
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hari Pustakawan Indonesia bukan sekadar perayaan tanggal di kalender, melainkan sebuah momentum untuk mengapresiasi para "penjaga gerbang ilmu pengetahuan." Di tengah arus informasi yang begitu deras, peran pustakawan dan perpustakaan bertransformasi menjadi jauh lebih vital, dinamis, dan multiguna.
Hari Pustakawan Indonesia diperingati setiap tanggal 7 Juli. Pemilihan tanggal ini merujuk pada sebuah peristiwa bersejarah dalam dunia literasi tanah air
Lahirnya IPI Pada tanggal 7 Juli 1973, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) resmi didirikan dalam Kongres Pustakawan Indonesia yang diadakan di Ciawi, Bogor.
Penggabungan berbagai asosiasi perpustakaan yang ada sebelumnya ini diinisiasi untuk menyatukan visi, meningkatkan profesionalisme, dan memperkuat peran pustakawan di Indonesia.
Baru pada tahun 1990, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) saat itu menetapkan tanggal 7 Juli sebagai Hari Pustakawan Nasional untuk menghormati dedikasi para pengelola garis depan literasi.
Masyarakat Gemar Membaca
Masyarakat yang gemar membaca (reading society) tidak tercipta secara instan. Di sinilah pustakawan berperan sebagai katalisator.
Dahulu, pustakawan sering dicitrakan secara kaku sebagai "penjaga buku" yang hobi menegur pengunjung yang berisik. Namun, dalam perspektif modern, pustakawan adalah kurator informasi, navigator digital, dan mitra belajar. Mereka menyaring informasi valid di tengah tsunami hoax dan memandu masyarakat untuk menemukan bacaan yang tepat sesuai minat mereka.
Perpustakaan Multiguna bagi Pencari Ilmu
Perpustakaan modern kini telah bermutasi dari sekadar "gudang buku berdebu" menjadi ruang ketiga (the third place) setelah rumah dan tempat kerja/sekolah. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat multiguna:
- Pusat Aksesibilitas Data: Menyediakan jurnal ilmiah, buku fisik, hingga e-book gratis yang mungkin sulit atau mahal jika diakses secara mandiri.
- Ruang Kolaborasi (Co-working Space): Tempat bertemunya para mahasiswa, peneliti, dan komunitas untuk berdiskusi, bertukar ide, dan berinovasi.
- Inklusi Sosial: Menjadi tempat ramah bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak, lansia, hingga penyandang disabilitas untuk mendapatkan pelatihan keterampilan atau literasi digital.
Mewujudkan Perpustakaan yang Nyaman dan Menumbuhkan Semangat
Untuk bisa mencerdaskan kehidupan bangsa, perpustakaan harus mampu menarik hati masyarakat terlebih dahulu. Estetika dan kenyamanan adalah kunci utama.
1. Fasilitas dan Atmosfer yang Mendukung
Perpustakaan yang ideal adalah perpustakaan yang "memeluk" pengunjungnya dengan kenyamanan.
- Desain Interior Modern: Pencahayaan alami yang cukup, sirkulasi udara yang baik, serta pemilihan warna yang menenangkan atau memicu kreativitas.
- Zonasi yang Jelas: Memisahkan antara quiet zone (area sunyi untuk membaca serius), collaborative zone (area diskusi), dan kids zone (area ramah anak yang interaktif).
- Fasilitas Pendukung: Menyediakan koneksi internet cepat, stopkontak yang memadai, kursi ergonomis, hingga sudut kafe kecil agar pengunjung betah berlama-lama.
2. Menumbuhkan Semangat Belajar dan Mencerdaskan
Kenyamanan fisik harus dibarengi dengan stimulasi intelektual. Perpustakaan mencerdaskan bangsa melalui:
- Program Literasi Kreatif: Mengadakan bedah buku, kelas menulis, storytelling untuk anak-anak, hingga pelatihan robotik atau coding dasar.
- Layanan Ramah dan Humanis: Pustakawan yang menyapa dengan senyum, siap membantu dengan kompeten, dan membuat pengunjung merasa dihargai.
Perpustakaan Menjamin Kenyamanan Belajar
Perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia saat ini telah mengalami pergeseran paradigma yang drastis. Dari yang dulunya sekadar tempat menyimpan buku (book-oriented), kini berubah menjadi pusat aktivitas pemustaka (user-oriented).
Dalam perspektif menjamin kenyamanan, menumbuhkan semangat belajar, dan mencerdaskan mahasiswa, berikut adalah langkah nyata yang dilakukan oleh pustakawan dan perpustakaan kampus di Indonesia secara lugas dan jelas:
1. Menjamin Kenyamanan melalui Transformasi Fisik dan Digital
Kenyamanan adalah "pintu masuk" agar mahasiswa mau menginjakkan kaki di perpustakaan.
- Konsep The Third Place (Ruang Ketiga): Perpustakaan kampus di Indonesia kini didesain menyerupai kafe atau co-working space. Tersedia sofa empuk, bean bag, pencahayaan yang estetik, dan pendingin ruangan yang prima untuk menghilangkan kesan kaku dan membosankan.
- Zonasi Berdasarkan Kebutuhan: Pustakawan kini membagi area perpustakaan dengan tegas:
- Zona Sunyi (Silent Zone): Untuk mahasiswa yang butuh konsentrasi penuh demi skripsi atau ujian.
- Zona Kolaborasi (Collaborative Zone): Tempat mahasiswa bisa berdiskusi kelompok tanpa takut ditegur karena bersuara.
- Zona Relaksasi: Area untuk rehat sejenak di tengah kepenatan kuliah.
- Kenyamanan Digital (Akses 24/7): Melalui aplikasi e-library kampus dan repositori institusi, pustakawan menjamin kenyamanan akses referensi dari mana saja dan kapan saja, tanpa mahasiswa harus datang secara fisik.
2. Menumbuhkan Semangat Belajar melalui Ekosistem yang Hidup
Perpustakaan tidak lagi pasif menunggu pengunjung, tetapi aktif memantik motivasi belajar mahasiswa.
- Penyediaan Fasilitas Teknologi Tinggi: Menyediakan komputer berspesifikasi tinggi, akses internet super cepat, ruang multimedia, hingga perangkat Virtual Reality (VR) untuk mendukung gaya belajar generasi z dan alfa.
- Komunitas dan Event Kreatif: Pustakawan rutin menggelar bedah buku, seminar kepenulisan ilmiah, lokakarya infografis, hingga pameran karya seni mahasiswa. Hal ini membuat perpustakaan terasa seperti "jantung" kegiatan akademik yang dinamis.
- Apresiasi Pemustaka: Banyak perpustakaan kampus memberikan penghargaan User of the Month atau Visitor Awards bagi mahasiswa yang paling aktif meminjam buku atau berkunjung, yang secara psikologis memicu kompetisi positif antar-mahasiswa.
3. Mencerdaskan melalui Literasi Informasi dan Kemitraan Riset
Inilah fungsi terdalam dari pustakawan perguruan tinggi: bukan sekadar penjaga loket, melainkan mitra akademik (academic partner).
- Pelatihan Information Literacy: Pustakawan kampus gencar mengadakan pelatihan cara menembus jurnal internasional (seperti Scopus atau ScienceDirect), teknik menghindari plagiarisme, serta penggunaan aplikasi manajemen referensi (seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote). Ini adalah kecerdasan esensial bagi seorang akademisi.
- Pustakawan Referensi / Subject Specialist: Banyak kampus besar kini menempatkan pustakawan khusus yang menguasai bidang ilmu tertentu (misal: pustakawan khusus hukum, kedokteran, atau teknik). Mereka bertindak sebagai konsultan riset pribadi yang membantu mahasiswa mengeksplorasi data terdalam untuk penelitian mereka.
- Layanan Bebas Plagiarisme: Pustakawan memfasilitasi pengecekan karya ilmiah menggunakan perangkat lunak seperti Turnitin untuk memastikan mahasiswa lulus dengan integritas akademik yang tinggi.
Di perguruan tinggi Indonesia saat ini, perpustakaan adalah mesin penggerak intelektual, dan pustakawan adalah navigatormu. Mereka tidak lagi menyuruhmu untuk "Ssst! Jangan berisik!", melainkan bertanya, "Apa yang bisa saya bantu untuk menyukseskan riset dan kuliahmu hari ini?"
Keberadaan Perpustakaan di Tingkat Sekolah
Keberadaan perpustakaan di tingkat sekolah (TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK) memiliki dinamika, tantangan, dan pendekatan yang sangat berbeda dibanding perpustakaan perguruan tinggi. Di level sekolah, perpustakaan adalah fondasi awal pembentukan karakter dan budaya literasi anak.
Berikut adalah potret keberadaan, fungsi, dan tantangan perpustakaan di berbagai jenjang sekolah di Indonesia saat ini secara lugas dan jelas:
1. Tingkat PAUD / Taman Kanak-Kanak (TK)
Di jenjang ini, perpustakaan belum berdiri sebagai gedung mandiri, melainkan berupa "Pojok Baca" (Reading Corner) di dalam kelas.
- Fungsi Utama: Mengenalkan buku sebagai benda yang menyenangkan, bukan beban belajar.
- Karakteristik Ruang: Didesain sangat visual, penuh warna, menggunakan karpet, bean bag, dan rak buku yang rendah agar mudah dijangkau anak.
- Koleksi: Didominasi oleh picture books (buku bergambar), pop-up books, buku kain, dan dongeng.
- Peran Guru/Pustakawan: Guru bertindak sebagai pendongeng (storyteller). Aktivitas utama bukanlah membaca mandiri, melainkan mendengarkan guru membacakan cerita (read aloud) untuk merangsang imajinasi dan kemampuan bahasa anak.
2. Tingkat SD / Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Perpustakaan di tingkat SD/MI mulai berbentuk ruangan khusus, namun fokus utamanya masih pada transisi dari bermain ke membaca lancar.
- Fungsi Utama: Menumbuhkan kebiasaan membaca (habit forming) dan mendukung kurikulum dasar.
- Karakteristik Ruang: Tetap mempertahankan unsur ramah anak, sering kali dilengkapi dengan area lesehan untuk kenyamanan.
- Koleksi: Buku cerita anak, komik edukasi, ensiklopedia bergambar, dan buku pelajaran dasar.
- Tantangan Nyata: Banyak SD/MI (terutama di daerah) yang belum memiliki pustakawan berkualifikasi khusus. Tugas menjaga perpustakaan sering kali dirangkap oleh guru kelas atau staf tata usaha, sehingga pengelolaan administrasi buku kurang optimal.
3. Tingkat SMP / Madrasah Tsanawiyah (MTs)
Di jenjang remaja awal ini, perpustakaan mulai berfungsi sebagai pusat pencarian informasi dan pengerjaan tugas mandiri.
- Fungsi Utama: Mendukung tugas kelompok, memperluas wawasan umum, dan menyediakan bacaan fiksi yang sesuai dengan psikologi remaja.
- Karakteristik Ruang: Mulai beralih ke bentuk formal dengan meja-meja diskusi kelompok, serta mulai diperkenalkannya komputer untuk akses katalog digital (SLiMS/InlisLite).
- Koleksi: Novel remaja (fiksi ilmiah, petualangan), buku pengetahuan populer, sejarah, sains dasar, dan majalah.
- Peran Pustakawan: Mengarahkan siswa cara mencari buku berdasarkan klasifikasi nomor (sistem DDC) dan mulai mengenalkan etika dasar mengutip informasi agar tidak sekadar copy-paste dari internet.
4. Tingkat SMA / MA / SMK
Perpustakaan di tingkat ini merupakan yang paling kompleks dan paling mendekati model perpustakaan perguruan tinggi.
- Fungsi Utama: Pusat riset remaja, pendukung utama kurikulum (terutama Kurikulum Merdeka yang berbasis proyek), dan persiapan menuju pendidikan tinggi atau dunia kerja.
- Karakteristik Spesifik berdasarkan Jalur Sekolah:
- SMA/MA: Fokus pada penyediaan referensi ilmiah, buku persiapan UTBK/SBMPTN, jurnal populer, dan ruang belajar mandiri yang tenang untuk persiapan kuliah.
- SMK: Berorientasi pada kebutuhan praktis. Selain buku teori, perpustakaan SMK banyak mengoleksi manual book, majalah otomotif/teknologi, panduan kewirausahaan, serta regulasi industri terkait jurusan yang ada.
- Digitalisasi: Banyak SMA/SMK negeri maupun swasta besar yang sudah menerapkan E-Library, di mana siswa dapat meminjam buku digital lewat gawai mereka sendiri.
Tantangan Umum Perpustakaan Sekolah di Indonesia
Meskipun secara regulasi (UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan) setiap sekolah wajib mengalokasikan minimal 5% dari anggaran operasional sekolah untuk perpustakaan, di lapangan masih terdapat kesenjangan yang lebar:
- Kesenjangan Fasilitas: Perpustakaan sekolah di kota besar/sekolah swasta elit sudah berbasis digital dan senyaman kafe. Sebaliknya, di daerah pelosok, perpustakaan sering kali hanya berupa ruangan pengap yang merangkap sebagai gudang penyimpanan sisa meja-kursi rusak atau ruang UKS.
- Keterbatasan SDM: Profesi pustakawan sekolah masih sering dianggap remeh. Akibatnya, pengelolaan buku masih konvensional dan jarang ada program aktivasi literasi yang kreatif.
- Kalah Saing dengan Gawai: Mengubah minat anak dari menonton video instan di media sosial menjadi membaca buku fisik di perpustakaan menjadi tantangan terbesar pustakawan sekolah saat ini.
Untuk itu, gerakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan pemerintah terus mendorong agar perpustakaan sekolah direvitalisasi, bukan lagi sekadar tempat meminjam buku paket gratis di awal semester, melainkan sebagai jantung kreativitas sekolah.
Keberadaan Perpustakaan Daerah
Jalur perpustakaan umum—mulai dari tingkat desa hingga provinsi adalah infrastruktur utama dalam mewujudkan keadilan sosial di bidang informasi. Jika perpustakaan sekolah dan kampus melayani komunitas akademis yang terbatas, maka jaringan perpustakaan umum ini memikul tanggung jawab yang jauh lebih berat: melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia, profesi, maupun latar belakang ekonomi.
Hierarki keberadaan, fungsi, serta dinamika perpustakaan umum di Indonesia dapat dijelaskan secara runtut dari unit terkecil sebagai berikut:
1. Perpystakaan Desa (Perpusdes) / Kelurahan & Pojok Baca Digital (POCADI)
Berada di garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan akar rumput (masyarakat pelari, petani, nelayan, dan ibu rumah tangga).
- Status & Keberadaan: Dikelola oleh pemerintah desa menggunakan alokasi Dana Desa. Di era modern ini, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) gencar mendorong transformasi Perpusdes menjadi POCADI (Pojok Baca Digital) yang dilengkapi komputer dan akses internet gratis.
- Fungsi Utama (Inklusi Sosial): Bukan sekadar tempat membaca, melainkan pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di sini, masyarakat belajar keterampilan praktis.
- Contoh Koleksi: Buku panduan budidaya (Smart Farming), cara pengolahan pupuk organik, buku resep kue untuk UMKM, serta buku cerita anak untuk mencegah buta aksara sejak dini.
2. Perpustakaan Kecamatan
Bertindak sebagai jembatan atau koordinator antara perpustakaan kabupaten dengan perpustakaan desa.
- Status & Keberadaan: Di sebagian wilayah Indonesia, keberadaan perpustakaan kecamatan secara fisik mandiri masih tergolong minim dan sering kali terintegrasi dengan kantor pelayanan kecamatan.
- Fungsi Utama: Menjadi pangkalan atau pos persinggahan bagi armada Perpustakaan Keliling (Perpusling) sebelum mendistribusikan bahan bacaan ke wilayah-wilayah pelosok atau sekolah-sekolah terpencil di sekitarnya.
3. Perpustakaan Kabupaten / Kota (Perpusda)
Merupakan pilar utama penggerak literasi di tingkat daerah regional.
- Status & Keberadaan: Berbentuk lembaga dinas resmi (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten/Kota). Saat ini, banyak Perpusda yang telah direvitalisasi secara megah dengan arsitektur modern dan fasilitas senyaman co-working space untuk menarik minat generasi muda.
- Fungsi & Layanan:
- Pusat deposit karya cetak dan karya rekam lokal daerah tersebut (sejarah daerah, babad, atau profil tokoh lokal).
- Menyediakan ruang diskusi, ruang teater/multimedia, dan area bermain anak yang representatif.
- Mengelola armada bus atau motor Perpustakaan Keliling untuk menjangkau titik-titik buta (blank spot) literasi.
4. Perpustakaan Provinsi
Pusat rujukan tertinggi di tingkat wilayah bagian yang mengoordinasikan seluruh Perpusda Kabupaten/Kota di bawahnya.
- Status & Keberadaan: Bertempat di ibu kota provinsi dengan skala gedung, koleksi, dan anggaran yang jauh lebih besar.
- Fungsi Utama:
- Pembina teknis bagi semua jenis perpustakaan (sekolah, ibadah, instansi, daerah) di seluruh wilayah provinsi tersebut.
- Pusat pelestarian naskah kuno (manuskrip) dan kebudayaan khas provinsi asli yang bernilai sejarah tinggi.
- Penyedia pangkalan data digital makro yang terintegrasi dengan jaringan perpustakaan nasional.
5. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas)
Puncak dari seluruh sistem jaringan perpustakaan di Indonesia, berkedudukan di Jakarta.
- Status & Keberadaan: Menjadi salah satu ikon kebanggaan nasional karena gedung fasilitas layanannya di Medan Merdeka Barat diakui sebagai salah satu gedung perpustakaan tertinggi di dunia.
- Fungsi Strategis:
- Merumuskan kebijakan makro perpustakaan nasional.
- Menyediakan aplikasi iPusnas, platform perpustakaan digital nasional berbasis media sosial yang bisa diakses gratis oleh seluruh warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
- Menjadi perpustakaan deposit nasional, di mana setiap penerbit di Indonesia wajib menyerahkan contoh buku yang dicetak (UU Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam).
Realita & Tantangan Transformasi Literasi Daerah
Meskipun strukturnya sudah tertata rapi dari pusat hingga desa, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan besar:
- Kesenjangan Geografis: Perpusda di Pulau Jawa atau kota-kota besar umumnya sudah sangat maju, estetik, dan berbasis digital. Namun, Perpusda di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) sering kali masih kekurangan koleksi buku mutakhir dan keterbatasan akses internet.
- Paradigma Anggaran: Di beberapa daerah, Dinas Perpustakaan masih dianggap sebagai "dinas kelas dua" atau dinas kering, sehingga alokasi anggaran daerah (APBD) untuk pengembangan koleksi dan fasilitas sering kali dinomorduakan.
- Revitalisasi Lewat Inklusi Sosial: Kabar baiknya, melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang digulirkan pemerintah, perpustakaan daerah hingga desa kini dipaksa berubah. Perpustakaan tidak lagi diukur dari seberapa banyak buku yang tersusun rapi di rak, melainkan dari seberapa banyak masyarakat yang berhasil meningkatkan taraf hidupnya setelah membaca dan mengikuti pelatihan di perpustakaan.
Peran Pustakawan dan Perpustakaan
Menuju Indonesia Emas, pustakawan dan perpustakaan tidak boleh lagi sekadar menjadi "penjaga" atau "gudang" buku. Jika Indonesia ingin keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan melompat menjadi negara maju, fondasi utama yang harus dibangun adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).
Pustakawan dan perpustakaan harus bertransformasi menjadi aktor strategis dan dinamis. Berikut adalah peran nyata yang harus diambil demi tercapainya Indonesia Maju:
1. Pustakawan sebagai "Navigator Informasi" di Era Artificial Intelligence (AI)
Di era digital, tantangan masyarakat bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan banjir informasi (infodemik) dan maraknya disinformasi.
- Pemberantas Buta Aksara Digital: Pustakawan harus mengambil peran sebagai edukator yang mengajarkan masyarakat cara menyaring informasi (fact-checking), mengevaluasi sumber data, dan menggunakan teknologi digital (termasuk AI) secara etis dan produktif.
- Saringan Validitas Ilmiah: Dalam dunia akademik dan riset, pustakawan berperan memastikan para peneliti, inovator, dan pembuat kebijakan mendapatkan akses ke jurnal-jurnal sahih berskala internasional. Tanpa data dan riset yang valid, inovasi nasional untuk Indonesia Emas akan mandeg.
2. Perpustakaan sebagai Jantung Inklusi Sosial dan Kesejahteraan
Perpustakaan masa depan harus mengadopsi prinsip Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) secara penuh. Hubungan antara membaca dan isi dompet masyarakat harus dibuat dekat.
- Pusat Pemberdayaan Ekonomi Akar Rumput: Perpustakaan (terutama di tingkat desa dan kabupaten) harus menjadi tempat pelatihan kerja gratis. Masyarakat membaca buku tentang smart farming, hidroponik, atau manajemen UMKM digital, lalu perpustakaan menyediakan ruang untuk mempraktikkannya.
- Mencerdaskan Tanpa Sekat Kelas Ekonomi: Perpustakaan adalah satu-satunya tempat di mana si kaya dan si miskin mendapatkan akses pengetahuan premium yang sama secara gratis. Ini adalah instrumen paling adil untuk memotong rantai kemiskinan struktural melalui jalur edukasi nonformal.
3. Katalisator Budaya Riset dan Inovasi Lokal
Negara maju dicirikan oleh tingginya angka paten, riset, dan inovasi yang dihargai dunia. Perpustakaan perguruan tinggi dan daerah harus menjadi inkubatornya.
- Penyedia Infrastruktur Pengetahuan: Perpustakaan harus berinvestasi besar-besaran pada pangkalan data (database) digital, ruang multimedia, laboratoriun virtual, dan ruang kolaborasi terbuka.
- Penyelamat Asset Intelektual Bangsa: Pustakawan harus bergerak agresif mendigitalisasi dan mematenkan naskah-naskah kuno, pengetahuan tradisional, serta keanekaragaman hayati lokal (local wisdom) agar tidak diklaim oleh negara lain. Ini adalah bentuk kedaulatan budaya dan intelektual menyongsong Indonesia Emas.
4. Membangun Generasi Critical Thinking (Berpikir Kritis)
Siswa yang hanya pandai menghafal tidak akan bertahan di era otomatisasi masa depan. Indonesia Emas butuh generasi yang mampu memecahkan masalah (problem solver).
- Mengubah Pola Pikir dari Membaca ke Memahami: Melalui Gerakan Literasi Sekolah, pustakawan sekolah harus mengarahkan anak didik bukan sekadar menamatkan buku pelajaran, melainkan mampu menganalisis, mendebat, dan merangkum intisari bacaan secara kritis.
- Menyediakan Ruang Dialektika: Perpustakaan harus menghidupkan kembali tradisi diskusi, bedah buku, klub debat, dan menulis kritis di kalangan remaja agar mereka tidak menjadi generasi yang konsumtif terhadap konten dangkal di media sosial.
Langkah Konkret untuk Pemerintah dan Pemangku Kebijakan
Agar peran di atas optimal, pustakawan dan perpustakaan tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan komitmen politik dan anggaran yang nyata:
- Sinergi Anggaran: Menegakkan aturan alokasi minimal 5% dana operasional sekolah untuk perpustakaan dan memastikan dana desa benar-benar menyentuh sektor literasi masyarakat.
- Menaikkan Marwah Profesi Pustakawan: Sertifikasi, peningkatan kompetensi teknologi (sains data, AI, manajemen digital), serta jaminan kesejahteraan yang layak bagi pustakawan di daerah pelosok.
Kesimpulan: Indonesia Emas tidak akan tercapai hanya dengan membangun infrastruktur jalan tol atau gedung pencakar langit. Indonesia Emas hanya bisa diraih jika kita membangun Infrastruktur Saraf Bangsa, yaitu otak rakyatnya. Dan jembatan terbaik menuju ke sana adalah perpustakaan yang adaptif serta pustakawan yang progresif.