info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Imam Al-Ghazali: Celanya Bacaan Lalai
Imam Al-Ghazali: Celanya Bacaan Lalai
Imam Al-Ghazali: Celanya Bacaan Lalai

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Dalam khazanah pemikiran Islam, Imam Al-Ghazali melalui magnum opusnya, Ihya Ulumuddin, memberikan perhatian yang sangat besar terhadap adab membaca Al-Qur'an. Bagi beliau, mengaji bukan sekadar aktivitas lisan melantunkan huruf demi huruf, melainkan sebuah ibadah hati yang membutuhkan kehadiran jiwa secara penuh (hudhurul qalb).

Ketika Al-Qur'an dibaca oleh orang yang lalai (ghafilah), esensi dari diturunkannya kitab suci ini telah hilang. Berikut adalah penjelasan mengenai tercelanya bacaan orang yang lalai dalam perspektif Imam Al-Ghazali dan firman Allah SWT.

Perspektif Firman Allah SWT: Ancaman bagi Kelalaian

Al-Qur'an diturunkan sebagai obat, petunjuk, dan pembeda antara yang hak dan batil. Allah SWT mengutuk keras sikap berpaling, lalai, dan ketidakpedulian hati saat berinteraksi dengan ayat-ayat-Nya.

  • Lalai dari Tujuan Shalat dan Bacaan Dalam QS. Al-Ma'un (107): 4-5, Allah SWT berfirman:"Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya."Imam Al-Ghazali menarik analogi dari ayat ini. Jika orang yang shalat secara fisik tetapi hatinya lalai mendapati ancaman "celaka" (wail), maka demikian pula dengan orang yang membaca kalamullah namun pikirannya mengembara ke urusan duniawi, tanpa ada rasa agung kepada Sang Pencipta.
  • Hati yang Terkunci (Aghfalna Qalbahu) Dalam QS. Al-Kahfi (18): 28, Allah berfirman:"...dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya itu melewati batas."Orang yang membaca Al-Qur'an dalam kondisi lalai sebenarnya sedang menunjukkan tanda-tanda hati yang mulai membatu atau terkunci. Allah juga menyindir keras fenomena ini dalam QS. Muhammad (47): 24: "Maka apakah mereka tidak menghayati Al-Qur'an ataukah hati mereka sudah terkunci?"

Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang "Bacaan yang Tercela"

Imam Al-Ghazali membagi proses membaca Al-Qur'an menjadi beberapa tahapan adab batiniah. Menurut beliau, pembaca yang lalai terjebak dalam tiga cela utama:

A. Hanya Mengejar Kuantitas, Bukan Kualitas (Khatam tanpa Paham)

Banyak orang yang mengaji dengan target utama "kapan surah ini selesai" atau "berapa juz yang bisa dibaca hari ini". Lidahnya bergerak cepat, namun hatinya kosong. Al-Ghazali menekankan bahwa membaca satu ayat dengan tadabbur (perenungan mendalam) jauh lebih utama daripada mengkhatamkan seluruh Al-Qur'an dalam kelalaian.

B. Terhijab oleh "Penyakit Huruf"

Salah satu tipuan setan (talbis iblis) yang dijelaskan Al-Ghazali adalah ketika seorang qari (pembaca) terlalu terobsesi pada makhraj (tempat keluarnya huruf) dan kaidah tajwid secara berlebihan, hingga melupakan makna di balik kata tersebut. Fokusnya beralih dari Maksud Penulis (Allah SWT) kepada Mekanisme Suara. Ini adalah bentuk kelalaian yang halus namun merusak esensi.

C. Al-Qur'an Menjadi Saksi yang Menggugat

Imam Al-Ghazali sering mengutip perkataan sahabat dan tabiin untuk menggambarkan betapa bahayanya membaca Al-Qur'an dalam keadaan lalai dan tidak bermoral. Beliau mengutip:

"Berapa banyak orang yang membaca Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an melaknatnya."

Sebagai contoh, ketika seseorang membaca ayat "Ingatlah, laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim" (QS. Hud: 18), sedangkan dia sendiri adalah seorang pemimpin atau pribadi yang zalim dan lalai dari keadilan, maka secara tidak sadar dia sedang mendoakan laknat atas dirinya sendiri.

Syarat Mengaji yang Benar Menurut Al-Ghazali

Untuk keluar dari golongan pembaca yang tercela dan lalai, Imam Al-Ghazali merumuskan adab batiniah yang harus dihadirkan:

  1. Keagungan Mutakallim (Sang Pembicara): Menyadari bahwa yang sedang dibaca bukanlah kata-kata manusia, melainkan firman Allah SWT, Penguasa Jagat Raya.
  2. Hudhurul Qalb (Kehadiran Hati): Mengusir segala bisikan duniawi saat mushaf dibuka.
  3. Tadabbur: Merenungkan makna ayat. Jika membaca tentang surga, muncul rasa rindu; jika tentang neraka, muncul rasa takut (khauf).
  4. Takhshish (Mempersonalisasikan Ayat): Menganggap bahwa setiap perintah, larangan, janji, dan ancaman dalam ayat tersebut ditujukan khusus untuk dirinya, bukan untuk orang lain.

Dalam perspektif Allah SWT dan ulasan Imam Al-Ghazali, mengaji dalam keadaan lalai adalah bentuk penyelewengan fungsi Al-Qur'an. Al-Qur'an diturunkan untuk mengubah perilaku dan menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Membacanya tanpa penghayatan mutlak hanya akan membuahkan pahala lisan yang kering, tanpa mampu memberi syafaat yang menyelamatkan di akhirat kelak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *