info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Nabi Muhammad SAW dalam Taurat & Injil
Nabi Muhammad SAW dalam Taurat & Injil
Nabi Muhammad SAW dalam Taurat & Injil

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Dalam kitab Al-Wafa bi-Ahwal al-Mustafa karya Imam Ibnul Jauzi (w. 597 H), terdapat bab khusus yang membahas pemberitaan tentang Nabi Muhammad SAW dan umat beliau di dalam kitab Taurat dan Injil, serta kesaksian para ulama Ahli Kitab.

1. Nama dan Sifat Nabi Muhammad SAW dalam Taurat dan Injil

Ibnul Jauzi memaparkan bahwa nama dan deskripsi Nabi Muhammad SAW diabadikan dalam Taurat dan Injil melalui berbagai nama khusus serta penjelasannya:

  • Nama Beliau: Dalam Taurat dan Injil (termasuk terjemahan bahasa Aram/Suryani/Ibrani yang dirujuk ulama klasik), beliau dinamai Ahmad, Munhamanna (yang berarti Muhammad atau orang yang terpuji), Paraclete / Faraglit (pembela/penolong yang dijanjikan Nabi Isa AS), dan Himmata.
  • Ciri Fisik dan Karakter dalam Kitab-Kitab Terdahulu:
    • Nabi yang Ummi (tidak membaca/menulis): Berasal dari bangsa Arab (Ismail).
    • Ciri Fisik: Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, matanya memiliki kemerahan halus, bukan penjelajah yang kasar di pasar, serta tidak membalas keburukan dengan keburukan melainkan memaafkan.
    • Sifat Kenabian: Mengajarkan ketauhidan, menyuruh pada yang ma'ruf, melarang dari yang munkar, menghalalkan yang baik, serta membebaskan beban-beban hukum yang berat dari umat-umat terdahulu.

2. Penyebutan Umat Nabi Muhammad SAW

Dalam naskah-naskah Ahli Kitab yang dikutip oleh Ibnul Jauzi, umat Islam (umat Nabi Muhammad SAW) digambarkan dengan ciri-ciri khas:

  • Pemuja Allah (Al-Hammadun): Umat yang senantiasa memuji Allah SWT dalam setiap keadaan, baik saat gembira maupun susah.
  • Shalat Berjamaah: Barisan (shaf) shalat mereka rapi dan rapat menyerupai shaf para malaikat di langit.
  • Al-Qur'an di Dalam Dada: Kitab suci mereka dihafalkan di dalam dada (hati) mereka, bukan sekadar dibaca dari lembaran kertas.
  • Kedudukan Akhirat: Disebut sebagai "Umat yang pertama kali masuk surga meskipun mereka adalah umat yang terakhir di dunia."

3. Pengakuan dan Kesaksian Ulama/Tokoh Ahli Kitab

Ibnul Jauzi meriwayatkan berbagai kisah pengakuan jujur dari para rahib, pendeta, dan ulama Yahudi/Nasrani:

  • Abdullah bin Salam & Ka'ab al-Ahbar: Pendeta Yahudi terkemuka yang memeluk Islam setelah mencocokkan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW di kitab Taurat asli dengan fakta diri Rasulullah SAW.
  • Pendeta Buhaira: Mengenali tanda kenabian pada diri Muhammad kecil ketika ikut berdagang ke Syam bersama pamannya Abu Thalib, berdasarkan petunjuk kitab-kitab Nasrani.
  • Kesaksian Rahib/Pendeta (seperti Abi Yahnus): Mengakui bahwa nabi terakhir yang ditunggu adalah nabi berbangsa Arab, dinamai Ahmad, yang tidak ada nabi lain antara dirinya dan Nabi Isa AS.
  • Pengakuan Raja Muqauqis (Mesir) & Heraklius (Romawi): Saat menerima surat dakwah dari Rasulullah, mereka mengakui dari kitab suci mereka bahwa waktu kemunculan nabi akhir zaman memang telah tiba.

Ibnul Jauzi menyimpulkan bahwa bukti kenabian Muhammad SAW telah tersurat dalam kitab-kitab terdahulu, dan pengabaian sebagian Ahli Kitab terhadap kenyataan ini disebabkan oleh rasa dengki karena nabi terakhir diutus dari bangsa Arab (keturunan Ismail), bukan dari Bani Israil.

Pemberitaan mengenai Nabi Muhammad SAW di dalam kitab Taurat merupakan salah satu bukti kenabian (dala'il an-nubuwwah) yang diabadikan dalam Al-Qur'an dan Hadis. Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan bahwa sifat dan ciri-ciri Rasulullah SAW telah tertulis di dalam Taurat dan Injil:

"Yaitu orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka..." (QS. Al-A'raf: 157)

1. Nama dan Julukan Nabi Muhammad SAW dalam Taurat

Dalam tradisi pustaka Islam dan studi naskah-naskah kuno, nama dan julukan Nabi Muhammad SAW di dalam Taurat disebutkan melalui beberapa istilah:

  • Ahmad / Muhammad: Disebutkan dalam bahasa Ibrani kuno dengan istilah Bim'ad M'ad atau Ma'mad (artinya orang yang terpuji atau agung).
  • Parakletos / Munhamanna: Istilah Suryani/Ibrani yang sepadan dengan makna orang yang memuji atau terpuji.
  • Hamba Allah yang Terpilih: Disebut sebagai nabi akhir zaman dari keturunan Ismail AS (saudara Ishaq AS), yang membawa hukum baru bagi seluruh bangsa.

2. Sifat dan Karakteristik dalam Riwayat Shahih

Ciri-ciri Nabi Muhammad SAW yang tercantum dalam Taurat diriwayatkan secara lugas oleh para sahabat yang dahulunya merupakan ulama Ahli Kitab, seperti Abdullah bin 'Amr bin al-'As dan Ka'ab al-Ahbar. Dalam Shahih Bukhari (no. 2125), disebutkan petikan Taurat mengenai beliau:

  • Nabi yang Ummi: "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, pemberi peringatan, serta pelindung bagi orang-orang yang ummi (yang tidak membaca/menulis)."
  • Sifat dan Akhlak:
    • Tidak bersikap kasar, keras hati, dan tidak berteriak-teriak di pasar.
    • Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan memaafkan dan mengampuni.
    • Tidak akan diwafatkan oleh Allah hingga beliau meluruskan agama yang bengkok, sehingga manusia mengesakan Allah (Laa ilaaha illallah).

3. Nubuat Geografis dan Silsilah

Taurat memuat petunjuk geografis dan garis keturunan yang mengarah pada Nabi Muhammad SAW:

  • Keturunan Nabi Ismail AS: Taurat memuat janji Allah kepada Nabi Ibrahim AS bahwa dari keturunan Ismail AS akan lahir bangsa yang besar dan pemimpin-pemimpin agung (Kitab Kejadian 17:20 dan 21:13).
  • Pegunungan Paran (Faran): Disebutkan bahwa pencerahan atau kemuliaan Allah tampak dari Gunung Paran (Kitab Ulangan 33:2). Dalam geografi klasik para ulama Islam, Paran/Faran adalah nama lain untuk wilayah pegunungan Makkah tempat Nabi Ismail AS menetap dan tempat berdirinya Ka'bah.

4. Pengakuan Ulama Taurat yang Memeluk Islam

Banyak ulama Yahudi pada masa Nabi SAW yang mengenali beliau secara langsung karena kecocokan fakta diri Nabi dengan catatan Taurat asli yang mereka pelajari:

  • Abdullah bin Salam: Pendeta Yahudi terkemuka Madinah yang langsung menyatakan masuk Islam setelah menemui Rasulullah SAW dan mencocokkan sifat-sifat kenabian beliau dengan Taurat.
  • Shafiyyah binti Huyayy: Putri dari pemimpin Yahudi Bani Nadhir (Huyayy bin Akhtab), menceritakan bahwa ayah dan pamannya mengakui bahwa Muhammad adalah nabi yang dijanjikan dalam Taurat, namun mereka menolaknya karena dengki nabi tersebut lahir dari bangsa Arab, bukan dari Bani Israil.

Penyebutan Nabi Muhammad SAW dalam kitab Injil dan analisis linguistik teks Ibrani Taurat merupakan dua tema kajian utama dalam studi perbandingan agama (comparative religion) dan ilmu Dala'il an-Nubuwwah.

1. Nabi Muhammad SAW dalam Kitab Injil

Dalam tradisi Islam dan Al-Qur'an (QS. As-Saff: 6), Nabi Isa AS memberitakan kedatangan seorang Rasul setelahnya yang bernama Ahmad. Dalam literatur Injil (khususnya PB/Perjanjian Baru), perujukan ini terutama dikaji melalui konsep Paraclete:

  • Istilah Paraclete (Periklytos vs. Parakletos):
    • Dalam Injil Yohanes (misalnya Yohanes 14:16, 15:26, 16:7), Nabi Isa mengabarkan kedatangan sosok penyelamat/penolong yang disebut Parakletos (bahasa Yunani: Παράκλητος) yang diartikan oleh tradisi Kristen sebagai Penolong/Roh Kudus.
    • Para peneliti dan ulama Muslim (seperti Rahmatullah al-Hindi dan Prof. Abdul Ahad Dawud) menganalisis bahwa kata aslinya berasal dari bahasa Yunani Periklytos (Περικλυτός), yang berarti "yang terpuji" atau "agung". Kata Periklytos ini secara harfiah merupakan terjemahan tepat dari nama Ahmad atau Muhammad dalam bahasa Arab.
  • Sifat-sifat Paraclete dalam Injil Yohanes:
    • "Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya" (Yohanes 16:13). Hal ini selaras dengan sifat penerimaan wahyu Al-Qur'an (QS. An-Najm: 3-4).
    • "Ia akan memuliakan Aku (Isa)" (Yohanes 16:14), yang terbukti dari penghormatan tinggi umat Islam terhadap Nabi Isa AS sebagai Nabi dan Rasul Allah.

2. Analisis Linguistik Teks Ibrani Taurat

Dalam naskah asli Perjanjian Lama (Taurat/Hebrew Bible), terdapat beberapa akar kata Ibrani (Hebrew) yang secara khusus dianalisis oleh para ahli linguistik:

A. Mahamaddim (Kidung Agung / Shir HaShirim 5:16)

Salah satu teks paling menonjol terdapat dalam kitab Kidung Agung (Song of Solomon 5:16), di mana deskripsi tentang sosok terpilih diakhiri dengan kalimat:

תַּאַרוֹ מַחֲמַדִּים (Hikko mamttakim ve-kullu Mahamaddim)

  • Analisis Gramatikal:
    • Kata dasar Ibrani: חָמַד (Chamad / H-M-D), yang memiliki arti sama persis dengan akar kata Arab ح-م-د (H-M-D), yaitu "terpuji" atau "keinginan yang sangat mulia".
    • Kata מַחֲמַד (Mahamad / Machmad) secara harfiah berarti "Orang Yang Terpuji" (Muhammad).
    • Akhiran ים (-im) dalam tata bahasa Ibrani adalah Pluralis Majestatis (jamak keagungan/penghormatan), bukan menunjukkan jumlah banyak.
    • Terjemahan Harfiah: "Kata-katanya manis, dan seluruh dirinya adalah Mahamaddim (Orang Yang Sangat Terpuji / Muhammad)." Dalam penerjemahan modern, kata nama diri ini kerap diterjemahkan secara adjektif menjadi "altogether lovely" (sangat memesona).

B. Bim’ad M’ad (Kitab Kejadian / Bereshit 17:20)

Janji Allah kepada Nabi Ibrahim AS mengenai keturunan Nabi Ismail AS:

וּלְיִשְׁמָעֵאל שְׁמַעְתִּיךָ... בִּמְאֹד מְאֹד (Bi-Ma'ad Ma'ad)

  • Analisis Linguistik:
    • Frasa Bim'ad M'ad secara harfiah berarti "sangat banyak/sangat agung".
    • Namun dalam perhitungan Gematria (sistem numerologi huruf Ibrani/Abjadiah):
      • Nilai numerik kata בִּמְאֹד מְאֹד (Bim'ad M'ad) adalah $92$.
      • Nilai numerik dari nama مُحَمَّد (Muhammad) dalam sistem Abjad Arab juga tepat $92$ (M=40 + H=8 + M=40 + D=4).
    • Para ulama dan mualaf ahli kitab (seperti Samau'al al-Maghribi) menegaskan bahwa kalimat ini adalah isyarat terselubung (kinayah) untuk nama Muhammad SAW.

C. Paran / Faran (Kitab Ulangan / Devarim 33:2)

Teks menggambarkan pewahyuan Allah: "TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari Pegunungan Paran..."

  • Analisis Geografis-Linguistik:
    • Sinai: Tempat penerimaan wahyu Nabi Musa AS.
    • Seir: Wilayah bukit di Palestina/Yerusalem (Nabi Isa AS).
    • Paran (Faran): Berdasarkan Kejadian 21:21, Paran adalah tempat bermukimnya Nabi Ismail AS dan ibunya (Hajar), yang dalam geografi historis semit merujuk pada wilayah pegunungan Makkah (Hijaz). Kemunculan "cahaya" dari Paran merujuk pada turunnya wahyu Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW.

Berikut adalah penjelasan mengenai Injil Barnabas serta pengakuan Heraklius (Kaisar Romawi) terhadap kenabian Nabi Muhammad SAW:

1. Naskah Injil Barnabas

Injil Barnabas adalah naskah apokrifa (tidak diakui sebagai kanon resmi oleh gereja mainstream) yang memuat narasi kehidupan Nabi Isa AS (Jesus) dari sudut pandang yang sangat berbeda dari Injil-Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes).

Poin-Poin Utama Isi Injil Barnabas:

  • Nama Nabi Muhammad SAW: Tidak seperti Injil lain yang menggunakan istilah simbolis (Paraclete), Injil Barnabas secara gamblang memuat nama "Muhammad" sebagai Rasul Allah akhir zaman.
  • Penolakan Divinitas: Nabi Isa AS ditegaskan bukan Anak Allah maupun Tuhan, melainkan seorang nabi dan rasul.
  • Peristiwa Penyaliban: Dinyatakan bahwa Nabi Isa tidak disalib; orang yang disalib menggantikan beliau adalah Yudas Iskariot yang diserupakan wajahnya oleh Allah.
  • Garis Keturunan Al-Masih: Menyatakan bahwa Mesias yang dijanjikan berasal dari keturunan Ismail AS, bukan Ishaq AS.

Pandangan Akademis dan Historis:

  • Asal-usul Naskah: Naskah kuno Injil Barnabas yang tersisa saat ini ditemukan dalam manuskrip berbahasa Italia dan Spanyol dari sekitar abad ke-16 M (Bukan naskah bahasa Yunani/Aram kuno abad pertama).
  • Kritik Akademis: Konsensus sejarawan dan ahli manuskrip (baik Barat maupun sebagian peneliti Muslim kontemporer) menilai Injil Barnabas sebagai karya buatan abad pertengahan (pseudepigrapha). Terdapat beberapa anakronisme sejarah dan geografi di dalamnya yang merujuk pada kondisi Eropa abad Pertengahan.
  • Sikap Ulama: Sebagian ulama Islam menjadikannya sebagai pembanding dialog antarumat beragama, namun mayoritas pakar sejarah Islam menegaskan bahwa kebenaran Islam dan kerasulan Nabi Muhammad SAW berlandaskan Al-Qur'an, Hadis shahih, dan bukti autentik lainnya, tanpa perlu bergantung pada otentisitas Injil Barnabas.

2. Pengakuan Kaisar Heraklius (Heraclius)

Pengakuan Heraklius, Kaisar Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), diabadikan dalam riwayat shahih yang sangat mendetail, salah satunya tercatat dalam Shahih Bukhari (Hadis No. 7).

Latar Belakang Peristiwa: Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat dakwah kepada Heraklius melalui sahabat Dihyah al-Kalbi. Saat surat sampai, Heraklius yang sedang berada di Yerusalem memerintahkan untuk mencari warga dari Makkah yang sedang berada di wilayahnya. Dipanggillah Abu Sufyan bin Harb (yang saat itu masih musyrik dan belum masuk Islam) bersama rombongan dagangnya.

Dialog Interogasi Heraklius kepada Abu Sufyan: Heraklius mengajukan serangkaian pertanyaan sistematis untuk menguji kebenaran kenabian Muhammad SAW:

  1. Garis Keturunan: "Bagaimana nasabnya di antara kalian?" — Abu Sufyan menjawab: "Ia adalah seorang yang bernasab mulia." (Heraklius menyimpulkan: Para rasul memang diutus dari keturunan mulia bangsanya).
  2. Kebenaran Karakter: "Apakah ia pernah berdusta sebelum mengaku nabi?" — Jawab: "Tidak pernah." (Heraklius menyimpulkan: Tidak mungkin seseorang tidak pernah berdusta kepada manusia lalu berani berdusta atas nama Allah).
  3. Pengikut: "Apakah yang mengikutinya orang mulia atau orang lemah?" — Jawab: "Orang-orang lemah." (Heraklius menyimpulkan: Merekalah pengikut para rasul pada awalnya).
  4. Perkembangan Ajaran: "Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang?" — Jawab: "Bertambah." (Heraklius menyimpulkan: Begitulah manisnya iman ketika telah meresap ke dalam hati).
  5. Inti Ajaran: "Apa yang ia perintahkan?" — Jawab: "Sembahlah Allah saja, jangan menyertakan-Nya dengan sesuatu pun, tinggalkan sembahan nenek moyang, serta ia memerintahkan shalat, kejujuran, kesucian diri, dan silaturahmi."

Kesimpulan dan Pengakuan Heraklius: Setelah mendengar jawaban jujur dari Abu Sufyan, Heraklius memberikan pernyataan bersejarah:

"Jika apa yang kamu katakan itu benar, niscaya ia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kedua kakiku ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa nabi itu akan keluar, namun aku tidak menyangka bahwa ia akan keluar dari golongan kalian (bangsa Arab). Seandainya aku tahu bisa sampai kepadanya, niscaya aku akan berusaha keras untuk menemuinya, dan jika aku berada di sisinya, niscaya akan kucuci kedua kakinya."

Sikap Akhir Heraklius: Meskipun secara intelektual dan spiritual Heraklius meyakini kebenaran kenabian Muhammad SAW berdasarkan petunjuk kitab-kitab suci yang dipelajarinya, ia tidak menyatakan masuk Islam secara terbuka. Ketika ia mengumpulkan para pembesar Romawi di istananya dan mengisyaratkan untuk mengikuti Nabi Muhammad demi keselamatan kerajaan mereka, para pembesar tersebut merajuk dan marah besar. Karena takut kehilangan tahta dan kekuasaannya, Heraklius menarik kembali ucapannya dan memilih mempertahankan kerajaannya.

Google Privacy Policy Opens in a new window Google Terms of Service Opens in a new window Your privacy & Gemini Apps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *