Disunnahkan untuk menuntun (talqin) dengan kalimat Tauhid:"Lā ilāha illallāh" (Tiada Tuhan selain Allah).
  • Dalam Kristen/Katolik: Pengakuan dosa, doa penyerahan jiwa ("Ya Tuhan, ke dalam tangan-Mu kuserahkan jiwaku"), atau penerimaan sakramen minyak suci.
  • Dalam Tradisi Lain: Mantram, doa kedamaian, atau pelepasan keterikatan keduniawian.

4. Efek Fisik: Kesadaran yang Menurun

Secara medis, menjelang saat-saat terakhir, tubuh mengalami penurunan fungsi secara bertahap. Ungkapan verbal sering kali menjadi terbatas:

  • Bisikan singkat: Seperti meminta air ("Ausk" / "Haus"), meminta posisi tidur diubah, atau menyatakan rasa sakit.
  • Ketidakmampuan berbicara: Sering kali pada fase akhir, komunikasi tidak lagi lewat perkataan, melainkan lewat sentuhan, genggaman tangan, atau hembusan napas

perkataan orang-orang saleh yang menghadapi kematian : khulafaurrasyidin, sahabat Nabi, tabiin, tabi' tabiin, imam mujtahid, ulama salaf, ulama khalaf, ulama mutaakhirin.

Perkataan dan kalimat terakhir dari para ulama serta generasi terbaik Islam (Salafus Shalih hingga Khalaf) menjelang wafatnya memancarkan gambaran keimanan yang mendalam. Mayoritas dari mereka menghadapi kematian bukan dengan ketakutan akan penderitaan fisik, melainkan dengan harapan (raja') akan rahmat Allah, kecemasan (khauf) atas amal perbuatan, serta kerinduan untuk bertemu Sang Pencipta.

Berikut adalah perkataan dan kondisi saat menjelang wafat dari para tokoh saleh lintas generasi:

1. Khulafaur Rasyidin

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.: Ketika menjelang wafatnya, putri beliau, Aisyah r.a., membaca syair tentang kesedihan. Abu Bakar memotongnya dan membacakan ayat Al-Qur'an:"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu dahulu berusaha menghindar darinya." (QS. Qaf: 19)Beliau kemudian berwasiat agar kain kafannya menggunakan kain bekas yang dibersihkan, seraya berkata: "Orang yang hidup lebih membutuhkan kain baru daripada orang mati."
  • Umar bin Khattab r.a.: Saat terbaring kritis akibat tikaman, beliau meminta putranya, Abdullah bin Umar, untuk meletakkan pipinya langsung ke tanah. Beliau berkata:"Celakalah Umar dan celakalah ibu yang melahirkan Umar jika Rabb-ku tidak mengampuniku dan merahmatiku."
  • Utsman bin Affan r.a. Ketika rumahnya dikepung dan beliau tahu ajal sudah dekat, beliau berpuasa dan membaca Al-Qur'an. Sebelum syahid, beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar yang berkata: "Berbukalah bersama kami nanti malam." Beliau menyambutnya dengan gembira dan ridha.
  • Ali bin Abi Thalib r.r. Setelah ditikam oleh Ibnu Muljam saat hendak memimpin shalat Subuh, perkataan pertama yang keluar dari lisan beliau adalah:"Fuztu wa Rabbil Ka'bah!" ("Demi Rabb Pemilik Ka'bah, aku telah menang/beruntung!")

2. Sahabat Nabi SAW

  • Mu'adz bin Jabal r.a.: Di malam menjelang wafatnya karena wabah penyakit (tha'un), beliau kerap bertanya apakah fajar sudah terbit. Ketika fajar tiba, beliau berkata:"Aku berlindung kepada Allah dari malam yang subuhnya menuju neraka. Selamat datang kematian, tamu yang dicintai yang datang di saat butuh. Ya Allah, Engkau tahu aku takut kepada-Mu, tapi hari ini aku berharap kepada-Mu."
  • Bilal bin Rabah r.a.: Ketika istrinya menangis dan berteriak, "Duhai betapa sedihnya!", Bilal menyela dan berkata gembira:"Betapa bahagianya! Besok kita akan bertemu dengan orang-orang tercinta: Muhammad dan para sahabatnya!"
  • Salman Al-Farisi r.a.: Beliau menangis menjelang wafatnya. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab bukan karena takut mati atau cinta dunia, melainkan ingat pesanan Rasulullah SAW agar harta benda seorang muslim cukup seperti bekal seorang musafir. Padahal saat itu, harta yang ditinggalkan Salman hanya mangkuk dan tempat wudhu.

3. Tabi'in

  • Sa'id bin Al-Musayyib: Ketika putrinya menangis di samping tempat tidurnya, beliau berkata:"Jangan menangis, wahai putriku. Demi Allah, tidak ada azan yang dikumandangkan di masjid selama empat puluh tahun terakhir kecuali aku sudah berada di dalamnya."
  • Umar bin Abdul Aziz: Minta didudukkan menjelang wafatnya, lalu berkata: "Aku adalah orang yang Engkau perintahkan lalu aku banyak lalai, Engkau larang lalu aku bermaksiat, namun tiada Ilah selain Allah." Beliau kemudian menatap lurus ke atas dan membaca ayat:"Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi..." (QS. Al-Qashash: 83) hingga menghembuskan napas terakhir.

4. Tabi' Tabi'in

  • Sufyan Ath-Thauri: Beliau menangis hebat di akhir hayatnya. Seorang ulama di sampingnya bertanya apakah beliau menangis karena dosa-dosanya. Sufyan mengambil sebatang jerami dan berkata:"Dosa-dosaku lebih ringan bagiku daripada jerami ini. Yang aku takuti hanyalah jika iman ini dicabut dariku sebelum aku mati."
  • Fudhayl bin 'Iyadh: Ulama yang dikenal sangat takut kepada Allah ini pingsan beberapa kali menjelang wafatnya. Ketika sadar, beliau membisikkan:"Alangkah jauhnya perjalanan ini, sementara bekal sangat sedikit..."

5. Imam Mujtahid (Imam Mazhab)

  • Imam Abu Hanifah: Wafat saat beliau sedang dalam keadaan bersujud di dalam penjara, teguh mempertahankan prinsip kebenaran dan menolak jabatan hakim yang dipaksakan penguasa.
  • Imam Malik bin Anas: Kalimat terakhir yang diucapkan beliau sebelum wafat adalah membaca kalimat tauhid dan ayat Al-Qur'an:"Lillāhil-amru min qablu wa mim ba'du" ("Milik Allah-lah segala urusan, sebelum dan sesudahnya." — QS. Ar-Rum: 4).
  • Imam Asy-Syafi'i: Ketika murid utamanya, Al-Muzani, bertanya tentang keadaannya di ambang maut, beliau menjawab melalui syair indahnya:"Ketika hatiku keras dan jalan-jalan terasa sempit, aku jadikan harapanku pada ampunan-Mu sebagai tangga. Dosa-dosaku terasa sangat besar bagiku, namun ketika kubandingkan dengan ampunan-Mu, Ya Rabb, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar..."
  • Imam Ahmad bin Hanbal: Dalam kondisi sakaratul maut, lisan beliau terus bergerak membaca dzikir. Beliau sempat mengibaskan tangannya seraya berkata: "Belum... belum..." Ketika ditanya oleh putranya, beliau menjelaskan bahwa iblis berdiri di sudut ruangan sambil menggigit jarinya dan berkata, "Engkau telah selamat dariku wahai Ahmad!", lalu Imam Ahmad menjawab: "Belum, sampai ruh ini benar-benar keluar dari jasad."

6. Ulama Salaf (Abad Pertama - Abad ke-3 H)

  • Al-Hasan Al-Bashri: Saat dalam keadaan sakaratul maut, beliau terbangun dan berkata:"Kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Demi Allah, kita telah memasuki rumah yang belum pernah kita huni sebelumnya, dan bertemu dengan Rabb yang belum pernah kita lihat."

7. Ulama Khalaf (Abad ke-4 - Abad ke-13 H)

  • Imam Al-Ghazali (Wafat 505 H): Pada pagi hari di hari wafatnya, beliau berwudhu dan melaksanakan shalat Subuh. Beliau lalu meminta kain kafannya, menciumnya, dan meletakkannya di atas matanya seraya berkata:"Aku mendengar dan taat untuk masuk menemui Sang Raja." Beliau kemudian meluruskan kakinya menghadap kiblat dan wafat sebelum matahari terbit.
  • Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (Wafat 728 H): Beliau wafat di dalam penjara Benteng Damaskus. Di hari-hari terakhirnya, beliau menghabiskan waktu dengan mengkhatamkan Al-Qur'an puluhan kali bersama saudaranya. Ayat terakhir yang beliau baca sebelum wafat adalah:"Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa." (QS. Al-Qamar: 54-55)

8. Ulama Muta'akhirin (Era Modern / Kontemporer)

  • Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi (Wafat 1998 M): Dalam rekaman momen-momen terakhirnya yang disaksikan keluarga, beliau menatap ke atas dengan wajah berseri-seri, melambaikan tangan menyapa Rasulullah SAW dan para sahabat, seraya berkata:"Selamat datang wahai Rasulullah... Selamat datang wahai Abu Bakar... Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."
  • Syaikh Ibn Utsaimin (Wafat 2001 M): Di saat-saat terakhir perawatan medisnya, beliau menolak obat penenang agar lisannya tidak berhenti dari membasahi diri dengan dzikrullah dan pengajaran ilmu hingga hembusan napas terakhir.

Benang Merah Perkataan Para Saleh

Jika ditelaah, ada tiga pola utama dari perkataan dan sikap orang-orang saleh saat berhadapan dengan kematian:

Sikap UtamaBentuk Ungkapan / Perilaku
Puncak Harapan (Raja')Mengingat keagungan ampunan Allah dan kerinduan bertemu Nabi SAW.
Kekhawatiran Rasa Takut (Khauf)Khawatir akan kekurangan amal dan takut akan kesombongan diri.
Keteguhan Lisan (Istiqamah)Membasahi lisan dengan kalimat Tauhid (Lā ilāha illallāh) dan membaca Al-Qur'an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *