
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Nazar Hindun binti 'Utbah untuk memakan hati Hamzah bin Abdul Muthallib merupakan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Perang Uhud (3 H / 625 M). Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh dendam kesumat, ambisi eksekusi melalui budak pembunuh, hingga akhirnya berujung pada pengampunan umum saat Pembebasan Kota Mekkah (Fathu Makkah).

Peta posisi pertempuran Perang Uhud.
1. Latar Belakang: Dendam Darah Perang Badar
Pada Perang Badar (2 H), kaum kafir Quraisy mengalami kekalahan telak. Dalam pertempuran tersebut, Hamzah bin Abdul Muthallib (paman Nabi Muhammad SAW yang dijuluki Asadullah atau Singa Allah) berhasil menewaskan tokoh-tokoh utama Makkah, termasuk:
- 'Utbah bin Rabi'ah (ayah Hindun)
- Syaibah bin Rabi'ah (paman Hindun)
- Walid bin 'Utbah (saudara laki-laki Hindun)
Kehilangan anggota keluarga inti secara mendadak membangkitkan rasa dendam yang sangat mendalam pada diri Hindun. Ia bersumpah tidak akan berhenti menuntut balas sebelum berhasil membunuh Hamzah dan melampiaskan kemarahannya.
2. Siasat Perencanaan dan Eksekusi
Hindun memanfaatkan seorang budak asal Abasinia (Etiopia) bernama Wahsyi bin Harb, yang sangat mahir melempar tombak.
- Tawaran Imbalan: Hindun menjanjikan kemerdekaan bagi Wahsyi serta perhiasan emas yang melimpah jika ia berhasil membunuh Hamzah. Tuannya Wahsyi, Jubair bin Muth'im, juga menjanjikan kebebasan jika Wahsyi berhasil membalas dendam atas kematian pamannya, Tu'aimah bin 'Adi.
- Aksi di Perang Uhud: Saat pertempuran berkecamuk di kaki Bukit Uhud, Wahsyi mengintai Hamzah dari balik batu. Ketika Hamzah sedang sibuk bertempur, Wahsyi melemparkan tombaknya dari jarak jauh dan mengenai perut bawah Hamzah hingga gugur sebagai syahid.
3. Pelampiasan Dendam di Medan Laga
Setelah pasukan Muslim terdesak akibat pengabaian posisi oleh sebagian pasukan pemanah, wanita-wanita Quraisy yang dipimpin Hindun masuk ke medan pertempuran untuk melakukan pembalasan (mutsla atau merusak jasad).
- Pemotongan Organ: Hindun membelah dada jasad Hamzah dan mengeluarkan hatinya.
- Niat Memakan Hati: Hindun mengunyah potongan hati Hamzah untuk memenuhi nadzar dan rasa dendamnya. Namun, ia tidak sanggup menelannya dan langsung memuntahkannya kembali.
- Mutilasi Tambahan: Hindun juga memotong hidung serta telinga para syuhada Uhud dan menjadikannya kalung serta gelang perhiasan.
Perbuatan tersebut sangat mengejutkan dan membangkitkan duka mendalam bagi Rasulullah SAW ketika menemukan jasad pamannya dalam kondisi terpotong-potong.
4. Akhir Perjalanan: Masuk Islam dan Pengampunan
Meskipun peristiwa tersebut sangat menyakitkan bagi umat Islam, kisah Hindun dan Wahsyi berakhir dengan pertobatan:
- Pertobatan Hindun: Saat peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekkah) pada tahun 8 H / 630 M, Hindun binti 'Utbah menyadari kebenaran Islam. Ia datang menemui Rasulullah SAW dengan wajah tertutup untuk mengikrarkan keislamannya.
- Sikap Rasulullah SAW: Nabi Muhammad SAW memaafkan Hindun serta memberikan pengampunan umum kepada warga Makkah. Hindun kemudian menjadi muslimah yang taat dan ikut serta mendukung perjuangan Islam, termasuk menyemangati pasukan Muslim dalam Perang Yarmuk.
- Nasib Wahsyi: Wahsyi juga masuk Islam kelak. Meski dimaafkan, Rasulullah SAW meminta Wahsyi agar tidak terlalu sering menampakkan diri di hadapannya karena wajah Wahsyi selalu mengingatkan beliau pada gugurnya Hamzah. Wahsyi kemudian menebus kesalahannya dengan membunuh Musailamah al-Kazzab (nabi palsu) pada Perang Yamamah.
Tahun ke-3 Hijriah (624–625 M) merupakan periode krusial dalam konsolidasi kekuasaan Islam di Madinah. Setelah kemenangan besar di Perang Badar pada tahun sebelumnya, posisi politik dan militer umat Islam menguat, namun di saat yang sama memicu reaksi keras dari ancaman internal (pengkhianatan Piagam Madinah) dan eksternal (balas dendam musyrikin Quraisy).
Konflik dan Pengusiran Bani Qainuqa'
Syawwal 2 H / Dzulqa'dah 2 H (Transisi ke 3 H)
Bani Qainuqa' menjadi kelompok Yahudi Madinah pertama yang melanggar kesepakatan Piagam Madinah. Pelanggaran ini dipicu oleh provokasi terbuka di pasar mereka serta peristiwa pelecehan terhadap seorang muslimah yang berujung pada pembunuhan seorang muslim dan seorang Yahudi.
- Pengepungan: Nabi Muhammad SAW mengepung benteng Bani Qainuqa' selama 15 hari.
- Resolusi: Mereka menyerah tanpa syarat. Atas desakan Abdullah bin Ubay (tokoh munafik yang menjadi sekutu lama mereka), hukuman mati dibatalkan dan diganti dengan pengusiran seluruh suku dari Madinah ke wilayah Syam (Syam/Khaibar).
Eksekusi Ka'ab bin al-Asyraf
Rabi'ul Awwal 3 H
Ka'ab bin al-Asyraf adalah seorang penyair kaya dan pemimpin Yahudi (Bani Nadhir) yang secara aktif melakukan warfare propaganda dan provokasi terhadap umat Islam.
- Bentuk Pelanggaran: Ia pergi ke Makkah untuk meratapi tewasnya tokoh-tokoh Quraisy di Badar, membakar semangat Quraisy untuk membalas dendam, serta mengagendakan puisi-puisi satir yang melecehkan kehormatan wanita-wanita muslimah di Madinah.
- Eksekusi Taktis: Mengingat tindakannya dikategorikan sebagai penghianatan tingkat tinggi dan provokasi perang dari dalam, Nabi Muhammad SAW mengizinkan operasi intelijen yang dipimpin oleh Muhammad bin Maslamah. Ka meyakinkan dan mengeksekusi Ka'ab pada malam hari.
Perang Uhud
Syawwal 3 H
Konfrontasi militer terbesar di tahun ke-3 Hijriah, di mana pasukan Quraisy Makkah membawa 3.000 prajurit untuk membalas kekalahan Badar, berhadapan dengan 1.000 (menjadi 700) prajurit Muslim di kaki Bukit Uhud.
- Pengkhianatan Munafik: Di tengah jalan, Abdullah bin Ubay menarik kembali 300 pasukannya, menyisakan 700 prajurit Muslim.
- Fase Awal: Pasukan Muslim memegang kendali dan mendesak mundur pasukan Quraisy.
- Titik Balik: Pasukan pemanah (rumat) di bukit 'Ainain melanggar perintah Nabi untuk tidak meninggalkan posisi. Mereka turun mengambil harta rampasan perang (ghanimah).
- Serangan Balik Khalid bin Walid: Komandan kavaleri Quraisy, Khalid bin Walid, memanfaatkan celah bukit yang kosong untuk memutar dan menyerang pasukan Muslim dari belakang.
- Dampak Perang: Pasukan Muslim menderita kerugian berat. 70 sahabat gugur sebagai syahid, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthallib.

Korelasi Antar-Peristiwa
- Pembersihan Internal sebelum Ancaman Luar: Tindakan tegas terhadap Bani Qainuqa' dan Ka'ab bin al-Asyraf mengamankan stabilitas Madinah dari ancaman pembangkangan internal dan spionase sebelum ancaman konsolidasi kekuatan Makkah tiba.
- Keterhubungan Eskalasi Perang: Propaganda Ka'ab di Makkah berbanding lurus dengan mempercepat konsolidasi 3.000 pasukan Quraisy yang akhirnya memicu Perang Uhud.
- Pelajaran Kedisiplinan: Perang Uhud menjadi evaluasi mendalam bagi kepemimpinan strategi militer Islam mengenai dampak fatal dari ketidakdisiplinan terhadap perintah komando utama.