info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Hijrah ke Habasyah dalam Sirah
Hijrah ke Habasyah dalam Sirah
Hijrah ke Habasyah dalam Sirah

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Peristiwa diperintahkannya para sahabat oleh Nabi Muhammad SAW untuk berhijrah ke Habasyah (Etiopia) merupakan salah satu titik balik terpenting dalam sejarah Islam (Sirah Nabawiyah).

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai peristiwa ini yang diproyeksikan dari riwayat para ulama sejarah (Ibnu Ishaq dan Al-Waqidi) serta keterlibatan tokoh kunci (Amr bin Ash dan Ibnu Mas'ud) dalam perspektif Sirah Nabawi.

1. Riwayat Ibnu Ishaq & Al-Waqidi (Dimensi Historis dan Perintah Nabi)

Dalam penyusunan Sirah Nabawiyah, Ibnu Ishaq (Kitab al-Maghazi) dan Al-Waqidi (Kitab al-Maghazi) merupakan dua sejarawan era awal yang merekam detail melatarbelakangi hijrah ke Habasyah:

  • Latar Belakang & Perintah Nabi:Ketika intensitas intimidasi dan penyiksaan oleh kafir Quraisy terhadap kaum muslimin di Makkah semakin tidak tertahankan pada tahun ke-5 Kenabian, Nabi Muhammad SAW memberikan arahan strategis:"Sekiranya kamu keluar pergi ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja (Raja Najasyi/Ashamah) yang di sisinya tidak ada seorang pun yang dizalimi, dan negeri itu adalah negeri yang jujur/aman, hingga Allah memberikan jalan keluar bagi kalian."
  • Dua Gelombang Hijrah:
    • Gelombang Pertama (Bulan Rajab, Thn 5 Kenabian): Terdiri dari 12 pria dan 4 wanita (termasuk Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah, putri Nabi).
    • Gelombang Kedua: Terdiri dari sekitar 83 pria dan 18/19 wanita yang dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib.
  • Perspektif Sirah: Ibnu Ishaq dan Al-Waqidi menyoroti kebijaksanaan диплоmats Nabi yang memilih Habasyah bukan hanya karena keamanan geografis yang melintasi Laut Merah, melainkan karena keadilan penguasa Kristen di sana (Najasyi) yang menjamin kebebasan beragama.

2. Peran Amr bin Ash (Perspektif Diplomasi & Reaksi Kafir Quraisy)

Amr bin Ash (yang saat itu belum masuk Islam) memainkan peran sentral sebagai utusan diplomatik Kafir Quraisy untuk menggagalkan suaka kaum muslimin.

  • Upaya Ekstradisi: Quraisy mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah membawa hadiah-hadiah mewah untuk Najasyi dan para uskup Kerajaan Habasyah. Mereka meminta Najasyi menyerahkan kembali para pengungsi muslim dengan tuduhan bahwa mereka membawa ajaran baru yang merusak tatanan nenek moyang.
  • Debat Diplomasi:Najasyi menolak menyerahkan kaum muslimin tanpa mendengar penjelasan kedua belah pihak. Ja'far bin Abi Thalib mewakili umat Islam membacakan permulaan Surah Maryam. Najasyi dan para pendetanya menangis mendengarnya.
  • Provokasi Kedua Amr bin Ash: Amr mencoba memprovokasi Najasyi dengan mengangkat isu pandangan Islam tentang Nabi Isa (Yesus). Namun, jawaban Ja'far bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya disetujui penuh oleh Najasyi.
  • Perspektif Sirah: Kegagalan Amr bin Ash dalam misi ini menjadi kekalahan diplomasi terbesar Quraisy di luar Makkah dan menjadi pengalaman berharga bagi Amr sendiri yang kelak memeluk Islam.

3. Peran Ibnu Mas'ud (Perspektif Kesaksian Sahabat & Pengalaman Langsung)

Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu sahabat awal yang ikut serta dalam rombongan hijrah ke Habasyah.

  • Kesaksian Kondisi Muhajirin: Ibnu Mas'ud menyampaikan riwayat mengenai bagaimana kaum muslimin diperlakukan dengan sangat mulia di bawah perlindungan Raja Najasyi. Mereka bisa beribadah dengan bebas tanpa ada rasa takut ditindas, sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan di Makkah saat itu.
  • Kehadiran & Kembalinya ke Makkah: Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas me menceritakan momen ketika kabar burung (hoaks) beredar bahwa penduduk Makkah telah masuk Islam (peristiwa Sujud as-Sajdah), yang membuat beberapa sahabat—termasuk Ibnu Mas'ud—sempat kembali ke Makkah sebelum akhirnya menyadari kabar tersebut tidak benar dan sebagian kembali lagi ke Habasyah.
  • Perspektif Sirah: Kesaksian Ibnu Mas'ud menggambarkan sisi psikologis para sahabat yang merindukan Makkah namun harus mengedepankan keselamatan akidah dan ketundukan pada perintah Rasulullah SAW.

Makna Strategis dalam Perspektif Sirah Nabawi

  1. Perlindungan Akidah di atas Tanah Air: Perintah hijrah menegaskan bahwa menjaga keyakinan/iman (hifz ad-din) lebih utama daripada mempertahankan tempat tinggal atau tanah kelahiran.
  2. Suaka Politik dan Hubungan Antar-Agama: Nabi memanfaatkan konsep perlindungan hukum (suaka) yang ada di negeri berpemimpin adil tanpa memandang agama raja tersebut pada saat itu.
  3. Membuka Internasionalisasi Dakwah: Habasyah menjadi basis pertahanan (basecamp) luar negeri pertama bagi umat Islam, memperluas gaung Islam keluar dari Jazirah Arab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *