
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hari Palang Merah Nasional diperingati setiap tanggal 17 September, menandai lahirnya Palang Merah Indonesia (PMI) pada tahun 1945 sebagai lembaga kemanusiaan pertama yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan.

Sejarah dan Asal Usul
Perjalanan kepalangmerahan di Indonesia melewati dinamika panjang sejak era kolonial hingga kemerdekaan:
- Masa Kolonial Belanda (1873): Pemerintah Kolonial mendirikan Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI). Usaha tokoh bangsa seperti Dr. RCL Senduk dan Dr. Bahder Djohan untuk mendirikan badan palang merah mandiri pada 1932 dan 1940 ditolak oleh Belanda.
- Pendudukan Jepang (1942–1945): NERKAI dibubarkan oleh Jepang, dan upaya pembentukan organisasi kemanusiaan pribumi kembali terhambat.
- Instruksi Presiden (3 September 1945): Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Kesehatan Dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk badan Palang Merah Nasional guna membantu korban perang kemerdekaan.
- Pembentukan Resmi (17 September 1945): Panitia Lima (Dr. R. Mochtar, Dr. Bahder Djohan, Dr. Djuhana, Dr. Marzuki, dan Dr. Sitanala) resmi mendirikan PMI, dengan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua umumnya yang pertama.
- Pengakuan Hukum & Internasional: Pemerintah menguatkannya melalui Keppres No. 25 Tahun 1950 (diperbarui Keppres No. 246 Tahun 1963) dan disahkannya UU No. 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan. Secara global, PMI diakui oleh ICRC dan diterima menjadi anggota IFRC pada tahun 1950.
Prospek Kedepan dalam Perspektif Kesejahteraan Bangsa
PMI tidak lagi sekadar lembaga donor darah atau pertolongan pertama di medan pertempuran, melainkan pilar strategis dalam menjaga ketahanan sosial dan kesejahteraan masyarakat Indonesia:
- Ketahanan Bencana & Perubahan Iklim: Berada di wilayah Ring of Fire, Indonesia membutuhkan sistem mitigasi bencana berbasis komunitas (Community-Based Disaster Risk Reduction). PMI menjadi garda terdepan dalam respons cepat, evakuasi, hingga pemulihan pascabencana.
- Kemandirian Layanan Kesehatan & Donor Darah: Transformasi digital pada Unit Donor Darah (UDD) serta modernisasi pengolahan plasma darah sangat krusial untuk menjamin ketersediaan stok darah aman di seluruh pelosok Nusantara.
- Penguatan Modal Sosial dan Generasi Muda: Pembinaan Palang Merah Remaja (PMR) dan Korps Sukarela (KSR) memupuk nilai kebangsaan, kepedulian sosial, serta rasa empati di kalangan generasi muda untuk memperkuat ketahanan sosial bangsa.
- Integrasi Logistik Kemanusiaan: Pengembangan jaringan logistik darurat yang terintegrasi dengan teknologi informasi mempercepat penyaluran bantuan saat krisis kemanusiaan maupun krisis kesehatan masyarakat terjadi.
Keberadaan Palang Merah Indonesia (PMI) terus beradaptasi dengan dinamika zaman, memperkuat perannya tidak hanya sebagai badan penanggulangan krisis domestik tetapi juga institusi kemanusiaan yang berdaya saing global.

Perspektif Kelembagaan & Organisasi
Secara kelembagaan, PMI bertransformasi menuju modernisasi tata kelola dan efisiensi operasional berbasis teknologi:
- Digitalisasi Layanan Kesehatan: Operasional Unit Donor Darah (UDD) terintegrasi secara digital untuk menjamin transparansi stok darah nasional, pelacakan real-time, dan pemenuhan standar mutu plasma darah.
- Modernisasi Manajemen Logistik Bencana: PMI memperkuat jaringan pusat logistik regional yang siap siap-siaga merespons bencana alam di daerah rawan bencana dengan memanfaatkan sistem pemetaan risiko bencana terkini.
- Kemandirian Organisasi: Penguatan akuntabilitas publik dan transparansi keuangan sesuai amanat UU No. 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan guna menjaga kepercayaan donor dan masyarakat.
Perspektif Struktur Kepengurusan
Struktur kepemimpinan dan manajemen PMI dirancang untuk menjaga keberlanjutan dan responsivitas organisasi:
- Prinsip Netralitas dan Independensi: Kepengurusan PMI di tingkat Pusat, Provinsi, hingga Kabupaten/Kota tetap berpegang pada 7 Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional untuk menjamin independensi dari kepentingan politik praktis.
- Integrasi Generasi Muda: Penguatan regenerasi kepengurusan melalui penyerapan kader Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR) ke dalam struktur manajerial lapangan.
- Kemitraan Multisektor: Pengurus aktif membangun kolaborasi strategis dengan kementerian/lembaga (seperti BNPB dan Kementerian Kesehatan), dunia usaha (CSR), serta akademisi untuk memperluas jangkauan operasional.
Perspektif Geopolitik & Kemanusiaan Global
Dalam arena internasional, PMI memainkan peran krusial sebagai instrumen soft power dan diplomasi kemanusiaan Indonesia:
- Diplomasi Kemanusiaan Regional & Global: PMI aktif berkolaborasi dengan ICRC dan IFRC dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik regional maupun global (seperti kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara).
- Kepemimpinan di Kawasan ASEAN: Sebagai salah satu perhimpunan nasional terbesar di Asia Tenggara, PMI menjadi rujukan dalam mitigasi bencana berbasis masyarakat dan kesiapsiagaan menghadapi krisis iklim.
- Peran Kunci dalam Kritis Iklim: Menghadapi ancaman perubahan iklim global, PMI memosisikan diri sebagai penggerak Anticipatory Action (tindakan antisipasi berbasis prakiraan cuaca) untuk meminimalkan dampak bencana hidro-meteorologi di tingkat lokal maupun regional.
Palang Merah Indonesia (PMI) memiliki landasan operasional ketat berdasarkan 7 Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, khususnya prinsip Netralitas dan Kesetaraan. PMI tidak terlibat dalam konfrontasi politik maupun aksi militer di wilayah konflik, melainkan berfokus penuh pada penanggulangan krisis kemanusiaan dan pelindungan warga sipil.
Peran dan Upaya PMI dalam Krisis Kemanusiaan di Palestina (Gaza)
Dalam konflik di Palestina, PMI secara aktif berupaya menyalurkan bantuan logistik, medis, dan shelter darurat:
- Penyaluran Bantuan Logistik & Medis bertahap: PMI telah mendistribusikan ratusan ton bantuan, mencakup obat-obatan, alat kesehatan, bahan pangan, air bersih, hingga hygiene kit untuk pengungsi.
- Penyediaan Shelter Darurat: PMI menyalurkan bantuan fasilitas pengungsian berupa ratusan unit tenda pengungsian skala besar di wilayah perbatasan (El Arish/Rafah) untuk menampung warga Gaza yang kehilangan tempat tinggal.
- Mobilisasi Dana Kemanusiaan Masyarakat: PMI membuka penggalangan dana berskala nasional dan berhasil menghimpun serta menyalurkan puluhan miliar rupiah bantuan dari publik Indonesia untuk pemulihan korban perang.
- Kolaborasi Jalur Resmi (ICRC & Bulan Sabit Merah): Mengingat ketatnya blokade di lapangan, PMI bekerja sama dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Bulan Sabit Merah Mesir (Egyptian Red Crescent), dan Bulan Sabit Merah Palestina (Palestinian Red Crescent Society) untuk memastikan logistik menembus perbatasan Gaza melalui koordinasi diplomasi kemanusiaan.
Peran PMI Terkait Situasi di Iran dan Esalasi Regional
Mengenai dinamika konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah, PMI mengacu pada koordinasi jaringan kepalangmerahan internasional:
- Koordinasi dengan Bulan Sabit Merah Iran (IRCS): PMI berkoordinasi dengan Iranian Red Crescent Society di bawah payung Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) untuk memantau dampak krisis terhadap masyarakat sipil.
- Kesiapsiagaan Tim Kemanusiaan Internasional: PMI menyiagakan personel medis dan sukrawan jika sewaktu-waktu mekanisme bantuan internasional (IFRC/ICRC) meminta dukungan teknis atau personel darurat di kawasan yang terdampak konflik bersenjata.
- Prinsip Netralitas: PMI tidak memihak salah satu aktor politik maupun militer yang berkonflik, melainkan terus menyuarakan penghormatan terhadap Hukum Humaniter Internasional (HHI), khususnya pelindungan bagi fasilitas medis, ambulans, dan pekerja kemanusiaan di area pertempuran.