
Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Perjalanan Nabi Muhammad saw. ke Thaif terjadi pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian (sekitar 619 M). Peristiwa ini merupakan salah satu momen paling krusial dan mengharukan dalam sirah nabawiyah, mencerminkan puncak ketabahan dan kasih sayang beliau di tengah penolakan yang sangat keras.
Kronologi Perjalanan ke Thaif
Latar Belakang: Amul Huzni (Tahun Kesedihan)
Bulan Syawal, 10 Kenabian
Setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib (pelindung utama dari gangguan Quraisy), dan istri tercinta, Khadijah r.a., tekanan serta intimidasi kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw. di Mekkah makin tidak terkendali. Beliau kemudian mencari pusat dakwah baru dan perlindungan ke Thaif, kota pegunungan yang dihuni oleh Bani Thaqif.
Perjalanan Menuju Thaif
Perjalanan 80 km
Rasulullah saw. menempuh perjalanan sekitar 80 km dari Mekkah ke Thaif dengan berjalan kaki bersama sahabatnya, Zaid bin Haritsah r.a., untuk menjaga kerahasiaan rencana dari kaum Quraisy.
Penolakan Para Pemimpin Bani Thaqif
Selama 10 Hari di Thaif
Di Thaif, Rasulullah saw. menemui tiga orang pemimpin utama Bani Thaqif dari keturunan 'Amr bin 'Umair (Abd Yalail, Mas'ud, dan Habib). Beliau mengajak mereka masuk Islam dan meminta dukungan dakwah. Namun, mereka menolak dengan hinaan kasar dan mengusir beliau secara terang-terangan.
Pengepungan dan Lemparan Batu
Saat Pengusiran
Para pemimpin Thaif memprovokasi kerumunan pemuda, budak, dan orang-orang bodoh untuk bersorak menghina dan melempari Nabi saw. dengan batu sepanjang jalan keluar kota. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi beliau hingga kepalanya terluka, sementara kaki Rasulullah saw. berdarah hingga membasahi sandal beliau.
Berteduh di Kebun Anggur dan Pertemuan dengan 'Addas
Di Luar Kota Thaif
Nabi saw. dan Zaid berhasil berlindung di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah. Di sinilah beliau memanjatkan doa yang sangat mengharukan ("Ya Allah, kepada-Mu aku adukan kelemahanku..."). Pemilik kebun yang merasa iba mengutus budak Kristen mereka bernama 'Addas untuk membawakan setangkai anggur. Saat Nabi membaca "Bismillah" sebelum makan, 'Addas terkejut, berdialog, dan akhirnya mencium tangan serta kaki beliau lalu masuk Islam.
Tawaran Malaikat Gunung dan Doa Pengampunan
Di Qarn al-Manazil
Dalam perjalanan pulang ke Mekkah, Malaikat Jibril mendatangi Nabi saw. bersama Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat Gunung menawarkan untuk menimpakan dua gunung di Mekkah (Al-Akhsyabain) kepada penduduk Thaif. Namun, Rasulullah saw. menolak dan berdoa:
"Justru aku berharap agar Allah mengeluarkan dari sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya."
Kembali ke Mekkah
Akhir Syawal
Rasulullah saw. tidak dapat langsung masuk ke Mekkah karena ancaman bahaya. Beliau baru bisa memasuki Mekkah setelah mendapatkan jaminan perlindungan (jiwar) dari Mut'im bin 'Adi, seorang tokoh musyrik yang disegani.
Hikmah Utama dalam Perspektif Sirah
- Ketabahan Tanpa Batas: Peristiwa ini menunjukkan tingginya ujian fisik dan mental yang dialami Nabi saw. demi menyampaikan risalah Islam.
- Kasih Sayang (Rahmatan lil 'Alamin): Keputusan beliau menolak pembalasan terhadap warga Thaif terbukti di kemudian hari, di mana seluruh penduduk Thaif akhirnya masuk Islam dan melahirkan generasi pejuang Islam.
- Awal Pertolongan Allah: Ujian berat di Thaif menjadi titik balik spiritual yang menghantarkan beliau pada peristiwa agung Isra Mi'raj dan terbukanya pintu dakwah di Yatsrib (Madinah).
Doa Rasulullah saw. saat berteduh di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah di Thaif dikenal sebagai salah satu doa paling menyentuh hati dalam sirah nabawiyah. Doa ini mencerminkan kepasrahan total, kerendahan hati, dan ketulusan beliau kepada Allah SWT di tengah ujian yang sangat berat.
Teks Arab, Latin, dan Terjemahan Doa
Teks Arab:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضُعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَنْتَ رَبِّي، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي؟ أَمْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلاَ أُبَالِي، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي. أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ، وَصَلَحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَكَ، أَوْ يَحِلَّ عَلَيَّ سَخَطُكَ، لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
Teks Latin:
Allaahumma ilaika asbkuu dhu'fa quwwatii, wa qillata hiilatii, wa hawaanii 'alan-naas, yaa arhamar-raahimiin, anta rabbul-mustadh'afiin, wa anta rabbii, ilaa man takilunii? Ilaa ba'iidin yatajahhamunii? Am ilaa 'aduwwin mallaktahu amrii? In lam yakun bika ghadhabun 'alayya falaa ubaalii, wa laakin 'aafiyataka hiya awsa'u lii. A'uudzu bi nuuri wajhikal-ladzii asyraqat lahudh-dhulumaatu, wa shaluha 'alaihi amrud-dunyaa wal-aakhirah, min an tunzila bii ghadhabaka, aw yahilla 'alayya sakhatuk, lakal-'utbaa hattaa tardhaa, wa laa haula wa laa quwwata illaa bika.
Terjemahan:
"Ya Allah, kepada-Mu aku adukan kelemahanku, keterbatasan daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku.
Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang jauh yang memandangku dengan muka bermasam, ataukah kepada musuh yang Engkau berikan kuasa atas urusanku?
Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (dengan apa pun yang menimpaku). Namun, keselamatan dan perlindungan-Mu terasa lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan membenahi segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau timbulnya kemarahan-Mu atas diriku. Bagi-Mu keampunan hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu."
Makna dan Pelajaran Utama Doa
- Aduan Hanya kepada Allah: Rasulullah saw. tidak mengadukan kejamnya penduduk Thaif, melainkan mengadukan kelemahan dan keterbatasan dirinya sendiri di hadapan Allah.
- Ridha Allah adalah Utama: Puncak dari perjalanan dakwah beliau bukanlah hasil akhir di mata manusia, melainkan apakah Allah ridha atas perjuangannya.
- Kepasrahan Mutlak: Kalimat pengutus doa menekankan bahwa tidak ada kekuatan untuk bertahan dan bangkit kecuali atas izin dan pertolongan Allah semata.