
Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
4 Rahasia Shalat, keutamaan azan, keutamaan shalat fardhu, keutamaan menyempurnakan rukun, keutamaan berjamaah bersujud khusyu' , keutamaan membangun masjid, tata caramengerjakan amalan lahiriah shalat ruku' sujud tasyahud, fardhu dan sunnah, syarat batin dan amalan hati, kemakmuman dan keimaman, shalat jum'at : adab sunnah fardhu, shalat-shalat sunnah, shalat dua hari raya, shalat gerhana, shalat istisqa'. Berikut adalah penjelasan lugas dan tuntas mengenai rahasia, keutamaan, tata cara, serta hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat, dirangkum berdasarkan khazanah fikh dan tasawuf (terutama menyarikan esiasi dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dan panduan fikih Syafi'i).
1. Rahasia & Keutamaan Shalat
4 Rahasia Shalat (Asrar as-Shalah). Shalat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan mikrajnya orang beriman. Empat rahasia utamanya adalah:
- Munajat Langsung: Shalat adalah sarana komunikasi tanpa perantara antara hamba dan Sang Pencipta.
- Pembersih Dosa (Katarsis): Seperti mandi lima kali sehari, shalat menggugurkan dosa-dosa kecil di antara waktu-waktu tersebut.
- Pencegah Keburukan: Shalat yang benar secara otomatis membangun benteng spiritual yang mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar.
- Puncak Penghambaan (Tadzallul): Menundukkan kepala yang mulia ke tanah menegaskan posisi manusia sebagai hamba dan Allah sebagai Yang Maha Tinggi.
Keutamaan Azan
- Saksi di Hari Kiamat: Semua makhluk (jin, manusia, batu, tumbuhan) yang mendengar suara muazin akan menjadi saksi kebaikannya di hari kiamat.
- Pengusir Setan: Setan akan lari tunggang-langgang hingga mengeluarkan kentut agar tidak mendengar suara azan.
- Diampuni Dosanya: Muazin diampuni dosanya sepanjang jangkauan suaranya.
Keutamaan Shalat Fardhu
- Merupakan amalan yang pertama kali dihisab di hari kiamat. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalannya.
- Amalan yang paling dicintai Allah jika dilakukan tepat pada waktunya.
Keutamaan Menyempurnakan Rukun, Berjamaah, Sujud, & Khusyu'
- Menyempurnakan Rukun: Memastikan shalat diterima. Shalat yang rukunnya tidak sempurna ibarat tubuh tanpa kepala, tidak bernyawa.
- Berjamaah: Mendapat pahala 27 kali lipat dibandingkan shalat sendirian, serta mengikis sifat munafik (terutama jika mendapat takbiratul ihram bersama imam selama 40 hari).
- Sujud: Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya. Setiap sujud mengangkat satu derajat dan menghapus satu dosa.
- Khusyu’: Menjadi penentu seberapa banyak pahala shalat yang dicatat (bisa jadi hanya sepersepuluh, sepertiga, atau setengah yang diterima tergantung kekhusyu'annya).
Keutamaan Membangun Masjid
- Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa membangun masjid karena Allah (meski sebesar sarang burung), maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.
2. Tata Cara Amalan Lahiriah (Fardhu & Sunnah)
Shalat terdiri dari perpaduan gerakan fardhu (rukun) dan sunnah.
Ruku'
- Fardhu (Rukun): Membungkuk hingga telapak tangan memegang lutut, punggung rata, dan disertai tuma'ninah (diam sejenak minimal selama bacaan subhanallah).
- Sunnah: Meluruskan punggung hingga jika ditaruh air di atasnya tidak tumpah, merenggangkan jari-jari di lutut, memandang tempat sujud, dan membaca tasbih ruku' 3 kali.
Sujud
- Fardhu (Rukun): Menempelkan 7 anggota sujud ke lantai (dahi/hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung jari kedua kaki) disertai tuma'ninah.
- Sunnah: Merapatkan jari-jari tangan menghadap kiblat, mengangkat siku (bagi laki-laki), dan membaca tasbih sujud 3 kali.
Tasyahud (Tahiyyat)
- Fardhu (Rukun): Membaca tasyahud akhir, membaca shalawat kepada Nabi ﷺ pada tasyahud akhir, dan duduk untuk tasyahud akhir.
- Sunnah: Duduk Iftirasy pada tasyahud awal, duduk Tawarruk (bersimpuh) pada tasyahud akhir, mengangkat jari telunjuk saat membaca "Illallah", dan membaca doa perlindungan dari 4 fitnah sebelum salam.
3. Syarat Batin & Amalan Hati (Khusyu')
Agar shalat hidup dan tidak mati, Imam Al-Ghazali merumuskan 6 syarat batin:
- Hudhurul Qalb (Hadirnya Hati): Mengosongkan hati dari urusan dunia dan fokus pada apa yang sedang dilakukan.
- Tafahhum (Memahami Arti): Meresapi makna dari setiap bacaan ayat, dzikir, dan doa yang diucapkan.
- Ta'dzhim (Rasa Agung): Memunculkan rasa hormat dan mengagungkan Allah saat berdiri di hadapan-Nya.
- Haibah (Rasa Takut): Rasa segan dan takut yang bersumber dari keagungan Allah, khawatir shalatnya tidak layak diterima.
- Raja' (Penuh Harap): Berprasangka baik dan berharap Allah menerima shalatnya serta mengampuni dosanya.
- Haya' (Rasa Malu): Malu karena merasa ibadahnya masih penuh kekurangan di hadapan nikmat Allah yang melimpah.
4. Kemakmuman dan Keimaman (Fikih Jamaah)
- Syarat Imam: Diutamakan yang paling fasih bacaan Al-Qur'annya, paling paham fikih shalat, paling tua usianya (jika setara), dan berakhlak baik. Imam wajib berniat menjadi imam (pada shalat Jumat/jamaah wajib).
- Kewajiban Makmum: Wajib berniat mengikuti imam, tidak boleh mendahului gerakan imam (batal jika mendahului dua rukun berturut-turut), dan wajib mengikuti transisi gerakan imam setelah imam selesai mengucapkan takbir.
- Posisi Makmum: Jika 1 orang laki-laki, berdiri di kanan agak mundur dari imam. Jika banyak, membuat shaf lurus dan rapat di belakang imam.
5. Shalat Jum'at: Adab, Sunnah, & Fardhu
Shalat Jumat adalah fardhu 'ain bagi setiap Muslim laki-laki yang mukim dan tidak memiliki udzur.
| Kategori | Amalan |
| Fardhu | Dilakukan di waktu Zhuhur, berjamaah (minimal 40 orang menurut Syafi'i), didahului oleh Dua Khutbah yang memenuhi rukun khutbah, dan shalat 2 rakaat. |
| Sunnah & Adab | Mandi Jumat, memotong kuku, memakai pakaian putih terbaik, memakai wewangian, datang lebih awal, shalat sunnah Tahiyyatul Masjid, membaca Surah Al-Kahfi, dan memperbanyak shalawat. |
| Larangan | Berbicara atau menegur orang lain saat khatib sedang berkhutbah (bisa menghapus pahala Jumat, menjadi sia-sia). |
6. Shalat-Shalat Sunnah
Shalat sunnah dibagi menjadi dua kategori besar:
Sunnah Rawatib (Pendamping Shalat Fardhu)
- Mu'akkad (Sangat Dianjurkan): 2 rakaat sebelum Subuh, 2/4 rakaat sebelum Zhuhur, 2 rakaat setelah Zhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, dan 2 rakaat setelah Isya.
- Ghairu Mu'akkad: 4 rakaat sebelum Ashar, 2 rakaat sebelum Maghrib, dan 2 rakaat sebelum Isya.
Sunnah Berwaktu & Kondisional
- Shalat Dua Hari Raya (Idul Fitri & Idul Adha): 2 rakaat hukumnya Sunnah Mu'akkad. Dilakukan di pagi hari. Rakaat pertama 7 kali takbir tambahan, rakaat kedua 5 kali takbir tambahan. Diikuti oleh dua khutbah setelah shalat.
- Shalat Gerhana (Kusuf/Khusuf): Shalat saat terjadi gerhana matahari atau bulan. Dilakukan 2 rakaat, namun setiap rakaat memiliki 2 kali berdiri, 2 kali membaca Al-Qur'an, dan 2 kali ruku', baru kemudian sujud seperti biasa. Disunnahkan khutbah setelahnya.
- Shalat Istisqa' (Memohon Hujan): Dilakukan berjamaah di tanah lapang saat kemarau panjang. Didahului imbauan bertobat dan berpuasa 3-4 hari sebelumnya. Shalatnya 2 rakaat seperti shalat Id, dilanjutkan dengan khutbah khusus di mana khatib membalikkan selendangnya sebagai simbol harapan perubahan kondisi dari kemarau ke musim hujan.