
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hari Pariwisata Sedunia (World Tourism Day) diperingati setiap tanggal 27 September untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global akan pentingnya nilai sosial, budaya, politik, dan ekonomi dari sektor pariwisata.
Sejarah dan Asal-usul
Gagasan ini diresmikan oleh Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UN Tourism / UNWTO) pada sidang Majelis Umum ketiganya di Spanyol tahun 1979. Perayaan pertamanya dimulai secara resmi pada 27 September 1980.
Pemilihan tanggal 27 September merujuk pada momen bersejarah diadopsinya Anggaran Dasar UNWTO pada tahun 1970. Tanggal ini juga dianggap sangat strategis karena menandai transisi musim liburan utama di belahan bumi utara (akhir musim panas) dan belahan bumi selatan (awal musim semi).
Perspektif Poleksosbud (Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya)
- Politik (Diplomasi & Perdamaian): Pariwisata berfungsi sebagai instrumen soft diplomacy dan jembatan perdamaian antarnegara. Interaksi lintas batas mempererat hubungan bilateral, membangun toleransi global, dan mengurangi sentimen geopolitik.
- Ekonomi (Penyokong Pertumbuhan & Lapangan Kerja): Sektor ini menjadi motor utama penghasil devisa, pemerataan arus modal, dan pembukaan lapangan kerja (menyumbang 1 dari setiap 10 lapangan kerja di dunia).
- Sosial (Pemberdayaan Masyarakat): Mendorong inklusivitas dengan melibatkan masyarakat lokal, perempuan, dan pemuda melalui community-based tourism.
- Budaya (Preservasi Warisan): Pariwisata memberikan daya dorong ekonomi bagi konservasi situs sejarah, revitalisasi seni tradisional, dan perlindungan warisan budaya takbenda agar tidak punah ditelan zaman.
Kreativitas, Inovasi, dan Prospek Masa Depan
Prospek pariwisata dunia saat ini telah bergeser dari sekadar mass tourism menuju pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) dan berbasis pengalaman (experience-based tourism):
- Pariwisata Hijau & Berkelanjutan: Inovasi difokuskan pada penerapan ecotourism, pengurangan jejak karbon penerbangan, dan pengelolaan destinasi ramah lingkungan (regenerative travel).
- Integrasi Teknologi & Digitalisasi: Penerapan kecerdasan buatan (AI) untuk personalisasi perjalanan, teknologi Virtual Reality (VR) untuk promosi, serta sistem smart destination untuk mengurai penumpukan wisatawan (overtourism).
- Sinergi Ekonomi Kreatif: Kolaborasi antara pariwisata dengan sektor kuliner lokal, industri kriya, musik, hingga festival budaya menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi bagi komunitas lokal.
Sektor pariwisata terbukti menjadi katalis utama pembangunan bagi beberapa negara, tidak hanya sebagai penyumbang PDB, tetapi juga merestrukturisasi tatanan politik, sosial, dan budaya setempat.
Beberapa negara berikut memiliki pariwisata sebagai pilar utama kemajuan nasionalnya:
1. Maladewa (Maldives)
Sektor pariwisata menyumbang lebih dari 28% terhadap PDB Maladewa dan mencakup lebih dari 60% penerimaan devisa negara.
- 1972–1980-an (Fase Awal & Ekonomi): Perkembangan dimulai dari pulau tidak berpenghuni dengan konsep "Satu Pulau, Satu Resor". Transformasi ekonomi terjadi secara masif, mengubah Maladewa dari negara nelayan miskin menjadi salah satu negara berpendapatan menengah ke atas di Asia Selatan.
- 1990-an (Sosial & Budaya): Model isolasi resor memisahkan area wisatawan dan pulau penduduk lokal (local islands). Hal ini secara sosial menjaga nilai-nilai budaya dan norma Islam lokal dari pengaruh budaya luar, sembari tetap memanen devisa dari wisatawan asing.
- 2000-an–Sekarang (Politik & Lingkungan): Pariwisata memberi Maladewa panggung politik internasional. Negara ini memelopori diplomasi perubahan iklim global (climate diplomacy), membiayai infrastruktur perlindungan pantai, serta memodelkan inovasi wisata ramah lingkungan (eco-resorts) untuk bertahan dari ancaman kenaikan permukaan air laut.
2. Thailand
Pariwisata menyumbang sekitar 12% hingga 20% terhadap PDB Thailand (sebelum dan sesudah masa pemulihan pandemi) serta menyerap jutaan tenaga kerja.
- 1960–1970-an (Fase Awal & Diplomasi Politik): Industri pariwisata tumbuh pesat saat menjadi tempat istirahat dan rekreasi (R&R) bagi tentara AS selama Perang Vietnam. Pemerintah memanfaatkan momen ini secara politik untuk memperkuat ikatan diplomasi dengan Barat dan membangun basis infrastruktur pariwisata nasional.
- 1980–1990-an (Ekonomi & Komersialisasi Budaya): Kampanye pemsaran skala besar seperti "Visit Thailand Year 1987" mendorong diversifikasi ekonomi dari agraris ke jasa. Seni pertunjukan, seni beladiri (Muay Thai), dan kuliner (Thai Food) dipromosikan ke tingkat dunia.
- 2000-an–Sekarang (Sosial, Inovasi & Ekonomi Kreatif): Pariwisata memperluas lapangan kerja hingga ke pedesaan melalui program O TOP (One Tambon One Product). Inovasi diteruskan dengan pengembangan wisata medis (medical tourism) dan pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism) yang memperkuat solidaritas sosial dan pelestarian budaya lokal.
3. Islandia (Iceland)
Pariwisata berhasil menyelamatkan Islandia dari krisis keuangan parah dan kini menyumbang sekitar 8–10% terhadap PDB nasionalnya.
- 2008–2010 (Respon Krisis Ekonomi): Pasca krisis perbankan 2008 dan letusan gunung berbalas es Eyjafjallajökull tahun 2010, Islandia memanfaatkan perhatian media global untuk mempromosikan keindahan alamnya melalui kampanye "Inspired by Iceland". Sektor ini menjadi penyelamat utama perekonomian yang bangkrut.
- 2011–2018 (Sosial & Infrastruktur): Lonjakan wisatawan mendatangkan lapangan kerja baru secara masif dan menekan angka pengangguran. Pendapatan pariwisata digunakan pemerintah untuk membangun infrastruktur publik, layanan kesehatan, dan fasilitas umum berkualitas tinggi yang dinikmati masyarakat lokal.
- 2019–Sekarang (Politik Lingkungan & Budaya): Pemerintah Islandia menggunakan pariwisata sebagai instrumen politik hijau. Regulasi ketat diterapkan untuk menjaga kelestarian alam geotermal, sementara budaya kesastraan, sejarah Viking, dan tradisi lokal tetap menjadi identitas utama negara yang disajikan secara edukatif kepada wisatawan.
4. Spanyol
Sebagai salah satu destinasi wisata paling banyak dikunjungi di dunia, pariwisata menyumbang sekitar 12% terhadap PDB Spanyol.
- 1960–1970-an (Transisi Politik & Ekonomi): Di bawah rezim Franco, promosi pariwisata ("Spain is Different") dijadikan pintu masuk untuk membuka keterisolasian ekonomi Spanyol dari Eropa. Keuntungan ekonomi dari pariwisata memodernisasi infrastruktur negara.
- 1980–1990-an (Integrasi Sosial-Budaya Eropa): Pariwisata mempercepat proses integrasi Spanyol ke dalam Uni Eropa. Akulturasi budaya terjadi secara meluas, mengubah Spanyol menjadi negara yang sangat terbuka, toleran, dan multikultural.
- 2000-an–Sekarang (Inovasi & Tata Kelola Perkotaan): Pariwisata menjadi pendorong revitalisasi kota-kota bersejarah (seperti Barcelona, Madrid, dan Sevilla). Spanyol kini fokus pada penanganan dampak overtourism, penggunaan teknologi smart tourism, dan perlindungan warisan budaya dunia (UNESCO).
Berikut adalah beberapa negara lain yang memiliki prospek pariwisata sangat dominan beserta destinasi unggulan dan dampak poleksosbud-nya:
1. Selandia Baru (New Zealand)
Pariwisata merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar dan pilar utama ekonomi Selandia Baru.
- Destinasi Unggulan: Queenstown, Milford Sound, Rotorua, Hobbiton Movie Set, dan Taman Nasional Aoraki/Mount Cook.
- Kronologi & Manfaat Poleksosbud:
- 1999–2000-an (Ekonomi & Branding): Peluncuran kampanye "100% Pure New Zealand" serta kepopuleran film The Lord of the Rings memicu lonjakan cinematic tourism. Pariwisata bergeser dari sekadar pendukung pertanian menjadi industri devisa utama.
- 2010-an (Budaya & Sosial): Integrasi budaya suku asli Māori ke dalam sektor pariwisata (seperti di Rotorua). Hal ini meningkatkan kebanggaan identitas lokal, memberdayakan komunitas adat, dan melestarikan bahasa serta tradisi Māori secara global.
- 2020-an–Sekarang (Politik Lingkungan): Pariwisata memandu kebijakan politik hijau nasional melalui konsep Regenerative Tourism (pariwisata pemulihan lingkungan), di mana wisatawan diwajibkan ikut menjaga ekosistem alam (Tiaki Promise).
2. Mesir
Sektor pariwisata menyumbang sekitar 10–12% dari PDB Mesir dan menyediakan lapangan kerja bagi jutaan penduduknya.
- Destinasi Unggulan: Piramida Giza & Sphinx, Kompleks Candi Luxor & Karnak, Lembah Para Raja (Valley of the Kings), Museum Agung Mesir (GEM), serta Sharm El-Sheikh.
- Kronologi & Manfaat Poleksosbud:
- Abad ke-20 (Ekonomi & Preservasi Budaya): Ekskavasi peninggalan Firaun menjadikan arkeologi sebagai komoditas pariwisata global. Pendapatan wisata membiayai konservasi situs-situs purbakala dan riset sejarah dunia.
- 2011–2018 (Stabilisasi Politik & Sosial): Pasca Arab Spring dan gejolak politik, pemulihan sektor pariwisata digunakan pemerintah sebagai indikator utama stabilitas keamanan dan ekonomi negara untuk menarik investasi asing.
- 2019–Sekarang (Inovasi & Diplomasi): Pemerintah memanfaatkan peristiwa pariwisata besar (seperti parade mumi Pharaohs' Golden Parade) sebagai instrumen diplomasi budaya untuk memperkuat posisi geopolitik Mesir di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
3. Jepang
Pariwisata Jepang mengalami pertumbuhan terpesat dalam dekade terakhir dan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional.
- Destinasi Unggulan: Kyoto (Kuil Kinkaku-ji & Fushimi Inari), Tokyo (Shibuya, Asakusa), Gunung Fuji, Osaka (Dotonbori), dan Hokkaido.
- Kronologi & Manfaat Poleksosbud:
- 2003–2012 (Kebijakan Politik & Ekonomi): Pemerintah meluncurkan strategi "Visit Japan Campaign" untuk mengatasi penurunan ekonomi (lost decades) dan perubahan demografi. Sektor jasa dijadikan tumpuan baru pengganti manufaktur.
- 2013–2019 (Sosial & Budaya): Pelonggaran visa dan pengembangan fasilitas Inbound Tourism mengubah Jepang dari negara terisolasi secara bahasa menjadi sangat ramah wisatawan asing. Budaya pop (anime/manga), kuliner (Washoku), dan konsep keramahan Omotenashi menjadi kekuatan soft power dunia.
- 2020-an–Sekarang (Inovasi Perkotaan & Daerah): Pariwisata dialokasikan untuk mengatasi masalah penuaan populasi di pedesaan melalui program revitalisasi desa wisata (satoyama) dan penerapan smart tourism untuk mendistribusikan wisatawan keluar dari area metropolitan.
4. Uni Emirat Arab (Dubai & Abu Dhabi)
UEA berhasil mentransformasi ekonominya dari ketergantungan minyak (oil-dependent) menjadi pusat pariwisata global.
- Destinasi Unggulan: Burj Khalifa, Palm Jumeirah, Museum of the Future, Masjid Agung Sheikh Zayed, dan Louvre Abu Dhabi.
- Kronologi & Manfaat Poleksosbud:
- 1990–2000-an (Diversifikasi Ekonomi): Menyadari cadangan minyak yang terbatas, pemerintah Dubai secara progresif membangun infrastruktur mega-proyek dan maskapai penerbangan (Emirates) untuk menjadikan wilayahnya transit utama dunia.
- 2010-an (Politik & Citra Global): Pariwisata menjadi alat untuk memosisikan UEA sebagai negara paling aman, modern, dan toleran di Timur Tengah, menarik ekspatriat dan investor global.
- 2020-an–Sekarang (Inovasi & Akulturasi Sosial): Pembangunan destinasi berbasis teknologi masa depan, museum seni internasional, serta penyelenggaraan acara dunia (seperti Expo) menciptakan masyarakat multikultural yang sangat dinamis.
Indonesia memiliki posisi strategis dalam peta pariwisata global sebagai salah satu negara kepulauan (archipelago) terbesar yang menawarkan kombinasi kekayaan alam mega-biodiversitas dan keragaman budaya.


Perspektif Poleksosbud Pariwisata Indonesia
- Politik (Diplomasi & Pemerataan Infrastruktur): Pariwisata dimanfaatkan pemerintah sebagai instrumen soft diplomacy serta pendorong pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa melalui program Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), seperti Labuan Bajo, Likupang, Mandalika, Danau Toba, dan Borobudur.
- Ekonomi (Penyokong Devisa & UMKM): Pariwisata berkontribusi signifikan terhadap PDB nasional dan penerimaan devisa, serta menjadi penopang utama ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui sektor ekonomi kreatif.
- Sosial (Inklusivitas & Pemberdayaan Masyarakat): Pengembangan konsep Desa Wisata melatih kemandirian ekonomi masyarakat lokal, membuka lapangan kerja di kawasan pedesaan, serta mengurangi arus migrasi ke kota besar.
- Budaya (Preservasi Warisan Multikultural): Pariwisata menjadi wadah melestarikan tradisi adat, seni pertunjukan, kriya, dan arsitektur lokal dari ratusan suku bangsa di Indonesia agar tetap relevan di era modern.
Kreativitas, Inovasi, dan Prospek Masa Depan
- Integrasi Ekonomi Kreatif: Penggabungan pariwisata dengan 17 subsektor ekonomi kreatif, seperti kriya, kuliner khas daerah, dan musik festival nasional.
- Pengembangan Digital Nomad & Eco-Tourism: Penyediaan fasilitas dan regulasi visa untuk pekerja jarak jauh (digital nomad) di Bali dan sekitarnya, serta fokus pada wisata ramah lingkungan yang mengutamakan konservasi alam.
- Penerapan Smart Tourism: Digitalisasi sistem reservasi, promosi berbasis konten kreatif di media sosial, dan tata kelola destinasi untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Saudi Arabia ada Mekah dan Madinah, terkait ibadah haji dan umrah yang notabene para peziarahnya banyak sekali, tiada henti. Jealaskan dalam perspektif geopoleksosbud.
Ibadah Haji dan Umrah di Arab Saudi merupakan salah satu bentuk pariwisata religius (religious tourism) paling unik dan berkelanjutan di dunia. Keberadaan dua kota suci, Makkah dengan lokasi Masjidil Haram
dan Madinah dengan lokasi Masjid Nabawi
, menciptakan dinamika yang sangat kuat dalam perspektif Geopolitik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Geopoleksosbud).
1. Geopolitik & Diplomasi Global
Masjidil Haram
4.9 stars rating4.9
🕌 Masjid
Open
- Legitimasi Kepemimpinan Dunia Islam: Keberadaan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah memberikan legitimasi politik mutlak bagi Kerajaan Arab Saudi. Gelar resmi Pemimpin Arab Saudi, "Khadim al-Haramain ash-Sharifain" (Pelayan Dua Kota Suci), menempatkan posisi politik negara ini di puncak kepemimpinan dunia Islam global.
- Pengaruh Diplomatik & Alokasi Kuota: Pengelolaan kuota haji tahunan menjadi instrumen soft power dan diplomasi bilateral yang sangat strategis. Hubungan diplomatik Kerajaan dengan negara-negara berpopulasi Muslim besar (seperti Indonesia, Pakistan, dan Mesir) dijaga secara ketat melalui regulasi kuota, pelayanan jamaah, dan kerja sama fasilitas ibadah.
- Pengamanan Strategis Regional: Aliran jutaan peziarah sepanjang tahun menuntut Arab Saudi membangun sistem keamanan, intelijen, dan manajemen krisis kelas dunia guna memastikan stabilitas keamanan di kawasan Middle East yang geopolitiknya dinamis.
2. Ekonomi & Transformasi Visi 2030
Masjid Nabawi
4.9 stars rating4.9
🕌 Masjid
Open
- Penyokong Utama Ekonomi Non-Minyak: Haji dan Umrah merupakan pilar ekonomi paling stabil dan tidak tergantung pada fluktuasi harga minyak bumi (oil-independent revenue). Sektor ini menyumbang belasan miliar dolar AS per tahun dan menyerap jutaan tenaga kerja di bidang transportasi, perhotelan, katering, dan penerbangan.
- Diverisifikasi Ekonomi dalam Saudi Vision 2030: Di bawah cetak biru Saudi Vision 2030, pariwisata religi ditargetkan mampu menampung hingga 30 juta jamaah umrah per tahun. Pengembangan mega-proyek infrastruktur seperti kereta cepat Haramain High Speed Railway, modernisasi bandara di Jeddah dan Madinah, hingga proyek kawasan Rua Al Madinah dan Masar Destination menjadi motor penggerak ekonomi baru.
- Dampak Multiplier Efek Global: Perputaran uang dari ibadah haji dan umrah berdampak lintas negara. Industri travel, perbankan syariah, maskapai penerbangan internasional, hingga UMKM souvenir dan perlengkapan ibadah di negara-negara asal jamaah (termasuk Indonesia) ikut merasakan pertumbuhan ekonomi secara langsung.
3. Sosial & Manajemen Massa (Crowd Management)
- Pusat Akulturasi dan Inklusivitas Sosial: Makkah dan Madinah menjadi titik temu keberagaman manusia terbesar di bumi. Berbagai latar belakang ras, etnis, kelas sosial, dan bahasa berkumpul dalam satu pakaian yang sama (ihram), menciptakan tatanan sosial yang inklusif dan tanpa sekat.
- Inovasi Manajemen Massa Skala Besar: Menangani dinamika pergerakan jutaan orang di area terbatas (seperti kawasan Tawaf, Sa'i, Jamarat, hingga pelataran Masjid Nabawi mendorong lahirnya inovasi sains dan teknologi manajemen massa (crowd control), tata kelola logistik makanan, serta pemeliharaan sanitasi tingkat tinggi.
- Pemberdayaan Gender dan Tenaga Kerja: Regulasi baru Kerajaan kini memberi ruang lebih luas bagi perempuan Saudi untuk bekerja di sektor pelayanan publik di area Haramain, baik sebagai petugas keamanan, pemandu bahasa, maupun pengelola fasilitas ibadah.
4. Budaya, Kreativitas, & Digitalisasi
- Preservasi dan Revitalisasi Sejarah Islam: Arab Saudi terus melakukan modernisasi tanpa menghilangkan akar identitas sejarah. Proyek Museum Sirah Nabawiyah di Madinah dan pengembangan situs-situs bersejarah lainnya menjadi sarana edukasi budaya Islam yang interaktif bagi peziarah dunia.
- Digitalisasi Layanan Ibadah (Smart Pilgrimage): Penerapan aplikasi digital seperti Nusuk, pengeluaran visa umrah secara elektronik (e-Visa), penggunaan kartu pintar (Smart Hajj Card), serta penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk penerjemahan khotbah ke berbagai bahasa di Masjidil Haram adalah bukti inovasi teknologi mutakhir dalam menjaga kelancaran tradisi ibadah purba.
- Sinergi Ekonomi Kreatif Khas: Perkembangan industri oleh-oleh khas (seperti Kurma, parfum ud/gaharu, kriya logam, hingga industri pakaian muslim) menggerakkan ekosistem kreatif lokal yang menyatu dengan daya beli wisatawan mancanegara.
Bagaimana prospek Saudi Arabia dalam perspektif wisata termasuk peziarah ibadah haji umrah, jelaskan.
Prospek pariwisata Arab Saudi saat ini mengalami transformasi fundamental. Melalui cetak biru Saudi Vision 2030, negara ini merestrukturisasi potensi wisatanya dari yang semula hampir sepenuhnya bergantung pada wisata religi (Haji dan Umrah) menjadi pusat destinasi wisata global yang serbaguna, inklusif, dan berbasis teknologi mutakhir.
1. Prospek Wisata Religi (Haji dan Umrah)
Sektor pariwisata religi tetap menjadi pilar utama dengan prospek pertumbuhan yang diarahkan pada peningkatan kapasitas, efisiensi, dan kualitas pengalaman peziarah.
- Peningkatan Target Jamaah: Arab Saudi menargetkan dapat melayani hingga 30 juta jamaah umrah dan lebih dari 5 juta jamaah haji per tahun.
- Pengembangan Moda Transportasi & Ekosistem: Keberadaan Kereta Cepat Haramain (Haramain High Speed Railway) yang menghubungkan Jeddah, Mekkah, dan Madinah memangkas waktu tempuh secara signifikan. Selain itu, ekspansi Bandara Internasional King Abdulaziz (Jeddah) dan Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz (Madinah terus ditingkatkan untuk menampung lonjakan penerbangan internasional.
- Integrasi Umrah + Wisata Rekreasi (Bleisure Tourism): Regulasi visa baru seperti e-Visa dan Visa on Arrival memungkinkan peziarah yang datang dengan visa umrah untuk menjelajahi kota-kota lain dan berbagai destinasi wisata nonsuci di seluruh penjuru Arab Saudi.
2. Ekspansi Wisata Non-Religi & Proyek Giga (Giga-Projects)
Untuk memotong ketergantungan pada pendapatan minyak serta mengimbangi keberadaan Mekkah dan Madinah, Arab Saudi membangun ekosistem pariwisata kelas dunia yang mencakup wisata alam, sejarah, dan hiburan modern:
Al-`Ula
- Wisata Sejarah & Kebudayaan di Al-
Ula](http://googleusercontent.com/map_location_reference/5):** Pengembangan situs warisan dunia UNESCO Hegra (Madain Saleh) di [Al-Ula menjadi pusat wisata sejarah dan kemewahan (luxury eco-tourism) berkelas dunia.
Diriyah
- Restorasi Warisan Budaya di Diriyah: Kawasan situs bersejarah At-Turaif di Diriyah, Riyadh, dikembangkan menjadi pusat gaya hidup, kuliner internasional, serta museum terbuka yang mengenalkan asal-usul berdiri Kerajaan Arab Saudi.
- The Red Sea Project & Amaala: Pembangunan kawasan resor pantai dan pulau-pulau mewah ramah lingkungan (regenerative tourism) di sepanjang Laut Merah yang memanfaatkan energi terbarukan 100%.
- NEOM & Sindalah: Mega-kota masa depan NEOM dengan destinasi pulau mewah Sindalah dan kawasan wisata musim dingin/ski Trojena di Pegunungan Tabuk.
- Qiddiya Entertainment City: Pusat hiburan, olahraga, dan seni skala besar di dekat Riyadh yang menghadirkan taman bermain internasional (seperti Six Flags Qiddiya) serta fasilitas olahraga balap dan e-sports.
3. Inovasi Digital & Pelayanan Terpadu
- Aplikasi Platform Nusuk: Digitalisasi penuh yang mempermudah wisatawan dan peziarah mengurus visa, jadwal ibadah/ziarah (seperti izin Raudhah di Madinah, pemesanan hotel, hingga transportasi dalam satu pintu.
- Kemudahan Layanan Transit: Maskapai penerbangan nasional seperti Saudia dan Riyadh Air menyediakan program visa transit gratis 96 jam yang mencakup fasilitas satu malam menginap gratis untuk menggaet penumpang transit menjadi wisatawan jangka pendek.
4. Prospek Dampak Geopoleksosbud
- Geopolitik: Mengukuhkan posisi Arab Saudi sebagai pusat diplomasi, budaya, dan pariwisata utama di kawasan Timur Tengah.
- Ekonomi: Mendorong porsi kontribusi pariwisata terhadap PDB nasional dari sekitar 3% menjadi 10% pada tahun 2030 serta menciptakan lebih dari 1 juta lapangan kerja baru.
- Sosial & Budaya: Membuka keterbukaan masyarakat Saudi terhadap keberagaman budaya internasional, memberi ruang besar bagi tenaga kerja pemuda dan perempuan, serta mempromosikan citra negara yang modern tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisi.
