
International day of Sign Languages stock illustration
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hari Bahasa Isyarat Internasional (International Day of Sign Languages) diperingati setiap tanggal 23 September untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa isyarat dalam mewujudkan hak asasi manusia bagi komunitas Tuli.
Sejarah dan Asal Usul
- Pendirian WFD (1951): Tanggal 23 September dipilih karena bertepatan dengan tanggal pembentukan World Federation of the Deaf (WFD) pada tahun 1951, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak masyarakat Tuli secara global.
- Resolusi PBB (2017): Usulan peringatan ini diinisiasi oleh WFD bersama 97 negara anggota PBB. PBB secara resmi mengesahkan resolusi A/RES/72/161 pada bulan Desember 2017.
- Peringatan Perdana (2018): Hari Bahasa Isyarat Internasional pertama kali dirayakan secara global pada 23 September 2018 sebagai bagian dari International Week of the Deaf.
Manfaat dalam Perspektif Kehidupan Bangsa-Bangsa
- Inklusi Sosial dan Kesetaraan Hak: Memastikan komunitas Tuli mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik tanpa diskriminasi.
- Pelestarian Keanekaragaman Bahasa & Budaya: Bahasa isyarat adalah bahasa alami yang memiliki struktur tata bahasa sendiri. PBB mencatat ada lebih dari 300 bahasa isyarat lokal di seluruh dunia (seperti BISINDO di Indonesia atau ASL di AS).
- Pemenuhan HAM: Pengakuan bahasa isyarat sejalan dengan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) untuk menjamin kebebasan berekspresi dan berkomunikasi.
- Aksesibilitas Informasi Global: Penggunaan bahasa isyarat dalam siaran berita atau konferensi tingkat internasional memastikan informasi krusial (seperti situasi darurat atau kesehatan) dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.
Kepemimpinan dari kalangan disabilitas sensorik (tuna rungu, tuna wicara, atau tuna netra) memberikan warna unik dalam pengambilan kebijakan publik maupun gerakan sosial, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Helen Keller, tokoh kepemimpinan disabilitas dunia.
Contoh Tokoh Pemimpin Disabilitas Sensorik
- Helen Keller (Internasional - Tuna Netra & Tuna Rungu/Wicara): Aktivis politik, penulis, dan ko-pendiri ACLU yang memimpin gerakan hak-hak disabilitas global serta hak-hak buruh dan perempuan.
- I King Jordan (Internasional - Tuna Rungu): Rektor Tuli pertama Gallaudet University (1988), universitas inklusif pertama di dunia untuk komunitas Tuli, yang kepemimpinannya menginspirasi lahirnya Americans with Disabilities Act (ADA).
- Mochamad Ariani & Surya Sahetapy (Nasional - Tuna Rungu/Tuli): Pemimpin gerakan inklusi di Indonesia yang memperjuangkan pengakuan BISINDO serta keterlibatan komunitas Tuli dalam perumusan kebijakan nasional.
- Sujiwo Tejo / Tokoh Advokasi Tunanetra Indonesia (Nasional - Tuna Netra): Pemimpin di berbagai organisasi disabilitas netra (seperti PERTUNI) yang memimpin advokasi aksesibilitas fasilitas publik, seperti guiding block dan surat suara Braille.
Analisis Kelebihan dan Kekurangan Kepemimpinan
| Kondisi Disabilitas | Kelebihan Kepemimpinan | Tantangan / Kekurangan |
| Tuna Rungu / Tuna Wicara | • Empati Inklusif Ketat: Sangat peka terhadap keadilan sosial dan hak aksesibilitas komunikasi. • Gaya Komunikasi Efektif & Visual: Berfokus pada kejelasan pesan, data visual, dan bahasa tubuh yang lugas tanpa basa-basi politik. • Kecermatan Pengamatan: Memiliki kemampuan analisis visual yang tinggi terhadap dinamika ruang dan respons audiens. | • Hambatan Komunikasi Langsung: Bergantung pada penerjemah bahasa isyarat (JBI) dalam forum diplomasi cepat atau debat spontan. • Stigma & Bias Publik: Masih sering dipandang sebelah mata oleh publik yang belum teredukasi mengenai kapasitas kepemimpinan komunitas Tuli. |
| Tuna Netra | • Kemampuan Mendengar & Memori Kuat: Unggul dalam pemikiran analitis berbasis pendengaran (auditori) dan pengingat detail lisan/data. • Fokus Berpikir Mendalam: Bebas dari bias visual (penampilan fisik, persepsi luar) sehingga lebih obyektif mengevaluasi gagasan atau karakter orang. • Keterampilan Verbal Tinggi: Umumnya memiliki retorika dan keahlian persuasi lisan yang sangat kuat dalam memimpin forum. |
Kepemimpinan disabilitas sensorik membuktikan bahwa efektivitas seorang pemimpin tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh visi, kedalaman empati, serta kemampuan membangun sistem pendukung yang adil bagi masyarakat luas.