
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Kisah pertemuan Nabi Muhammad saw. dengan Dhimad al-Azdi radhiyallahu 'anhu dirawayatkan secara shahih oleh Imam Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Peristiwa ini menjadi salah satu momen penting dalam sirah nabawiyah yang menggambarkan kekuatan retorika Al-Qur'an dan mukjizat Khutbatul Hajah.
Kronologi Kejadian
Dhimad al-Azdi berasal dari suku Azd Shanu'ah di Yaman. Ia tiba di Mekkah pada masa awal dakwah, saat kaum Quraysh gencar menyebarkan propaganda bahwa Nabi Muhammad saw. adalah orang gila (majnun). Dhimad, yang berprofesi sebagai tabib atau ahli ruqyah untuk mengobati gangguan jiwa, tergerak untuk menyembuhkan Beliau.
1.Pertemuan Awal di Mekkah:
Dhimad mendatangi Nabi saw. dan berkata: "Wahai Muhammad, aku biasa mengobati gangguan dari jin. Maukah engkau aku obati? Semoga Allah menyembuhkanmu melalui tanganku."
2.Respons dan Pembuka Khutbah Nabi saw.:
Nabi saw. tidak marah atau tersinggung. Beliau membalas dengan membacakan Khutbatul Hajah:
"Innal-hamda lillaahi, nahmaduhu wa nasta'iinuhu, man yahdihillaahu falaa mudzilla lah, wa man yudhlil falaa haadiya lah. Wa asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuuluh."
3.Kekaguman Dhimad:
Dhimad tertegun mendengar kalimat tersebut dan meminta Nabi saw. mengulangnya hingga tiga kali. Ia kemudian berkata: "Aku telah mendengar perkataan para dukun, penyihir, dan penyair, tetapi aku belum pernah mendengar kalimat seindah dan sedalam ini. Perkataanmu ini telah mencapai kedalaman lautan."
4.Pernyataan Masuk Islam:
Dhimad langsung mengulurkan tangannya dan bersyahadat di hadapan Rasulullah saw., lalu berjanji akan membela dakwah Islam bersama kaumnya.
Perspektif Sirah Nabawiyah & Pelajaran Utama
- Efektivitas Khutbatul Hajah: Kalimat pembuka yang dibacakan Rasulullah saw. memuat tauhid murni dan keagungan Allah. Keindahan susunan kata serta kedalaman maknanya mampu meruntuhkan stigma negatif yang dibangun oleh Quraysh.
- Akhlak dan Kesabaran Nabi saw.: Rasulullah saw. tidak merespons tuduhan "gila" dengan nada emosional. Sikap tenang dan kelembutan Beliau menjadi sarana dakwah (da'wah bil hal) yang menyentuh hati Dhimad.
- Kegagalan Propaganda Kafir Quraysh: Usai peristiwa ini, kabar keislaman Dhimad menyebar. Tokoh yang awalnya datang untuk menyembuhkan justru menjadi pengikut, membuktikan bahwa kebenaran Islam tidak dapat ditutupi oleh narasi palsu.
- Dampak Sosiologis pada Suku Yaman: Keislaman Dhimad membawa pengaruh besar bagi sukunya. Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa suatu ketika pasukan Muslim melewati wilayah suku Dhimad dan memilih untuk tidak mengambil harta rampasan perang sebagai bentuk penghormatan kepadanya.
Kisah diplomasi Utbah bin Rabi'ah di hadapan Rasulullah saw. dirawayatkan secara terperinci oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu (serta diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Abu Ya'la, dan Al-Hakim). Peristiwa ini menjadi salah satu momen penting dalam sirah nabawiyah yang menunjukkan keteguhan dakwah Rasulullah saw. serta mukjizat keagungan Al-Qur'an.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ini terjadi di Mekkah ketika jumlah pengikut Islam mulai bertambah, sehingga para pemimpin Quraysh merasa khawatir akan pengaruh dakwah Nabi saw.
1.Inisiatif Musyawarah Kaum Quraysh:
Para tokoh Quraysh berkumpul di dekat Ka'bah. Utbah bin Rabi'ah, seorang tetua Quraysh yang disegani dan bijaksana, menawarkan diri untuk bernegosiasi langsung dengan Nabi saw. guna menghentikan dakwah Beliau.
2.Tawaran Utbah bin Rabi'ah:
Utbah mendatangi Rasulullah saw. yang sedang duduk sendirian di Masjidil Haram dan menyampaikan serangkaian penawaran:
- Harta: Jika menginginkan kekayaan, Quraysh akan mengumpulkan harta hingga Beliau menjadi yang terkaya.
- Kedudukan: Jika menginginkan kekuasaan, Beliau akan diangkat menjadi pemimpin tertinggi.
- Kerajaan: Jika menginginkan takhta, mereka siap merajakannya.
- Pengobatan: Jika Beliau kesurupan atau diganggu jin, Quraysh bersedia membiayai tabib terbaik hingga sembuh.
3.Respons Nabi saw. dan Pembacaan Surat Fussilat:
Nabi saw. mendengarkan seluruh tawaran tanpa memotong pembicaraan. Setelah Utbah selesai, Beliau bertanya: "Apakah engkau sudah selesai, wahai Abu Al-Walid?" Utbah menjawab, "Sudah."
Nabi saw. berkata, "Sekarang dengarkanlah dariku." Beliau lalu membacakan wahyu QS. Fussilat ayat 1–13:
"Haa Meem. (Al-Qur'an ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..."
4.Puncak Peringatan pada Ayat ke-13:
Ketika Rasulullah saw. mencapai ayat ke-13:
"Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud.'"
Utbah terperanjat ketakutan. Ia menyergap dan menutup mulut Rasulullah saw. dengan tangannya sambil memohon demi kekerabatan mereka agar Beliau menghentikan bacaannya.
5.Kepulangan Utbah ke Pemimpin Quraysh:
Utbah kembali ke kelompok Quraysh dengan wajah yang berubah pucat. Ketika ditanya, ia menyatakan bahwa bacaan Muhammad bukanlah syair, sihir, ataupun mantra dukun, melainkan perkataan yang memiliki keagungan dan tidak menyerupai apa pun yang pernah ia dengar. Utbah menyarankan agar Quraysh membiarkan Muhammad dengan urusannya, namun para tokoh Quraysh justru menuduhnya telah terkena sihir Muhammad.
Perspektif Sirah Nabawiyah & Pelajaran Utama
- Prinsip Akhlak dalam Berdiplomasi: Rasulullah saw. mencontohkan adab mendengarkan yang sangat tinggi. Beliau memberikan kesempatan penuh kepada Utbah untuk menyampaikan tawarannya tanpa menyela, sebelum memberikan jawaban yang tegas dan elegan.
- Keteguhan Aqidah dan Dakwah: Nabi saw. membuktikan bahwa dakwah Islam tidak dapat dibeli dengan materi, jabatan, maupun kemewahan duniawi. Beliau menolak seluruh tawaran kompromi aqidah tersebut secara mutlak.
- Mukjizat Sastra dan Pengaruh Al-Qur'an: Utbah bin Rabi'ah adalah salah satu pakar bahasa dan sastra Arab terbaik pada zamannya. Ketakutan dan kekagumannya saat mendengar QS. Fussilat membuktikan bahwa Al-Qur'an memiliki kedahsyatan bahasa dan makna yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia.
- Keputusasaan Kafir Quraysh: Peristiwa ini menandai kegagalan pendekatan diplomasi dan negosiasi ekonomi-politik Quraysh, yang kemudian mendorong mereka beralih ke strategi yang lebih keras, seperti pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Mutthalib.
Kisah mengenai Al-Walid bin Al-Mughirah dan pandangannya terhadap Al-Qur'an serta Rasulullah saw. dirawayatkan dalam berbagai jalur sirah dan tafsir, salah satunya bersumber dari Sa'id bin Jubair dari Ikrimah (serta diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan dimuat dalam karya-karya seperti Tafsir Ath-Thabari dan Sirah Ibnu Hisyam). Peristiwa ini menjadi latar belakang turunnya wahyu QS. Al-Muddassir ayat 11–26.
Kronologi Peristiwa
Al-Walid bin Al-Mughirah adalah salah satu tokoh paling kaya, berpengaruh, dan ahli bahasa di kalangan Quraisy pada masa awal dakwah Mekkah.
1.Mendengarkan Al-Qur'an dan Pengakuan Jujur:
Suatu ketika, Al-Walid mendatangi Rasulullah saw. dan meminta Beliau membacakan Al-Qur'an. Setelah mendengarkannya, hati Al-Walid tersentuh. Ia lalu menemui kaumnya dari Bani Makhzum dan menyampaikan pengakuan jujur:
"Demi Allah, aku baru saja mendengar perkataan dari Muhammad yang bukan merupakan syair, bukan sihir, dan bukan pula mantra dukun. Perkataan itu memiliki keindahan, keagungan, manis di bagian atasnya, dan subur di bagian bawahnya. Perkataan itu sangat tinggi dan tidak ada yang dapat mengunggulinya."
2.Proprovokasi Abu Jahal:
Mendengar pengakuan tersebut, kaum Quraisy merasa cemas bahwa Al-Walid akan masuk Islam dan pengikut mereka akan mengekor. Abu Jahal kemudian mendatangi Al-Walid dan memprovokasinya dengan berkata bahwa kaum Quraisy menganggapnya telah tergiur harta Muhammad dan menghinanya.
3.Musyawarah Menentukan Stigma untuk Nabi saw.:
Terpancing oleh harga diri dan gengsi kepemimpinannya, Al-Walid berkumpul bersama tokoh-tokoh Quraisy menjelang musim haji untuk menyepakati satu tuduhan palsu guna memalingkan para peziarah Arab dari dakwah Nabi saw.
- Ketika ditawarkan tuduhan bahwa Nabi saw. adalah Dukun, Al-Walid menolak: "Demi Allah, ia bukan dukun. Kita tahu komat-kamit dan mantra dukun."
- Ketika ditawarkan tuduhan Gila, ia menolak: "Ia tidak gila. Kita tahu tanda-tanda gila dan perbedaannya."
- Ketika ditawarkan tuduhan Penyair, ia menolak: "Ia bukan penyair. Kita tahu semua bentuk syair."
- Ketika ditawarkan tuduhan Penyihir, ia awalnya menolak karena Nabi saw. tidak memegang tali atau buhul sihir.
4.Keputusan dan Tuduhan Akhir:
Setelah berpikir keras dan membolak-balikkan pandangannya, Al-Walid akhirnya mengambil jalan kompromi agar posisinya di mata Quraisy tetap aman. Ia berkata:
"Yang paling mendekati adalah jika kalian menyebutnya Penyihir, karena perkataannya mampu memisahkan antara seseorang dengan ayahnya, saudaranya, istrinya, dan keluarganya."
Perspektif Sirah Nabawiyah & Pelajaran Utama
- Pengakuan Objektif atas Mukjizat Al-Qur'an: Al-Walid bin Al-Mughirah adalah pakar sastra Arab tertinggi pada zamannya. Pengakuannya secara jujur membuktikan bahwa Al-Qur'an memiliki kualitas bahasa dan makna yang berada di luar batas kemampuan rekayasa manusia.
- Kekufuran Akibat Kesombongan dan Gengsi (Al-Kibr): Penyebab utama Al-Walid menolak Islam bukanlah karena tidak meyakini kebenaran Al-Qur'an, melainkan kekhawatiran kehilangan jabatan, kehormatan, dan tekanan sosial dari kaumnya. Ini menggambarkan bahaya kesombongan dalam menghalangi kebenaran.
- Pemberitaan Al-Qur'an atas Perilaku Manusia: Peristiwa ini diabadikan secara rinci dalam QS. Al-Muddassir (11-26), yang menggambarkan bagaimana Al-Walid memikirkan, menetapkan, bermuka masam, lalu berpaling dengan sombong hingga Allah mengancamnya dengan neraka Saqar.
- Muslihat Propaganda Kafir Quraisy: Mengingat mereka tidak menemukan celah kelemahan pada Al-Qur'an dan pribadi Rasulullah saw., Quraisy memilih tuduhan "penyihir pemisah keluarga" sebagai narasi propaganda untuk memicu ketakutan sosial di kalangan masyarakat Arab.