
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Hadratussyeikh KH. M. Hasyim Asy'ari adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern Indonesia. Beliau bukan hanya seorang ulama besar (pakar hukum Islam dan hadis), tetapi juga seorang arsitek sosial, pejuang kemerdekaan, dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, organisasi Islam terbesar di dunia saat ini.
KH. Hasyim Asy'ari lahir pada 14 Februari 1871 (24 Zulkaidah 1287 H) di Gedang, Diwek, Jombang, Jawa Timur. Beliau lahir dari garis keturunan ulama mapan dan pejuang:
- Jalur Ayah: Kyai Asy'ari (pendiri Pesantren Keras di Jombang).
- Jalur Ibu: Nyai Halimah, putri dari Kyai Usman (pendiri Pesantren Gedang). Jika dirunut ke atas, silsilahnya bersambung hingga Raja Wijaya (Majapahit) serta Jaka Tingkir (Sultan Pajang), hingga Sunan Giri (Wali Songo).
Pengembaraan Intelektual
Sejak kecil, beliau dididik dalam tradisi pesantren yang kuat. Beliau berkelana ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura (termasuk berguru pada Syaona Kholil Bangkalan) sebelum akhirnya menuntut ilmu di Mekkah selama 7 tahun.
Di Mekkah, beliau berguru pada ulama-ulama termasyhur, termasuk Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syeikh Mahfudz al-Tarmasi. Sepulangnya dari Mekkah, pada tahun 1899, beliau mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, yang kelak menjadi pusat penggodokan ulama dan tokoh bangsa.
Pemikiran-Pemikiran Utama
Pemikiran KH. Hasyim Asy'ari bercirikan tawazzun (seimbang), wasathiyah (moderat), dan sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat yang sedang dijajah.
- Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja): Dalam bidang teologi/akidah, beliau berpegang pada teologi Asy'ariyah dan Maturidiyah. Dalam fikih bermadzhab (khususnya Syafi'i), dan dalam tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi. Pemikiran ini menekankan moderasi dan menolak ekstremisme.
- Persatuan Islam (Ukhuwah Islamiyah): Beliau sangat menekankan pentingnya persatuan umat dan mengecam keras fanatisme madzhab yang berlebihan (ta'ashub) yang dapat memecah belah kekuatan umat Islam dalam menghadapi kolonialisme.
- Harmoni Agama dan Nasionalisme: Bagi beliau, membela tanah air adalah bagian dari manifestasi iman. Nasionalisme dan agama tidak saling bertentangan, melainkan saling memperkuat.
Hasil Karya Monumental (Kitab)
KH. Hasyim Asy'ari adalah seorang penulis yang produktif. Kitab-kitab beliau ditulis dalam bahasa Arab dengan sastra yang tinggi, menjadi rujukan wajib di ribuan pesantren. Beberapa di antaranya:
- Adabul 'Alim wal Muta'allim: Kitab masterpice tentang etika dalam pendidikan, yang mengatur hubungan antara guru dan murid serta filosofi pencarian ilmu.
- Risalah Ahli Sunnah Wal Jama'ah: Panduan teologis yang merinci prinsip-prinsip Aswaja, serta kritik terhadap bid'ah dan pemikiran yang dianggap menyimpang pada zamannya.
- Muaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam'iyyat Nahdlatil Ulama: Prinsip dasar dan "konstitusi" spiritual berdirinya Nahdlatul Ulama.
- Al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin: Kitab yang menjelaskan tentang cinta kepada Nabi Muhammad SAW beserta sifat-sifatnya.
Pengaruh dalam Berbagai Perspektif
A. Perspektif Agama
Beliau berhasil membentengi Islam tradisional nusantara dari arus puritanisme radikal di satu sisi, dan sekularisme di sisi lain. Melalui NU, beliau melembagakan konsep Islam yang ramah terhadap budaya lokal (Islam Nusantara yang berakar pada tradisi Aswaja), sehingga agama hadir sebagai pengayom, bukan perusak tatanan sosial yang sudah ada.
B. Perspektif Negara dan Bangsa
Pengaruh politik-kebangsaan beliau yang paling legendaris adalah pencetusan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Resolusi ini memfatwakan bahwa membela kemerdekaan Indonesia dari agresor (NICA/Belanda) adalah Fardhu 'Ain (wajib bagi setiap individu) dalam radius 94 km.
Fatwa inilah yang membakar semangat arek-arek Suroboyo hingga melahirkan pertempuran hebat 10 November 1945. Selain itu, beliau terlibat aktif dalam perumusan dasar negara melalui BPUPKI dan PPKI melalui representasi putranya, KH. Wahid Hasyim.
C. Perspektif Sosial
Melalui Pesantren Tebuireng, beliau melakukan transformasi sosial di Jombang yang saat itu dikenal sebagai daerah hitam (penuh perjudian, perampokan, dan lokalisasi). Beliau mengubah struktur masyarakat abangan dan kriminal menjadi masyarakat yang relijius, berpendidikan, dan memiliki kemandirian ekonomi. Beliau mengajarkan bahwa pesantren harus menjadi agen perubahan sosial, bukan menara gading.
D. Perspektif Politik (Nasional & Internasional)
- Nasional: NU yang didirikannya bertransformasi menjadi kekuatan penyeimbang politik yang luar biasa di Indonesia. Beliau berhasil menyatukan faksi-faksi Islam tradisional ke dalam satu wadah terorganisir, menjadikannya kekuatan tawar-menawar yang diperhitungkan baik oleh penjajah Belanda, Jepang, maupun pemerintahan pasca-kemerdekaan.
- Internasional: KH. Hasyim Asy'ari menginisiasi pengiriman Komite Hijaz ke Mekkah pada tahun 1926. Komite ini sukses bernegosiasi dengan Raja Saud di Arab Saudi untuk menjamin kebebasan bermadzhab bagi umat Islam di tanah suci serta menyelamatkan situs-situs sejarah Islam dari pembongkaran total akibat arus pemikiran wahabisme kala itu. Ini adalah diplomasi internasional berskala global yang berdampak hingga hari ini.
Atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi republik, Pemerintah Indonesia menganugerahi Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy'ari gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1964. Beliau wafat pada 25 Juli 1947 akibat pendarahan otak setelah mendengar kabar jatuhnya Malang ke tangan Belanda dalam Agresi Militer I—sebuah bukti otentik betapa jiwa dan raganya sepenuhnya didedikasikan untuk keselamatan bangsa ini.
Resolusi Jihad 1945 serta peran Komite Hijaz dalam diplomasi internasional.
Dua peristiwa ini, Resolusi Jihad 1945 dan Komite Hijaz 1926 adalah pilar utama yang melambangkan dualisme peran Hadratussyeikh KH. M. Hasyim Asy'ari: sebagai benteng pertahanan kedaulatan tanah air di kancah domestik, dan sebagai diplomat ulung di panggung geopolitik global.
Resolusi Jihad (22 Oktober 1945)
Resolusi Jihad bukan sekadar fatwa keagamaan biasa, melainkan sebuah dokumen taktis-strategis yang mengubah jalannya sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, kondisi Indonesia sangat genting. Jepang telah kalah, namun tentara Sekutu (AFNEI) bentukan Inggris mulai mendarat di Jakarta dan Surabaya. Menunggangi pasukan Sekutu, ikut pula tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang berniat menegakkan kembali kolonialisme Hindia Belanda.
Presiden Soekarno menyadari bahwa militer resmi Indonesia (BKR/TKR) saat itu masih sangat lemah, kekurangan senjata, dan belum terorganisir dengan mapan. Pemerintah membutuhkan daya dorong massa yang masif. Oleh karena itu, Soekarno mengirim utusan khusus ke Jombang untuk menemui KH. Hasyim Asy'ari guna menanyakan hukum membela tanah air menurut sudut pandang Islam.
Menanggapi situasi ini, KH. Hasyim Asy'ari mengundang para ulama se-Jawa dan Madura untuk berkumpul di Kantor PCNU Bubutan, Surabaya. Setelah bersidang pada 21–22 Oktober 1945, lahirlah manifesto politik-militer yang disebut Resolusi Jihad.
Naskah asli Resolusi Jihad yang disampaikan kepada Pemerintah RI dan disebarkan ke media massa memiliki tiga poin esensial:
- Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap tiap-tiap usaha yang akan membahayakan kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangannya.
- Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
- Kewajiban Hukum (Fardhu 'Ain): Memfatwakan bahwa berperang menolak musuh (penjajah) yang ingin menjajah kembali Indonesia adalah kewajiban suci bagi setiap muslim (laki-laki, perempuan, tua, muda) yang berada dalam radius 94 kilometer (jarak minimal diperbolehkannya menjamak salat) dari posisi musuh. Sementara mereka yang berada di luar radius tersebut wajib memberikan bantuan logistik dan moril.
Dampak yang Ditimbulkan
- Mobilisasi Massa secara Masif: Fatwa ini seketika mengubah lanskap sosial. Ribuan santri, pemuda, dan rakyat biasa dari berbagai daerah (Jombang, Kediri, Madura, Sidoarjo, dll) berbondong-bondong menuju Surabaya, membentuk laskar-laskar rakyat seperti Laskar Hizbullah dan Sabilillah.
- Meletusnya Pertempuran 10 November: Puncak dari Resolusi Jihad adalah perlawanan semesta di Surabaya. Semangat juang berlandaskan jihad membakar keberanian rakyat hingga berhasil menewaskan pimpinan tentara Inggris, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Kematian ini memicu kemarahan Inggris yang berujung pada pertempuran dahsyat 10 November, yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
- Legitimasi Hari Santri Nasional: Dampak jangka panjang sejarah ini diakui secara resmi oleh negara pada tahun 2015 melalui Keputusan Presiden, yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
Komite Hijaz (1926)
Jika Resolusi Jihad bergerak di medan pertempuran fisik, maka Komite Hijaz bergerak di meja diplomasi internasional tingkat tinggi pada masanya.
Pada tahun 1924–1925, terjadi pergolakan besar di Semenanjung Arab. Kekuasaan Syarif Husein di Mekkah digulingkan oleh kekuatan Ibnu Saud (Raja Abdulaziz al-Saud) yang beraliran Wahabi. Setelah berkuasa, Raja Saud menerapkan kebijakan keagamaan yang sangat ketat dan puritan.
Kebijakan tersebut meliputi rencana pembongkaran situs-situs bersejarah Islam (termasuk makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di Ma'la dan Baqi') karena dianggap memicu syirik (perbuatan menyekutukan Allah). Selain itu, muncul pembatasan ketat di mana hanya madzhab tertentu yang diizinkan diajarkan di Masjidil Haram, menolak keberadaan tradisi bermadzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali).
Kabar ini mengguncang dunia Islam, termasuk para ulama tradisional di Indonesia (Hindia Belanda) yang mayoritas bermadzhab Syafi'i dan sangat menghormati situs-situs sejarah peninggalan Nabi.
Karena keprihatinan yang mendalam, KH. Hasyim Asy'ari bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah membentuk kepanitiaan ad-hoc (sementara) yang dinamakan Komite Hijaz pada awal Januari 1926. Komite inilah yang sebenarnya memicu percepatan lahirnya organisasi resmi Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926, agar delegasi yang dikirim memiliki legitimasi organisasi yang legal secara hukum.
Misi utama komite ini adalah pergi langsung ke Mekkah menghadap Raja Ibnu Saud untuk menyampaikan lima tuntutan penting masyarakat muslim Indonesia.
Hasil Diplomasi Internasional
Delegasi Komite Hijaz (yang dipimpin oleh KH. Raden Asnawi Kudus dan KH. Abdul Wahab Hasbullah) berhasil diterima dengan sangat baik oleh Raja Ibnu Saud di Mekkah. Hasil dari pertemuan tersebut sangat monumental bagi dunia Islam internasional:
- Kebebasan Bermadzhab Dijamin: Raja Ibnu Saud menyetujui tuntutan agar umat Islam dari madzhab empat tetap diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah dan mengajarkan madzhab mereka di tanah suci.
- Penyelamatan Situs Sejarah Islam: Rencana pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW dan situs-situs suci lainnya dibatalkan atau ditunda. Ini adalah kontribusi terbesar ulama Nusantara dalam menyelamatkan warisan peradaban Islam dunia.
- Kepastian Hukum Haji: Raja memberikan jaminan keamanan bagi jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, termasuk pengaturan tarif haji yang transparan agar tidak diperas oleh oknum lokal.
Kesimpulan: Resolusi Jihad membuktikan bahwa Islam tradisional Nusantara adalah motor penggerak nasionalisme yang radikal dalam mempertahankan kemerdekaan negara. Sementara Komite Hijaz membuktikan bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka secara resmi, para ulama pesantren telah memiliki kapasitas diplomasi internasional yang diakui dan mampu memengaruhi kebijakan politik-keagamaan di pusat dunia Islam (Timur Tengah).