
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, beliau menggambarkan betapa gigihnya perjuangan Rasulullah ﷺ dalam menawarkan Islam kepada kabilah-kabilah Arab:
"Rasulullah ﷺ menawarkan dirinya kepada orang-orang di tempat berkumpulnya jamaah (musim haji) seraya berkata: 'Adakah orang yang mau membawaku kepada kaumnya? Karena sesungguhnya orang-orang Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan Kalam Rabbku.'" (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, & Ahmad)
Beliau melakukan aktivitas ini secara konsisten selama 10 tahun di Makkah (sejak dakwah jahriyyah hingga menjelang Hijrah ke Madinah) tanpa kenal lelah.
Kronologi Dakwah Terbuka dan Seruan ke Kabilah-Kabilah
Seruan kepada Kerabat Dekat (Bani Hasyim & Quraisy)
Tahun ke-3 Kenabian
Turun firman Allah “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. Asy-Syu'ara: 214). Rasulullah ﷺ mengumpulkan keluarga besarnya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib. Beliau menyeru mereka menuju tauhid, namun Abu Lahab memusuhi dan menolak seruan tersebut. Tak lama kemudian, Nabi naik ke Bukit Shafa memanggil seluruh suku Quraisy secara terbuka (jahriyyah).
Eksplorasi Pasar-Pasar Tradisional Arab
Tahun ke-4 s.d. 10 Kenabian
Melihat penolakan keras dari elite Quraisy, Rasulullah ﷺ memperluas jangkauan dakwah ke luar lingkaran Makkah. Beliau mendatangi peziarah dan pedagang di pasar-pasar tahunan Jahiliyah:
- Pasar Ukaz: Pusat pertemuaan sastra dan perdagangan terbesar dekat Thaif.
- Pasar Mijannah & Dzul Majaz: Tempat berkumpulnya suku-suku Arab menjelang puncak musim haji.
Beliau masuk dari kemah ke kemah, dikawal oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang ahli dalam silsilah (nasab) suku-suku Arab.
Pendekatan Strategis ke Kabilah-Kabilah Besar
Tahun ke-10 s.d. 11 Kenabian
Pasca wafatnya Khadijah dan Abu Thalib ('Amul Huzni), pemboikotan Quraisy semakin berat. Rasulullah ﷺ semakin gencar menemui suku-suku Arab utama untuk meminta perlindungan (himayah) dan dukungan risalah:
- Bani Kindah: Nabi mendatangi mereka di bawah pimpinan Muliha, namun mereka menolak secara halus.
- Bani Hanifah (Yamamah): Memberikan penolakan paling kasar dan paling buruk di antara suku-suku Arab.
- Bani Amir bin Sha'sha'ah: Salah seorang pemimpinnya, Baiharah bin Firas, bersedia mendukung dengan syarat barter kekuasaan (menuntut kepemimpinan Arab setelah Nabi wafat). Nabi menolak dengan tegas: "Urusan kekuasaan itu milik Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki."
- Bani Kalb, Bani Bakr, Bani Muharib, dll.: Sebagian besar menolak karena takut berkonflik dengan suku Quraisy.
Titik Balik: Perjumpaan dengan Kabilah Yatsrib (Aus & Khazraj)
Musim Haji Tahun ke-11 s.d. 13 Kenabian
Di tengah penolakan masif suku-suku besar, di Mina (Akabah) Rasulullah ﷺ bertemu dengan rombongan kecil dari suku Khazraj Yatsrib (Madinah). Mereka menyambut Islam dengan terbuka. Interaksi ini berlanjut pada Bai'at 'Aqabah I dan II, yang menjadi pintu pembuka Hijrah dan berdirinya pemerintahan Islam pertama.
Hikmah & Pelajaran Penting (Durus wa 'Ibar)
- Prinsip Murni Risalah (Bukan Perdagangan Politik/Kekuasaan) Penolakan terhadap syarat Bani Amir menjadi pelajaran abadi bahwa dakwah Islam tidak boleh disatukan dengan tawar-menawar politik pragmatis. Kemenangan Islam murni atas pertolongan Allah, bukan karena transaksional jatah kekuasaan.
- Konsistensi Usaha dan Ketangguhan (Istiqamah) Selama 10 tahun nonstop diperlakukan kasar, diusir, dan ditolak oleh belasan kabilah, Nabi ﷺ tidak pernah patah semangat. Beliau mengajarkan bahwa kewajiban pejuang dakwah adalah menyebarkan risalah (saba'b), sedangkan hasil (natihaj) sepenuhnya kuasa Allah.
- Memanfaatkan Momentum Massal (Fiqhul Mausam) Rasulullah ﷺ sangat jeli memanfaatkan ruang publik seperti Pasar Ukaz, Mijannah, dan keramaian musim haji. Ini menunjukkan pentingnya memanfaatkan sarana, media, dan momen publik yang efisien untuk menjangkau khalayak luas.
- Pentingnya Perlindungan Fisik dan Kekuatan Wilayah (An-Nushrah) Pencarian dukungan ke kabilah-kabilah (thalab an-nushrah) membuktikan bahwa dakwah tidak hanya butuh penyampaian retorika, tetapi juga basis wilayah, perlindungan fisik, dan kekuatan politik agar hukum Allah dapat ditegakkan secara berdaulat (terwujud kelak di Madinah).
- Pertolongan Datang dari Arah Tak Terduga Nabi ﷺ mendatangi suku-suku raksasa dan berpengaruh seperti Bani Hanifah dan Kindah, namun Allah justru membuka jalan Islam lewat beberapa pemuda dari Yatsrib (Aus dan Khazraj). Ini mengajarkan agar mubaligh tidak meremehkan kelompok kecil atau sasaran dakwah mana pun.
Pada tahun ke-11 kenabian (sekitar tahun 620 M), terjadi peristiwa penting yang menjadi titik balik (turning point) terbesar dalam sejarah Islam. Peristiwa ini menjadi cikal bakal terbentuknya ikatan antara Rasulullah ﷺ dengan kaum Anshar di Madinah.
Berikut adalah penjelasannya secara kronologis berdasarkan perspektif Sirah Nabawiyah:
Kronologi Peristiwa Tahun ke-11 Kenabian
1. Latar Belakang & Situasi Makkah
Pasca wafatnya Khadijah radhiyallahu 'anha dan Abu Thalib ('Amul Huzni / Tahun Kesedihan), penindasan Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ semakin keras. Selama hampir 10 tahun, Nabi ﷺ menawarkan Islam kepada puluhan kabilah Arab di tempat-tempat berkumpulnya jamaah haji (seperti Ukaz, Mijannah, dan Dzul Majaz), namun mayoritas menolak dengan kasar atau mengajukan syarat kekuasaan.
2. Pertemuan di Mina/Aqabah (Tahun 11 Kenabian)
Pada musim haji tahun ke-11 kenabian, Rasulullah ﷺ kembali mendatangi kemah-kemah jamaah haji di luar Makkah. Saat berada di Aqabah (suatu bukit kecil di Mina), Nabi ﷺ mendengar percakapan sekelompok pemuda.
Beliau mendatangi mereka dan bertanya: "Siapakah kalian?"
Mereka menjawab: "Kami dari rombongan kabilah Khazraj."
Nabi ﷺ bertanya lagi: "Apakah kalian sekutu orang-orang Yahudi (di Yatsrib)?"
Mereka menjawab: "Benar."
Nabi ﷺ bersabda: "Maukah kalian duduk sebentar agar aku bisa berbicara dengan kalian?"
Mereka menjawab: "Tentu saja."
3. Enam Pemuda Khazraj (Cikal Bakal Anshar)
Pertemuan tersebut dihadiri oleh 6 orang pemuda dari Suku Khazraj (sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq/Ibnu Hisyim), yaitu:
- As'ad bin Zurarah (Bani Najjar)
- 'Auf bin al-Harits / Ibnu 'Afra (Bani Najjar)
- Rafi' bin Malik (Bani Zuraiq)
- Quthbah bin 'Amir (Bani Salamah)
- 'Uqbah bin 'Amir (Bani Haram)
- Jabir bin 'Abdillah bin Ri'ab (Bani 'Ubaid) (Catatan: Jabir bin 'Abdillah di sini adalah Jabir bin 'Abdillah bin Ri'ab Al-Khazraji, sosok berbeda dari sahabat muda Jabir bin 'Abdillah bin 'Amr Al-Anshari yang meriwayatkan banyak hadits).
4. Faktor Penentu Diterimanya Dakwah Nabi ﷺ
Ketika Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur'an dan menjelaskan hakikat Islam, pemuda-pemuda Khazraj ini saling memandang dan berkata satu sama lain:
"Demi Allah, ketahuilah wahai kaumku, dialah Nabi yang selama ini diancamkan oleh orang-orang Yahudi kepada kita! Jangan sampai orang-orang Yahudi mendahului kita untuk beriman kepadanya!"
Penduduk Yatsrib (Aus dan Khazraj) sering mendengar dari tetangga Yahudi mereka bahwa seorang Nabi akhir zaman akan segera diutus. Selain itu, Yatsrib baru saja hancur akibat Perang Bu'ats (perang saudara berdarah antara Aus dan Khazraj). Mereka mendambakan sosok pemimpin spiritual yang mampu menyatukan kabilah-kabilah mereka.
5. Komitmen Awal & Janji Pertemuan
Enam pemuda Khazraj ini langsung menyatakan keislaman mereka di tempat. Mereka berkata kepada Nabi ﷺ:
"Kami telah meninggalkan kaum kami di Yatsrib dalam keadaan saling memusuhi dan berbuat jahat satu sama lain. Semoga Allah menyatukan mereka melalui dirimu. Kami akan kembali kepada mereka, mendakwahkan agamamu, dan menawarkan Islam kepada mereka."
Mereka berjanji untuk bertemu kembali dengan Rasulullah ﷺ pada musim haji tahun berikutnya (Tahun ke-12 Kenabian) di tempat yang sama.
Hubungan dengan Bai'at ('Aqabah I dan II)
Meskipun pada tahun ke-11 kenabian ini belum terjadi bai'at secara resmi (baru sebatas penerimaan Islam dan komitmen awal), peristiwa ini merupakan fondasi utama dari proses Bai'at 'Aqabah yang menyertainya di tahun-tahun berikutnya:
- Bai'at 'Aqabah Pertama (Tahun 12 Kenabian / 621 M):12 orang perwakilan Yatsrib (10 Khazraj, 2 Aus) datang menemui Nabi ﷺ di Aqabah dan mengucapkan Bai'at 'Aqabah I (Bai'at An-Nisa/Janji Setia tanpa syarat perang). Pasca bai'at ini, Nabi mengutus Mus'ab bin 'Umair untuk menjadi duta Islam pertama di Madinah.
- Bai'at 'Aqabah Kedua (Tahun 13 Kenabian / 622 M):73 pria dan 2 wanita dari Aus dan Khazraj berbai'at untuk membela dan melindungi Rasulullah ﷺ dengan nyawa dan harta mereka. Bai'at inilah yang menjadi lampu hijau untuk peristiwa Hijrah besar-besaran ke Madinah dan berdirinya Daulah Islamiyyah.
Catatan Terkait Riwayat "Ibnu Juma'i"
Dalam literatur sejarah dan Tabaqat, Ibnu Juma'i (Muhammad bin Ahmad bin Juma'i Al-Ghassani, penyusun Mu'jam asy-Syuyukh) adalah salah satu perawi yang menghimpun sanad-sanad riwayat perjumpaan Rasulullah ﷺ dengan kabilah-kabilah Arab dan awal mula interaksi dengan suku Khazraj.
Ringkasan riwayat ini menegaskan bahwa awal mula gelar Anshar (Penolong) berakar dari keikhlasan 6 pemuda Khazraj pada tahun ke-11 kenabian, yang membuka pintu bagi Islam untuk meresap ke hampir setiap rumah di Yatsrib sebelum kedatangan Rasulullah ﷺ.
Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi pada periode late-Makkan (sekitar tahun 10–12 Kenabian), suatu masa yang dicatat para ahli sirah sebagai salah satu fase tersulit dan paling kritis dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ.
Situasi & Kondisi Penduduk Makkah Saat Peristiwa Terjadi
1. Berada di Puncak Penindasan dan Pemboikotan
Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah berhentinya pemboikotan total selama 3 tahun oleh kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib di Syi'ib Abi Thalib. Meskipun pemboikotan fisik berakhir, tekanan psikologis, ekonomi, dan sosial dari penduduk Makkah terhadap kaum muslimin berada di tingkat yang sangat tinggi.
2. Wafatnya Dua Pelindung Utama ('Amul Huzni)
Pada tahun ke-10 Kenabian, Rasulullah ﷺ kehilangan dua sosok penopang utama:
- Abu Thalib: Paman beliau yang menjadi benteng perlindungan politik dari intimidasi elite Quraisy.
- Khadijah bin Khuwailid radhiyallahu 'anha: Istri tercinta yang memberikan dukungan emosional, spiritual, dan finansial.
Wafatnya kedua tokoh ini membuat pemuka Quraisy semakin tidak segan untuk menyakiti dan mengintimidasi Rasulullah ﷺ secara fisik maupun mental.
3. Penolakan Penyelamatan di Thaif
Mencari alternatif dukungan di luar Makkah, Nabi ﷺ berjalan kaki ke Thaif untuk mendatangi suku Bani Thaqif. Namun, penduduk Thaif menolak, menghina, dan melempari beliau dengan batu hingga terluka. Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah dalam keadaan duka yang mendalam (makhzum), bahkan harus memasuki Makkah di bawah jaminan perlindungan (jiwar) Muth'im bin 'Adi, seorang tokoh musyrik Quraisy.
Dalam kondisi mental dan fisik yang terguncang inilah, Allah ﷻ menganugerahkan Isra' Mi'raj sebagai bentuk penghhiburan (tasliyah), penguatan iman, dan tanda kemuliaan bagi Nabi-Nya.
Kronologi Peristiwa Isra' Mi'raj dan Respons Penduduk Makkah
Awal Perjalanan Suci (Isra')
Malam Hari (Lokasi: Masjidil Haram)
Rasulullah ﷺ sedang tidur di dekat Ka'bah (di area Al-Hijr atau Al-Hathim). Malaikat Jibril 'alaihissalam mendatangi beliau, membelah dadanya untuk disucikan kembali dengan air Zamzam, lalu membawanya mengendarai Buraq menuju Masjidil Aqsha di Palestina dalam waktu singkat.
Imam Para Nabi & Menerima Perintah Shalat (Mi'raj)
Malam yang Sama (Masjidil Aqsha)
Di Masjidil Aqsha, Nabi ﷺ memimpin shalat berjamaah bersama para nabi terdahulu. Kemudian beliau diangkat menembus langit tujuh (Mi'raj) hingga Sidratul Muntaha, bertemu langsung dengan Allah ﷻ, dan menerima perintah wajib shalat 5 waktu. Beliau kembali ke Makkah sebelum subuh.
Penyampaian Berita di Tengah Penduduk Makkah
Pagi Hari Pasca Peristiwa
Pagi harinya, Rasulullah ﷺ duduk menyendiri di dekat Ka'bah dalam keadaan prihatin karena tahu reaksinya kelak. Abu Jahl melintas dan bertanya mengejek, "Apakah ada berita baru?"
Nabi ﷺ menjawab jujur bahwa beliau baru saja diperjalankan ke Baitul Maqdis dan kembali dalam satu malam. Abu Jahl yang kegirangan langsung memanggil seluruh kaum Quraisy untuk mendengarkan "pengakuan" tersebut sebagai bahan olokan.
Ujian Keimanan & Ejekan Masif Quraisy
Siang Hari di Makkah
Penduduk Makkah bereaksi keras. Mayoritas dari mereka tertawa, menepuk tangan, dan memegang kepala karena menganggap narasi tersebut tidak masuk akal (perjalanan Makkah-Palestina normalnya memakan waktu 1 bulan dengan unta):
- Cemoohan dan Ujian Buraq: Mereka menantang Nabi ﷺ untuk mendeskripsikan bentuk fisik Masjidil Aqsha (sebab mereka tahu Nabi ﷺ belum pernah ke sana). Allah memperlihatkan gambaran Baitul Maqdis secara langsung di hadapan Nabi, sehingga beliau mampu menjawab setiap detail pertanyaan mereka tanpa cela.
- Gelar Al-Shiddiq untuk Abu Bakar: Pemuka Quraisy mendatangi Abu Bakar radhiyallahu 'anhu untuk mengadu. Abu Bakar menjawab tegas: "Jika beliau yang mengatakannya, maka sungguh beliau benar. Aku bahkan membenarkannya untuk berita langit yang lebih jauh dari itu." Sejak hari itu, Abu Bakar digelari Al-Shiddiq.
Peran Isra' Mi'raj dalam Peta Dakwah Sirah
- Penyaring Keimanan (Filtarisasi): Peristiwa ajaib ini memisahkan secara tegas antara orang-orang yang beriman secara hakiki dengan orang-orang yang ragu-ragu. Sebagian kecil orang yang lemah imannya murtad, namun mayoritas sahabat utama justru semakin mantap imannya.
- Pengalihan Fokus Strategis: Penolakan total dari Makkah yang makin keras pasca-Isra' Mi'raj menegaskan bahwa Makkah bukan lagi lahan yang subur untuk pembentukan pusat pemerintahan Islam. Hal ini memicu percepatan interaksi Nabi dengan suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib yang berujung pada peristiwa Hijrah.