info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Sirah Wafatnya Abu Thalib
Sirah Wafatnya Abu Thalib
Sirah Wafatnya Abu Thalib

Oleh : Dr. KH. Achmad Muhammad, MA

Peristiwa wafatnya Abu Thalib (paman Rasulullah $\text{SAW}$) merupakan salah satu titik balik paling emosional dan strategis dalam sirah nabawiyah. Abu Thalib adalah benteng perlindungan politik dan sosial terbesar bagi dakwah di Makkah.

Berikut adalah rekonstruksi kronologis dan analisis dakwah berdasarkan riwayat-riwayat sahih serta pandangan para mufasir dan ahli sirah.

1. Latar Belakang: Menjelang Wafatnya Sang Pelindung Dakwah

Setelah blokade ekonomi dan sosial oleh kaum Kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Mutthalib berakhir (sekitar tahun ke-10 kenabian), kondisi fisik Abu Thalib yang sudah sangat tua semakin memburuk. Kesehatan paman Nabi yang telah memelihara dan melindunginya sejak usia 8 tahun ini menurun drastis hingga ia jatuh sakit parah (sakaratul maut).

Mengetahui Abu Thalib kritis, para pembesar Quraisy seperti Abu Jahal (Amr bin Hisham) dan Abdullah bin Abi Umayyah segera datang menemui Abu Thalib untuk memastikan ia tidak meninggalkan wasiat yang menguntungkan ajaran Islam.

2. Rasulullah mendampingi Kematian Abu Thalib (Riwayat Sa'id bin Al-Musayyib)

Riwayat dari Sa'id bin Al-Musayyib dari ayahnya (Al-Musayyib bin Hazn) yang tercatat dalam Shahih Bukhari (No. 4772) dan Shahih Muslim (No. 24) menggambarkan detik-detik terakhir yang dramatis ini:

  1. Ajakan Rasulullah SAW: Rasulullah SAW masuk ke kamar tempat Abu Thalib berbaring. Di samping Abu Thalib sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Rasulullah SAW sangat berharap pamannya bersedia mengucapkan kalimat tauhid sebelum wafat:"Wahai pamanku, ucapkanlah 'Laa ilaaha illallah' (Tiada Tuhan selain Allah), sebuah kalimat yang kelak akan aku jadikan hujah untuk membelamu di hadapan Allah."
  2. Intervensi Tokoh Quraisy: Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah langsung memotong dan menekan psikologis Abu Thalib:"Apakah engkau membenci agama Abdul Mutthalib (agama nenek moyangmu)?"
  3. Keputusan Akhir Abu Thalib: Rasulullah SAW terus mengulang ajakannya, namun kedua tokoh Quraisy tersebut juga terus mengulang doktrin kesukuan/nenek moyang mereka. Akhirnya, kata-kata terakhir yang diucapkan Abu Thalib sebelum mengembuskan napas terakhir adalah:"Ia berada di atas agama Abdul Mutthalib." Abu Thalib menolak untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah.
  4. Tekad Rasulullah SAW untuk Memohonkan Ampunan: Melihat pamannya wafat dalam keadaan belum beriman, Rasulullah SAW sangat bersedih dan bersabda:"Demi Allah, sungguh aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang."

3. Kesaksian & Riwayat Para Sahabat dan Tabi'in

Riwayat Ali bin Abi Thalib RA

Ketika Abu Thalib meninggal dunia, Ali bin Abi Thalib RA menemui Rasulullah SAW dan berkata: "Sesungguhnya pamanmu yang tua dan sesat telah meninggal dunia." Rasulullah SAW memerintahkan Ali: "Pergilah dan kuburkan ayahmu, dan jangan lakukan apa pun sampai engkau kembali kepadaku." Setelah Ali menguburkannya, Nabi SAW mendoakan dan memohonkan kebaikan untuk Ali (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i).

Riwayat Al-Abbas bin Abdul Mutthalib RA

Al-Abbas (paman Nabi yang lain) pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: "Apakah engkau dapat memberi manfaat kepada pamanmu (Abu Thalib)? Padahal dulu dia menyokongmu dan marah demi membelamu." Rasulullah SAW menjawab:

"Ya, dia berada di bagian atas neraka (siksaan yang paling ringan). Jika bukan karena aku, niscaya dia berada di dasar neraka." (HR. Bukhari dan Muslim).

Riwayat Abu Hurairah RA & Abdullah bin Tsa'labah

Kedua riwayat ini mengonfirmasi besarnya kesedihan Rasulullah SAW atas wafatnya Abu Thalib dalam keadaan syirik, serta turunnya wahyu yang memberikan penghiburan sekaligus batas tegas moral/akidah kepada beliau.

Riwayat Muhammad bin Ka'ab Al-Qurazhi (Mufasir Tabi'in)

Beliau menjelaskan konteks penulisan dan asbabun nuzul dari ayat-ayat yang turun berkenaan dengan peristiwa ini, yang memisahkan antara kasih sayang kekeluargaan dengan batas akidah tauhid.

4. Turunnya Ayat Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 113–114 & QS. Al-Qashas: 56)

Sebagai respon atas tekad Rasulullah SAW yang terus memohonkan ampunan (istighfar) untuk Abu Thalib, Allah SWT menurunkan wahyu:

A. QS. At-Taubah: 113–114

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

"Tidak sepantasnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim." (QS. At-Taubah: 113)

Sebab larangan ini dipertegas pada ayat 114 melalui teladan Nabi Ibrahim AS: Nabi Ibrahim memohonkan ampunan untuk ayahnya (Azar) semata-mata karena adanya janji yang pernah diucapkannya. Namun, setelah jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya.

B. QS. Al-Qashas: 56

Pada saat yang sama, Allah menegaskan hakikat hidayah untuk menghibur duka Rasulullah SAW:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki..." (QS. Al-Qashas: 56)

5. Analisis Sirah Nabawiyah dan Perspektif Dakwah

Peristiwa ini mengandung pelajaran (hihkmah) yang sangat mendalam bagi gerakan dakwah Islam:

Aspek DakwahAnalisis dan Hikmah Sirah
Pemisahan Akidah dan Hubungan KekerabatanIslam mengajarkan bahwa ikatan akidah (aqidah) berada di atas segala ikatan darah/kekerabatan. Rasa cinta Rasulullah SAW kepada Abu Thalib adalah cinta fitrah/keluarga (hubb thabi'i), namun dalam hal keimanan, hukum Allah berlaku mutlak.
Hakikat Hidayah (Taufiq)Hidayah taufiq (membuka hati untuk beriman) adalah hak prerogatif Allah SWT semata. Seorang dai—bahkan sekelas Rasulullah SAW—hanya bertugas menyampaikan pesan (hidayah al-irsyad wa ad-dalalah), bukan menentukan akhir keimanan seseorang.
Bahaya Fanatisme Kesukuan (Ashabiyah)Abu Thalib sebenarnya mengakui kebenaran ajaran Nabi secara lisan (tercatat dalam syair-syairnya), namun ia gagal beriman karena takut tercela di mata masyarakatnya dan terikat oleh gengsi kesukuan ("agama nenek moyang"). Ini menjadi peringatan akan bahaya taklid kaku.
Puncak Perjuangan (Amul Huzni)Wafatnya Abu Thalib yang disusul oleh wafatnya Khadijah RA di tahun yang sama dinamakan Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Kehilangan benteng internal (Khadijah) dan benteng eksternal (Abu Thalib) mendesak Rasulullah SAW untuk mencari basis dakwah baru di luar Makkah (Tha'if, hingga akhirnya Hijrah ke Madinah).

Rasulullah saw sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah, ceritakan secara kronologis kehidupan Nabi, sikon orang Quraisy Mekah baik keluarga Abdul Muthalib maupun penduduknya terhadap Nabi dalam perspektif sirah nabawiyah, jelaskan

Peristiwa berturut-turut wafatnya Abu Thalib (pelindung politik) dan Khadijah radhiyallahu 'anha (penopang emosional dan finansial) pada tahun ke-10 kenabian (sekitar 619 M) menjadi titik balik paling krusial dalam Sirah Nabawiyah. Tahun ini dikenang sebagai 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan).

Berikut adalah dinamika situasi Quraisy serta perjalanan kronologis kehidupan Rasulullah SAW pasca-kejadian tersebut.

1. Sikap Kaum Quraisy dan Keluarga Bani Hasyim

A. Eskalasi Penindasan Penduduk Makkah

Selama Abu Thalib hidup, tokoh-tokoh Quraisy menahan diri dari tindakan fisik yang mengancam nyawa Nabi karena menghormati dan takut akan perang antarsuku dengan Bani Hasyim. Namun, begitu Abu Thalib wafat:

  • Aksi Fisik Langsung: Gangguan yang dulunya hanya berupa ejekan berubah menjadi tindakan fisik terang-terangan. Suatu hari, seorang pembesar Quraisy melemparkan kotoran/tanah ke atas kepala Rasulullah SAW saat beliau berjalan di jalanan Makkah.
  • Perlakuan di Rumah: Putri beliau, Fatima RA, menangis saat membersihkan tanah dari kepala ayahnya. Nabi SAW menguatkannya dengan bersabda: "Jangan menangis wahai putriku, sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu."
  • Ibnu Ishaq mencatat ucapan Nabi SAW:"Orang-orang Quraisy tidak pernah menyakitiku dengan hal yang sangat aku benci sampai Abu Thalib meninggal."

B. Sikap Keluarga Bani Hasyim / Bani Abdul Mutthalib

Kepemimpinan Bani Hasyim setelah wafatnya Abu Thalib jatuh ke tangan Abu Lahab (paman Nabi yang memusuhi Islam).

  1. Jaminan Sementara Abu Lahab: Awalnya, karena dorongan harga diri kesukuan ('ashabiyah), Abu Lahab sempat menyatakan akan melindungi Muhammad sebagaimana Abu Thalib melindunginya.
  2. Pengkhianatan Abu Lahab: Abu Jahal dan Uqbah bin Abi Mu'aith menghasut Abu Lahab dengan bertanya: "Tanyakan pada Muhammad, di manakah tempat Abdul Mutthalib (ayahmu) di akhirat?"
  3. Ketika Rasulullah SAW menjawab bahwa Abdul Mutthalib berada di neraka bersama kaum musyrikin lainnya, Abu Lahab murka dan mencabut perlindungan hukumnya (jiwar). Sejak saat itu, Rasulullah SAW menjadi orang yang sah secara hukum kesukuan untuk disakiti atau dibunuh tanpa ancaman balas dendam dari Bani Hasyim.

Phase 1: Perjalanan Dakwah ke Tha'if (Syawal, Tahun ke-10 Kenabian)

Melihat pintu dakwah di Makkah tertutup rapat, Nabi $\text{SAW}$ berjalan kaki sejauh $\approx 80\text{ km}$ menuju Tha'if bersama Zaid bin Haritsah $\text{RA}$ untuk meminta perlindungan dan mengajak suku Bani Tsaqif masuk Islam.

  • Penolakan Tha'if: Tiga pemimpin Bani Tsaqif (Abdi Yalil, Mas'ud, dan Habib) menolak dakwah beliau dengan sangat kasar.
  • Perlakuan Kejam: Mereka mengerahkan anak-anak, budak, dan pemuda Tha'if untuk membuntut, memaki, dan melempari Nabi $\text{SAW}$ dengan batu hingga kaki beliau berdarah-darah.
  • Doa di Kebun Anggur: Nabi $\text{SAW}$ berlindung di kebun milik 'Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah, mengadukan kelemahan fisiknya kepada Allah. Di sini, seorang budak Kristen bernama Addas masuk Islam setelah mendengar Nabi membaca Bismillah saat hendak makan anggur.
  • Tawaran Malaikat Gunungan: Malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menimpakan dua gunung (Al-Akhsyabain) ke atas penduduk Tha'if, namun Nabi $\text{SAW}$ menolak dan berdoa agar keturunan mereka kelak menyembah Allah.

Phase 2: Kembali ke Makkah dengan Perlindungan (Jiwar)

Saat hendak kembali ke Makkah, Zaid bin Haritsah bertanya bagaimana mereka bisa masuk sementara Quraisy telah mencabut perlindungan. Rasulullah $\text{SAW}$ tidak menyerah dan mengirim utusan ke beberapa tokoh murni musyrik untuk meminta jaminan keamanan.

  • Tokoh seperti Suhael bin 'Amr menolak.
  • Mut'im bin 'Adi (pimpinan Bani Naufal) menerima permintaan tersebut. Mut'im dan anak-anaknya menyandang senjata dan mengawal Rasulullah $\text{SAW}$ masuk ke Masjidil Haram untuk bertawaf. Kebaikan Mut'im ini selalu dikenang oleh Nabi $\text{SAW}$ hingga Perang Badar.

Phase 3: Membuka Lembaran Keluarga Baru

Untuk meringankan beban penderitaan dan mengurus putri-putri beliau:

  1. Sawdah binti Zam'ah $\text{RA}$: Seorang janda muhajirah yang suaminya wafat pasca-hijrah ke Habasyah. Pernikahan ini membawa ketenangan dan perlindungan bagi Sawdah.
  2. 'Aisyah binti Abi Bakr $\text{RA}$: Nabi $\text{SAW}$ mengikat akad nikah dengan 'Aisyah (putri sahabat terdekatnya) di Makkah, namun baru berkumpul (dukhul) setelah hijrah di Madinah.

Phase 4: Isra' Mi'raj (Tahun ke-11 / 12 Kenabian)

Di tengah puncak penderitaan fisik dan mental, Allah $\text{SWT}$ memperjalankan Nabi $\text{SAW}$ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra'), lalu naik menembus tujuh lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha (Mi'raj).

  • Fungsi Pertolongan/Penaikan Moral: Peristiwa ini adalah bentuk tasliyah (hiburan dan penguatan jiwa) langsung dari Allah kepada Rasul-Nya, memperlihatkan keagungan alam semesta dan memberikan perintah Salat Lima Waktu.
  • Respon Quraisy: Kaum Quraisy semakin mengejek Nabi dan menganggapnya gila, namun Abu Bakar mempercayainya secara mutlak sehingga mendapat julukan As-Siddiq.

Phase 5: Strategi Penawaran Dakwah ke Musim Haji & Kabilah

Sadar bahwa Makkah tidak bisa lagi dijadikan pusat gerakan, Nabi $\text{SAW}$ menggunakan strategi mendatangi kemah-kemah kabilah Arab yang datang bertandang ke Makkah pada musim haji (seperti Bani Amir, Bani Muharib, Bani Kinda).

  • Meskipun selalu dibuntuti dan diprovokasi oleh Abu Lahab dari belakang yang berteriak: "Jangan ikuti dia, dia adalah pembohong yang keluar dari agama nenek moyang!", Nabi $\text{SAW}$ tetap sabar mendatangi suku demi suku.

Phase 6: Titik Terang dari Yathrib (Madinah)

Kerja keras dakwah beliau menemukan hasilnya pada musim haji tahun ke-11 kenabian:

  1. Enam Pemuda Khazraj: Nabi $\text{SAW}$ menemui 6 pemuda dari Yathrib di Aqabah. Mereka langsung menerima Islam karena sering mendengar orang-orang Yahudi di Yathrib membicarakan akan datangnya nabi akhir zaman.
  2. Bai'at 'Aqabah I (Thn 12 Kenabian): 12 warga Yathrib berbai'at kepada Nabi. Beliau mengutus Mus'ab bin 'Umair $\text{RA}$ sebagai duta Islam pertama untuk mengajar Al-Qur'an di Yathrib.
  3. Bai'at 'Aqabah II (Thn 13 Kenabian): 73 pria dan 2 wanita Yathrib berbai'at untuk melindungi Rasulullah $\text{SAW}$ sebagaimana mereka melindungi anak-istri mereka sendiri.

3. Analisis Strategi Dakwah & Sirah

Fenomena / PeristiwaImplikasi dan Analisis Strategi Dakwah
Gagalnya Proteksi KesukuanWafatnya Abu Thalib membuktikan bahwa dakwah tidak bisa selamanya bersandar pada sistem patronase kesukuan yang rapuh/musyrik. Dakwah membutuhkan institusi dan wilayah independen.
Penggunaan Jiwar (Jaminan Keamanan)Tindakan Nabi $\text{SAW}$ memanfaatkan perlindungan Mut'im bin 'Adi (seorang musyrik) menunjukkan keluwesan diplomatik Islam dalam memanfaatkan tradisi lokal yang positif demi menjaga kelangsungan hidup dakwah.
Pergeseran Fokus GeopolitikKegagalan di Makkah dan Tha'if tidak membuat dakwah berhenti, melainkan mengalihkan fokus ke masyarakat luar (Yathrib) yang lebih memiliki kematangan sosial untuk menerima sistem Islam.

Penderitaan pasca-wafatnya Abu Thalib dan Khadijah secara sistematis menempa kemandirian para sahabat dan membuka jalan lahirnya Negara Islam pertama di Madinah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *