info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Gempa Flores: Asal, Sejarah, Masa Depan
Gempa Flores: Asal, Sejarah, Masa Depan
Gempa Flores: Asal, Sejarah, Masa Depan

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad MA

Fenomena gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang memicu ratusan gempa susulan (aftershocks) di Laut Flores serta getarannya merambat luas dari NTB hingga Sulawesi dapat dijelaskan secara rinci melalui perspektif ilmu kegempaan (seismologi) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

1. Asal Usul & Mekanisme Tektonik (Mengapa Terjadi?)

Secara tektonik, kawasan busur kepulauan Flores dan Laut Flores berada pada zona kompresi yang sangat kompleks:

  • Penyebab Utama (Sesar Naik / Back-Arc Thrust): BMKG mencatat kawasan ini berada di wilayah Flores Back-Arc Thrust (Sesar Naik Belakang Busur Flores). Sesar aktif ini membentang dari laut utara Bali, NTB, hingga NTT. Gempa 7,7 SR terjadi akibat dorongan gaya tektonik Subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
  • Gempa Dangkal: Dengan kedalaman episenter yang relatif dangkal (sekitar 10–15 km), energi gempa dilepaskan secara maksimal langsung ke permukaan tanah dan dasar laut. Hal ini menyebabkan efek guncangan berintensitas tinggi (MMI V–VII) dan rambatan gelombang yang melintasi cekungan laut hingga menjangkau Sulawesi Tenggara/Selatan dan Lombok/Sumbawa.
  • Mengapa Gempa Susulan Sangat Banyak? Gempa utama (mainshock) berukuran M 7,7 mematahkan batuan kerak bumi dalam skala yang sangat luas. Ratusan gempa susulan merupakan proses penyesuaian (stabilization) medan tegangan (stress release) batuan di sepanjang bidang patahan hingga mencapai keseimbangan tektonik baru.

2. Sejarah & Rekam Jejak Kegempaan (Konteks Historis BMKG)

Wilayah Laut Flores memiliki catatan sejarah seismik yang kelam. BMKG mencatat kawasan utara Flores sebagai salah satu zona paling aktif dan berbahaya di Indonesia Timur:

  • Tragedi Gempa & Tsunami Flores 12 Desember 1992 (M 7,8): Ini adalah pijakan sejarah paling legendaris. Gempa akibat Flores Back-Arc Thrust memicu tsunami dahsyat setinggi hingga 36 meter di pesisir Maumere dan Babi Island, yang memakan korban jiwa lebih dari 2.100 orang.
  • Gempa NTT 14 Desember 2021 (M 7,4): Patahan Laut Flores kembali bangkit dan memicu serangkaian gempa kuat serta peringatan dini tsunami untuk NTT, Sulsel, dan Sultra, disertai lebih dari 700 kali gempa susulan selama kurun beberapa minggu.
  • Pola Berulang: Kejadian berulang ini membuktikan bahwa mekanisme patahan naik (thrusting) di Laut Flores memiliki periode ulang (recurrence interval) yang aktif melepaskan energi raksasa dari waktu ke waktu.

3. Masa Depan & Implikasi Imbauan BMKG

Berdasarkan analisis geofisika BMKG, terdapat beberapa poin penting terkait potensi dan langkah penanganan ke depan:

A. Tren Gempa Susulan

  • Aktivitas gempa susulan diprediksi akan terus berlangsung hingga beberapa minggu ke depan. Tren frekuensi dan magnitudonya secara bertahap akan menurun (decay process).
  • Meskipun magnitudo susulan lebih kecil, strukturnya dapat memperparah kerusakan pada bangunan yang retak akibat gempa utama.

B. Potensi Bahaya Sekunder (Secondary Hazards)

  • Pemicu Tsunami Lokal: Jalur sesar laut ini membentang di perairan dangkal. Gempa kuat mendadak dengan pergeseran vertikal dasar laut selalu berpotensi memicu tsunami lokal dalam hitungan menit.
  • Longsoran Dasar Laut (Submarine Landslide): Selain dari pergeseran sesar itu sendiri, guncangan kuat gempa dapat memicu longsoran tebing laut yang mempercepat terbentuknya tsunami pesisir secara mendadak.
  • Likuefaksi & Longsor Darat: Pesisir NTT yang curam serta tanah endapan alluvial di wilayah Flores rentan mengalami longsoran atau pergeseran tanah.

Rekomendasi Utama BMKG untuk Masyarakat:

  1. Tetap Tenang namun Waspada: Hindari termakan isu hoaks terkait bencana. Pantau informasi resmi hanya dari aplikasi InfoBMKG atau saluran resmi BMKG/BNPB.
  2. Periksa Bangunan: Jangan memasuki kembali rumah atau gedung yang mengalami keretakan struktur pasca-gempa utama.
  3. Evakuasi Mandiri Tsunami: Jika berada di wilayah pesisir utara NTT/Sulawesi dan merasakan guncangan gempa kuat lebih dari 20 detik, segera jauhi pantai dan naik ke tempat tinggi tanpa menunggu peringatan tsunami resmi (Evakuasi Mandiri berbasis 20-20-20).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *