
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam kitab Al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa karya Imam Ibnul Jauzi, penjelasan mengenai Makkah, kawasan Al-Haram, dan Ka'bah yang bersumber dari kitab-kitab terdahulu (khususnya mengutip jalur Ibnu Qutaibah dari Kitab Sya'ya/Nabi Yesaya) merincikan beberapa nubuat utama:
- Kemuliaan Lembah Makkah dan Sumber AirnyaDisebutkan bahwa Allah memberikan kemuliaan daerah Lebanon dan Al-Kirmal (wilayah Syam dan Baitul Maqdis) kepada lembah Makkah. Lembah yang semula berupa padang pasir tandus ini dijanjikan akan terpancar air (isyarat air Zamzam) dan dimuliakan dengan hadirnya ibadah haji serta diutusnya Nabi Muhammad SAW.
- Keamanan dan Suaka di Kawasan Al-HaramMengenai tanah Haram, Kitab Sya'ya menggambarkan tingkat keamanan yang luar biasa. Di kawasan ini, hewan buas seperti serigala dan hewan ternak seperti unta disebutkan hidup berdampingan tanpa saling memangsa atau berbuat kerusakan. Hewan-hewan tersebut merasa aman selama berada di dalam batas Al-Haram dan baru merasa gelisah apabila keluar dari kawasan tersebut.
- Ka'bah (Baitullah) sebagai Kiblat Dunia dan Pelayanannya
- Pintu yang Selalu Terbuka: Pintu-pintu Baitullah digambarkan akan senantiasa terbuka siang dan malam tanpa pernah dikunci untuk menyambut para peziarah.
- Pusat Kunjungan Umat: Berbagai suku dan bangsa dari berbagai penjuru bumi—seperti penduduk Saba', Madyan, dan keturunan Qaidar—akan berbondong-bondong datang membawa hewan ternak dan persembahan.
- Kiblat dan Kota Tuhan: Bangunan ini ditetapkan sebagai arah kiblat dan tempat tersebut dinamai sebagai "Kota Tuhan" (Baitullah).
- Pelayan Baitullah: Pemuka Banawat (keturunan Banawat bin Ismail) disebutkan secara khusus sebagai pihak yang bertindak melayani dan mengurus rumah suci tersebut.
Ibnul Jauzi menghimpun catatan-catatan ini untuk menunjukkan bahwa kesucian Makkah, keagungan Ka'bah, serta syariat haji bukanlah hal baru, melainkan telah diisyaratkan dan dimuliakan dalam literatur para nabi terdahulu.
Berikut adalah poin-poin penjelasan mengenai "Jalan Makkah" menurut narasi naskah terdahulu tersebut:
- Penyebutan "Jalan Suci" (Ath-Thariq al-Muqaddas)Jalan yang menuju Makkah atau Baitullah ini dinamai sebagai jalan yang disucikan, yaitu jalur khusus yang dibentang bagi orang-orang yang beriman untuk berziarah dan beribadah kepada Allah.
- Dilarang bagi Orang-orang Najis/KafirDalam teks tersebut disebutkan secara eksplisit bahwa orang-orang yang najis (secara aqidah/orang-orang kafir) tidak akan melintasi jalan ini. Hal ini sejalan dengan aturan syariat Islam yang melarang non-Muslim memasuki kawasan Tanah Haram Makkah (QS. At-Tawbah: 28).
- Jalan yang Aman dan Terpelihara dari GangguanJalan ini digambarkan sangat aman dari berbagai ancaman. Para peziarah yang melintasinya—bahkan orang-orang yang awam atau tidak berpengalaman sekalipun—tidak akan tersesat atau diganggu oleh bahaya penyamun maupun binatang buas selama berada di jalur perziarahan tersebut.
- Rute Kembalinya Orang-orang yang Ditebus (Al-Fuduh)Jalan ini menjadi sarana berhimpunnya umat dari pelbagai bangsa dan suku. Mereka berbondong-bondong menyusuri jalan tersebut menuju Makkah dengan kegembiraan, membawa hewan kurban serta pujian bagi Allah.
Melalui penggambaran ini, para ulama seperti Ibnul Jauzi menegaskan bahwa keamanan rute haji dan pengkhususan kawasan Makkah hanya bagi umat yang beriman telah menjadi nubuat yang tertulis jauh sebelum era kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Dalam teks-teks nubuat kuno yang dikutip oleh ulama klasik seperti Imam Ibnul Jauzi (Al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa) dan Ibnu Qutaibah, penggambaran mengenai Kawasan Al-Haram (Tanah Suci) dalam Kitab Sya'ya (Nabi Yesaya) menekankan pada kesucian, perlindungan Ilahi, dan kedamaian universal yang membedakannya dari wilayah lain di bumi.
Berikut adalah poin-poin utama penjelasan mengenai Kawasan Al-Haram menurut narasi naskah terdahulu tersebut:
- Pusat Keamanan Universal (Al-Amn)Teks tersebut menggambarkan batas-batas kawasan Al-Haram sebagai wilayah suaka mutlak. Di dalam kawasan ini, sifat pemangsa dan kebuasan ditiadakan oleh Allah. Binatang buas seperti serigala dan hewan ternak seperti unta atau domba digambarkan dapat hidup berdampingan tanpa saling melukai.
- Fenomena Batas Tanah HaramDisebutkan sebuah keajaiban fisik dan naluri hewan: selama berada di dalam kawasan Al-Haram, binatang buas tidak akan menerkam mangsanya. Namun, begitu binatang tersebut melintasi keluar dari garis batas Tanah Haram, naluri pemangsanya akan kembali. Hal ini menjadi simbol bahwa ketenangan Ilahi menaungi seluruh tanah tersebut.
- Pengkhususan Kasih Sayang dan Suaka ManusiaBagi manusia, kawasan Al-Haram diposisikan sebagai tempat berlindung dari rasa takut, ketiadaan perang, dan tempat pembersihan dosa. Barangsiapa yang memasukinya akan mendapatkan jaminan keamanan, sejalan dengan prinsip keharaman bertumpahnya darah dan larangan berburu di Tanah Haram Makkah.
- Transformasi Wilayah Tandus Menjadi Tempat yang DiberkahiKawasan Al-Haram yang tadinya berupa gurun sahara yang gersang (wadi ghairi dzi zar'in) dijanjikan akan mengalami transformasi spiritual dan material. Kemuliaan gunung-gunung besar (seperti Lebanon dan Kirmal) dilimpahkan ke kawasan ini melalui keberadaan Ka'bah dan limpahan rezeki dari berbagai penjuru dunia.
Ulama Islam menggunakan penggambaran ini untuk menunjukkan bahwa aturan-aturan khusus Tanah Haram—seperti larangan merusak tumbuhan, membunuh hewan buruan, serta kewajiban menjaga kedamaian—telah ditetapkan dan dinubuatkan sejak zaman nabi-nabi terdahulu.
Video Anda sudah siap! Google Privacy Policy Opens in a new window Google Terms of Service Opens in a new window Your privacy & Gemini Apps