
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hari Televisi Republik Indonesia (TVRI) diperingati setiap tanggal 24 Agustus, menandai awal mula siaran televisi pertama di Nusantara pada tahun 1962. TVRI bukan sekadar media massa, melainkan alat pemersatu bangsa dan benteng informasi nasional.
Sejarah dan Asal Usul TVRI
Gagasan menghadirkan televisi di Indonesia diinisiasi oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961 untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta.
- 24 Agustus 1962: TVRI resmi mengudara secara perdana memancarkan siaran langsung Upacara Pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Gelora Bung Karno.
- Status Lembaga: Dimulai sebagai bagian dari Yayasan TVRI, lalu menjadi UPT di bawah Departemen Penerangan pada era Orde Baru, hingga bertransformasi menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP) berdasarkan PP No. 13 Tahun 2005.
Perspektif Geopolitik, Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Geopoleksosbud)
Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, TVRI memegang peran strategis dalam dinamika bangsa:
- Geografi & Politik: Menjangkau wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan perbatasan negara untuk menjaga kedaulatan wilayah serta menyampaikan kebijakan negara secara adil dan merata tanpa komersialisasi berlebih.
- Ekonomi: Menjadi sarana edukasi publik terkait program ekonomi nasional, pemberdayaan UMKM, dan literasi digital masyarakat.
- Sosial & Budaya: Mengangkat kearifan lokal, kesenian daerah, dan keanekaragaman budaya Nusantara dari Sabang sampai Merauke guna mencegah dominasi budaya asing (cultural imperialism).
Nation and Character Building Menuju Indonesia Maju
Dalam cita-cita mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur, TVRI berfungsi sebagai wahana pembentukan karakter bangsa (nation and character building):
- Perekat Kebinekaan: Menangkal narasi disintegrasi, hoaks, dan polarisasi dengan menyajikan informasi yang objektif, netral, dan edukatif.
- Pendidikan Publik: Menyediakan siaran berkualitas tinggi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui konten edukasi anak, sains, dan kebudayaan.
- Kedaulatan Informasi: Memastikan bangsa Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam hal arus informasi digital dan penyiaran nasional.
Transformasi digital Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI bukan sekadar peremajaan teknologi dari siaran analog ke digital (Analog Switch Off/ASO), melainkan pilar penting dalam menjaga kedaulatan informasi dan penyiaran nasional di tengah gempuran platform digital global.
1. Menjamin Pemerataan Akses Informasi di Wilayah 3T
Kedaulatan penyiaran mensyaratkan bahwa seluruh warga negara, dari pusat kota hingga wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), berhak menerima informasi yang layak.
- Efisiensi Spektrum Frekuensi: Siaran terestrial digital (DVB-T2) memungkinkan TVRI memancarkan multipleksing (MUX) dengan audio-visual berkualitas tinggi (Full HD) secara gratis tanpa biaya berlangganan.
- Jangkauan Perbatasan: Sebagai pemegang MUX nasional, TVRI memastikan wilayah perbatasan teraliri konten nasional, mencegah infiltrasi narasi atau dominasi siaran asing dari negara tetangga.
2. Ketahanan Budaya dan Content Sovereignty
Platform digital global seperti streaming berbayar dan media sosial cenderung mendikte preferensi publik berdasarkan algoritma komersial. Transformasi digital TVRI melawan dominasi ini melalui kedaulatan konten (content sovereignty):
- Preservasi Digital Arsip Budaya: TVRI mendigitalisasi ribuan jam dokumenter sejarah, kesenian daerah, dan rekaman bersejarah Nusantara agar tetap relevan dan dapat diakses generasi muda.
- Kanal Tematik: Melalui siaran digital multi-channel (seperti TVRI World, TVRI Edukasi, dan TVRI Otentik), TVRI menyajikan konten edukatif dan kebudayaan tanpa bergantung pada rating komersial semata.
3. Ekosistem Multiplatform dan Omnichannel
Kedaulatan di era modern menuntut kehadiran media di setiap platform tempat publik berada. TVRI bertransformasi dari sekadar stasiun televisi terestrial menjadi penyedia konten berbasis omnichannel:
- Layanan OTT & Mobile: Aplikasi seperti TVRI Klik dan portal siaran langsung (live streaming) memungkinkan masyarakat mengakses siaran nasional kapan saja dan di mana saja melalui ponsel pintar.
- Ketahanan Informasi terhadap Hoaks: Kehadiran TVRI secara aktif di kanal-kanal media sosial resmi menjadi ruang klarifikasi (clearing house) untuk informasi publik dan isu-isu strategis negara.
4. Efisiensi Operasional dan Kemandirian Infrastruktur
Secara teknis dan manajerial, digitalisasi meningkatkan efisiensi operasional LPP TVRI:
- Dividen Digital (Digital Dividend): Penghematan frekuensi hasil Analog Switch Off memberi ruang bagi pengembangan jaringan broadband nasional dan teknologi masa depan seperti 5G/6G.
- Infrastruktur Terintegrasi: Peralihan dari perangkat pemancar analog yang boros energi ke sistem digital modern mengurangi biaya operasional, yang dapat dialokasikan kembali untuk peningkatan kualitas produksi program dan kapasitas SDM.
Melalui transformasi digital ini, TVRI tidak hanya bertahan di tengah arus disrupsi, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai benteng informasi yang independen, edukatif, dan perekat persatuan bangsa menuju era Indonesia Maju.
Perbedaan mendasar antara Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI dan TV Swasta Komersial terletak pada tujuan pendirian, orientasi operasional, dan kepemilikan. Jika TV swasta berorientasi pada pasar dan keuntungan bisnis, TVRI berorientasi pada pelayanan masyarakat dan kedaulatan informasi nasional.
| Parameter | LPP TVRI | TV Swasta Komersial |
| Landasan Hukum & Mandat | UU No. 32/2002 & PP No. 13/2005 (Menjalankan fungsi pelayanan publik) | UU No. 32/2002 & UU PT (Menjalankan usaha komersial) |
| Tujuan Utama | Mendidik, menginformasikan, dan merekatkan persatuan bangsa (public value) | Memaksimalkan keuntungan bisnis dan kepuasan pemegang saham (profit/shareholder value) |
| Sumber Pendanaan | APBN, PNBP, hibah, dan iklan terbatas | Penjualan slot iklan (spot ad/sponsorship) dan investor swasta |
| Indikator Keberhasilan | Jangkauan wilayah (3T), dampak sosial, dan kualitas edukasi | Rating, share, dan pendapatan iklan (revenue) |
| Sifat Kepemilikan | Milik publik/negara (non-profit) | Milik perorangan, korporasi, atau grup media komersial |
| Jangkauan Siaran | Wajib menjangkau seluruh wilayah Indonesia termasuk wilayah perbatasan | Menitikberatkan daerah potensial secara ekonomi (kota-kota besar) |
1. Orientasi Pemrograman dan Konten
- TVRI: Menyusun program berdasarkan kebutuhan publik. Fokus konten mencakup kebudayaan daerah, pendidikan, acara anak non-komersial, program untuk kelompok minoritas/disabilitas, serta informasi kebijakan negara.
- TV Swasta: Menyusun program berdasarkan selera pasar (market-driven). Konten didominasi hiburan, sinetron, atau reality show yang terbukti menghasilkan rating dan share tinggi untuk menarik pengiklan.
2. Independensi dan Akuntabilitas
- TVRI: Bertanggung jawab langsung kepada publik melalui DPR RI. TVRI terikat standar netralitas yang ketat agar tidak memihak pada kepentingan politik atau pemilik modal tertentu.
- TV Swasta: Bertanggung jawab kepada pemilik saham dan pemangku kepentingan bisnis. Kebijakan redaksi terkadang dapat terpengaruh oleh kepentingan politik atau bisnis pemilik grup media.
3. Pendekatan Audiens
- TVRI: Memandang masyarakat sebagai warga negara (citizens) yang memiliki hak atas informasi yang adil, benar, dan mendidik.
- TV Swasta: Memandang masyarakat sebagai konsumen/pasar (consumers) yang menjadi tolok ukur daya jual terhadap produk pengiklan.
Dengan perbedaan fungsi ini, TVRI berperan sebagai penyeimbang (clearing house) di industri penyiaran nasional—memastikan nilai-nilai kebangsaan, kearifan lokal, dan edukasi publik tidak hilang tergerus arus komersialisasi media.
Pemanfaatan dividen digital hasil dari Analog Switch Off (ASO) merupakan salah satu fondasi infrastruktur terpenting bagi percepatan ekonomi digital Indonesia.
Dividen digital merujuk pada penghematan spektrum frekuensi radio di pita 700 MHz—pita frekuensi "emas" yang sebelumnya dihabiskan oleh siaran TV analog. Setelah migrasi ke siaran digital, pemerintah memperoleh efisiensi spektrum sebesar 112 MHz yang dialokasikan khusus untuk memperkuat jaringan seluler pita lebar (broadband).
Berikut adalah mekanisme utama bagaimana efisiensi ini mendorong ekonomi digital nasional:
1. Akselerasi Penetrasi dan Komersialisasi Jaringan 5G
- Pita 700 MHz memiliki daya jangkau yang luas (low-band) dan daya tembus dinding yang kuat.
- Pemanfaatan alokasi ini menekan biaya investasi (CAPEX) operator seluler dalam membangun pemancar (BTS). Hal ini mempercepat perluasan cakupan 5G nasional hingga ke kawasan perdesaan, industri, dan wilayah non-metropolitan.
2. Pemberdayaan UMKM melalui Digitalisasi Daerah
- Jaringan broadband yang lebih stabil dan terjangkau di pelosok daerah memungkinkan pelaku UMKM melakukan migrasi ke ekosistem e-commerce, memanfaatkan pembayaran digital (QRIS), serta mengakses pasar yang lebih luas tanpa terkendala koneksi.
3. Menggerakkan Ekosistem Smart Economy & IoT
- Konektivitas pita lebar berlatensi rendah yang ditopang dividen digital mendukung otomatisasi berbasis Internet of Things (IoT) dan AI.
- Pengaplikasian teknologi ini mempercepat modernisasi di sektor-sektor kunci seperti smart farming (pertanian presisi), otomatisasi logistik, hingga sistem manufaktur pintar.
4. Mendorong Inklusi Keuangan (Fintech)
- Ketersediaan akses internet cepat hingga pedesaan memperluas jangkauan layanan keuangan digital (financial inclusion) bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki rekening bank (unbanked population).
5. Peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) dan PNBP
- Secara makroekonomi, perluasan pita lebar berbasis dividen digital berpotensi menyumbang ratusan triliun Rupiah terhadap PDB serta menciptakan ribuan lapangan kerja baru di sektor teknologi dan turunan e-commerce.
- Pemerintah juga memperoleh Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari alokasi lisensi frekuensi baru yang dialihkan untuk layanan telekomunikasi seluler.
Melalui dividen digital ASO, kedaulatan spektrum tidak hanya menciptakan efisiensi teknis, tetapi juga mentransformasi internet dari sekadar sarana hiburan menjadi penggerak produktivitas ekonomi nasional.
Transformasi digital yang dilakukan LPP TVRI, BBC (Inggris), dan NHK (Jepang) memilki kesamaan visi: mempertahankan relevansi Lembaga Penyiaran Publik di era persaingan media digital modern. Namun, pendekatan strategi, kapabilitas teknologi, dan fokus penekanan ketiganya sangat dipengaruhi oleh perbedaan kondisi ekonomi, demografi, serta kematangan infrastruktur nasional masing-masing.
Matrix Perbandingan Strategi Digitalization LPP
| Parameter | LPP TVRI (Indonesia) | BBC (Inggris) | NHK (Jepang) |
| Prinsip Utama | Broad Distribution & Equity (Fokus pada pemerataan sinyal dan ketersediaan layanan dasar) | Digital-First Strategy (Konsolidasi kanal linear menuju layanan on-demand) | Hybrid Tech & Disaster Resilience (Siaran resolusi ultra-tinggi & tanggap bencana berbasis AI) |
| Layanan Flagship Digital | TVRI Klik, Portal Web News, dan Siaran Terestrial Digital (DVB-T2) | BBC iPlayer, BBC Sounds (Hub terpadu audio/podcast) | NHK Plus (Streaming), NHK World-Japan app, platform peringatan dini |
| Teknologi Kunci | Pemancar MUX Digital, streaming OTT dasar, modernisasi alat siar SD/HD | Algoritma curated personalization, pengolahan data pengguna, integrasi multi-app | Siaran 4K/8K, integrasi sistem peringatan dini (AI/IoT), otomatisasi penerjemah bahasa |
| Model Integrasi Audiens | Menjangkau audiens terisolasi (3T) & generasi muda pengguna ponsel pintar | Transisi pemirsa TV konvensional ke platform ekosistem digital personal | Melayani populasi lansia (aging society) sekaligus audiens global (international outreach) |
Analisis Pilar Perbandingan
1. BBC (Inggris): Model Penyiaran "Digital-First" berbasis Data
- Fokus Utama: BBC berfokus pada transisi radikal memindahkan konten dari TV linear ke platform digital mandiri (BBC iPlayer dan BBC Sounds).
- Strategi Konten & Personalization: BBC memanfaatkan data analytics untuk merekomendasikan konten secara personal kepada penggunanya. Strategi ini dirancang untuk menyaingi dominasi platform global seperti Netflix dan Spotify dengan merebut perhatian generasi muda.
- Keunggulan: Kematangan ekosistem aplikasi internal dan kemampuan adaptasi alur kerja digital yang menyeluruh (digital-native production).
2. NHK (Jepang): Inovasi Teknologi Tinggi dan Ketahanan Bencana
- Fokus Utama: NHK menjadikan inovasi teknologi penyiaran (broadcasting technology) sebagai ujung tombak. Siaran digital NHK berpusat pada kualitas visual terbaik (4K dan 8K) serta keandalan sistem informasi darurat.
- Integrasi AI & Bencana: NHK menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk konversi teks ke suara otomatis, penerjemahan bahasa secara langsung, dan otomatisasi peringatan dini bencana alam (gempa/tsunami) yang terhubung langsung ke gawai warga.
- Keunggulan: Penguasaan teknologi transmisi tingkat tinggi dan kepemimpinan dalam keandalan sistem penanggulangan bencana nasional.
3. LPP TVRI (Indonesia): Inklusivitas Akses dan Kedaulatan Wilayah
- Fokus Utama: Strategi TVRI sangat dipengaruhi oleh tantangan geografis kepulauan Indonesia. Fokus utamanya adalah keberhasilan migrasi siaran analog ke digital (Analog Switch Off) untuk menjamin ketersediaan MUX di seluruh Nusantara.
- Strategi Inklusi Digital: Dibandingkan dengan persaingan aplikasi OTT yang ketat, TVRI memprioritaskan keterjangkauan (affordability). TVRI memastikan masyarakat dapat menikmati siaran digital Full HD secara gratis (FTA - Free To Air) tanpa memerlukan kuota internet internet mahal.
- Keunggulan: Cakupan pemancar darat terluas di Indonesia yang berfungsi menjaga kedaulatan informasi nasional di garis perbatasan (wilayah 3T).
Catatan Pembelajaran untuk LPP TVRI
Untuk mengejar efektivitas transformasi seperti BBC dan NHK, TVRI memiliki beberapa peluang pengembangan strategis:
- Peningkatan Manajemen Data Audiens: Mengembangkan sistem personalisasi aplikasi TVRI Klik agar mampu menyajikan rekomendasi konten kebudayaan dan edukasi yang relevan bagi Gen Z.
- Pemanfaatan AI untuk Distribusi Informasi Bencana: Memanfaatkan infrastruktur digital ASO untuk mengintegrasikan sistem peringatan dini bencana (Early Warning System) berbasis lokasi secara otomatis di layar TV digital.
- Penguatan Ekosistem Audio/Podcast: Mengikuti jejak BBC Sounds, TVRI dapat mengonsolidasikan kekuatan jaringan RRI dan TVRI dalam satu hub aplikasi terpadu audio-visual.
Mekanisme pendanaan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI didasarkan pada UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan PP No. 13 Tahun 2005. Secara historis dan yuridis, model pembiayaan penyiaran publik di Indonesia memiliki perbedaan mendasar jika dibandingkan dengan model License Fee (iuran penyiaran) yang diterapkan oleh LPP global.
1. Mekanisme Pendanaan LPP TVRI saat Ini
Sumber pembiayaan TVRI bersifat kombinasi (hybrid) yang terdiri dari beberapa jalur utama:
- Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN): Merupakan porsi terbesar sumber operasional TVRI. Alokasi APBN mencakup belanja pegawai, perawatan infrastruktur transmisi/MUX, hingga pembiayaan produksi program siaran publik.
- Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Pendapatan non-APBN yang dikelola TVRI harus disetorkan ke kas negara sebelum digunakan kembali. PNBP ini diperoleh dari:
- Siaran Iklan: Iklan layanan masyarakat maupun iklan komersial berskala terbatas.
- Kerjasama Jasa Layanan & Binis Lain: Penyewaan pemancar/infrastruktur MUX digital kepada stasiun swasta, sewa studio, dan kerja sama lisensi konten.
- Iuran Penyiaran (Klausul Pasif): Secara hukum (Pasal 15 UU Penyiaran), "Iuran Penyiaran" dicantumkan sebagai salah satu sumber dana resmi. Namun, instrumen pemungutan iuran ini tidak diberlakukan/diverifikasi lagi secara praktis kepada masyarakat sejak Era Reformasi.
2. Perbandingan dengan License Fee (Iuran Penyiaran) di Negara Lain
Di banyak negara berkembang dan maju, Lembaga Penyiaran Publik mengandalkan License Fee—iuran wajib yang dibayarkan oleh setiap rumah tangga yang memiliki televisi atau akses internet.
| Parameter | LPP TVRI (Indonesia) | BBC (Inggris) | NHK (Jepang) | ARDF/ZDF (Jerman) |
| Model Utama Pendanaan | APBN Direct Allocation (Dominan anggaran negara) | TV License Fee (Iuran Khusus Kepemilikan TV) | Receiving Fee (Kontrak Iuran Siaran) | Beitragsservice (Iuran berbasis Rumah Tangga) |
| Pengumpul Dana | Pemerintah Pusat (Kementerian Keuangan) | Badan khusus pemungut iuran atas nama BBC | Unit internal NHK melalui kontrak siaran langsung | Lembaga gabungan independen penagih iuran (Beitragsservice) |
| Nominal/Biaya | Rp 0 (Tidak dipungut langsung dari warga) | ~£169.50 / tahun (sekitar Rp 3,4 juta) | ~¥13.200 - ¥24.000 / tahun (sekitar Rp 1,4 - 2,5 juta) | ~€220.08 / tahun (sekitar Rp 3,8 juta) |
| Iklan Komersial | Diperbolehkan terbatas (masuk PNBP) | Dilarang di siaran domestik Inggris | Dilarang total di siaran domestik | Terbatas hanya pada jam-jam tertentu (Maks. 20 menit/hari) |
3. Kelebihan dan Kelemahan Kedua Model
A. Model Pendanaan APBN (Pendekatan TVRI)
- Kelebihan:
- Keadilan Akses: Masyarakat (khususnya menengah ke bawah dan wilayah 3T) dapat menikmati siaran gratis (Free-To-Air) tanpa beban finansial bulanan.
- Kepastian Anggaran Dasar: Terjamin oleh alokasi keuangan negara setiap tahunnya.
- Kelemahan:
- Kerentanan Independensi Redaksi: Ketergantungan pada APBN membuat LPP sering kali dianggap sebagai "Humas Pemerintah" alih-alih media independen milik publik.
- Keterbatasan Anggaran: Fluktuasi anggaran negara dapat membatasi daya saing produksi konten dan inovasi teknologi TVRI.
B. Model License Fee (Pendekatan BBC / NHK)
- Kelebihan:
- Independensi Politik: Karena didanai langsung oleh rakyat, LPP memiliki otonomi editorial yang sangat kuat dan bebas dari intervensi politik pemerintah yang berkuasa.
- Akuntabilitas Publik: LPP dituntut memberikan kualitas program terbaik (public value) karena publik merasa membayar langsung jasa penyiaran tersebut.
- Kelemahan:
- Resistensi Publik & Isu Penegakan: Penurunan tingkat kepatuhan masyarakat untuk membayar iuran, terutama generasi muda yang beralih dari TV konvensional ke platform streaming digital.
Ringkasan Implikasi bagi TVRI
Iuran penyiaran langsung pernah diterapkan di Indonesia pada era Orde Baru (hingga awal 1990-an) melalui penagihan ke rumah-rumah, namun dihentikan karena ketidakefisienan pemungutan.
Saat ini, tantangan utama TVRI bukanlah mengembalikan iuran warga, melainkan memaksimalkan efisiensi PNBP (seperti penyewaan infrastruktur MUX digital) guna mengurangi beban APBN sekaligus menjaga posisi independennya sebagai Lembaga Penyiaran Publik.
Menggaet Gen Z dan Milenial—yang terbiasa dengan konten singkat media sosial serta hiburan berkecepatan tinggi di TV swasta dan platform streaming—merupakan salah satu tantangan terbesar LPP TVRI saat ini.
Tantangan Utama TVRI
- Stigma Media "Jadul" dan Kaku: TVRI kerap dipersepsikan sebagai saluran berita formal atau "humas pemerintah" dengan pembawaan yang terlalu kaku dibanding TV swasta yang lebih adaptif pada tren populer.
- Perubahan Perilaku Konsumsi Media: Anak muda jarang menonton TV linier berdasarkan jadwal (schedule-based). Mereka lebih menyukai akses on-demand, potongan video singkat (short-form content), dan interaktivitas di platform digital.
- Persaingan Algoritma dan Kecepatan Konten: TV swasta dan content creator di TikTok/Instagram memiliki fleksibilitas tinggi dalam mengejar tren populer, sementara TVRI terikat oleh standar LPP yang wajib mengedepankan edukasi dan etika penyiaran.
- Daya Tarik Visual dan Format Acara: Format acara kebudayaan atau edukasi TVRI sering kali dinilai kurang dinamis secara visual jika dibandingkan dengan standar produksi pop culture modern.
Strategi Adaptasi TVRI
Untuk mematahkan hambatan tersebut, TVRI menjalankan beberapa langkah transformasi strategis:
1. Rebranding dan Penyegaran Format (Content Modernization)
- Mengubah Gaya Penyampaian: Mengemas program edukasi, dokumenter, dan budaya dengan gaya penceritaan (storytelling) yang lebih santai, visual yang estetis, serta pembawa acara yang relevan dengan anak muda.
- Inovasi Program: Menghadirkan program yang relevan dengan minat generasi muda, seperti kompetisi e-sports, analisis pop-culture lokal, musik independen, dan dokumenter lingkungan hidup.
2. Strategi Digital-First dan Akses Multiplatform
- Optimalisasi Aplikasi TVRI Klik: Mengembangkan platform OTT (Over-The-Top) mandiri agar siaran dan arsip program TVRI dapat diakses secara gratis dan on-demand dari ponsel pintar.
- Konten Khusus Media Sosial (Native Social Content): Tidak sekadar memindahkan siaran TV ke YouTube, TikTok, atau Instagram, melainkan memproduksi konten khusus (bite-sized content, reels, dan highlight) yang disesuaikan dengan algoritma media sosial.
3. Pendekatan Kolaboratif
- Gandeng Content Creator dan Komunitas: Bekerja sama dengan influencer, animator lokal, dan komunitas muda untuk mengisi slot acara atau membuat kampanye sosial bersama.
- Pelibatan Anak Muda dalam Produksi: Membuka ruang bagi sineas muda dan mahasiswa untuk menyalurkan karya film pendek atau dokumenter mereka melalui kanal TVRI.
4. Memanfaatkan Keunggulan Komparatif (Nilai Keotentikan)
- Saat media sosial dipenuhi konten yang mengejar clickbait, TVRI mengambil posisi sebagai sumber informasi tepercaya (safe haven) yang menyajikan konten edukatif, bebas dari narasi toksik, serta mengangkat isu-isu keberlanjutan dan identitas lokal yang sebenarnya sangat diminati Gen Z.
Melalui kombinasi penyegaran format, kehadiran di platform digital, dan pembawaan narasi yang relevan, TVRI berupaya mentransformasi citranya tanpa mengorbankan nilai dasarnya sebagai Lembaga Penyiaran Publik.