Mungkin, Anda pernah bertemu dengan seseorang yang ketika berumur dua puluh tahunan memiliki cara bertutur, gaya bicara, dan gagasan-gagasan cemerlang, namun sepuluh tahun kemudian Anda melihat kemampuannya masih itu-itu saja dan tidak ada perkembangan sedikitpun dalam hidupnya. Dan pada saat yang sama, Anda juga menjumpai banyak orang yang mengalami perubahan dan perkembangan luar biasa dalam hidupnya dibanding sepuluh tahun yang lalu. Atau, barangkali Anda pernah menjumpai seseorang yang setiap saat kehidupannya selalu bertambah maju dan berkembang dari sebelumnya. Atau, mungkin juga Anda bertemu dengan orang yang setiap saat taraf kehidupan beragama dan duniawinya berkembang. Nah, mengapa semua ini terjadi?
Jika Anda ingin mengetahui beberapa model manusia dalam masalah perkembangan diri ini, marilah kita melihat keadaan mereka selama ini. Dalam menyikapi acara-acara di televisi misalnya, ada seseorang yang hanya menyaksikan program-program acara yang bisa menambah wawasan pengetahuannya, mengembangkan pola pikirnya, dan menambah kecerdasan intelektualnya; mereka memanfaatkan acara seperti dialog atau wawancara khusus dengan tokoh-tokoh penting untuk belajar cara mereka berpikir, berdebat, berdialog, menyampaikan gagasan, berbahasa dengan baik, memahami suatu persoalan, mengemukakan suatu pendapat, dan meyakinkan orang lain.
Sementara itu ada orang yang hampir tidak pernah melewatkan tayangan-tayangan sinetron yang bercerita tentang kegagalan cinta, drama-drama sentimentil, atau film-film horor yang menyeramkan, atau film cerita-cerita fiktif yang jauh dari kenyataan dan acapkali merusak moral. Nah, marilah kita lihat keadaan keduanya ini lima tahun atau sepuluh tahun kemudian; siapakah di antara keduanya yang akan lebih banyak mengalami pengembangan diri dalam hal keahlian atau kecakapannya, seperti dalam kemampuan memahami suatu masalah, tingkat intelektualitas, kemampuan meyakinkan orang lain, dan menyikapi berbagai peristiwa?
Dapat dipastikan , bahwa yang akan mengalami perkembangan diri adalah orang yang pertama. Bahkan boleh jadi Anda akan mendapatkan orang yang pertama tadi ini mengalami perkembangan yang luar biasa dalam pembicaraannya; lebih bermutu, lebih ilmiah, dan memiliki dasar-dasar teks syar'i, atau data-data riil yang nyata, dan data-data statistik yang akurat. Adapun orang yang kedua, setiap pembicaraannya kemungkinan besar akan lebih banyak berdasarkan pada perkataan para bintang sinetron, atau para penyanyi yang menjadi idolanya. Bahkan, dari orang-orang ini suatu ketika pernah muncul perkataan seperti ini, “Dan Allah telah berfirman :'Berusahalah wahai hamba-Ku, niscaya Aku akan menyertai langkahmu'.” Lalu kami mengingatkannya bahwa yang ia katakan itu itu bukan firman Allah. Sontak, rona mukanya pun merah padam dan ia terdiam seribu basa. Saya penasaran dan mencoba menelusuri perkataannya tersebut. Dan akhirnya, saya mendapatkan jawaban bahwa, ternyata, perkataan yang ia lontarkan itu adalah perkataan seorang artis Mesir dalam sebuah sinetron, yang kemudian melekat di benaknya. Jadi benar kata pepatah, “Setiap bejana akan memercikkan isinya.”
Sekarang, marilah kita melihat fenomena lainnya lagi. Dalam membaca koran dan majalah misalnya, berapa banyak orang yang mengarahkan perhatiannya kepada berita-berita yang bermanfaat dan pengetahuan yang bisa menambah wawasannya serta mendukung perkembangan kemampuan dan keahliannya? Sungguh, sangat sedikit. Dan ironisnya, kebanyakan orang justru lebih suka membaca berita-berita hiburan atau olahraga saja. Walhasil, tidak mengherankan bila banyak koran atau majalah berlomba-lomba untuk memperbanyak halaman olahraga dan hiburannya dengan menomerduakan berita-berita lain yang lebih bermanfaat. Inilah fenomena menyedihksn ysng terjadi di tengah-tengah masyarakat dan zaman kita sekarang ini.
Dan anda, jika ingin jadi kepala, bukan menjadi ekor saja, berusahalah senantiasa untuk mencari dan menggali keahlian-keahlian baru, di mana saja Anda berada. Lalu, latihlah diri Anda untuk mempraktekkan keahlian-keahlian tersebut. Arkian, Abdullah adalah orang yang punya semangat tinggi untuk sukses, tetapi tidak memiliki beberapa kecakapan yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan itu. Dan ia, adalah sangat taat beragama dan rajin menjalankan ibadah. Suatu hari, seperti biasa, ia pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat zhuhur berjamaah. Ia melakukan kebiasaan ini karena perhatiannya yang sangat besar terhadap shalat dan penghormatannya yang tinggi terhadap agama. Tampak, hari itu ia berjalan dengan cepat karena takut ketinggalan shalat berjamaah. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah pohon kurma dan di atasnya terlihat seseorang masih lengkap dengan pakaian kerjanya dan sibuk merawat buah-buah kurma. Abdullah pun heran dengan sikapnya yang tidak memperhatikan waktu shalat dan seolah-olah tidak mendengar azan. Abdullah pun berteriak kepadanya, 'Turunlah, shalatlah terlebih dahulu'. 'Baik..., sebentar lagi juga selesai!' jawab orang itu dengan sangat dingin. Abdullah pun geram, 'Wahai keledai, cepatlah turun dan shalat...!' teriaknya seraya menghardik.
Mendengar dirinya dipanggil keledai, orang itu pun sontak bereaksi, 'Aku keledai?' sergahnya sambil tangannya memotong dahan pohon kurma. Lalu ia bergegas turun dari pohon untuk memukul kepala Abdullah dengan dahan tersebut. Melihat reaksinya yang terlihat sangat marah, Abdullah langsung pergi meninggalkan tempat itu menuju ke masjid seraya menutupi mukanya dengan ujung sorbannya agar ia tidak dikenalinya. Orang itu pun turun, tetapi sudah tidak menjumpai Abdullah. Maka, masih dengan menyimpan kekesalannya di hati, ia pulang ke rumahnya, lalu mengerjakan shalat dan istirahat beberapa saat. Tak lama kemudian, ia pergi ke kebunnya lagi untuk mlanjutkan pekerjaannya.
Waktu shalat Ashar pun tiba. Dan seperti biasa, Abdullah juga bergegas pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Ketika melewati pohon kurma tadi, Abdullah melihat orang yang hampir memukulnya tadi siang masih berada di atas pohon itu. Namun, kali ini ia sudah sadar dengan kesalahan caranya dalam menegur orang tersebut. Maka, ia pun mengubah cara menegurnya. 'Assalamualikum...., bagaimana keadaan Anda?' sapa Abdullah dengan santun. 'Alhamdulillah baik-baik saja.' jawab orang itu dengan ramah. Lalu, Abdullah berkata, 'Syukurlah...! Tapi, bagaimana dengan hasil panen buahmu tahun ini?' 'Alhamdulillah', jawabnya. Abdullah berkata lagi, 'Semoga Allah senantiasa memberkatimu, menambah rezkimu, memudahkan segala urusanmu, dan membalas semua amal baik dan usaha kerasmu untuk menghidupi keluargamu ini. 'Lalu, Abdullah berkata kepadanya, 'Namun, sepertinya Anda saat ini sangat sibuk sekali dengan pekerjaan ini, hingga Anda seperti tidak mendengar azan Asar. Coba perhatikan dengan baik, bukankah azan Asar sudah dikumandangkan dan sebentar lagi iqamah akan terdengar? Nah, tidaklah lebih baik bila Anda turun sebentar untuk beristirahat, lalu shalat berjamaah di masjid, dan setelah itu baru melanjutkan lagi pekerjaan Anda ini? Dengan itu semua, semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan Anda.' 'Benar apa yang Anda katakan itu, dan aku akan segera turun.' jawabnya dengan senang hati. Setelah sampai di bawah, orang itu pun berjalan menemui Abdullah dan menyalaminya dengan hangat seraya berkata, ' Saya sangat berterima kasih kepada Anda atas semua nasehat baik ini. Karena, waktu zhuhur tadi saya sempat jengkel terhadap seseorang yang menyebutku keledai. Sungguh, bila bertemu dengannya lagi, saya pasti akan memberinya pelajaran!'.
Jadi, kecakapan-kecakapan Anda dalam berhubungan dengan orang lain akan sangat menentukan cara orang lain berhubungan dengan Anda. (Achmad Muhammad, medio 992016).